Cerpen, Dedi Tarhedi, Tribun Jabar

Syukuran Naik Jabatan

5
(3)

Wawan sibuk sejak kemarin. Dia mau mengadakan syukuran untuk kenaikan jabatannya di pemerintahan. Jabatannya sekarang adalah kepala seksi dan kalau jadi naik jabatan atau naik eselon, dia bisa jadi Kepala Bidang atau Kepala Bagian di Pemda.

“Kok, sudah mau syukuran? Kan naiknya saja belum?” Saling bisik seperti itu menyebar ke semua ruang kantornya.

“Habis magrib datang, ya, Din ke rumah,” undang Wawan ke Udin. “Tak semua diundang, cukup kamu, Ace, dan Jeni saja. Jadi jangan ribut. Jangan sampai didengar Pak Junjun. Saya tak tega kalau Pak Junjun mendengar kabar syukuran ini, yang berarti tahu kenaikan saya.  Dia kan lebih senior dari saya. Tapi karena Pak Bupati dekat denganku jadi saya yang akan naik jabatan,” lanjut Wawan kepada Udin yang sedari tadi melongo mendengar itu semua.

Ya, walaupun Udin salah seorang stafnya Wawan, tak urung ia tetap bingung. Dia heran atasannya berani dan nekat begitu. Itu memalukan.

Sebab setahu Udin, belum akan ada mutasi atau rotasi jabatan di lingkungan Pemda karena pandemi corona masih menyala merah di kotanya.. Tapi bisa saja ada mutasi sekiranya ada jabatan kosong karena ada pejabat yang pensiun atau meninggal dunia.

“Tapi harusnya nunggu pelantikan dulu baru syukuran,” bisik Udin pada Jeni dan Ace, dua rekannya yang diundang hadir. Dan pendapat itu, sebenarnya, diaminkan semua pegawai di kantornya. Mereka, diam-diam, sering memperbincangkan hal itu di belakang Wawan.

“Bukan apa-apa, tapi takut gak jadi,” tambah Udin.

Tapi Wawan memang terlampau percaya diri. Dia merasa semua sudah ada digenggamannya. Padahal dalam hal mutasi sering terjadi apa yang sudah diwacanakan si A akan naik, si B akan pindah dan lain-lain, kenyataannya bisa berubah seketika. Bahkan dalam menit-menit terakhir sebelum acara pelantikan, bisa berubah total atau mendadak batal.

Baca juga  Dua Kisah Unik yang Tak Berhubungan

Dulu pernah ada kejadian yang memilukan soal pelantikan ini. Seorang pegawai sudah dapat surat undangan. Pegawai tersebut disuruh memakai baju seragam camat, yang putih-putih dan berpangkat itu. Tapi saat SK dibacakan bukan dirinya yang jadi camat. Betapa malunya dia, tentu saja.

Dari kejadian itu, walau sebelumnya setiap pelantikan lurah dan camat harus berseragam putih-putih, kini baju pelantikan disamakan memakai safari atau pakaian sipil lengkap (PSL) dan berpeci hitam nasional.

***

Setelah magrib, sebelum acara syukuran dimulai, sambil menunggu warga yang diundang, Wawan sekeluarga berkumpul di beranda.

“Pak, nanti mobilnya Innova ya? Kita bisa jalan-jalan ke luar kota,” kata istri Wawan manja. Anak-anaknya pun senang ayah mereka naik jabatan dan akan mendapat fasilitas mobil plat merah.

“Terus nanti motornya dipakai Kakak, ya? Kan Papa sudah dapat mobil dinas,”  si sulung ikut nimbrung.

“Ya, ya. Gampang diatur,” jawab Wawan sekenanya. Padahal ada aturannya, kendaraan dinas tidak bisa diambil dua-duanya. Kalau saja Wawan naik jabatan jadi Kabag, misalnya berarti dapat kendaraan dinas roda empat, dan kendaraan dinas roda duanya harus diserahterimakan.

“Ayo Kakak dan Adik bantu Mamah angkat kue dan aqua ke ruang tamu!” perintah Wawan karena dilihatnya satu dua tamu mulai berdatangan. Wawan menyilakan mereka masuk ke ruang tamu yang cukup luas itu.

***

Setelah acara syukuran selesai dan para tamu pulang, Wawan memberikan kotak makanan dan amplop putih berisi uang ke tangan Pak Ustaz sambil salaman. Tamu yang hadir sekitar lima puluh orang berasal dari warga se-RT-nya ditambah pengurus DKM serta teman kantornya: Udin, Jeni dan Ace. Semua mendapat jatah nasi kotak.

Baca juga  Joli

“Mudah-mudahan Pak Wawan tambah rezekinya. Dan pada jabatan yang baru lebih amanah,” kata Pak Ustaz sambil pamitan keluar pekarangan.

Tengah malam itu, di atas pembaringan, sementara istrinya sudah jauh bermimpi, Wawan memelotot ke langit-langit, melamun pergi ke kantor mengendarai mobil dinas kijang innova, datang di kantor disambut anak buahnya dengan hormat. Terus masuk ke ruangannya yang kini sejuk ber-AC. Dengan bangga, diamatinya meja kerja mewah dengan kursi putarnya, serta sofa tamu melingkar dalam ruangannya yang lebar.

***

Saat yang dinanti Wawan pun tiba. Sebulan setelah acara syukuran itu, Wawan menerima surat undangan pelantikan. Ini sangat menggembirakan sekaligus mendebarkan karena selama itu Wawan mendapat cemoohan kawan-kawannya.

Sejak subuh setelah salat, dia memakai baju pelantikannya yang baru. Sengaja bikin baru karena yang lama sudah belel. Selain itu dia ingin memberi ciri pada tahun ini, baju pelantikan baru dengan jabatan baru. Disemirnya pula sepatu hitam yang ujungnya moncong dan baru sebulan lalu dibelinya itu, biar lebih mengkilap.

Istrinya menyiapkan sarapan ditambah segelas susu. “Tumben ada susu,” kata Wawan.

“Iya, lah, Pa, sambut hari spesial!” timpal istrinya sambil tersenyum senang. Anak-anaknya melepas dengan sun tangan.

***

Tapi seperti sering terjadi, mutasi, rotasi, dan promosi itu akan tetap misteri. Seseorang yang disebut-sebut akan menduduki jabatan tertentu belum tentu jadi. Karena itu, sebaiknya menunggu SK dibacakan. Itu lebih pasti.

Demikian juga Wawan, walau sudah digadang-gadang, walau sudah mengadakan syukuran, tetap saja meleset dari harapan.

Wawan memang ikut pelantikan. Tapi ternyata tak naik jabatan. Dia hanya mutasi, pindah tugas ke dinas lain. Bahkan jabatan di kantor barunya lebih “kering” dari jabatannya sekarang. Itulah SK mutasi yang diterimanya. Tentu saja Wawan kecewa dan marah.

Baca juga  Penyakit-penyakit yang Mengundang Tawa

Konon ada desas-desus, ada uang “serangan” fajar yang membuat Wawan tergeser tak naik jabatan. Dan yang naik jabatan adalah Pak Anu Biasa, yang jago lobi. Yang maniak pendekatan. Yang juara main sogokan. Dan yang tidak punya rasa malu karena masih banyak pegawai senior lain yang terinjak dan tersalip tak sehat oleh Pak Anu Biasa itu.

Pak Anu Biasa tahu jabatan yang diduduki itu harus “dibeli” seharga kendaraan dinas yang nanti dipakai pejabat tersebut. Kalau kendaraan dinasnya Innova, berapa kira-kira uang yang harus dikeluarkan untuk membeli jabatan tersebut?

“Sialan!” bentak Wawan setelah bubar acara pelantikan. ***

Tasikmalaya September 2020

Dedi Tarhedi lahir di Bandung, 6 April. Setelah pulang dari Timor Timur sekira tahun 2000, cerpen-cerpennya dimuat di koran daerah Kabar Priangan, Radar, Pikiran Rakyat dan Media Indonesia, Jakarta. Sehari-hari Om Dedi, biasa dipanggil rekan kantor dan kawan seniman di Tasikmalaya, bekerja selaku PNS/ASN Pemkot Tasikmalaya di Dinas Pol PP.

Average rating 5 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: