Cerma, Medan Pos, Rendi Syahputra

Gadis Gamis

1
(2)

Adalah dia. Gadis dengan gamis manis, berwajah elok, dan dengan lesung pipit mungil yang menambah indah parasnya. Dia adalah teman satu almamaterku. Dulu wanita itu orang yang biasa saja dalam pandanganku. Entah mengapa, sekarang terasa berbeda. Ia telah berhasil membuat aku mengenal cinta merah jambu.

Kutahu dia adalah ramah dengan orang terdekatnya. Kadang ia melempar senyum untukku, ketika jarak dan waktu saling bertemu. Wanita balutan gamis yang selalu ia kenakan adalah seorang akhwat yang kini namanya tersusun rapi dalam bait doaku. Apakah aku sedang terbuai getaran cinta?

Apakah dia juga serupa? Ah! Cinta boleh saja, mencintai wanita tanpa adanya ikatan sah menjadikan dosa. Apakah aku harus memberi tahu? Atau membisu dalam doa di malam waktu? Semoga Allah turut membantu.

Aku tak tahu apa itu berpacaran. Aku tahu itu adalah dosa. Bukankah menjalin hubungan cinta kasih harus ada ikatan? Ya, menurut aku begitu. Ikatan sah dengan akad nikah tujuan utama.

“Menurutmu, apakah dia menyukaiku?”

“Ya. Dia pernah berkata, bahwa dia suka denganmu. Cobalah untuk berbicara empat mata.” Respons Yanti serius.

Mendengar jawaban Yanti, sontak membuat aku kaget bahagia. Apakah ini alur titik terang dalam dunia kasmaran? Kelihatannya begitu. Apakah harus mengatakan secepatnya?

“Namun, belum saatnya, Yan. Ada doa dan masa untuk menjawab. Bukankah mendoakan di waktu mustajab itu lebih bahagia? Menikungnya di sepertiga malam, misalnya.”

“Iya, kau benar. Aku rasa dia tulus denganmu. Dan, aku tahu kau suka dengan wanita berbusana gamis, betulkan?”

“Ya. Tepat sekali. Indah wanita seperti itu. Tidak menimbulkan fitnah, dan menjauhkan dari pandangan zina mata. Semoga dia adalah dia untukku.”

Baca juga  Awal Tahun yang Sulit

“Semoga saja bermuara kebahagiaan. Aku senang kalian bersatu dalam ikatan cinta yang sah.”

Tiga puluh tiga menit aku dan Yanti berbicara serius. Tepat di bawah pohon tanjung yang rindang. Tempat ini sangat bagus untuk bercerita apa saja, baik dunia perkuliahan, masa depan, bahkan hingga ke dunia mabuk kasmaran.

Gedung kampus yang menjulang sepertinya tahu akan pembahasan kami. Namun ia enggan untuk lebih lama, walau hanya untuk sekadar mendengar. Angin berhembus syahdu menggoyang dedaunan dan bunga tanjung. Semerbak wangi bunga menambah hangat dan berkesannya pembahasan sore kali ini.

“Menurutmu, apakah aku harus secepat mungkin berbicara dengannya? Aku berpikir, kami harus membicarakan perihal komitmen pasti untuk yang lebih serius. Bukankah itu jauh lebih bagus? Ya, walaupun tanpa harus pacaran. Pacaran setelah nikah bagiku adalah hal yang sangat mengasyikkan.”

“Ide bagus. Aku setuju Rom, kau buat begitu. Aku rasa dia sepemikiran denganmu.”

“Aahahhah, semoga saja. Soalnya hati wanita susah untuk ditebak.”

“Tidak susah kok. Terkadang kurang peka saja.”

“Ohhh, begitu. Baiklah. Aku minta bantuan dan doamu juga, Yan. Semoga tercapai. Kau pun demikian dengan abang itu. Heheeh, iya kan?”

“Hehhhh, semoga saja demikian Rom. Aku juga tidak tahu pasti bagaimana. Biarlah Allah yang memberi jalan cerita.”

Semoga dapat berjodoh denganmu. Semoga kau mencintaiku, tanpa mengurangi cintamu pada Sang Pemberi Cinta. Jika kita sah dalam akad, kau adalah terbaik untukku. Jika pun tidak, Allah tahu akan perihal itu.

Berharap cintaku berlabuh tepat dalam doa dan hatimu. Menjadikanmu pelengkap imanku. Biduk kehidupan akan bahagia jika iman, cinta, dan ketakwaan berjalan menyatu. Semoga kau adalah wanita itu, El. Semoga.

Baca juga  Septemberku

(Penulis adalah mahasiswa semester tujuh, prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang memiliki teman ikhwan baik dalam dunia perkuliahan, semisal: Yusril Faisal, Ilham Lemmy, Taufik, Ichsan, Fauzi Siregar, Reza Cavisri Mirza Imam, Dolly, dan Arji.)

Average rating 1 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: