Cerpen, Kiki Sulistyo, Koran Tempo

Pemeran Utama Langsung Mati di Menit Pertama

2.8
(8)

“Pemeran utama akan langsung mati di menit pertama,” kata Jaka Anwir malam itu. Malam ketika Nikita melihat hantu gentayangan dan saya baru saja gentayangan dari rumah Nikita ke kedai minuman soda yang tidak berani tutup lantaran seseorang yang mengenakan pakaian pendekar masih duduk di salah satu meja dengan pedang menjuntai. “Gagasan yang sungguh berani,” ujar saya. “Tapi saya tidak bisa membayangkan bagaimana kelanjutan cerita tanpa tokoh utama.”

“Itulah,” kata Jaka. “Bagaimana kalau kamu yang tulis ceritanya?”

“Tadi saya sudah bilang kalau saya tidak bisa membayangkan kelanjutan cerita tanpa tokoh utama. Membayangkan saja tidak bisa apalagi mau menuliskannya? Lagi pula kalaupun saya bisa membayangkan belum tentu saya bisa menuliskannya. Saya kan cuma tokoh cerita, bukan pengarang cerita. Lebih baik kau tanya kepada pengarang cerita.”

“Itulah,” kata Jaka. “Bagaimana kalau kau yang mencarikan aku pengarang cerita?”

Saya alihkan pandangan ke kaleng soda yang menumpuk, bukan hanya di atas, tapi juga di kolong meja. Kalau saya hitung jumlah kaleng soda itu, mungkin saya sudah tertidur. Mungkin Nikita juga sudah tertidur sekarang. Dia senang menghitung domba sebelum tidur dan setiap kali menghitung, ada saja domba yang melarikan diri. Nikita akan mengejar domba itu ke mana saja. Tadi malam seekor domba berlari sampai ke Sungai Tiberias. Nikita melihat Sungai Tiberias mengering. Sekonyong-konyong Nikita teringat sesuatu. Dulu dia pernah berjanji kepada seseorang, jika air Sungai Tiberias mengering, dia akan datang dan menyerahkan dirinya untuk dijadikan budak.

Seseorang itu adalah saya.

Begitu saya tahu kalau Sungai Tiberias mengering, saya langsung ke rumah Nikita. Saya mau menagih janji, meskipun seharusnya ia yang datang pada saya berdasarkan susunan kalimat yang diucapkannya. “Tapi dari mana saya tahu kalau Sungai Tiberias mengering? Bukankah yang bermimpi melihat sungai itu adalah Nikita?” tanya saya pada diri sendiri. Jaka Anwir diam sejenak. “Menurut saya, pengetahuanmu tidak tumbuh dari peristiwa adikodrati. Seseorang telah memberi tahumu,” katanya.

“Siapa?” tanya saya.

“Si pengarang,” jawab Jaka Anwir. Matanya melirik ke pendekar dengan pedang terjuntai di pinggang. “Apakah orang itu adalah si pengarang?” tanya saya setengah berbisik.

Baca juga  Bermalam di Pasar Swalayan

***

Cahaya bulan menerobos ke loteng rumah Nikita ketika dilihatnya hantu gentayangan itu mengambang. Itu adalah hantu seorang pendekar yang mati kena racun. Setelah pertarungan terakhirnya dengan jagoan yang dibayar kompeni—di mana hanya dengan satu gerakan si jagoan yang bayarannya setara dengan upah minimum regional itu langsung tumbang bagai batang pisang—si pendekar mampir ke sebuah kedai. Di sanalah dia terkena racun. Saat merasakan isi perutnya seperti dililit anakonda, dia segera cabut dari kedai itu. Dia mau pulang dan mencari ramuan atau setidaknya berbaring saja, namun tenaganya sudah terkuras di tengah jalan. Dia masuk ke rumah paling dekat yang bisa dijangkaunya. Saat dia tak sanggup bertahan dan jatuh menggeletak di lantai, dia mengira rumah itu tidak ada penghuninya; pintunya tidak dikunci, lampunya tidak menyala, bau debu yang lembap menguar bagai surai singa. Namun kemudian seorang laki-laki muncul—kumisnya tebal, roman mukanya tampak lucu. Kepada si pendekar, laki-laki itu memperkenalkan diri sebagai Thalib. Lantas muncul orang-orang lain—laki-laki maupun perempuan. Rumah itu jadi ramai dan terang-benderang. Si pendekar merasa rumah itu dipenuhi orang-orang yang mati diracun.

Nikita tinggal di rumah itu sejak dia mendapat peran utama dalam sebuah film horor tentang rumah hantu. Film belum memulai proses pengambilan gambar, tapi hantu itu sudah muncul. Nikita tidak takut hantu, ia lebih takut pada saya. Makanya waktu saya tiba di rumahnya dan hantu yang dilihatnya buyar seperti lamunan penduduk ekonomi lemah, Nikita menjerit seakan-akan melihat hantu, padahal yang dilihatnya saya, dan ia menjerit karena saya telah membuat hantu yang dilihatnya hilang begitu saja.

“Kamu merusak semua!” semprotnya.

“Saya cuma datang untuk menagih janji,” bantah saya.

“Kamu berjanji tidak akan merusak semua!”

“Kamu yang berjanji, bukan saya!” bantah saya.

“Jangan berputar-putar kayak gitu. Kalau kamu tidak merusak semuanya, aku bisa punya cerita untuk disampaikan ke wartawan.”

“Ah, cerita ketemu hantu macam begitu bisa kamu karang semaunya.”

“Aku bukan si pengarang. Aku orang jujur.”

“Kalau kamu jujur, kamu akan menepati janji. Kamu berjanji, kalau Sungai Tiberias mengering, kamu akan menyerahkan diri jadi budakku.”

Baca juga  Kucing Nomor Enam Takahashi Mizore

“Dari mana kamu tahu kalau sungai Tiberias mengering?” tanyanya.

“Dari si pengarang,” jawabku.

***

“Bukan,” jawab Jaka Anwir. “Dia bukan si pengarang. Dia yang membuat si pemeran utama mati di menit pertama.”

“Berarti si pemeran utama adalah jagoan bayaran kompeni?”

Jaka Anwir menatap saya terheran-heran. Saya juga heran dengan pertanyaan saya, tapi saya tidak begitu tahu kenapa saya ikut heran.

“Gagasan cemerlang!” Jaka Anwir menjentikkan jarinya. “Sudah kuduga kamu pasti pandai membuat cerita.”

“Saya tidak membuat cerita, saya cuma bertanya.”

“Ah, jangan berputar-putar kayak gitu. Ayo ceritakan selengkapnya,” desak Jaka Anwir sambil memanggil pelayan untuk kembali membawakan minuman soda. Saya lihat tumpukan kaleng soda di sekitarnya sudah nyaris menyentuh langit-langit.

Jagoan bayaran kompeni itu seorang perempuan. Ayahnya dari Prusia, ibunya dari tanah Sunda. Ia diangkat murid oleh Sunan Thalib. Lelaki berkumis tebal yang dikenal lantang membela hak-hak semua manusia itu menemukannya sedang menangis di halaman sebuah kedai di bawah pohon beringin yang sekujur batangnya dililit kain kuning. Waktu itu malam minggu, kedai ramai karena sedang dijadikan tempat pesta menyambut kedatangan menir baru yang akan jadi pemimpin di kawasan itu. Tak ada yang memperhatikan ketika Sunan Thalib membawa si anak pergi dari sana.

Jaka Anwir berkenalan dengan Nikita di kedai yang ramai itu. Jaka melihat Nikita menangis di salah satu meja. Nikita kecewa dan marah, lalu cabut dari tempat latihan teater lantaran merasa sebagai perempuan hak-haknya telah dianiaya. Pendapat-pendapatnya jarang didengar, bahkan kerap kali ia diminta mengerjakan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan posisinya sebagai pemeran, misalnya diminta memijat sutradara atau menjemput anak sutradara. Di kedai itu Jaka Anwir menawarkan pada Nikita untuk bermain di film yang sedang digarapnya. Tak lupa Jaka Anwir bilang kalau dia juga sedang mencari seorang pengarang.

***

“Si pengarang? Maksudmu Jaka Anwir?” tanya Nikita.

“Bukan. Dia kan sutradara. Bukan pengarang,” jawab saya dengan kesal.

“Berarti kau mengada-ada.”

“Saya tidak mengada-ada!”

“Dusta!”

***

“Baiklah. Akan saya ceritakan semuanya,” ujar saya pada Jaka Anwir. “Nikita sudah berjanji pada saya, jika Sungai Tiberias mengering, ia akan menyerahkan dirinya untuk jadi budak. Itu diucapkannya ketika kami sama-sama latihan untuk persiapan pentas teater. Saya berperan sebagai tokoh cerita, Nikita berperan sebagai pengarang, dan sutradara kami berperan sebagai sutradara. Kami bertengkar dalam latihan itu. Nikita merasa sebagai orang yang berperan sebagai pengarang, perannya justru mirip budak. Saya bilang bahwa ia sama sekali tidak tahu rasanya menjadi budak. Kalau ia mau tahu, maka ia harus jadi budak sungguhan terlebih dulu. Nikita marah. Saat itulah ia mengucapkan janjinya, sesaat sebelum ia menangis histeris dan berlari keluar. Sutradara kami mengejarnya. Saya tahu Nikita pasti pergi ke kedai, tapi saya tidak tahu apakah ia dan sutradara akhirnya bertemu atau tidak, yang jelas rencana pertunjukan itu kemudian dibatalkan.”

Baca juga  Memendam Luka di Kebun

Jaka Anwir bertepuk tangan sambil berdecak-decak. Pelayan—mengira Jaka Anwir memesan minuman lagi—datang membawa beberapa kaleng soda. “Plot yang luar biasa. Saya sampai bingung mendengarnya. Kalau begitu saya harus mencari seorang pemain perempuan. Apakah kamu punya rekomendasi?”

“Saya kira tidak ada yang lebih pantas kecuali Nikita.”

“Betul. Tapi saya sudah menawarkan pada Nikita.”

“Dia bersedia?”

“Tentu saja.”

“Lantas kenapa kamu mau cari pemain lagi?”

“Aku harus menawarkannya kembali pada Nikita.”

“Bukannya ia sudah bersedia?”

“Betul.”

Saat itu pintu kedai tiba-tiba terbuka. Saya menengok. Di luar, cahaya bulan menerangi hamparan sungai yang kering kerontang. Nikita masuk. Langkahnya ringan selayaknya bayangan. Pendekar yang sedari tadi duduk saja di salah satu meja tiba-tiba berdiri. Nikita menghambur ke arahnya. Mereka berhadap-hadapan. “Lihat. Pemeran utama akan langsung mati di menit pertama,” bisik Jaka Anwir. ***

Blencong, 1 Desember 2020

Kiki Sulistyo, lahir di Kota Ampenan, Lombok. Meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan puisinya yang terbaru berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020).

Average rating 2.8 / 5. Vote count: 8

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Kal

    Entah knp, capek bacanya..

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: