Cerpen, Kompas, Zaidinoor

Akhirnya Kita Semua Menjadi Maling

3.5
(12)

Ia sudah mempersiapkan semuanya. Parang di tangan sudah diasah. Belati kecil sudah terselip di pinggang. Dan dari balik semak di tepi kebun karetnya, ia bersembunyi. Tanpa suara lelaki itu sudah berjam-jam menunggu.

“Hari ini, siang ini, akan ada yang mati,” Budir berikrar dalam hati di persembunyiannya.

Tiba-tiba dari arah jalan setapak, muncul sesosok lelaki dan memasuki kebun karet Budir. Sambil mengintip di balik ilalang, darah Budir tersirap, napasnya bergemuruh, jantungnya berdegup lebih cepat dan giginya bergemeletuk. Budir masih diam di persembunyian. Menunggu sosok itu melakukan sesuatu di kebun karetnya.

Sesaat kemudian, sosok itu dengan tergesa memunguti getah para yang terkumpul. Dari pohon ke pohon yang telah disadap, ia mengambil lom (karet yang sudah membeku) dari wadahnya dan memasukkannya ke ember yang dibawa. Dan apa yang dilakukan sosok itu adalah seperti yang disangka Budir.

“Jadi ini maling karet selama ini!” teriak Budir sambil keluar dari persembunyian.

Sosok itu terkejut luar biasa. Ia menoleh ke arah datang suara. Budir sudah menerobos padang ilalang dan berlari ke arah tempat sosok itu berdiri mematung. Parang diacungkannya. Budir siap menebas sosok yang disebutnya maling itu.

Akan tetapi saat jarak sosok itu tinggal beberapa meter lagi langkah Budir terhenti. Budir terkesiap saat mata mereka saling bertemu. Seakan ada yang menahan geraknya. Amarahnya yang membara luruh tiba-tiba. Tubuhnya terasa lunglai, parang di tangannya terlepas begitu saja. Di atas daun-daun karet yang luruh akibat kemarau, Budir terduduk bersimpuh.

“Badal, kenapa kau melakukan ini…,” kata Budir dengan bibir bergetar. Matanya terasa hangat. Tanpa terasa buliran air mata menetes pelan. Sosok di depannya pun juga terlihat lunglai, ember yang berisi lum terjatuh dari pegangannya. Sambil bersimpuh kedua lelaki itu saling pandang. Beberapa saat mereka hanya mematung.

Kehidupan bagi Budir memang terasa lebih sulit beberapa tahun terakhir ini. Harga karet merosot tajam, kabar yang ia dengar karet-karet tak bisa dikirim ke luar negeri. Padahal hasil sadapan karet saat ini menurun drastis. Saat daun-daunnya rontok itu berarti getah yang dihasilkan karet akan menurun. Karena itulah ia begitu gusar saat kehilangan karet di kebunnya sendiri.

Memang akhir-akhir ini di kampungnya sering terdengar pencurian karet. Namun ia tak menyangka kebunnya yang tak begitu luas itu juga akan jadi sasaran pencurian. Dalam sepekan, Budir sudah tiga kali kehilangan lum di kebun karet. Hasil sadapnya hanya bisa untuk makan sehari-hari. Padahal ia harus memberi makan anak istri. Saat ini, hanya karet yang bisa menghidupinya. Hasil sawah tak bisa diharapkan, musim tak bisa diperkirakan, kemarau datang lebih awal, tikus-tikus sudah membabat habis padi-padi sebelum panen tiba.

Baca juga  Perempuan yang Mencari Sepasang Mata

Entah sudah berapa orang di kampungnya yang mengadu pada pembakal soal pencurian karet ini. Namun semuanya ditanggapi pembakal dan aparatnya dengan dingin. Tak ada tindakan apa-apa. Budir akhirnya berniat memergoki sendiri pencurinya. Karena itulah siang ini, setelah menyadap karetnya, ia bersembunyi di balik semak. Menunggu sang maling.

Namun, alangkah terkejutnya Budir, ternyata maling yang mencuri karetnya adalah Badal, sahabat akrabnya sendiri. Sejak kecil, mereka dibesarkan dan bermain di pekarangan yang sama. Rumah mereka saling berdampingan. Bahkan saat Budir menikah, Badal mengurus segalanya, begitu juga sebaliknya. Mereka juga membeli tanah yang sekarang menjadi kebun karet berdampingan. Baru subuh tadi mereka berangkat bersama untuk menyadap karet. Namun kini mereka bertemu sebagai maling dan korban.

Masih bersimpuh, Badal tiba-tiba meraung menangis sengugukan. Tiba-tiba ia bersujud. “Ma… maaf… maafkan aku kawan…,” katanya masih sengugukan.

Melihat sahabatnya menangis tersedu dan bersujud, emosi Budir mereda namun matanya masih basah. Budir kemudian bangkit perlahan, mendekati Badal dan merangkul bahunya. Sambil menggandeng bahu Badal, Budir membimbingnya bangkit dan mengajaknya duduk di salah satu batang pohon karet yang tumbang di sudut kebun.

***

“Hasil sadapanku tak cukup lagi untuk makan,” kata Badal sambil menunduk.

“Tagihan motor pun sudah hampir tiga bulan tertunggak,” sambungnya lagi.

Budir yang duduk di sampingnya hanya terdiam. Ia hampir saja bertanya kenapa tidak minta bantuannya, namun urung manakala ia sadar bahwa ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Kehidupan keluarganya sendiri pun cukup menderita. Harga satu kilo karet sekarang bahkan tak cukup untuk membeli satu liter beras.

“Jadi karena itu selama ini kau mencuri lumku?” tanya Budir.

“Ini yang pertama aku mencuri,” Badal mengaku. Budir menangkap ketulusan dari pengakuan lelaki yang duduk di sampingnya itu.

Baca juga  Akar Bahar Tiga Warna

“Jadi sebelumnya, orang lain yang mencurinya…,” Budir berkata pelan seperti pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba di jalan setapak, seseorang dengan langkah tergesa melintas. Ia membawa ember besar dan terlihat berat. Dari tempat duduk mereka, Budir langsung mengenali orang itu. Budir mencoba menyapa, namun orang itu hanya menoleh sebentar dengan wajah khawatir kemudian mempercepat langkahnya ke arah jalan desa.

“Itu kan si Danu? Mau apa ia ke daerah sini siang-siang begini?” tanya Budir pada Badal saat orang itu sudah tak kelihatan lagi.

“Dia tak punya kebun karet di sekitar kan?” Pertanyaan Budir beruntun.

Badal merasakan ada kecurigaan dari pertanyaan Budir. Namun Badal hanya tersenyum. Danu yang baru saja melintas pasti membawa lum entah dari kebun karet siapa.  Danu adalah tetangga mereka, karena itu Budir mengetahui betul bahwa kebun karet Danu berada di seberang sungai sana. Dan pertanyaan Budir tak perlu jawaban.

“Hmm….kau tahu kawan?” tanya Badal mulai berbicara. “Kau terlalu polos dan jujur. Selama ini hampir seluruh orang di kampung kita menjadi maling. Mungkin kau satu-satunya yang tak pernah mencuri,” sambung Badal.

“Si Abid waktu anaknya sakit keras minggu kemarin kepergok sedang memanjat jengkol milik Andu. Tapi Andu membiarkan begitu saja. Besoknya Andu yang mencuri nangka milik Abid,” terang Badal.

“Dari mana kau tahu?” tanya Budir.

“Andu sendiri yang bercerita padaku,” jawab Badal singkat.

“Hari ini entah siapa yang jadi maling, besok yang dimaling jua,” kata Badal.

“Sekarang sangat mudah bagi orang jujur untuk menjadi maling,” sambung Badal lagi.

Kali ini giliran Budir yang terdiam. Ia memahami ucapan Badal. Hampir tak ada jalan keluar bagi orang kampung seperti dirinya untuk melewati masa sulit seperti sekarang. Tak ada tempat untuk mengadu. Seperti yang sudah ia coba. Melaporkan pencurian karetnya kepada pembakal, namun kepala desa itu hanya berujar bahwa itu nanti akan diselesaikan. Itu saja, tak tanpa tindakan.

Pencurian saja tidak ditanggapi, apalagi soal himpitan hidup warga desa. Pembakal mungkin tak mau tahu apakah hari ini warganya kelaparan atau tidak. Toh kepada desa itu tak pernah memikirkan apa-apa selain membangun gang-gang bata press di desanya. Sekarang hampir tiap lima meter ada gang jalan bata press yang katanya untuk memajukan infrastruktur desa. Budir tahu persis pembelian bata press itu sangat menguntungkan bagi pembakal. Soalnya, yang membuat bata press itu adalah Uwa Marma, paman Pembakal sendiri.

Baca juga  Tong Galentong

“Coba kau perhatikan di tempat pengepulan karet Uwa Marma, yang menjual lum dengan keadaan bersih bisa dihitung dengan jari, sebagian besar penyadap menjual lum bercampur dengan sakrap,” Badal membuyarkan renungan Budir.

“Lumayan kan buat menambah berat timbangan,” kata Badal tersenyum.

“Iya, tapi Uwa Marma sendiri tak pernah jujur soal timbangan,” balas Budir.

Apa yang diucapkan Budir memang benar. Uwa Marma, yang telah jadi pengepul karet sejak mereka belum lahir tak pernah memperlihatkan angka timbangan gantungnya pada petani karet. Kadang Uwa Marma menggeser timbangan dengan cepat atau angkanya dilindungi oleh badannya sendiri.

Tiba-tiba Budir tersenyum dan terkekeh.

“Mungkin kau benar soal hampir semua orang kampung menjadi maling. Tapi ada yang lebih maling dari semuanya. Orang itu telah mencuri hampir seluruh lum di kampung kita sejak dulu,” kata Budir masih terkekeh.

Badal memandang wajah Budir. Ada kilatan aneh di mata kawannya itu. Mata Budir tajam memandang parang yang tergeletak di tempat ia bersimpuh tadi.

“Malam ini, kita akan mencuri kolam pengepulan karet Uwa Marma. Hanya maling itu yang pantas kita curi,” kata Budir dengan bibir bergetar. *

Zaidinoor, lahir 22 Agustus 1984 di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Menyelesaikan S-1 di Institut Agama Islam Negeri Antasari Banjarmasin. Pernah menjadi jurnalis di tabloid lokal, Urbana, dan asisten koordinator area Kalselteng, salah satu lembaga survei politik di Indonesia.

Nyoman Sujana Kenyem lahir di Sayan, Ubud, Gianyar, Bali, 9 September 1972, menyelesaikan pendidikan di STSI Denpasar (sekarang menjadi ISI Denpasar) 1992-1998, 16 kali pameran tunggal di Bali, Jakarta, Singapore, Swedia, Malaysia, dan banyak sekali mengikuti pameran bersama baik di dalam dan luar negeri. Selain melukis juga membuat karya seni instalasi.

Average rating 3.5 / 5. Vote count: 12

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Dave

    Cerpen ini adalah suatu potret yang menggambarkan secara trampil dinamika struktur sosial suatu desa yang menghadapi krisis baik dari segi ekonomi maupun moralitas. Dalam krisis ekonomi terlihat betapa sulit kehidupan para petani saat ini sampai semua saling mencuri (kecuali satu petani). Para subaltern ini (dengan istilah Gramsci) sangat menderita dan jurang antara kelas ini dengan kelas kuasa melebar. Bagi kelas berkuasa di desa itu, ada sikap cuek pada keadaan pada para subaltern, narator berkomentar penguasa itu masa bodoh tentang masalah pencurian yang merajala di desa itu lagipula kalau penduduk kelaparan tidak. Dengan demikian, sudah ada tanda-tanda kehilangan hegemoni kelas berkuasa karena kepentingan para subaltern tidak diperhatikan. Sebaliknya kepentingan kelas berkuasa tetap aman dan tak didampak oleh krisis ini. Kebijakan kelas berkuasa tidak dibuah yaitu tetap mengutamakan pembangunan infrastruktur yang justru menguntungkan kelas sendiri, seorang pengusaha dan sanak saudara penguasa. Di akhir cerpen ini, krisis yang sudah parah di desa itu sudah sampai di bibir jurang. Di desa itu tinggal satu orang saja yang jujur. Namun moralitas orang itu sirna juga karena kehilangan kepercayaan pada kelas berkuasa. Lain dengan kelasnya dia mau menyasar harta benda orang dari kelas berkuasa. Bisa dibayangkan kalau rencananya dilaksanakan sesuai dengan teori Gramsci akibatnya ialah yang berkuasa akan menggerakkan aparat keamanan dan keadaan akan menuju ke keadaan dominasi, atau pemerintah yang otoriter.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: