Cerpen, Medan Pos, Rian Ibayana

Membunuh Novia di Bulan Desember

3
(3)

Kamu tampak cemas dan gugup ketika kuungkapkan semua, bagaimana cara aku membunuh gadis bernama Novia di Desember setahun yang lalu. Gadis yang gemar memainkan lensa-lensa, mengabadikan peristiwa demi peristiwa lewat mata kamera. Gadis manis yang pernah melakukan pameran tunggal, memamerkan hasil bidikannya yang rata-rata bertemakan kemanusiaan. Jika melihat sorot mata gadis itu, aku senantiasa ingat pada lagu Iwan Fals, mata indah bola pingpong.

“Tak perlu kamu pikirkan dan tak perlu kamu cemaskan kawan, polisi tak mungkin bisa menemukan siapa pembunuh Novia. Sampai saat ini aku bisa menghirup udara dengan merdeka, tanpa ada sangkaan sedikitpun.”

“Tapi…” ungkapmu.

“Sudah aku bilang kamu tak perlu takut kawan, buang jauh-jauh perasaan itu. Anggap saja aku tidak pernah bercerita apapun, anggap saja perbincangan ini tak pernah terjadi. Tenang kawan, peristiwa itu sudah berlalu jauh, polisi pasti malas untuk menyelidikinya”

“Tapi bukan begitu,” ungkapmu sedikit tegas meski getar bibirmu masih tampak cemas.

“Iya aku paham, aku mengerti apa yang kulakukan menanggung banyak resiko. Bahkan jikalau polisi berhasil mengungkap peristiwa itu, bukan tidak mungkin nyawaku jadi taruhannya. Aku sadar ancaman apa yang akan aku terima jikalau kasus itu terungkap.”

Kamu bangkit dari kursi sambil melemparkan sebungkus rokok serta korek api ke atas meja. Kamu melangkah ke arah televisi kemudian menghidupkannya dan mencari stasiun kerap menyiarkan acara berita. Asap mengepul di ruang segi empat ruang tengah rumahmu. Rumah yang penuh sejarah bagimu, rumah yang menjadi tanda kesuksesanmu. Aku tahu betul perjuanganmu hingga bisa mapan seperti sekarang.

Kamu beranjak menuju kamar dan kembali dengan membawa beberapa buah koran, kamu melemparnya ke hadapanku, tampak jelas itu koran lama, koran yang beredar tahun lalu. Bagian depan koran terpampang berita pembunuhan seorang gadis yang diketahui bernama Novia. Tampak foto sesosok perempuan itu terlentang di dekat stasiun kota. Tak ada memar maupun luka, namun dari mulutnya keluar busa. Mungkin diracun. Polisi dengan sigap melakukan penyelidikan.

Baca juga  Sesungguhnya Dia Sangat Cemas

Sementara koran kedua adalah koran yang terbit hari berikutnya, yang menjadi headline masih tentang pembunuhan Novia, seorang fotografer wanita yang pernah membuat sebuah pameran. Polisi sudah bisa memastikan bahwa gadis itu diracun, sementara siapa pembunuhnya masih menjadi teka-teki. Aku membaca koran tersebut satu persatu, pikiranku tiba-tiba melesat pada peristiwa tahun lalu itu. Sementara kamu hanya diam, matamu memerah, asap rokok menari-nari di seluruh ruangan.

“Sudahlah, tak perlu kamu pikirkan, bunuh perasaan cemas di kepalamu. Aku yang bertindak sebagai pelaku, bisa santai seperti ini. Tanpa takut sedikitpun. Kenapa kamu yang cemas kawan? Coba lihat berita yang ada di televisi itu, semua tentang pendemi, tentang usaha pemerintah memutus mata rantai penyebaran virus berbahaya yang disebut corona. Tentang pembagian sembako bagi keluarga yang terdampak dari pandemi serta informasi jumlah warga yang terpapar virus tersebut. Juga tentang berita kontroversi undang-undang cipta kerja, yang melahirkan gelombang demo di mana-mana. Kasus tahun lalu sudah terkubur kawan, mustahil bisa terungkap.”

“Sekarang coba kamu buka media sosialmu, apakah ada berita tentang pembunuhan Novia di bulan Desember tahun lalu? Aku yakin tidak ada. Semua fokus pada perkembangan penanganan wabah di berbagai negara. Ada negara yang melakukan lockdown total ada juga yang memberlakukannya hanya di kota-kota tertentu yang masuk zona merah. Segala upaya dilakukan agar pandemi ini segera berlalu. Coba kami teliti satu persatu status teman-temanmu di Facebook, teliti dengan betul, adakah yang masih membahas peristiwa tahun lalu yang sempat menggetarkan seantero negeri ini? Aku yakin tidak ada. Jadi kamu tidak perlu takut kawan soal kasus itu.”

“Aku tidak cemas apalagi takut,” ungkapmu dengan nada tinggi.

Baca juga  Si Loak

Kamu membuang rokok yang masih menyala ke lantai, lalu menginjaknya dengan geram dan entah bagaimana caranya tanganmu sudah ada di leherku, mencekik dengan kuat. Napasmu mendengus berapi-api, sehingga wajahku seperti terbakar.

“Dengarkan ini! Aku tidak takut, aku tidak takut dengan kasus yang menjeratmu. Tapi dengar, aku sutradaranya, aku dalangnya. Mengapa kamu bertindak sendiri, mengapa kamu bekerja seenaknya. Siapa yang kamu bunuh? Siapa? Bukan Novia yang kuminta kau bunuh, dan jangan di bulan Desember waktunya, bangsat…!” ungkapmu dengan tegas sambil mendorongku ke atas kursi.

Aku lemas dan tak paham dengan apa yang kamu katakan, pikiranku melambung pada malam kelam tahun lalu. Aku mengajak Novia bertemu di sebuah cafe dekat stasiun kota. Aku datang lebih cepat dari waktu yang dijanjikan, serta memesankan minuman kesukaan dia, jus lemon. Sementara dia telat beberapa menit, datang dengan tergesa dan meminta maaf atas keterlambatannya. Sebenarnya tak perlu meminta maaf, dengan melihat senyumannya, aku sudah bisa memaafkan.

Novia membawa beberapa hasil bidikannya, potret peristiwa yang sangat mengerikan tentang derita penduduk yang tanahnya tergusur sebuah perusahaan. Dan aku tahu betul perusahaan itu milik siapa. Novia kembali memberikan senyum, manakala melihat jus lemon kesukaannya sudah ada di atas meja cafe. Sorot matanya seperti telaga, begitu menyejukan. Namun hatiku tiba-tiba bergetar kala melihat bibirnya menyentuh ujung sedotan, tampak dengan jelas jus lemon masuk ke dalam mulutnya yang mungil. Aku memejamkan mata sejenak, ingin rasanya melarang dia untuk meneruskan meminum jus tersebut, tapi lidahku kaku.

Kamu kembali bergegas ke arah kamar dengan langkah yang tak beraturan, nafasmu menggebu seperti ingin meluapkan amarah. Aku hanya bisa tertunduk tak mengerti dengan apa yang kamu katakan, bukan Novia yang ingin kamu bunuh dan bukan di bulan Desember waktunya.

Baca juga  Seseorang di Mimpiku, Tapi Bukan Kamu

“Duaaaarr….”

Tiba-tiba ada darah hangat mengalir dari belakang kepalaku.

2020

RIAN IBAYANA lahir di Ciwidey, Bandung Selatan. 25 April 1988. Bergiat di Kawah Sastra Ciwidey dan kadang-kadang jadi jamaah Majelis Sastra Bandung.

Average rating 3 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: