Cerpen, Jawa Pos, Muram Batu

Sekotak Cinta Bersampul Koran

4.3
(9)

“Apa isi paketnya, Pak?”

“Cinta.”

Perempuan penjaga di jasa pengiriman barang itu tersenyum. Dia memperhatikan lelaki berambut putih yang masih berdiri di hadapannya dengan tenang.

KATA cinta bukanlah jawaban yang diinginkannya meski tempatnya bekerja adalah perusahaan ekspedisi berasas cinta—motonya pun berbunyi: Demi Cinta, Semua Bisa. Dia lebih berharap kata buku atau baju atau makanan untuk isi kotak bersampul koran yang sedang ditimbangnya itu. “Cokelat? Bunga? Atau apa?”

“Cinta.”

Perempuan itu kembali memandang mata lelaki tersebut. Kali ini tidak ada senyum. Sinar matanya pun menunjukkan suatu ketegasan. Dia pun menarik jari-jarinya dari papan ketik komputer. “Benda, Pak. Benda apa dalam kotak ini?”

“Cinta.”

“Baiklah, kalau ini memang cinta, tapi dia berwujud apa!” suara perempuan itu mulai meninggi.

Lelaki berambut putih tersadar. Dia paham, perempuan di hadapannya mulai tak tenang. Dan ketika perempuan marah, mengalah adalah sikap yang tepat. Dia pun duduk di kursi plastik tepat di seberang meja sang perempuan. Geraknya begitu hati-hati seakan takut kalau sang perempuan akan bertambah suntuk. “Boleh aku cerita?”

“Isinya apa?”

“Dari ceritaku akan terjawab isi kotak ini…”

Si perempuan menarik napas panjang. Masih ada orang seperti ini, pikirnya, yang menggilai cinta hingga mau merepotkan diri dan mengorbankan waktu demi keyakinan yang berarti entah. Tapi sudahlah, katanya dalam hati, ikuti saja maunya sampai mana. Dia melihat ke belakang posisi duduk lelaki tersebut. Kosong. Tidak ada yang mengantre. “Baiklah, silakan…”

Lalu, dengan perlahan lelaki itu mulai bercerita. Dia awali dengan menyebutkan namanya, Dame, yang berarti ketenangan. Nama yang unik karena bisa dipakai oleh lelaki atau perempuan, jadi tidak bisa diklaim oleh jenis kelamin tertentu. Persis dengan artinya, ketenangan juga milik orang banyak dan tidak semata untuk kalangan tertentu. Dia mengaku lahir pada 30 Agustus 1959. Tepatnya lima hari setelah diterapkannya sanering atau yang disebut oleh pemerintah sebagai usaha penyehatan uang: pecahan 500 rupiah menjadi 50 rupiah dan 1000 rupiah menjadi 100 rupiah. Atau nyatanya, pemotongan nilai mata uang. Artinya, saat itu nilai rupiah dipotong hingga 90 persen. Banyak yang pingsan, bahkan meninggal, karena tak siap dengan kebijakan tersebut. Mereka tak terima karena pemotongan nilai rupiah ternyata tak diimbangi dengan nilai barang. Nilai atau harga barang tetap, tapi nilai uang berkurang.

Baca juga  LARON

“Itulah sebab kenapa namaku Dame. Maksudnya, ketika situasi tak jelas seperti itu, kita harus tetap tenang. Ya, damai. Bapakku tak ingin aku ikut susah, tidak seperti tetangga yang memberikan nama anaknya Susanna sebagai langkah untuk mengenang masa kelam tersebut,” kata lelaki berambut putih itu.

Si perempuan seperti terkejut mendengar informasi yang belum pernah didengarnya itu. “Bukankah itu mirip rencana pemerintah sekarang? Ya, tempo hari kan ada rencana mau jadikan 1000 rupiah menjadi 1 rupiah. Bukankah itu lebih gawat?”

“Beda. Kalau rencana ini jadi dilakukan, nilai 1 rupiah tetap sama dengan 1000 rupiah. Maksudnya, dengan 1000 rupiah kamu bisa mendapatkan satu permen, maka dengan 1 rupiah juga begitu. Kalau dulu, tetap butuh 100 rupiah untuk sebuah permen, tapi uangmu yang 1000 rupiah tadi sudah menjadi 1 rupiah.”

Si perempuan mengerutkan dahi, tapi dia tak mau ambil pusing. Dia pandangi kotak bersampul koran tadi. “Jadi, isinya uang?”

“Cinta.”

“Ah!”

“Biarkan aku cerita…”

“Ya sudah, silakan!” balas si perempuan sambil mengambil gawainya, mengecek akunnya di media sosial, berharap ada status yang bisa dia komentari.

Lelaki berambut putih tahu, perempuan di depannya berusaha mengalihkan perhatian, tapi dia percaya suaranya pasti masih terdengar. Maka, dia pun kembali bercerita tentang masa kecilnya. Tentang rumah orang tuanya yang berada tepat di seberang kantor salah satu partai terbesar saat itu. Keberadaan rumah tersebut secara langsung membuat bapaknya sering bergaul dengan orang-orang partai. Bapaknya sering diberi buku.

Saat itu, posisi bapaknya lumayan di tempatnya bekerja. Dia adalah kepala kantor perkebunan. Sang bapak memang ahli dalam urusan pohon karet yang saat itu sedang marak.

“Jadi, Bapak anaknya PKI?” tiba-tiba si perempuan berujar dengan nada yang gamang.

Lelaki berambut putih tersenyum. Dia tidak menggeleng atau mengangguk. Dia malah melanjutkan ceritanya. Katanya, meski era susah, waktu itu adalah masa yang indah. Kedudukan ayahnya sebagai kepala kantor membuat mereka memiliki fasilitas yang lumayan. Adik ibunya dan adik bapaknya bahkan sampai ikut tinggal di rumah mereka. Itulah sebab, dia memiliki cukup banyak pengasuh. Tapi, masalahnya, dia tidak merasakan langsung atau tepatnya tidak mengingatnya. Cerita ini dia dapatkan sekian tahun kemudian ketika dia mulai besar, tepatnya ketika dia mulai berseragam abu-abu melalui mulut ibunya yang seperti tak bisa berhenti ketika ditanyai soal masa tersebut. Ibu memang terlalu bangga dengan bapak, tepatnya ketika mengambil keputusan untuk kembali ke kampong—ke lembah di Pegunungan Bukit Barisan—menjadi petani untuk mengurus lahan warisan leluhur yang luas jelang kejadian yang kemudian dikenal dengan Gestapu itu. Bapaknya terselamatkan karena sang kakek yang sudah bertitel haji meninggal dunia. Sejak itulah mereka jadi orang kampung. Status pegawai negeri dengan pangkat tinggi rela mereka lepaskan dan ternyata itu pula yang menjadikan mereka aman.

Baca juga  Sebutir Peluru Saja

“Jadi, status Bapak sebagai anak PKI enggak ketahuan?”

Lelaki berambut putih tidak tersenyum. Dengan tenang dia mengatakan bahwa bapaknya bukan PKI. Kebetulan saja bapaknya itu berteman dengan anggota PKI karena rumahnya memang berada di seberang kantor partai tersebut.

“Bisa saja bapaknya Bapak PKI kan?”

Mendengar tuduhan semacam itu, lelaki barambut putih tidak marah. Dia malah kembali tersenyum. Dia malah bercerita soal lain. Tepatnya, setelah sekian tahun menjadi petani, bapaknya kemudian memilih pindah ke kota provinsi. Bekerja di sebuah perusahaan perkebunan sawit milik orang asing. Sang bapak langsung mendapat posisi bagus hingga berkantor di kota dan tidak ditugaskan ke kebun-kebun yang berada di pedalaman.

“Ceritanya tak menarik, Pak. Kupikir soal PKI, gak seru!” kata si perempuan sembari kembali memperhatikan gawainya. Tapi, tak lama kemudian, “Eh, jadi apa isi kotak ini?”

“Cinta.”

“Ah! Sudahlah cerita lagi!”

Lelaki berambut putih itu membenarkan letak duduknya, sama sekali tidak melihat ke belakang. Sepertinya dia begitu yakin memang tak ada yang mengirim paket hari ini selain dirinya. Lalu, dengan nada suara yang sedikit bergetar dia bercerita tentang perempuan yang menawan. Perempuan itu anak seorang guru sejarah dan bercita-cita ingin menjadi guru juga. Namanya Ida, ya, nama yang pasaran untuk anak kelahiran tahun 1960-an. Pada suatu ketika, pohon-pohon di taman kota penuh dengan ukiran nama Ida. Ya, lelaki berambut putih itulah yang mengukirnya tanpa pernah berani meletakkan namanya sendiri bersanding dengan nama perempuan incaran tersebut. Dan ketakutan itu ternyata berbuah, sampai akhir hidup ternyata Ida tetap sendirian. Ida tewas dalam suatu kasus pembunuhan setelah sebelumnya diperkosa ketika usianya belum sampai di angka 20 tahun.

“Belakangan aku tahu, dia ternyata berharap ada namaku di pohon-pohon itu bersanding dengan namanya,” kata lelaki berambut putih pelan.

Baca juga  Nyanyian Penggali Kubur

Si perempuan tetap diam. Gawainya telah dia letakkan di meja. Hari pun mulai petang. Dia tak khawatir, dengan cerita yang mulai mengerucut itu, sebentar lagi dia pasti tahu apa yang ada di dalam kotak bersampul koran tersebut, “Lanjutkan, Pak, ceritanya.”

Si lelaki berambut putih malah diam. Dia memandang perempuan di depannya dengan dalam.

“Jangan bilang perempuan itu mirip dengan aku?”

Sang lelaki tertawa dan menggelengkan kepala. “Ceritaku sudah selesai,” katanya.

Otomatis jari perempuan itu hinggap di kepalanya. Menggaruk-garuk. “Itu saja! Tak seru!”

“Jadi, apa isinya?” katanya lagi.

“Cinta.”

Emosi si perempuan langsung meninggi dan siap untuk diluapkan. Tapi, lelaki itu malah pergi tanpa bisa dicegah. Selembar uang 100 ribu rupiah terletak begitu saja di meja. Si perempuan melihat timbangan dan alamat tujuan—sebuah kantor kementerian di ibu kota—dari paket tersebut. Dan, dia paham harga jasa untuk paket itu hanya puluhan ribu rupiah.

“Mampuslah situ, mau apa isinya terserah!” katanya kemudian sambil meletakkan kotak tersebut ke dalam bungkus plastik transparan sebagai tanda paket siap dikirimkan.

“Eh!” teriaknya sesaat akan melempar paket tersebut ke keranjang. Terlihat dengan jelas di matanya bungkus koran tersebut—terletak di tepi kertas putih yang dijadikan alas untuk menulis alamat tujuan—ada berita kecil yang menggoda. Dia membacanya dengan serius dan setelah itu, tanpa disuruh, dia langsung terbahak-bahak.

“Dasar orang tua gila!” katanya sambil melemparkan paket bersampul koran yang memuat berita kecil tentang pengakuan seorang pria berambut putih yang suka mengirimkan paket kosong ke kantor-kantor pemerintahan agar terbebas dari pikun.

“Patut ditiru juga ini…” kata perempuan itu dalam hati. Tentu, sambil tersenyum. (*)

Medan Johor, 2020

MURAM BATU. Lahir di Limapuluh, Sumatera Utara. Pengarang kumpulan cerpen Hujan Kota Arang (Basabasi, 2018); novela Tepi Toba (Basabasi, 2019); kumcer Kartini Boru Regar, Tahi Kecoa, dan Walikota (Gading, 2020). Sejak balita tinggal di Langsa, Aceh. Begitu tamat SMA merantau ke Jogjakarta selama 11 tahun. Dan, kini menetap di Medan.

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 9

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: