Cerpen, Handono MS, Republika

Sejarawan yang Tersingkir

2.3
(6)

Aku sedang bertugas di Kalimantan ketika berita kematian itu tersebar di grup WA angkatan 1985. Baru pada Ahad ini, sesudah sembilan hari lewat, aku mengunjungi makamnya bersama anaknya yang paling bontot. Gumpalan-gumpalan tanah merah masih terlihat di beberapa bagian kubur. Di papan pusara tertulis: Muin bin Soefjan, lahir 9 Maret 1942, wafat 20 September 2019.

Almarhum adalah dosen di Jurusan Sejarah dan Kebudayaan. Kata dia di kuliah perdana dulu, “Saya lahir persis waktu Belanda takluk kepada Jepang. Saya dapat mengingat dengan baik suasana pemilihan umum pertama pada 1955 dan momen-momen penting lainnya di negeri kita tercinta.”

***

Bagi kami, Pak Muin adalah sebuah ensiklopedi sejarah berjilid-jilid sekaligus seorang storyteller ulung. Ia uraikan sejarah dengan lancar dan menggugah perasaan. Para mahasiswa seolah-olah diajaknya berjalan-jalan kembali ke lorong waktu masa lalu. Tak terkecuali, Surtini, gadis asal Bumiayu, teman sekelas yang duduknya kerap berdekatan dengan diriku. Mata dia basah hingga bulu-bulu matanya yang lentik tak lagi terlihat indah.

Sebabnya, di suatu pagi yang agak mendung, Pak Muin menceritakan kisah gadis cantik berdarah Belanda bernama Jan Ruff O’Herne. Ia perempuan kelahiran Semarang tahun 1923, putri pasangan Celestin O’Herne dan Josephine Butting hausen. Nasibnya begitu tragis di awal kedatangan tentara Jepang pada 1942. Para serdadu berperawakan pendek dan berkulit kuning itu menggiring Jan bersama ibu dan kedua adiknya ke kamp tahanan Ambarawa. Bersama 200 wanita tahanan lainnya, ia dipaksa melayani syahwat tentara-tentara Jepang.

Pak Muin kemudian mengatakan, “Jan bukanlah wanita jalang. Tak ada kesalahan apa pun yang ia lakukan bersama keluarganya sebelum menjadi budak seks. Kalaulah boleh disebut sebagai suatu kesalahan, satu-satunya kesalahan Jan adalah karena ia orang Belanda—orang dari bangsa yang kalah perang.”

Sejenak suasana kelas menjadi hening. Surtini menyeka air mata dengan sapu tangan warna merah jambu bermotif bunga-bunga putih halus. Pak Muin melirik sebentar ke arah Surtini, sampai akhirnya ia berkata, “Saya ajukan pertanyaan kepada kalian. Andai kata dulu Kaisar Hirohito melarang Jepang terlibat dalam Perang Dunia II, Jan Ruff O’Herne pasti tidak akan pernah hidup getir sebagai budak seks. Benarkah pernyataan saya ini?”

Baca juga  Keteguhan Hati Suadji

Semua mahasiswa serempak mengiyakan. Surtini bahkan bersuara paling lantang, “Benar, setuju, Pak!”

Pak Muin yang bertubuh tinggi dan agak gemuk tampak tersenyum. “Ingat! Sejarah tidak boleh diandaikan. Dia adalah peristiwa yang sudah nyata terjadi. Kita hanya mungkin menarik pelajaran penting dari apa yang terjadi pada waktu silam.”

Tidak hanya piawai dalam menerangkan sejarah, dosen kami itu juga tergolong saleh dalam urusan ibadah. Hampir setiap kali shalat berjamaah di masjid kampus, ia selalu hadir lima atau sepuluh menit sebelum azan berkumandang. Paling sedikit, dua kali dalam satu semester ia mengisi giliran menjadi khatib Jumat. Kefasihan dalam melafalkan ayat Alquran maupun hadis aku kira setara dengan para ustaz pada umumnya.

Dua belas tahun setelah aku menyelesaikan kuliah, pada 2002, Surtini yang telah menjadi istri seorang direktur bank, mengirim lima pesan singkat ke ponselku tentang Pak Muin. Pikiranku agak kacau membacanya, antara percaya dan tidak.

Suatu hari Surtini mengantar dan menunggui anaknya yang duduk di bangku sekolah dasar. Ada sebuah SMA swasta di dekat SD itu. Ia parkir mobil, lalu berjalan kaki menuju toko kue. Sebelum menyeberangi jalan, ia melihat Pak Muin sedang berjongkok sambil makan sepotong pepaya segar tak jauh dari penjual buah.

Mendengar namanya disapa, lelaki tersebut terperanjat dan menampakkan segurat rona malu. Ia tak lagi menjadi dosen di perguruan tinggi kami. Tak juga di perguruan tinggi lain. Tempat mengajarnya hanyalah di SMA swasta itu. Itu pun hanya sebatas guru honorer.

Masih menurut pesan singkat Surtini, Pak Muin kelihatan tua dan sangat kurus. Batuk-batuk kecil sesekali terdengar sewaktu berbicara. Sebelum ia pamit hendak mengajar, Surtini rogoh uang dari tasnya. Lima lembar nominal seratus ribu rupiah ia berikan kepada Pak Muin dengan sikap dan tutur kata yang sangat sopan. Lelaki itu terpana sejenak sebelum menerimanya dengan tangan gemetar. Mulutnya berkomat-kamit mengucap doa syukur.

“Saya sebetulnya malu menerima pemberianmu ini, tetapi saya memang sedang butuh uang,” kata dia terbata-bata disertai setitik air mata.

Baca juga  Macondo, Melankolia

Aku tak ingin menganggap pesan singkat Surtini itu sebagai satu-satunya sumber informasi. Maka, aku temui beberapa orang yang sekiranya layak dijadikan narasumber. Salah seorang di antaranya adalah kakak angkatan yang bekerja sebagai dosen di almamater kami. Ia lulus doktor sejarah dari universitas terkemuka di Amerika Serikat. Tersajilah gambaran yang lebih jelas dan terperinci tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Pak Muin.

Sejak akhir dasawarsa 1980, banyak alumni perguruan tinggi kami yang kembali dari universitas-universitas luar negeri, terutama dari negara-negara Barat. Mereka tentu saja membawa semangat pembaruan di lingkungan kampus. Menyebarkan semangat ilmiah khas masa Pencerahan Eropa, yang menjunjung tinggi rasionalitas serta kritis terhadap dogma agama.

Teringat kembali pada tahun terakhir kuliah. Masuk ke kelas, seorang wanita berpenampilan necis dengan nada suara yang lembut. Ia adalah dosen baru penyandang gelar doktor filsafat dari Jerman. Ia katakan bahwa sebagai cendekiawan kita mesti meragukan semua hal, termasuk agama. Pandangan hidup yang serba-pasti akan menyebabkan gerak peradaban mandek, tak ubahnya mumi yang membeku di dalam piramida Mesir.

Ah, aku tak mau ambil pusing tentang omongannya. Dalam benak kala itu, aku hanya ingin bekerja secepat mungkin seusai lulus. Terlalu berat beban ibu di kampung dengan dua adik yang masih bersekolah. Berapalah tunjangan pensiun janda seorang masinis kereta api. Tak apa jadi guru sejarah di SMA, asal berstatus PNS, demikianlah keinginanku dulu. Ya, alhamdulillah, akhirnya lolos seleksi di sebuah kementerian meski tak punya hubungan sama sekali dengan ilmu sejarah.

Balik lagi ke Pak Muin. Ia lulusan sarjana sejarah dan kebudayaan dari kampus kami, dan magister humaniora dari universitas negeri ternama. Sekalipun belum doktor, ia memenuhi syarat minimal untuk mengajar mahasiswa strata satu, dan berhak pensiun pada umur 65.

Pak Muin sebetulnya tak anti pada filsafat. Ia malah sering mengatakan betapa pentingnya berpikir sistematis dan mendalam sampai ke akar persosalan seperti yang diajarkan oleh para filsuf. Dalam perkuliahannya dulu, ia terkadang membahas secara garis besar sejarah filsafat dan sejarah ideologi. Apa bedanya Marxisme dengan komunisme, dan mengapa komunisme berhadap-hadapan dengan kapitalisme, semuanya dijelaskannya dengan jernih dalam tuturan yang mengalir.

Baca juga  Tarian Menunggu Grandong

Meski demikian, ia tidak menyetujui sikap ilmuwan yang terlampau membatasi pada akal sehat dan pengalaman empirik. Menurut pandangannya, tetap penting untuk bersikap kritis terhadap filsafat. Sebab, jika tidak berhati-hati, orang akan mudah mengikuti sekularisme, bahkan ateisme.

Kata salah seorang narasumber yang aku jumpai, pernah terjadi debat panas antara Pak Muin dan dosen-dosen muda. Dalam banyak hal, argumen Pak Muin lebih unggul dari juniornya. Namun, entah mengapa, justru Pak Muin yang kemudian dianggap sebagai kaum ortodoks dan tak lagi dilibatkan dalam berbagai proyek penelitian maupun seminar berskala internasional.

Di puncak perasaan kecewa, ia memutuskan untuk pensiun dini pada usia 58. Dalam acara perpisahan, ia sampaikan orasi di hadapan kolega dosen dan guru besar. “Aktor-aktor di panggung kehidupan selalu berganti dari masa ke masa. Angkatan Pujangga Baru menyingkirkan Angkatan Balai Pustaka, lantas disingkirkan Angkatan 45. Begitulah watak sejarah. Oleh karena itu, saya tetap berbesar hati walaupun mesti tersingkir. Fajar cendekiawan baru telah tiba menyingsing, mengakhiri mereka yang dianggap kolot.”

***

Aku antarkan putra bungsu Pak Muin sekembali dari makam. Berkali-kali ia mengucap terima kasih atas bantuan angkatan 1985 dalam merenovasi rumah bapaknya: rumah yang sekarang ia tinggali bersama istri dan dua orang anaknya.

Sesaat sebelum aku berlalu, seorang remaja laki-laki datang memasuki pekarangan. Ia cucu Pak Muin, siswa SMA kelas 12 IPS. Kutanya, ingin kuliah apa nanti. “Sejarah!” jawabnya mantap. Semangat sejarah sang kakek ternyata tetap berkobar-kobar hingga meresapi relung jiwanya.

Tangerang, November 2020

Handono MS, penulis buku Telaga Bahagia Syaikh Abdul Qadir Jailani (Penerbit Republika, 2015) dengan nama pena Hamdy. Setelah pensiun, ia kini aktif berkarya purnawaktu sebagai penulis buku ajar maupun fiksi. Alamat: Mahkota Simprug C2 Nomor 2, Jalan Haji Mencong, Ciledug, Tangerang, Banten.

Average rating 2.3 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: