Cerpen, Eri Setiawan, Radar Banyumas

Kepulangan yang Tak Ditunggu

2.7
(6)

RADIN memarkirkan sepeda motornya tepat di depan toko emas. Uang hasil jerih payahnya sebagai kuli tekstil yang kerap lembur sekiranya telah cukup untuk modal mengawini kekasihnya, Syani. Pernikahan sederhana mereka digadang-gadang bakal disakralkan pada pekan depan, sesuai dengan undangan yang telah tersebar. Meski nahasnya, Radin masih tidak juga mendapat restu dari bapaknya. Sang ayah, Rokhim sama sekali tidak setuju. Hal itu ia tegaskan berulang kali lewat telepon genggamnya dengan sangat beringas.

Bahkan lusa ketika pulang dari Kalimantan, ia tak segan-segan akan mendatangi Syani untuk membatalkan pernikahannya dengan Radin. Kendati demikian Radin tetap kukuh pada pendiriannya. Bahkan ia pernah mengadu dan bersujud memohon maaf pada Gusti Allah, bahwa jika suatu ketika perdebatan makin buas, maka tak segan-segan ia akan melawan bapaknya sendiri sampai titik darah penghabisan.

Di sisi lain, ia yang sudah dua tahun berkelahi dengan kesepian—menempati rumah sebatang kara—dan kecurigaan yang belum juga menemukan kepastian, menjadi dalih penguat untuk menikai penolakan bapaknya. Sepeninggal ibunya, keadaan betul-betul memaksanya merasakan dua kali lipat dangkalnya kasih sayang. Sejak ia masih kelas tiga sekolah dasar, bapaknya lebih suka berada di perantauan. Artinya ia harus menjalani hidup tanpa kasih sayang yang cukup dari seorang bapak.

Dalam setahun, Rokhim pulang tak lebih dari dua kali. Bahkan pernah ia tak ngampung sama sekali dalam setahun. Alasannya, perkebunan sedang tak bisa ditinggal. Banyak tungau, ulat api, dan hama pembusuk yang sedang menyerang pohon-pohon sawit. Entah itu dalih yang benar atau palsu.

Kala itu tak hanya sekali dua kali telinga Marni, istri Rokhim, mendengar cerita dari tetangga—yang kebetulan anak sulung si tetangga bekerja bareng dengan Rokhim—bahwa suaminya sering main perempuan di perantauan. Bahkan konon sudah menikah siri dengan seorang janda kembang. Tetapi Marni memilih tak menghiraukan kabar-kabar itu. Kepercayaannya terhadap Rokhim tak semudah itu terbantahkan hanya karena omongan tetangga. Apalagi, Sonah, si tetangga itu, memang sudah lama tak menyukai Rokhim dan keluarganya.

Hanya saja tak demikian dengan Radin, seorang anak laki-laki yang sedang tumbuh dewasa. Pastilah ia haus akan kedekatannya dengan seorang lelaki dewasa yang telah membuatnya lahir ke dunia. Tak hanya itu, kabar miring dari Sonah yang juga kerap merasuk ke telinganya, juga telah menjadi pemantik kemarahan dirinya. Ia sempat berniat ke Kalimantan untuk mencari kepastian, tetapi ibunya tak mengizinkan. Dengan dalih, ia tidaklah mau ditinggal sendiri.

Baca juga  Aokigahara

Memikirkan hal itu, Radin benar-benar dipenuhi kalut dan kesal. Ia tak habis pikir, dendam masa lalu bapaknya kepada Herman, ayah Syani yang telah meninggal, masih menjadi alasan menolak pernikahannya. Bagi Radin, sikap Rokhim menunjukkan sang ayah tak mau memahami kesulitan bertahan hidup dalam sunyi dan kecurigaan yang selalu membayanginya.

***

Pada siang terik di tanggal merah, Radin melaju kencang ke arah selatan dengan sepeda motornya. Sebelum bapaknya pulang, ia ingin pamannya memberikan pendapat yang bisa memberinya jalan keluar. Sekaligus menanyakan, sebenarnya bagaimana hubungan bapaknya dengan mendiang Pak Herman.

Sesampainya di rumah Paman.

“Duduklah,” perintahnya, “Ada masalah apa, kok, siang-siang begini kemari?”

“Paman, saya sangat mencintai Syani. Tapi, Bapak lusa pulang, mau ngobrak-abrik perkawinan kami.”

“Bapakmu itu memang keras kepala. Dendamnya kepada Herman sudah mendarah daging. Herman sudah mati, tapi tidak dengan dendam ayahmu.”

“Memangnya, seburuk apa hubungan mereka? Saya heran.”

“Intinya, Herman pernah membuat bapakmu sangat hancur. Sebelum ibumu, seorang perempuan pernah ingin dinikahi oleh bapakmu. Tapi, katanya, Herman telah merampasnya.”

“Baiklah. Lalu, apakah sekiranya Paman punya cara supaya perkawinan kami tetap terjadi?”

“Begini saja. Biar nanti saya ngomong baik-baik dengan bapakmu. Kalau pun dia tidak sudi jadi walimu, biar Paman yang maju. Yang penting bicaralah baik-baik dengan bapakmu. Jangan sampai ada cek-cok. Apalagi, bapakmu orang yang sangat keras. Mudah kesetanan.”

“Baiklah, saya akan bicara baik-baik dengan Bapak.”

Lelaki itu sedikit merasa lega. Selepas menghabiskan secangkir kopi buatan bibinya, Radin pun pamit. Melangkah ke luar dengan isi kepala yang tak lagi begitu dipenuhi kebingungan.

***

Malam itu tiba. Seorang laki-laki paruh baya dan seorang wanita muda yang hampir bersamaan turun dari sepeda motor yang berbeda. Sementara lelaki lain yang di ruang tamu memperhatikan mereka dengan tatapan sangat serius. Sontak, laki-laki itu berdiri menyaksikan langkah demi langkah mereka yang kian mendekati pintu. Dan Jreeek! Pintu pun terbuka. Mereka pun masuk. Tampak tangan kiri perempuan itu melingkarkannya di pinggang lelaki yang sedang berada di sampingnya. Lalu si lelaki yang berada di ruang tamu semakin tertegun memandangi dua wajah orang yang baru datang dengan raut muka lesu.

Baca juga  Ada yang Menangis Sepanjang Hari…

“Siapa perempuan itu?”

“Biarkan kami istirahat. Besok Bapak jelaskan.”

“Tidak! Jadi benar, ya, selama ini kau main-main dengan perempuan itu? Sementara, kau tak pernah tahu, Ibu selalu percaya padamu sampai ia mati!”

“Dengar dulu. Bukan seperti itu, Din.”

“Mau bohong? Wah, laki-laki yang selama ini kami percayai ternyata telah kepincut pelacur seperti itu.”

“Heh! Jangan kurang ajar!” lelaki berkumis tebal itu mulai emosi.

Lelaki paruh baya itu membanting tasnya ke lantai. Sementara, perempuan di sisi kirinya mulai tampak ketakutan.

“Siapa yang lebih kurang ajar, hah? Di mana hati nuranimu sebagai manusia?” emosi Radin makin mencuat.

“Siapa yang selama ini memberi kamu makan, hah? Kalau saya tidak kerja mati-matian, kau sudah mati sejak dulu!”

“Kalau tahu begini, tak sudi saya makan uangmu! Tega-teganya kau khianati Ibu dan kau biarkan anakmu tidak pernah bahagia. Setan!”

“Kau tahu liciknya Herman? Dia telah merebut Sumi dari tangan saya dengan cara memfi­tnah saya di depan bapaknya. Dan kau tahu, anak kurang ajar? Sekejap hidup saya hancur. Usaha saya bangkrut. Dan kau tahu selanjutnya? Herman mencampakkan Sumi. Sampai pada akhirnya Sumi bunuh diri. Mati mengenaskan. Kau tetap tidak mau mengerti ini, hah?”

Lelaki menjelang dewasa itu diam sejenak. Tak lama kemudian, sorot amarahnya menyerong ke arah perempuan itu. Ia yang dipenuhi rasa tak karuan, tak sanggup balik menatapnya.

“Saya sudah tahu. Dan, sebenarnya saya ingin bicara baik-baik denganmu. Tapi, perempuan itu, perempuan setan itu, membuatku muak! Iblis!”

Praaak! Lelaki itu keras membanting gelas.

“Lalu apa arti Ibu bagimu? Ibu telah benar-benar menyayangi lelaki kufur sepertimu! Kurang apa Ibu? Saya tak peduli Sumi. Saya tidak peduli Herman. Dan saya sama sekali tidak mau peduli dengan perempuan jalang yang kau bawa itu! Pergi, iblis!!” Lelaki itu kembali menatap tajam laki-laki di hadapannya.

Baca juga  Kak Ros

Wajah laki-laki itu makin memerah, pikirannya makin carut-marut, ketika kata-kata jalang dan iblis terdengar di kedua telinganya. Amarahnya pun tak lagi terkendali. Hingga pada akhirnya, tangan kanannya melayang cepat. Plaaak! Plaaak! Dua kali telapak tangan kanan lelaki tua itu mendarat keras di pipi kanan lelaki muda di hadapannya.

Ia yang tidak terima dengan tamparannya, berbalik badan meraih sesuatu. Dengan pikiran yang sudah dikuasi kebencian, ia yang kini telah memegang kuat gagang pisau, kembali membalikkan padanya, lalu ia ayunkan pisau itu ke arah dada laki-laki di depannya. “Aaaaaaaaa…” Perempuan itu sontak menjerit tak karuan.

Tapi, dengan kelihaiannya, lelaki itu telah berhasil meraih gagang pisaunya. Kini, mereka saling genggam kuat-kuat. Tak ada satu pun yang tampak mengalah. Perkelahian antara bapak dengan seorang anak pun makin menjadi-jadi. Hingga pada akhirnya, tangan kecil lelaki itu melemah dan seketika pisau berbalik, lalu terdorong kuat ke arah dada kirinya. Jleepp! Perempuan itu makin histeris. Beberapa tetangga berdatangan. Dan, kini darah itu mengalir, seperti air matanya.

“Maafkan saya, Ibu. Maafkan saya, Paman.” (*)

ERI SETIAWAN. Lahir di Banjarnegara, 23 Januari 1993. Bergiat di Komunitas Penyair Institute (KPI) Purwokerto. Menamatkan pendidikan di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Kini mengabdikan diri sebagai pendidik di SMP Negeri 2 Pengadegan, Purbalingga.

Average rating 2.7 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: