Cerpen, Eli Rusli, Tribun Jabar

Cerita Pendek yang Tidak Pernah Selesai

4.1
(11)

AKU bukan lelaki yang pandai merangkai kata-kata ajaib yang sanggup membius jutaan kepala seperti Andre Hirata. Atau memindahkan realita kehidupan ke dalam jutaan paragraf seperti Ahmad Tohari. Atau… meromantiskan jutaan rasa cinta seperti Sapardi Djoko Damono. Tapi jiwaku memendam hasrat yang sangat kuat guna menceritakan perjalanan cinta kita lewat rangkaian kata-kata ajaib dalam jutaan paragraf yang romantis. Jika tidak dihimpun dalam sebuah novel, setidaknya bisa dirangkai dalam sebuah cerita pendek. Biar ribuan kepala mengenang perjalanan kisah cinta kita seperti Galih dan Ratna dalam Gita Cinta dari SMA karangan Eddy D Iskandar.

Kepalaku berputar-putar. Mencari kalimat pertama. Tepatnya kalimat pembuka sebagai pintu masuk ke dalam cerita. Semenit, dua menit, tiga menit. Tidak terasa waktu berputar mendekati tiga puluh menit. Aku masih belum menemukan kalimat pembuka yang tepat untuk cerita pendek kita. Jari-jari tanganku sempoyongan dua senti di atas huruf-huruf. Bingung mesti menginjak huruf yang mana. Layar monitor ibarat tirai putih, kecuali di bagian atas. Sebuah judul cerita pendek tampak goyah, hidup segan mati tak mau menunggu isi cerita.

Kurebahkan punggung ke sandaran kursi di belakangku. Isi kepala melempar sebuah pertanyaan. Apa yang akan aku kisahkan? Sekarang aku ingat. Kisah percintaan dua manusia pasti dimulai dengan pertemuan. Pertemuan pertama kita tidak jauh beda dengan cerita-cerita cinta dalam film romantis. Pertama kali wajahku dan wajahmu saling tatap ketika kita duduk di ruang yang dikelilingi buku-buku. Waktu itu, aku duduk di seberang meja tempat matamu bergelut dengan buku pilihanmu. Kursi yang sama. Dan… buku yang sama. Ya… kau dan aku membaca buku yang sama. Buku Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas. Hanya ujung tahunnya yang beda. Kau dan aku sama-sama menyukai cerita. Kau sangat familier dengan Agus Noor, Putu Wijaya, Ahmad Tohari, Seno Gumira Ajidarma, Budi Darma, dan banyak lagi. Jika mulutmu tidak kupotong, niscaya tidak akan berhenti menyebut nama-nama selain mereka.

Baca juga  Joli

Dari sana tirai asmara kita terbuka. Mungkin aku harus membuka cerita pendek ini dari sana. Tanganku kembali melayang dua senti di atas hamparan huruf. Tapi petugas yang menjaga isi kepalaku belum memerintah tangan mana yang lebih dulu menari dan huruf mana yang lebih dulu diinjak. Tiba-tiba kelingkingku melompat menginjak huruf A. Jari tengah dan telunjuk bergantian menginjak huruf K dan U. Setelah itu jari-jariku kembali melayang di atas hamparan huruf. Jari-jariku enggan bergerak takut disalahkan petugas yang menjaga isi kepalaku yang jelas-jelas kebingungan hendak menurunkan perintah. Petugas di kepalaku tidak selancar petugas parkir di depan toko serba-ada. Petugas di kepalaku tidak lebih pintar dari pejabat yang tanpa pikir panjang mengembat uang rakyat.

Untuk kedua kali punggung kurebahkan ke sandaran kursi. Tiba-tiba lukisan halte bus kota di depan perpustakaan kota melintas. Halte itu adalah bagian dari kisah cinta kita. Saat itu hujan menyerang jalan raya. Orang-orang kocar-kacir mencari tempat berlindung. Halte bus kota yang memanjang memungkinkan menampung puluhan kepala. Aku dan kau yang baru meninggalkan halaman perpustakaan dengan tas yang dijejalin buku pinjaman sedang menunggu bus kota di halte. Halte yang lengang menjadi sesak seiring air hujan yang terus-menerus meludahi jalan raya. Air hujan seperti peluru dimuntahkan dari langit.

Aku dan kau berdiri di antara bau keringat yang beragam. Matamu tajam menatap anak kecil yang berdiri di antara dua karung yang mengeluarkan asap. Tangannya memegang erat pikulan. Bajunya lusuh. Rona wajah menggurat lelah menanggung beban hidup. Kau bergeser pelan-pelan mendekatinya sembari menarik tanganku.

“Wah! Jagung. Dingin-dingin gini enaknya makan jagung hangat,” katamu kepadaku.

“Berapa?”

“Dua ribu,” jawab anak itu.

Baca juga  BEBEGIG

Kau mengambil satu biji. Lantas mengupasnya di depan anak itu setelah memindahkan selembar dua ribuan.

“Emm… jagungnya enak. Manis. Cocok untuk udara sekarang ini.”

Bibirmu mengucapkannya keras-keras mengalahkan desing hujan yang belum berhenti sambil tanganmu memasukkan butiran-butiran jagung ke dalam mulutku. Semua mata mengalihkan pandangannya padamu.

“Ayo! Bapak-bapak, ibu-ibu, akang-akang, teteh-teteh! Beli jagungnya! Rasanya manis. Asli dari Lembang.”

Tubuhku nyaris terlempar melihat polahmu. Halte yang sesak perlahan-lahan bergerak seperti kincir yang bergantian mengangkut air. Orang-orang yang berteduh bergerak teratur mendekati anak penjual jagung. Tidak butuh waktu lama. Seisi halte memainkan orkes jagung. Mulutnya seirama mengunyah biji-biji jagung.

Anak penjual jagung mencolek pinggangmu.

“Terima kasih, Teh.”

Tangan kanannya menyodorkan sebiji jagung yang tersisa.

“Ini buat pacar Teteh. Tinggal satu. Tak usah dibayar.”

“Terima kasih.”

Kau menerimanya dengan senyum kecil. Kemudian mengupaskannya untukku. Sambil membereskan karung kosong, anak itu tersenyum lebar-lebar. Rona wajahnya bahagia.

Cerita itu harus aku tulis. Itu adalah pengalaman yang luar biasa yang tidak mungkin terulang kembali. Tapi bagaimana aku memulainya? Sudah hampir enam puluh menit judul di layar masih berdiri sendiri. Dari tadi aku sibuk mencari kata pembuka. Aku malah melamun peristiwa yang lalu. Perlukah aku ganti judul? Dan cerita pembukanya diawali peristiwa di halte bus kota itu? Mengapa tidak? Daripada aku tidak memulainya sama sekali. Tapi? Bukankah aku akan membuat cerita cinta kita dengan utuh? Aku harus berusaha membuat kalimat pembuka yang tepat.

Kupandangi layar monitor. Jari-jariku kembali melayang di atas hamparan huruf. Aku mulai mengetik. Ini kisah cinta dua anak manusia berlainan jenis. Ah terlalu umum? Aku hapus saja. Jari-jariku menari kembali. Ini kisah cinta bak Romeo dan Juliet. Kalimat itu telalu sederhana? Sedangkan buku Proses Kreatif Menulis Cerpen, awal cerita pendek itu ibarat etalase sebuah toko harus menarik biar orang yang lewat mau berkunjung. Kutarik jari-jariku. Kubiarkan semua jari menggaruk-garuk kepala yang tak gatal. Dan perlahan-lahan mengacak-acaknya. Seandainya ada cermin. Pantulan gambarnya sedikit menyerupai peminta-minta yang kerap kali wajahnya menyapa di lampu merah Jalan Pamuka.

Baca juga  Ketapang Kencana

Akhirnya jiwaku mengakui bahwa aku baru pandai membaca dan mengkhayal belum bisa menuangkannya ke dalam tulisan berbentuk cerita pendek. Aku berusaha menulis cerita pendek lebih karena emosi. Dadaku dikuasai amarah saat mendapat undangan pernikahanmu. Aku ingin semua orang di segala penjuru dunia mengetahui bahwa kau pernah menjalin hubungan yang sangat dekat denganku beberapa tahun ke belakang. Aku ingin menggetarkan dunia, terutama suamimu nanti, bahwa kau itu mantanku. Mantan yang masih terukir indah di belakang dadaku.

Aku positive thinking saja. Mungkin gara-gara kartu undangan pernikahan ini pula kepalaku tidak selaras dengan jariku. Kepalaku kusut, jari-jariku kaku. Tidak bisa menjebol emosiku agar tumpah berserakan dalam lautan kata menjadi sebuah cerita pendek. Mataku melotot ke layar monitor. Judul masih belum beranak. Telunjuk kanan menekan tombol backspace. Satu per satu huruf yang membentuk rangkaian judul hilang dari layar. Kemudian jari-jari tangan kompak menekan huruf untuk menyusun judul baru. Cerita Pendek yang Tidak Pernah Selesai. Demikian judul baru yang diperintahkan petugas yang menjaga isi kepalaku. Walau hanya judul dan namaku yang muncul di layar, aku tersenyum puas. Dan buru-buru menyimpannya dalam komputer. ***

Eli Rusli alumnus UPI Bandung. Cerpennya pernah dimuat di beberapa surat kabar lokal.

Average rating 4.1 / 5. Vote count: 11

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: