Aliurridha, Cerpen, Suara Merdeka

Kisah Kapal Karam dan Perahu Tenggelam

3.8
(9)

Mungkin kamu berpikir tahu tentang cinta dan rasa sakit orang lain. Mungkin juga kamu berpikir tahu alasan di balik tindakan seseorang. Aku pun berpikir begitu. Aku selalu berpikir tahu jalan pikiran tokoh wanita dalam cerita ini; mengapa ia melakukan sesuatu. Namun ternyata aku tak pernah benar-benar mengerti.

Aku mengenalnya sebagai sosok luar biasa. Seorang yang bisa bangkit setelah berkali-kali terjatuh. Namun sosok tangguh ini ternyata memiliki kelemahan. Ia begitu rentan jika sudah menyangkut tokoh pria dalam cerita ini. Tokoh pria yang tidaklah istimewa; tidak begitu tampan, juga tidak cukup mapan. Namun ia cukup gagah dan punya karisma, yang mungkin membuat sebagian orang berpikir, “Ah, ia layak dipertahankan.” Aku pun berpikir demikian, seandainya apa yang dia lakukan terhadap tokoh wanita dalam cerita ini tidaklah seburuk seperti dalam cerita ini.

Tokoh pria dalam cerita ini, kita sebut saja Obet agar tidak terus-menerus menyebutnya tokoh pria dalam cerita, dan istrinya kita sebut saja Juli.

Sebuah pesan masuk ke hape Juli dari Obet yang kini mendekam di lapas. Mungkin kamu bingung, mungkin juga bertanya-tanya, “Bagaimana mungkin seseorang yang mendekam di lapas bisa memiliki hape dan menghubungi orang lain?” Kuberi tahu suatu rahasia, lapas tidaklah seperti kamu duga, dan kamu tidak benar-benar tahu apa yang kamu pikir kamu ketahui.

“Ma, aku ada masalah dengan setoran di dalam sini, aku malu sekali dan ini jadi masalah besar buatku. Tolong Mama temui Ibu, pinjamkan aku uang 5 juta. Selamatkan aku dulu, Ma.”

Obet pengedar sabu cukup punya nama di sebuah pulau kecil Indonesia tengah. Dia tertangkap tahun lalu, ketika menyelundupkan sabu ke sebuah pusat hiburan malam di pulau itu. Itu bukan kali pertama ia tertangkap, tapi mungkin kali terakhir, mengingat usia dan hukuman yang ia terima.

Obet telah berkali-kali tertangkap, berkali-kali pula bisa keluar dengan hukuman tidak lebih dari satu tahun. Namun kali ini ia benar-benar sial. Ia tertangkap dengan barang bukti satu kilo sabu, uang tunai 287 juta yang telanjur masuk berita acara pemeriksaan (BAP). Tidak ada cara memanipulasi hukum jika BAP sudah sampai di ruang sidang. Mungkin kamu bisa menyogok semua perangkat hukum, tapi tidak akan pernah bisa menyogok semua yang menyaksikan kasus itu. Apalagi kasus itu sudah heboh tertangkap mata media.

Segala cara Obet lakukan untuk meringankan hukuman. Namun putusan hakim telah keluar. Obet dikenai hukuman 10 tahun.

Baca juga  Suara Azan

Obet tergabung dalam struktur jaringan sabu di bawah satu nama besar. Bos Obet, Toke, juga mendekam di lapas. Namun itu tidak menahan orang-orangnya untuk memasok barang ke wilayah kekuasaannya. Justru di dalam sana, hidupnya lebih aman, karena bagaimanapun barang tetap jalan dan dia tak mungkin lagi tertangkap. Anak buahnya mungkin tertangkap, tetapi mereka tidak akan nyanyi. Kecuali, mereka betah berlama-lama dipenjara dan setelah keluar tidak ada satu bos pun sudi memakai “penyanyi”. Atau lebih parah lagi, mereka tidak akan pernah keluar penjara dengan nyawa melekat pada raga.

Jika mengenal Toke, kamu akan berpikir kehidupan di lapas tidaklah buruk. Toke, sesekali, bisa keluar lapas menemui keluarga atau bahkan berlibur. Mentor caturnya pun rutin menemui di lapas, menemani bermain catur. Di lapas, dia diperlakukan bak raja, baik oleh napi maupun sipir. Namun jika kamu berpikir lapas tidaklah menyeramkan, lagi-lagi kamu salah. Lapas tidak menyeramkan hanya jika kamu sebesar Toke.

“Tolong transferin aku 5 juta, Ma. Sekarang! Ini emergency. Kalau tidak, aku akan dapat masalah besar. Tolong pinjamkan pada Ibu.”

Obet meminta Juli meminjam uang pada ibunya. Ini bukan kali pertama ia meminta seperti itu pada Juli. Ia tidak cukup punya nyali meminjam uang langsung pada ibunya. Ibunya, yang sangat mengenal sang anak, sudah tidak percaya padanya. Obet selalu menggunakan kata pinjam, tapi tidak pernah benar-benar mengembalikan. Namun bukan itu alasan sang ibu tidak meminjamkan uang padanya. Ibunya sangat tahu uang itu akan dia gunakan untuk apa. Karena itu, Obet meminta istrinya mencari pinjaman.

Obet agaknya tak tahu diri. Ia mungkin lupa telah meninggalkan Juli dengan tiga anak yang harus dihidupi. Dengan biaya hidup membengkak dari waktu ke waktu, Juli terpaksa menjual segala harta keluarga untuk bertahan hidup. Segalanya dia jual, kecuali tubuhnya. Semua itu dia lakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kini Juli membuka stan kecil pinggir jalan berjualan sosis, pop ice, mi instan untuk sekadar bisa makan.

“Aku nggak punya uang, Pa.”

“Kan aku suruh Mama temui Ibu, bukan minta Mama.”

Nggak berani aku ngomong ke Ibu, Pa. Sekarang Ibu lagi susah.”

Juli berusaha menjelaskan keadaan di luar. Obet sama sekali tidak mengerti atau mungkin hanya tidak ingin mengerti. Saat pandemi seperti ini, semua orang susah. Namun itu tidak menghalangi Obet meminta Juli meminjam sana-sini. Beberapa kali Obet meminta Juli meminjam uang pada siapa pun yang dia kenal, beberapa kali pula Juli menebalkan muka. Namun kali ini tidak ada lagi orang yang bisa dimintai pinjaman. Semua orang sama susah.

Baca juga  Angpau Kwan Sing Bio

“Jangan turuti, Ma. Setidaknya Papa di dalam tidak akan mati kelaparan. Mama dan adik-adik di sini lebih membutuhkan,” ucap si sulung.

“Tolong pinjamkan aku pada John kalau begitu.”

Obet menyebut nama John, saudaranya yang sudah kesal dan tidak percaya lagi padanya. Dalam keadaan biasa pun John mungkin tidak akan meminjamkan uang, apalagi saat bisnisnya gagal seperti ini. Saat ini John hidup dengan tabungan. Juli menjelaskan situasi di luar pada suaminya.

“Astaga! Bagaimana sih Mama kok nggak paham juga. Sudahlah, Mama jangan bantu aku.”

Obet selalu seperti itu jika Juli gagal menuruti kehendaknya. Si sulung berkali-kali marah pada Juli karena setiap Obet mengeluarkan senjatanya, Juli selalu menurut. “Mama selalu begitu. Jika seperti ini Papa akan terus meminta Mama melakukan ini-itu,” kata-kata si sulung menggema di telinganya. Juli berpikir si sulung sama sekali tidak punya empati pada papanya.

Pernah ketika masih ditahan di Polda, Obet memaksa Juli dua kali seminggu mengunjungi. Obet selalu meminta Juli melayani kebutuhan fisik. Juli, seperti setiap istri berbakti, tidak pernah bisa menolak. Namun di kemudian hari ia menyesal telah memberikan uang 300.000 pada polisi sebagai biaya sewa kamar. Juli menyesal menukar uang yang seharusnya jadi penyambung hidup anak-anaknya dengan sedikit kesenangan sang suami.

“Nih, titip untuk Papa!” Si sulung menitipkan sabun batang.

Juli heran, ia sama sekali tidak mengerti.

Lalu si sulung berkata, “Papa pasti mengerti.”

Setelah beras habis dan uang untuk membeli pun tak ada, baru Juli mengerti arti semiotik dari sabun batang titipan si sulung.

“Papa sudah omong sama John.”

Juli memberikan nomor John pada suaminya.

“Tidak usah. Cukup sudah.”

Mungkin kamu akan berpikir ini benar-benar sudah selesai karena Obet mengatakan cukup sudah. Namun cerita ini belum selesai. Obet hanya menggunakan senjatanya, merajuk seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan. Ia berpikir Juli akan berubah pikiran jika ia merajuk. Ia sadar betul Juli selalu menurut padanya.

Beberapa menit kemudian….

“Padahal aku harap Mama bisa bantu aku bicara pada John dan Ibu. Kalau aku yang bicara pada Ibu, semua orang ini akan dengar. Aku malu, Ma. Aku malu kalau orang-orang ini mendengarkan. Di mana harga diriku? Aku kira sebagai istriku, kamu mengerti keadaanku.”

Baca juga  Wasiat Simbok

Obet tidak hanya tidak punya hati, juga tidak punya nyali mengakui sudah tidak berdaya. Ia masih ingin dipuja. Ia selalu berpikir istri dan keluarganya tidak peduli padanya. Ia tidak tidak sadar dua kali seminggu selalu minta dikirimi makanan karena tidak doyan makan makanan di lapas. Ia juga selalu minta dikirimi uang, pulsa, dan rokok yang mungkin ia bagikan pada teman-temannya demi meraih simpati, demi bisa kembali dipanggil bos.

“Memang kamu tidak mau tahu dan tidak peduli kalau aku dapat masalah besar. Coba kamu temui John dulu. Pinjamkan aku uang hari ini juga. Kok kamu tidak mengerti juga bahasaku. Rupanya kamu senang aku jadi bahan tertawaan dan ejekan orang-orang ini. Aku sedang ada masalah dan orang-orang ini ingin mempermalukanku.”

Bertubi-tubi pesan dari Obet, tapi Juli tidak juga membalas. Ia sudah berjanji fokus utamanya saat ini anak-anak. Ia tidak ingin tenggelam. Kapal boleh tenggelam, tapi dia tetap harus bisa mencari perahu. Sekecil apa pun tidak apa, yang penting bisa dia gunakan untuk berlabuh, dan anak-anak tidak tenggelam bersama nakhoda yang tidak tahu akan membawa kapal ke mana.

Seminggu kemudian….

Juli kebingungan, anak-anak meminta uang untuk bayar SPP, tapi tidak ada selembar rupiah pun ada padanya.

“Mana kalung emas Mama? Jual itu, biar adik-adik bisa sekolah lagi,” pinta si sulung.

Juli tidak menjawab. Air mata menetes di pipi tuanya. Sungai kecil mengalir di wajahnya yang mengeriput. Juli kini terlihat beberapa tahun lebih tua, sedangkan Obet terlihat beberapa tahun lebih muda.

Melihat tangis Juli, si sulung mengerti mamanya baru saja menjual harta terakhir keluarga untuk papanya. Si sulung mungkin bisa mengerti, tapi aku tidak pernah bisa mengerti mengapa mamaku masih menuruti pria itu, pria yang selalu menyakitinya. Kini, kapal telah karam dah perahu telah tenggelam. (28)

Sandik, 26-28 Januari 2020

Aliurridha, penerjemah dan penulis lepas; menulis esai, opini, cerpen, dan cerita horor. Cerpennya terbit di Koran Tempo, Republika, Lampung News, Medan Pos, Metafor.id. Aktif berkegiatan di komunitas Akarpohon.

Average rating 3.8 / 5. Vote count: 9

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: