Cerpen, Kompas, Mashdar Zainal

Kota Ini adalah Sumur

4.5
(13)

Bagaimana sebuah kota lahir adalah bagaimana sebuah desa tumbuh. Sebab, sejatinya, kota-kota adalah desa-desa yang telah menjadi dewasa. Di masa silam, kota ini hanya sebuah desa kecil dengan hiruk-pikuk kecil, dan sebelum desa kecil dengan hiruk-pikuk kecil itu lahir, sebuah sumur telah menganga, seperti rahim ibu yang siap melahirkan anak-anaknya. Tuhan berkata: Lahirlah! Maka desa itu lahir.

“Ceritakan padaku, bagaimana sumur itu bisa melahirkan sebuah desa yang kemudian tumbuh menjadi sebuah kota,” kataku.

Lantas kakek meleter, bahwasanya kota ini tumbuh sebagaimana seorang manusia tumbuh. Ketika kamu masih kecil, orang akan melihatmu sebagai sebuah kemurnian, begitu jernih dan tidak membahayakan. Namun, tak seorang pun bisa mencegah kamu tumbuh. Kamu akan tumbuh dewasa, lalu perlahan kamu akan berubah, kemurnian itu akan pudar sedikit demi sedikit oleh pengalaman-pengalaman buruk, oleh kejadian-kejadian yang tidak kamu kehendaki. Lalu kamu akan berubah menjadi sosok yang berbeda. Begitulah kota ini tumbuh, seperti kamu tumbuh. Murni, lalu berubah.

“Apakah sumur itu benar-benar ada?” tanyaku.

“Entahlah, tapi sebuah cerita tidak akan diceritakan tanpa sebab,” jawab kakek.

“Lalu di mana letak sumur itu?”

“Tak ada yang tahu, yang pasti ia ada di sebuah tempat di kota ini, atau malah sumur itu adalah semua sumur yang ada di kota ini.”

Kakek menerakan kisah itu saat usiaku masih belasan, namun sampai sekarang kisah itu masih mengepung ingatanku. Berkelabat di antara kejadian demi kejadian yang kulewati dari tahun ke tahun. Kupikir itu hanya sebuah cerita untuk anak kecil. Bagaimana mungkin sebuah desa muncul dari sebuah sumur. Atau kadang, aku berpikir, bahwa cerita kakek itu hanya sebuah amsal.

Cerita yang ia terakan tidak seperti maksud yang ingin ia sampaikan. Meski demikian, setiap kali pergi ke suatu tempat di sudut-sudut kota ini aku selalu mencari-cari sumur yang barangkali mulutnya masih terbuka. Aku ingin melongok ke dalamnya dan mencari tahu, seperti apa mulut sebuah sumur yang terbuka, dan apakah ada kehidupan di dalamnya.

Sebuah sumur seperti memiliki dunia sendiri di jurang kedalamannya, di tengah keheningan air, serta dinding-dinding gelap berlumut yang mengokohkannya. Sumur adalah dunia lain yang gelap. Aku sering mendengar, pada zaman perang, orang-orang membuang mayat-mayat ke dalam sumur. Menyuruh mayat-mayat itu membangun dunia sendiri dalam gelap dan hawa dingin. Sedikit mengerikan.

Baca juga  Bekal untuk Tante Meti

Namun, semenjak puluhan tahun terakhir, hampir tidak ada sumur dengan mulut terbuka di kota ini. Di rumah-rumah, masjid-masjid, gedung-gedung, tak tampak liang sumur menganga, meski air-air terus menerus muncul dari lubang-lubang keran.

Satu hal yang pasti, air-air itu muncul dari kedalaman bumi, dan satu hal pasti yang lain, sumber-sumber air itu telah ditutup. Tidak ditampakkan. Seperti juga sungai-sungai yang semakin keruh. Terutama di pemukiman. Semuanya ditutup. Dijadikan gorong-gorong, dunia gelap yang lain. Di atasnya dipasang jalan-jalan, ruko-ruko, kafe-kafe, taman, tempat hiburan… betapa menyedihkannya semua itu.

Kian waktu, aku tahu rasa penasaranku akan sebuah sumur yang diceritakan kakek hanya akan menjadi bayang-bayang paling absurd yang harus kutanggung.

Meski aku meragukan cerita kakek, seiring dengan itu, aku selalu berpikir bahwa sebuah sumber sejarah telah musnah, sebab sumur-sumur telah ditutup. Ketika anak-anak kecil bertanya pada orang tuanya, dari mana air dalam keran ini berasal? Orang tua mereka akan menjawab bahwasanya air itu berasal dari perusahaan air, atau dari tandon, bukan dari sumur, kedalaman sumber air yang ada di perut bumi. Sebab apa? Anak-anak sudah tidak melihat sumur lagi. Kalau mereka mendengar cerita tentang sumur, mereka akan bertanya lagi, seperti apa sumur itu. Jadi sumur tak perlu dikisahkan. Sejarah sumur adalah sejarah tak penting dan tak harus ada.

Di rumah kami, sebenarnya ada sebuah sumur. Namun seperti sumur-sumur lain di kota ini, sumur di rumah kami juga telah lama ditutup. Sewaktu aku kecil, sumur itu memang sudah ditutup. Menurut ibu, sumur itu ditutup bahkan sebelum bapak dan ibu menikah. Sumur itu digali pada zaman kakek buyut. Untuk membuat liang itu di sisi rumah, kakek buyut harus menjual sepetak tanah untuk membayar tiga orang penggali sumur. Pada kedalaman dua belas meter selepas penggalian, sumber air baru terbit.

Baca juga  Seperti Natnitnole

Awal mula sumur itu usai, orang-orang menggunakan timba dan kerekan untuk mengambil air. Namun lambat laun, sebuah temuan mesin bernama sanyo, membuat orang-orang enggan menimba air. Lalu merentet, sumur-sumur ditutup, sebab liang menghadap langit sebesar itu tidak ada fungsinya lagi, alih-alih berbahaya buat anak-anak dan ternak. Sejarah sumur itu tak memberi banyak cerita untukku. Hanya itu.

Pada kemarau panjang tahun ini, sumur di rumah kami terpaksa dibuka lagi, sebab air enggan muncul dari sana. Kadang mengalir, dan seringkali macet. Itulah kali pertama aku melihat kedalaman sumur yang telah puluhan tahun menghidupi kami dengan airnya yang jernih. Ketika aku menatap ke kedalaman sumur itu, rasa sedih mendadak menyeruak, aku seperti melihat seorang ibu yang mengembuskan napas lega setelah puluhan tahun dipasung oleh anaknya.

“Sumur ini akan kita gali lagi, sedikit lebih dalam, supaya sumber air baru muncul, dan sumber airnya jadi agung,” ungkap ibu.

Berhari-hari kami mencari orang yang kiranya ahli dan sudi melakukan pekerjaan itu. Namun pada akhirnya kami semua tahu, zaman sekarang ini, penggali sumur telah musnah. Tak seorang pun sudi terjun ke perut bumi untuk mengeruk tanah dan mengangkatnya ke atas, mengeruk lagi, mengangkatnya lagi. Itu pekerjaan paling riskan, meski bayarannya mahal.

Kami tak paham, apakah orang-orang di masa silam juga menganggap pekerjaan itu sebagai pekerjaan riskan, nyatanya puluhan bahkan ratusan sumur yang ada di kota ini, hampir semua lahir dari tangan para penggali sumur—bukan mesin. Menurut ibu begitu.

Semula, aku bilang pada ibu, bahwa mungkin aku bisa turun sendiri ke dalam sumur untuk memperdalam galian. Mungkin bisa dibantu bapak. Tapi ibu melarang dengan alasan kami bukanlah ahlinya, dan menyerahkan perkara pada yang bukan ahlinya adalah konyol. Sebagaimana di masa silam, orang yang berhak terjun ke dalam sumur untuk menggali sumur hanya ahli penggali sumur. Pada akhirnya, sumur di rumah kami tetap kami biarkan terbuka. Sampai kapan? Entahlah. Mungkin sampai musim hujan turun.

Baca juga  Tujuh Hari Menuju Surga

Pada waktu-waktu tertentu, mendung mulai menutupi langit, dan rumah kami menjadi hening. Pada saat-saat seperti itu, aku lebih suka berdiam diri memandangi lubang sumur itu dari ketinggian. Mencari-cari, apakah di kedalaman sana ada sebuah dusun yang kemudian bertumbuh menjadi sebuah kota, dengan hiruk-pikuknya, dengan kisah-kisah yang berdiam di dalamnya. Apakah di dalam sumur itu ada aku yang lain yang sedang berdiam memandangi kedalaman sumur yang lain?

Keheningan dan hiruk-pikuk dalam kepalaku mendadak menggerakkan tubuhku. Aku beringsut mengambil air dalam bejana dari dapur dan mengguyurkannya perlahan ke kedalaman sumur. Kalau ibu tahu, pasti ibu akan memarahiku, sebab akhir-akhir ini persediaan air terbatas, kami harus hemat air. Namun aku tak lagi memedulikan itu. Aku terus mengguyurkan air ke dalam sumur.

Suara ruahan air di kedalaman sana menggema. Tak lama kemudian, aku terenyak, sebab dari ketinggian langit, air pertama jatuh menimpa wajahku. Menimpa atap rumah, dan mungkin menimpa segala apa yang ada di kota ini. Sebab, kota ini adalah sumur. Detik-detik berikutnya hujan turun seperti air yang ditumpahkan dari bejana raksasa. Aku termangu. Membiarkan tubuhku kuyup oleh air langit yang telah lama tidak turun.

Kata-kata kakek kembali terngiang, dan pemahaman baru seperti menyusup pelan ke dalam batok kepalaku. Bahwa semua sumur yang ada di kota ini adalah sumur yang dimaksudkan kakek. Bahwa semua sumur di kota ini adalah ibu. Dan dari ibulah kita bisa terus hidup dan menyusu.

Malang, 2020

Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 Juni 1984, penyuka prosa. Buku terbarunya Kartamani, Riwayat Gelap dari Bonggol Pohon diterbitkan oleh Penerbit Basabasi pada 2020. Kini bermukim di Malang, Jawa Timur.

Daniel Nugraha, seniman dan dosen. Lulusan senirupa ITB, sedang menempuh kuliah pascasarjana IKJ. Pendamping Kamisketsa Galeri Nasional.

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 13

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Dave

    Cerita “Kota ini adalah Sumur” memuat tema tentang hubungan lingkungan hidup dengan kelanjutan kehidupan di kota. Kepahaman narator tentang hubungan ini berkembang dan menjadi lebih dalam. Kepahaman dulu dari masa remaja berdasarkan sebuah metafora atau amsal yang dikisahkan oleh kakeknya. Dengan pengalaman dan berdasarkan sebagai dewasa kepahaman tentang cerita kakeknya berubah. Dulu, sebagai remaja, narator ada tafsiran yang agak harfiah, sebuah tafsiran yang ditanam dalam benaknya dengan cerita kakek itu. Kepahamannya harfiah. Hidup mulai dengan penggalian sumur baru sebuah desa bisa berkembang (dan ada asumsi air terus mengalir) sampai sebuah kota bisa tumbuh. Sebagai dewasa dia sadar ada perkembangan yang sejajar dengan pendirian sebuah rumah tangga. Narator bercerita ada sumur di rumah sendiri yang digali di zaman kakek buyutnya yang menghidupi keluarga secara turun temurun. Dalam usia dewasa dia menjadi sadar juga orang kota sudah lupa hubungan sesungguhnya antara sumber air (dari sumur) dengan penghidupan manusia diri sendiri. Hubungannya terjauhkan akibat teknologi (penggunanaan mesin pompa) jadi sumur itu ditutup dan terlupakan. Tak ada air yang ditimba dengan penggunaan kerekan lagi. Pada waktu yang sama ada asumsi aliran air akan terus mengalir jadi sumur tak pernah perlu digali lebih dalam. Akibatnya penggali sumur dan ketrampilannya hilang juga. Di kota sungaipun (yang sudah menjadi keruh) ditutupi dan menjadi gorong-gorong. Sumber air dan pentingnya sumur baru diingatkan saat ada kekurangan air akibat musim kemarau yang panjang. Muncul makna dan kepahaman yang lebih dalam tentang cerita kakeknya yaitu hubungan sumur dan perkembangan hunian manusia. Dalam krisis kekurangan air, ada kesadaran sumur dan airnya bagian dari lingkungan hidup juga, suatu ekosistem yang menghidupi dan menghidupkan manusia tapi mulai terlupakan di kota.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: