Cerpen, Hajriyanto YT Diporejo, Media Indonesia

Sendangku yang Tidak lagi Kotak

1.8
(5)

TIDAK ada lagi rumah-rumah besar berbentuk limasan dengan pekarangannya yang luas. Apalagi, pendapa model joglo! Aku terus berjalan menyusuri jalan dan pematang sawah. Desa ini rasanya semakin sesak dengan rumah-rumah kecil. Tidak ada lagi bulak luas yang dulu membikin orang bergidik berjalan sendirian di malam hari. Rumah-rumah bermunculan sambung-menyambung menghubungkan antardesa.

Keringat membasahi sekujur tubuhku saat aku sampai di sendang di pinggiran desa. Orang menamakannya Sendang Kotak. Mungkin penamaan ini hanya untuk membedakan dengan sendang satunya yang tidak kotak. Lebih mungkin lagi karena sendang itu dipagari dinding bata setinggi satu meter berbentuk kotak.

Tapi, rasanya bukan hanya karena itu saja: ada cerita bahwa di dalam sendang itu memang tersimpan sebuah kotak dari batu. Apa isi kotak itu tak seorang pun pernah memastikannya. Itu semua bukanlah pertanyaan ontologis bagi orang-orang di desa.

Bahwa kotak itu ada semua orang percaya. Mas Ibud, anak pakde Kartono, yang belakangan aku dengar mewarisi ngelmu menjadi orang pinter, dulu pernah bersumpah di depan kami, tentang kotak itu.

Di siang hari yang sangat terik, dia menyelam lama sekali. Kami yang menunggu di bibir sendang was-was sesuatu telah terjadi di dasar sana. Ketika muncul sambil megap-megap [1], Mas Ibud bersumpah bahwa dia memegang kotak itu. Setelah peristiwa itu kami suka mengatakan tentang keberadaan kotak itu. Tentu, juga bersumpah atas nama Gusti.

Ada pula hal lain yang mungkin membuat sendang ini disebut sendang kotak. Di bibir sendang, di antara dua pohon beringin, ada sebongkah batu berbentuk kotak. Permukaannya rata seperti meja. Halus dan bersih. Kami sering duduk-duduk di atas batu itu sembari menunggu lele keramat menampakkan diri. Orang-orang tua sering benar wanti-wanti tentang lele keramat itu.

Konon di malam hari juga sering ada orang bersemedi di atas batu itu. Maklum, pohon beringin itu begitu rimbunnya sehingga di malam hari, rembulan pun bertekuk lutut tidak berdaya menembus rimbunnya daun. Belum lagi di dua pojok di bagian luar sendang ada dua pohon duwet yang sangat besar dan tinggi. Ditambah dengan letaknya di ledhokan [2] di tengah persawahan yang menghampar bagaikan permadani raksasa, sendang kotak itu di malam hari menjadi gerumbulan hitam yang peteng dedet. [3]

Persawahan di lembah sekitar sendang itu membentang memanjang dan berkelok bak ular baruk linting dalam cerita rakyat Jawa pedesaan. Ini persawahan yang paling subur yang ada di desaku. Musim hujan atau kemarau, bagian sawah ini selalu berlimpah air berkat kali Cabak yang tak pernah kering mengantarkan air dari gunung Lawu.

Baca juga  Rara Jlegong

Persawahan di ledhokan itu juga bebas dari wajib sewa pemerintah untuk ditanami tebu Pabrik Gula Tasikmadu. Laksana sungai Nil bagi bangsa Mesir, kali Cabak adalah sumber kehidupan bagi desaku. Sebagian dari persawahan di lembah ledhokan itu adalah lungguh dari Mbahku yang menjadi lurah.

Di atas persawahan di lembah ledhokan itu melintang talang yang dibangun Walandi [4] entah kapan. Talang berbentuk kotak sepanjang dua ratusan meter itu begitu kuat sehingga berfungsi ganda sebagai jembatan yang menghubungkan desa dan persawahan di luarnya. Kukuh! Kami anak-anak suka duduk-duduk di pilar talang sungai itu sambil melihat burung-burung yang mencuri memakan padi.

Aku sering menggunakan plinteng [5] untuk menghalau rombongan manuk emprit [6] pemakan padi di bawah dari ketinggian. Talang sungai itu menjadi satu-satunya talang air di desaku. Ah, mana ada rezim pascakemerdekaan berpikir untuk menambahkan satu talang lagi untuk mengairi persawahan di seberang sana.

Sendang kotak itu selalu dibersihkan setiap tahun menjelang Rasulan. Kami sangat bergembira ketika perayaan Rasulan setelah masa panen tiba. Sudah menjadi tradisi yang turun temurun, desa menggelar wayang kulit sehari semalam di joglo embahku. Yang pasti wayangan itu selalu jatuh pada hari Jumat Pahing dan selalu mengambil lakon [7] Dewi Sri. Dewi kesuburan. Di malam harinya wayang digelar semalam suntuk sampai fajar terang benderang. Bahkan, keluarnya wayang golek sebagai tanda berakhirnya pagelaran seringkali baru muncul setelah matahari mletek [8] di ujung timur sana.

Di sepanjang jalan ramai dengan orang berjualan soto, sate ayam, gulai, pecel, tahu kupat, arum manis, brondong, dan mainan anak seperti plendungan [9] dan gasing. Selalu juga ada perjudian kecil seperti oklok [10], user [11], dan lotre dengan hadiah endog kamal [12]. Ah, masih ada ragam permainan judi yang lainnya. Kami sering diamdiam ikut juga berjudi kecil-kecilan itu. Tak sekali aku kena rangket [13] Ibu karena ikut main judi.

Tengah hari di Jumat Pahing itu pagelaran wayang lalu dihentikan beberapa jam. Gamelan wayang yang bertalu-talu tibatiba senyap. Seluruh warga desa pergi ke Sendang menggelar kenduren Rasulan. Setiap warga membawa nasi selamatan yang telah disiapkan dari rumah. Nasi lengkap dengan ingkung [14] dan segala uba rampe-nya itu dibawa di atas anyaman bambu. Mbahku khusus membuat tumpeng besar dengan beberapa ingkung. Semuanya dibawa ke sendang siang Jumat Pahing itu. Modin memulai ritual kenduren, menyampaikan ujub bahwa kenduren ini dialamatkan kepada danyang yang mbaurekso desa. Dan setelah beberapa kalimat dalam bahasa Jawa yang tidak aku mengerti, Modin mulai memimpin doa campuran bahasa Jawa dan Arab dalam kalimat yang diucapkan dengan cepat dan nada naik turun yang berirama dan ritmis sekali.

Baca juga  Nelayan itu Masih Melaut

Bayangan puluhan tahun itu berbaris rapi di kepalaku. Aku tercerabut dari ayunan tradisi desa ini. Aku pandangi bata berserakan di sana-sini. Rumput ilalang tumbuh liar menutupi seluruh pelataran sendang. Akar-akar pohon beringin masih tampak jelas menjulur ke tengah sendang yang kini kering kerontang. Batu kotak itu malu-malu menampakkan diri di sela-sela ilalang. Entahlah di mana gerangan batu kotak di dasar sendang yang kata Mas Ibud benar ada itu. Jangankan ikan lele keramat, dua pohon beringin yang dulu tampak angker pun sudah begitu kurus memelas.

Aku sedang mencoba mengais ingatan lama tentang sendang kotak itu ketika seseorang menghampiriku. Aku sedikit terkejut. “Mas Anto, kapan kondur?” [15] Aku menjawab sambil berusaha mengingat laki-laki sebayaku itu.

“Halah, kok ya kesupen to?” katanya ramah sekali. “Saya Panut!” Laki-laki itu menepuk bahu kananku. Khas pedesaan. Panut Mulyono, lengkapnya. Anak Pak Gimin yang rumahnya besar dan halamannya luas diubin yang selalu penuh dengan jemuran padi. Kami duduk di atas sebuah potongan pohon. Panut bercerita tentang segala hal yang satu sama lain tidak selalu berurutan. Meloncat dari satu hal ke hal lain. Tidak diakronis, tidak sinkronis. Tanpa nada penyesalan dia bicara tentang sendang yang tidak lagi dipelihara oleh desa.

“Orang sekarang sudah tidak lagi mandi di sendang. Sendang ini sudah lama kapiran [16], Mas! Juga, tidak ada lagi kenduren di sendang. Rasulan sempat berganti nama menjadi bersih desa. Kini sudah berganti lagi menjadi syukuran.”

Aku termangu. Tanpa terasa telah hampir satu jam kami berbincang. Azan duhur bersahutsahutan dari segala penjuru. Aku menyimak sambil berusaha menghitung berapa jumlah masjid berdasarkan suara azan yang bertubi. Tumpang tindih. Aku gagal menghitungnya.

Baca juga  Maira

“Desa ini dulu hanya ada sebuah langgar,” katanya mengingatkan sesuatu yang aku juga mengingatnya.

“Kini desa kita telah berdiri sebuah masjid besar berlantai dua dan tujuh buah langgar, ” ujar Panut dengan nada bangga yang tidak disembunyikan.

“Luar biasa!”, kataku setengah bergumam.

“Setiap masjid dan langgar masing-masing memiliki loudspeaker sendiri”, kata Panut dengan ditingkahi tertawa renyah.

“Sangat semarak”, sahutku pelan nyaris tanpa suara. “Kesemarakan lahiriah, setidaknya,” lanjutku dengan suara tercekat yang hampir urung aku ucapkan.

Panut mengangguk dan tersenyum. Mungkin setuju. Kami beranjak bersama menaiki tanjakan yang tidak lagi terasa curam seperti dulu, meninggalkan sendang yang tidak lagi kotak. Bayang-bayang Talang Belanda tampak tetap kokoh di belakangku. Kami menyusuri jalan di sepanjang sungai yang membelah desaku, lalu berpisah di sisi jembatan sungai itu.

Aku bergegas. Tak terasa aku telah berada di gerbang depan rumah pusaka keluargaku. Aku berdiri terpaku. Kubaca papan nama besar bertuliskan: Pesantren Moderen Al-Arqam. Hatiku membuncah. (M-2)

Desember 2020

Catatan:

[1] Nyaris kehabisan napas.

[2] Hamparan sawah yang letaknya di lembah.

[3] Sangat gelap gulita.

[4] Walandi: kromo inggil dari kata Belanda.

[5] Ketapel.

[6] Manuk emprit: burung pipit, burung kecil-kecil pemakan padi di sawah.

[7] Lakon: judul cerita dalam pewayangan.

[8] Mletek: matahari terbit di pagi hari.

[9] Balon zaman dulu.

[10] Oklok: permainan dadu.

[11] User: semacam rolet kecil.

[12] Endog kamal: telur bebek yang rasanya asin.

[13] Rangket: hukuman

[14] Ayam yang sudah dimasak gurih dalam keadaan utuh.

[15] Pulang.

[16] Terbengkelai.

Hajriyanto YT Diporejo adalah nama pena Duta Besar Indonesia di Beirut. Lulus Fakultas Sastra UGM dan Antropologi UI. Pernah menjadi dosen di Undip, anggota DPR RI dan Wakil Ketua MPR RI (2009-2014). Penulis esai-esai tentang politik, agama dan kebudayaan, juga cerpen. Sebagian diterbitkan dalam buku kumpulan tulisan, antara lain Menunggu Roja Menunggu Bersih (2015), Setelah Konversi Konvensi (2004), Anthropoligy of The Arab: Coretan-coretan Etnografis dari Beirut (2020).

Average rating 1.8 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: