Cerpen, Kartika Catur Pelita, Suara Merdeka

Wasiat Simbok

2.3
(8)

Kuat Prasetyo menaruh dua helai sarung dalam tumpukan pakaian di tas ransel. Sret. Menarik resleting. Siap menyandang tas ransel. Sejenak sebelum berlalu, dia memandangi sekeliling kamar. Tilam tipis. Almari pakaian. Hanya itu isi kamar berukuran 3 x 3 yang dia huni setahun ini.

Di rumah kos ini ia paling betah. Namun sekarang saat hendak meninggalkannya, Jakarta tak lagi menjanjikan kehidupan lebih mapan, setelah wabah corona menerjang. Pasar sepi. Terminal dan jalanan lengang. Padahal di sanalah ia mencari penghidupan sebagai preman jalanan. Menagih upeti, memalak, terkadang mencopet.

Merantau ke Jakarta dengan modal ijazah SMA tanpa memiliki keahlian apa-apa, Kuat bekerja jadi buruh pabrik, kemudian pelayan toko pakaian. Sehari kerja sejak pagi hingga sore. Badan lelah, penghasilan pas-pasan. Hingga suatu hari mengenal Bang Tus; dikenalkan pada dunia preman, bekerja sebentar hasil banyak. Bisa foya-foya. Bergelimang kenikmatan sesaat.

***

Setelah sebelas jam perjalanan, bergantian naik kereta api, bus, dan angkot pedesaan, nun di sebuah desa di kaki Gunung Slamet, pagi merekah, ketika Kuat menginjak halaman rumah Simbok. Mbak Dinar sedang menyapu halaman rumah yang dikotori daun-daun mangga arum manis yang berjatuhan, kaget melihat adik kandungnya datang.

“Wat, kamu pulang? Mengapa tak telepon? Nomor teleponmu ganti ya? Mbak nelepon enggak nyambung.

“Nomorku kebakar, Mbak. Ganti nomor.”

“Sudah, ayo ke dalam. Simbok sudah dua hari sakit. Selalu menanyakanmu.”

Meskipun sudah berkeluarga dan memiliki rumah, Mbak Dinar masih merawat rumah ini dan Simbok. Satu-satunya orang tua yang masih mereka miliki.

Kuat memasuki kamar Simbok. Kamar yang bersih dan tenang. Simbok selalu menata bunga melati di kamar. Wangi dan harum, seperti Simbok. Usia Simbok sudah melewati 80 tahun. Simbok jarang sakit. Simbok sejak usia muda bekerja sebagai dukun bayi, membantu orang melahirkan, bahkan setelah menikah dengan lelaki seberang, Mancar, petani rajin, yang tiada berumur panjang.

Usia Kuat masih lima tahun ketika ayah kandungnya tewas tersambar petir saat mencangkul. Simbok memilih tidak menikah, membesarkan buah hati dengan keahlian sebagai dukun bayi dan tukang pijat. Dinar dan Kuat sekolah hingga lulus SMA. Dinar menikah dengan seorang pamong praja. Dinar yang sangat sayang merawat Simbok. Duh, sekarang untuk kali pertama ia melihat Simbok berbaring tak berdaya di ranjang.

Baca juga  Kembalinya Feng Naga

“Simbok, Simbok sakit?” Kuat meraih jemari keriput wangi Simbok. Menciuminya. Lama.

Simbok menepuk-nepuk pipi anak lanang-nya. “Hanya sedikit tak enak badan. Kapan kau pulang, Nang? Apa Dinar meneleponmu, bilang simbokmu sakit?”

“Aku pulang karena kangen Simbok. Beberapa hari lalu aku bermimpi bertemu almarhum Bapak. Aku jadi teringat Simbok, Mbak Dinar, dan rumah ini.”

“Syukurlah kau pulang dan ingat Simbok, mbakyumu, dan rumahmu. Empat tahun merantau di Jakarta, hanya sekali kau pulang. Tiga kali lebaran kau tak pulang. Ada apa, Nang? Apakah di kota kau sedemikian sibuk hingga mudik pun tak bisa?”

“Mbok aku lebaran lembur, tak ada teman menggantikan.”

“Sebenarnya apa pekerjaanmu? Kau kerja di mana, Nang?”

“Aku kerja di pabrik, Mbok. Pernah kerja di toko juga. Sekarang kerjaku….”

“Perasaan Simbok tak bisa kaubohongi. Seorang kerabat kita, Wak Khakim, pernah melihatmu di terminal Jakarta. Katanya kau meminta upeti dan memukuli orang. Apakah benar itu, Nang? Simbok membesarkanmu seorang diri setelah ayahmu meninggal. Simbok mendidikmu baik-baik, mengajarimu sembahyang, mengaji, untuk ingat urip iku mung mampir ngombe. Hidup di dunia ini hanya sebentar. Mencari bekal hidup di dunia secukupnya. Carilah dengan cara halal dan tidak menyakiti sesama. Manusia hidup bukan hanya wadak, raga. Manusia punya hati, jiwa, roh, dan nyawa. Jika raga butuh makan, jiwa pun butuh ilmu dan amal baik untuk bekal hidup kekal di akhirat. Kowe reti, Nang, yen ragamu berbuat jelek, roh dan nyawa dalam ragamu merasa sakit, terluka, tak betah. Roh dan nyawa akan meninggalkanmu. Perbuatan baik atau buruk kita, meskipun sebesar debu, kelak dimintai pertanggungjawaban oleh Gusti Allah.”

Kuat menangis dan terbata-bata mengaku pada Simbok bekerja sebagai preman di Jakarta. Kehidupan preman membawa dia ke maksiat. Dia terisak-isak, menangis, seperti saat bocah dulu ketika mencuri jambu dan dikejar sang pemilik. Sembunyi dan menangis di bahu Simbok. Pelukan Kuat terlepas ketika suara lembut menguluk salam.

“Assalamuíalaikum.”

“Waíalaikumsalam.”

Kuat bangkit, tersipu ketika sosok perempuan muda itu mendapati air mata masih membasah di pipi. Buru-buru dia menghapus. “Eh, ada tamu,” ujar dia tersenyum salah tingkah pada gadis ayu yang membawa serantang makanan.

Baca juga  Tuan dan Tamu

“Mbok, Cori bawa sarapan nasi kuning untuk Simbok. Bagaimana keadaan Simbok?”

“Sudah mending. Apalagi anak kesayangan Simbok sudah datang. Kenalkan, ini si Kuat, anak ragil Simbok. Wat, kenalkan ini Cori, cucu Wak Khakim. Cori perawat di RSUD.”

“Kapan Mas Kuat datang?”

“Subuh tadi, Mbak, eh Cori.”

“Panggil Cori saja boleh.”

“Namamu bagus. Cori.”

“Iya, Mas. Tapi kepanjangannya kadang bikin ngeri.”

“Emang nama panjang Cori siapa?”

“Coriana.”

“Corona?”

“Nah, itu kan. Mentang-mentang sedang wabah corona, teman suka melesetin nama saya, Mas. Hi-hi.”

Coriana memeriksa Simbok, sebelum pamit berangkat kerja. Kuat memandang gadis ayu yang tiba-tiba membuat hatinya berdebardebar kencang itu.

***

Sebulan sudah Kuat pulang kampung. Di rumah membuat sale pisang. Dia jual-titip ke toko oleh-oleh. Juga via online. Satu-dua order datang. Menikmati perjuangannya. Lelah, tapi bersyukur bekerja di jalan halal.

Kuat sedang mengiris pisang di dapur, entah tersebab melamun atau teledor, jarinya teriris pisau. “Aduh!”

Darah menetes. Ia mencari pembalut dan obat merah ketika mendengar Mbak Dinar berteriak histeris. “Simbok! Simbok! Oh, Simbok!”

Tergopoh-gopoh dia memasuki kamar Simbok. Mbak Dinar memeluk tubuh beku Simbok sambil menangis.

“Ada apa, Mbak? Simbok?”

“Simbok meninggalkan kita, Wat.”

“Innalillahi….”

Seperti karung kosong tergeletak di lantai. Lemas. Kuat menangis tersedu-sedu.

Tetangga berdatangan. Berbisik-bisik. Entah siapa menyulut api gibah. Kabar Simbok meninggal karena wabah corona tersiar. Sebuah berita tercetak di situs online, “Pemuda Pulang dari Jakarta Menularkan Covid-19, Ibunya Meninggal!”

Tak ada warga berani mengurus pemulasaran jenazah Simbok. Petugas puskesmas akhirnya yang mengurus. Mereka menggunakan APD lengkap sesuai dengan prosedur pemandian jenazah hingga pemakaman Simbok.

Dinar dan Kuat diperiksa. Hasilnya, Dinar negatif dan adiknya positif terserang Covid-19. Kuat berobat di rumah sakit. Hari-hari berlalu dalam karantina dan pengobatan. Ingin sembuh. Ingin memenuhi wasiat Simbok.

Virus yang menyerang adalah peringatan dari Allah agar dia hijrah ke kehidupan lebih baik. Selama perawatan, Kuat khusyuk salat dan berdoa.

“Setiap sakit ada kesembuhan. Setiap luka ada obatnya. Semoga Allah memberi Mas Kuat waktu bertobat.” Pesan via WA dari Coriana menyemangati Kuat.

Baca juga  Larasati

“Aku ingin sembuh dan menuruti wasiat Simbok, Cori. Doakan ya.”

“Iya, Mas. Kalau boleh tahu Simbok mewasiatkan apa, Mas?”

“Simbok ingin aku menikahi wanita pilihannya. Semoga aku bisa memenuhi harapannya. Karena sejujurnya aku tidak tahu apakah perempuan pilihan Simbok memiliki perasaan sama sepertiku.”

“Aku pun mendapat wasiat dari Simbok. Simbok sering berkisah tentang anak bontot kesayangannya. Aku sudah jatuh cinta saat mendengar cerita Simbok. Aku benar-benar jatuh cinta saat bertemu Mas Kuat kali pertama. Aku….”

Kuat Prasetyo menangis. Terharu. Bahagia.

***

Dia sangat bersyukur ketika dinyatakan sembuh. Sebelum pulang ke rumah, ia silaturahmi ke rumah Coriana, perempuan jelita yang menebar cinta di dada, menumbuhkan semangat hidupnya sepeninggal Simbok.

Rumah Coriana megah. Sore itu ramai tetangga berkumpul di teras. Kuat mengucap salam. Ini kali pertama ia ke rumah sang pujaan hati. Ia harus meninggalkan kesan baik pada pemilik rumah.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam. Nak ini siapa? Mencari siapa?” tanya seorang perempuan paruh baya.

Belum sempat Kuat menjawab, seorang lelaki sepuh keluar dari rumah dan…. “Nak Kuat, kau datang pasti mencari Cori.”

“Iya, Wak Khakim. Mana Cori?”

“Simbokmu dan aku masih sepupu. Jadi kau dan Cori masih kerabat. Kami merestui jika kalian berjodoh. Cori pernah bercerita pada ibunya tentang kamu. Kami merestui, Nak. Kami menginginkan Cori dan kamu berjodoh, menikah. Namun, Allah memiliki rencana lain. Kemarin Cori pergi selamanya karena corona. Kami sudah memakamkan jenazahnya sesuai dengan protokol kesehatan. Sudah sesuai dengan protokol kesehatan pula saat Cori menangani pasien di rumah sakit, tapi mengapa virus sialan itu masih menerjang dia? Oh, Coriana cucu ayu tersayangku….” (28)

Kota Ukir, September-Desember 2020

Kartika Catur Pelita bergiat di komunitas Akademi Menulis Jepara (AMJ). Prosa dan puisinya dimuat di berbagai media cetak dan daring. Buku fiksinya Perjaka, Balada Orang-orang Tercinta, Pemangsa, Karimunjawa Love Story, Pewaris Macan Kurung, dan Kentut Presiden.

Average rating 2.3 / 5. Vote count: 8

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. dawam

    Cerita sangat “sederhana”. Mirip berita saja, namun……salut untuk penulisnya. Hebat.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: