Cerpen, Mufti Wibowo, Tanjungpinang Pos

Kinanti

3.3
(6)

DI RUMAH paling megah di ujung kampung itulah, aku dan Nenek tinggal. Sebenarnya ada seorang lagi penghuni rumah ini, Kinanti. Seperti orang kampung yang lain, aku tak pernah menganggap kehadiran perempuan yang juga pernah tinggal dalam rahim yang sama denganku itu. Aku bahkan tak pernah sudi menyebut namanya, apalagi mengakuinya sebagai kakak.

Kinanti adalah biang masalah dalam hidupku. Orang-orang kampung—entah tua atau bocah, laki pun perempuan—selalu menempelkan nama Kinanti untuk mengungkap suatu keanehan, kengerian, kejijikan, bahkan kebencian atau kemarahan. Bisa dibayangkan betapa jengkel perasaanku, dulu, saat teman-teman bermainku di sekolah dan kampung menyebutku sebagai adik si Kinanti atau tinggal serumah dengan Kinanti. Kalau sudah begitu, aku akan pulang ke rumah dengan wajah bersungut-sungut. Dengan sia-sia, Nenek selalu menenangkanku di pelukannya.

Hingga pada akhirnya, aku memutuskan untuk tak lagi bermain dengan mereka. Aku bahkan harus pindah ke sekolah yang jauh dari kampung agar tak ada yang tahu bahwa aku adik dari Kinanti atau tinggal serumah dengan Kinanti. Sialnya, Nenek tak pernah memberi penjelasan yang memuaskan padaku mengapa Kinanti begitu berbeda denganku alih-alih aku sering merasa Nenek memberikan perhatian lebih pada Kinanti.

Dulu, aku kecil hanya bisa berandai-andai, ibuku akan pulang untuk menjemputku dan membawaku turut bersamanya tinggal di Hongkong. Dengan begitu, aku akan terbebas dari kutukan bernama Kinanti. Pada kenyataannya, itu tak pernah terjadi. Ia bahkan tak pernah berkabar kepada kami, kecuali kiriman uang yang tiga atau enam bulan sekali masuk ke rekeningku.

Hari ini, aku pulang untuk melihat wajah ibu, untuk pertama dan terakhir kali. Tentu saja tidak sungguh untuk pertama karena aku pernah bersarang di rahimnya. Kurang dari setahun setelah melahirkanku, ia kembali pergi ke Hongkong. Kebersamaan dengan ibu di usiaku yang kurang dari setahun tak meninggalkan memori khusus. Ikatan emosiku dengan Nenek lebih kuat. Karena Neneklah aku pulang menghadiri acara pemakaman itu.

Baca juga  Perempuan yang Mencari Sepasang Mata

Kinanti yang selama ini kutahu tak pernah bicara dengan siapa pun dan hanya berinteraksi dengan Nenek, mendadak seperti kambing ternak Nenek yang salah makan. Ia menangis histeris dengan tubuh kejang, meronta-ronta sesaat setelah peti jenazah ibu tiba. Aku sendiri tak melihat kejadian itu, aku hanya mendapat cerita dari Nenek dalam perjalanan pulang dari pemakaman. Karena perangainya itulah, nenek tak bisa mencegah orang-orang kampung untuk memasung Kinanti.

Untuk pertama kali, aku iba pada Kinanti. Enam tahun, aku pergi dari kampung untuk mendapat gelar sarjana. Aku kerasan tinggal di kota setelahnya, jauh dari kutukan Kinanti. Malam ketiga setelah tamu-tamu kami pulang, aku datangi Kinanti. Dia tenang meski terlihat tanpa tenaga karena tak makan sejak tahu ibu mati. Dalam posisi tubuh bergelung, dia membalas tatapanku dengan dingin, tapi tampak kewaspadaan. Dia pasti tahu, sejak dulu, aku amat membecinya. Betapapun aku dan Nenek tak pernah mengatakannya. Betapapun aku dan Nenek mengatakannya, dia takkan mengerti, dia tuli dan gagu.

“Nanti.” Itu kali pertama aku menyebut namanya. Dia membaca gerak bibirku. Aku mengulanginya, kedua dan ketiga. Ia menangis. Aku tak tahu kenapa ada gemuruh yang membuat dadaku seakan ingin diledakkan. Air mataku turut membuat galurnya.

Kinanti tertidur setelah kusuapi bubur dan teh hangat. Aku mengamati wajahnya yang ternyata lebih mirip ibu. Mereka memiliki bola mata hitam yang bulat dan lebar, persis dengan foto ibu selagi muda. Tulang rahang tak setegas milikku yang membuat mereka memiliki kecantikan yang serupa. Sekali lagi, aku menangis.

Pada saat itulah, dari jarak kurang dari satu meter, aku melihat belasan ekor ular keluar dari lubang-lubang di tubuh Kinanti. Aku pingsan setelah lengkingan jerit yang mengundang Nenek.

***

Keesokan harinya, aku dan Nenek melepas ikatan yang menjerat tubuh Kinanti. Kami memandikannya. Kinanti sangat bahagia, dia terus tertawa geli saat aku menyabun bagian-bagian sensitif di tubuhnya.

Baca juga  Sebuah Pura di Air Terjun Gitgit

Ketika aku berpikir ingin hidup selamanya setelah menemukan kebahagiaan yang begitu hangat di rumah, Nenek memberikan kejutan lain saat kami menikmati sore yang bergairah karena gerimis di awal musim penghujan.

“Tuhan telah mengabulkan permintaan terbesarku, Gendis.”

“Apa karena musim penghujan telah tiba?”

“Lebih dari itu, kemarau bertahun-tahun bagi Kinanti telah berakhir. Dan, kamulah pembawa hujan itu.”

“Apa itu berhubungan dengan ular-ular menjijikan yang keluar dari tubuh Kinan malam itu, Nek?”

“Karena memang hanya hujan yang membuat ular-ular itu pergi dari sarangnya…” Nenek tak bisa lagi meneruskan kata-katanya. Ia menangis, haru. Ia membenamkan kepadaku di dadanya yang amat hangat. Aku sangat hapal dan menyukai tempat itu sejak kecil, di sanalah aku menemukan ketenangan, bersembunyi dan menghindar dari kemarahan dan ketakutan. Ia pula mengujani ciuman di wajahku. Seumur hidupku, aku baru pernah melihat kebahagiaan yang sedemikian rupa memancar dari wajah Nenek.

“Jika aku mati, Kinanti kau yang jaga, ya?”

Mendengar permintaannya, aku tercekat beberapa saat sebelum menguasai diri. Aku memberikan anggukan yang melegakannya. Seumur hidup, baru sekali itu ia meminta padaku. Aku yang sejak bocah selalu mengusiknya dengan permintaan-permintaan—yang meski tak selalu dituruti—tentu takkan kuasa menolaknya. Malah, aku sendiri yang kadang berlagak ingin dibutuhkan olehNenek. Kurasa, itulah cintaku padanya.

“Nek, dari mana ular-ular yang bersarang di tubuh Kinanti?”

“Kau tahu, berpuluh-puluh tahun waktu untukku melupakan peristiwa itu, tapi hingga detik ini aku tak pernah berhasil, aku bahkan masih terus merasakan rasa sakitnya yang seakan hidup kekal di kepala dan hati.”

“Demi Tuhan, berbagilah penderitaan itu denganku, Nek,” bujukku dengan suara parau.

Hening menyergap kami sebelum Nenek membuka mulutnya dengan sungkan.

“Mestinya aku tak membiarkan ibumu dinikahkan secara siri oleh kakekmu setelah dia lulus SMP. Dengan begitu, sebenarnya kami berharap TBC kakekmu akan mendapatkan pengobatan yang memadai setelah tubuhnya menolak bersahabat dengan laut. Tapi, ayah Kinanti mati jutru tertelan gelombang setinggi pohon kelapa yang mengamuk di Segara Kidul sebelum kemudian Kinanti mendesak lahir ke dunia saat usianya dalam kandungan belum juga genap delapan bulan. Kinanti tak pernah bersekolah karena tak satu pun sekolah di sini yang sanggup menangani anak tuli dan bisu. Sekolah yang menerima anak seperti Kinanti berada di kota, dan biayanya mahal. Untuk itulah ibumu menikah lagi. Sialnya, suaminya seorang bajingan tengik. Saat ibumu banting tulang di luar negeri, suaminya kerasukan setan, Kinanti menjadi korbannya. Kakekmu yang kebetulan memergokinya kalap, ditebasnya leher menantunya itu hingga terpisah kepala dari tubuhnya. Diseretnya bangkai bajingan itu ke tengah laut dengan sebuah sampan. Hingga hari ini, tak diketahui nasib kakekmu. Mungkin kakekmu dan mayat yang dibawanya telah menjadi makanan ikan.”

Baca juga  Taman Hujan

Nenek menghentikan ceritanya karena dadanya mendadak sesak dan batuk-batuk. Nenek berjanji akan melanjutkan ceritanya malam harinya sambil berharap melihat rasi bintang dan purnama. Tapi, malam itu, Kinanti meminta Nenek dan aku tidur di kamarnya.

Aku dan Kinanti mengapit di kanan dan kiri tubuhNenek yang hangat. Dan, saat subuh membuat aku dan Kinanti terjaga, kami baru menyadari Nenek telah menyusul ibu ke alam baka. Aku dengan Kinanti memang berbeda, tak satu pun bentuk fisik kami yang menyerupai, apalagi identik. Cobalah pembaca bandingkan denganku yang memiliki warna kulit kuning yang cenderung pucat serta bermata sipit. ***

MUFTI WIBOWO. Lahir dan berdomisili di Purbalingga.

Average rating 3.3 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: