Cerpen, Fanny J Poyk, Jawa Pos

Nelayan dari Pulau Rote Ndao

3
(9)

Pagi di Desa Landu Thie yang merupakan pemekaran dari Desa Oebou, Pulau Rote, Nusa Tengara Timur, masih tampak sunyi.

OPA John Taka keluar dari rumah bebak (1) dengan perasaan sukacita. Lelaki suku Mbura Lae Thie yang bekerja sebagai nelayan ini juga ketua adat desa setempat yang biasa dipanggil Manaleo. Ia menyanyikan lagu Ova Langga dengan suara keras. Di saat tertentu, ia bisa juga menjadi Manahello, yaitu seorang penyair yang biasa membawakan syair-syair pujian untuk Sang Maha Pencipta dalam bahasa Rote Thie.

Opa John gembira. Ia merasa yakin putranya, David, akan dibebaskan dari tahanan polisi air Kota Darwin, Australia. Konon, David ditangkap karena membawa perahu motor penangkap ikan memasuki daerah perairan milik pemerintah setempat. Lelaki lugu yang tidak tamat sekolah menengah atas ini tidak pernah tahu bahwa perbuatannya masuk kategori pelanggaran hukum. Ia dituduh mencuri ikan di laut milik Negara Australia, tepatnya Darwin yang berjarak sekitar 150 mil dari Pulau Rote Ndao. Ketika ditangkap polisi perairan setempat dan perahu motornya digiring ke tepi pantai, David bertanya dengan nada keras dengan logat sukunya, “Karmana ini? (2) Beta (3) sudah berkali-kali berlayar cari ikan di ini laut, karnapa (4) baru sekarang ditangkap?”

Pertanyaan David berlalu begitu saja. Komunikasi yang gagal terjadi, dua polisi perairan Kota Darwin tidak mengerti apa yang diucapkan lelaki berusia 35 tahun berkulit kuning terang dengan wajah tampan mirip lelaki Latin itu. Sementara David tidak mengerti bahasa Inggris logat Australia. Ketika ditangkap, ia meronta tidak mau diborgol. Tapi, dua polisi perairan itu tidak mau tahu. Mereka menarik David dan memasukannya ke kapal boat yang ada di dekat perahu ikan bermesin diesel tempel miliknya.

Sebelum kabar itu tiba, Opa John Taka hampir setiap malam tak bisa memejamkan matanya. Ia cemas David tidak juga pulang-pulang. Ia yang selalu mendengarkan radio Australia terkejut ketika kabar putranya ditangkap disiarkan. Ia resah juga gelisah. Lelaki berusia tujuh puluh lima tahun itu tidak bersemangat lagi melantunkan syair-syairnya di bawah sinar rembulan yang mengintip melalui celah dedaunan pohon lontar yang tumbuh subur di tanah mamar (5) miliknya. Terkadang ia seharian duduk di tepian Pantai Nembrala, menunggu kalau-kalau sang putra kembali sambil membawa ikan-ikan yang ditangkapnya. Biasanya, usai menyandarkan perahu di buritan yang tak jauh dari pantai, Opa John dan David membawa ikan-ikan ke tepian pantai, kemudian memilah-milah jenis ikan yang berhasil ditangkap. Ayah dan anak itu membawa ikan-ikan tersebut ke tempat penjualan ikan. Di sana sudah ada tauke yang akan membayar ikan hasil tangkapan David. Dulu sang ayah melakukan pekerjaan itu. Berpuluh tahun ia sudah mewarisi tradisi sebagai nelayan dari leluhurnya. Menjadi nelayan bukan sekadar takdir, namun sudah menjadi naluri, naluri untuk merasakan betapa laut memiliki isyarat sendiri dan David juga sang ayah sudah paham akan hal itu.

Baca juga  Tangisan Sedu Sedan di Antara Siaran Iklan Radio

“Biasanya sonde (6) begini, puluhan tahun beta cari ikan di sana, sonde pernah ada yang tahan beta. Kitong (7) tidak ambil ikan banyak-banyak seperti kapal-kapal pukat harimau itu. Kitong hanya nelayan kici ana (8). Kitong cuma cari makang (9) untuk hari ini sa (10). Karnapa dong (11) tangkap beta pung (12) anak eee…Tuhan tolong beta!” Opa John menangis sesenggukan. Ia terus menatap laut lepas yang ada di hadapannya, menunggu dan berharap bayang tubuh putranya, David, muncul tiba-tiba bersama perahu motornya.

Setahun berlalu, rasa sukacita Opa John pupus sudah. David tidak juga kembali. Opa John Taka sudah ke Jakarta, menghubungi lembaga yang bisa memulangkan sang putra. Tapi, semua usaha sia-sia. Nelayan asal Pulau Rote Ndao itu pulang dengan tangan hampa. Ia tetap tidak terima kalau sang anak telah dituduh melakukan hal yang memalukan negara dengan mencuri ikan di perairan milik negeri orang. “Beta sonde tau yang mana batas perairan itu, beta sonde sekolah. Yang hanya beta tau ini laut luas, Tuhan yang beking (13). Dia kasih kitong nelayan macam beta untuk cari nafkah. Beta sonde ambil itu ikang (14) banyak-banyak. Beta tidak keruk itu ikang buat makan tujuh turunan. Kitong hidup dari ikan yang Tuhan kasi…” ujarnya kepada seorang wartawan daerah saat mewawancarainya.

Hasil wawancara dan foto Opa John yang dimuat koran daerah dan nasional kemudian menjadi viral. Gelombang protes bermunculan. Mereka marah ketika tahu David ditangkap. Orang-orang dari suku Mbura Lae Thie yang ada di Jakarta kemudian melakukan demonstrasi damai, menuntut agar David Taka dibebaskan. Namun, protes itu tetap tertelan waktu. Tak ada respons sedikit pun tentang kejadian itu.

Opa John terluka. Ia hanya ingin anaknya pulang, tak usah membawa ikan atau apa pun dari laut yang menurutnya diciptakan oleh Tuhan itu. “Manusia su (15) gila. Mereka su bertindak seperti Tuhan, mengakui laut dan ikan jadi milik mereka. Baik, kalian lihat sa, beta akan balas semua ini!” katanya dengan suara keras dari rumah bebak yang berada di tengah mamar miliknya.

Baca juga  Kisah Seekor Ayam

Beta mau pi (16) ke rumah Bapa Tinus,” ujarnya kepada sang istri.

“Mau beking apa di sana?” tanya istrinya.

“Minta dia atur jadwal perjalanan beta pi Darwin deng kapal suanggi (17),” jawabnya penuh semangat.

“Ah lu (18) gila. Suanggi mana bisa lawan polisi asing. Lagi pula Darwin itu jauh eee…lu sonde bisa terbang pi sana,” ujar istrinya, Oma Jublina.

“Pasti bisa, dulu sa ada orang yang bisa pulang balik Rote–Kupang deng (19) ilmu suanggi,” balas Opa John Taka.

Oma Jublina termangu. Awiii…ini paitua (20) su mulai stres akibat David belum pulang-pulang, pikirnya. Nenek berusia enam puluh lima tahun itu akhirnya membiarkan saja apa kehendak suaminya. Pulang dari rumah sang ahli suanggi yang akrab dipanggil Bapa Tinus, Opa John terlihat murung. “Opa Tinus bilang, ilmu suanggi sonde kuat lawan itu polisi air. Mereka pung senjata yang sekali tembak bisa beking beta son kembali lagi ke Rote,” katanya.

Sang istri berkata, “Sudah, son usah mimpi. Kitong berdoa sa, Tuhan pasti tolong,” jawab istrinya.

Begitulah antara suanggi dan doa ternyata mempunyai keampuhan harapan yang hampir sama bagi Opa John Taka. Ketika doa mereka terjawabkan dan David dikirim pulang ke desanya di Mbura Lae, Rote, pasangan suami istri ini memanjatkan doa pedih dengan lengking tangis selama tiga hari tiga malam seraya berkata, “Bapa di surga, terima kasih Bapa su kirim balik putra beta. Tapi, Bapa, mengapa David pulang tidak ada nyawa lagi? Beta sonde mangarti (21), apa yang salah deng beta pung anak? Dia hanya seorang nelayan. Hanya seorang nelayan…” kata Opa John bersama isak yang menyayat.

Opa John Taka dan Oma Jublina meminta tolong istri almarhum putranya untuk membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di koran lokal yang diberikan Jefry Koek, pemilik beberapa kapal motor pukat harimau yang terbilang kaya di desa mereka. “Bapa pung anak bukan pi cari ikan di laut Darwin. Dia mau pi antar narkoba ke sana. Narkoba jenis sabu-sabu ditemukan di kotak penyimpanan umpan ikan. Bapa sonde tau kalau anak Bapa su lama jadi kurir sabu-sabu,” katanya datar.

Opa John Taka dan istrinya memandang Jefry Koek dengan tatapan tak mengerti. Ketika tulisan di koran itu dibacakan, mereka kembali mengeluarkan air mata yang teramat sedih. Mereka yakin putra mereka tidak mungkin melakukan hal itu. Opa John merasa ada yang menjebak putranya. Namun, semua sudah terjadi. Sang putra tak akan pernah lagi bisa mencari ikan. “Beta tahu ada yang tidak suka ketika David pulang bawa ikan yang cukup banyak. Seseorang telah membunuhnya. Narkoba jadi alasan. Sebab, seumur hidupnya, David sonde mangarti apa itu sabu-sabu. Beta kenal sifat anak beta. Biarlah Tuhan saja yang balas,” kata Opa John sambil menahan isak.

Baca juga  Kampung Lapar

Debur ombak Pantai Nembrala terdengar lamat-lamat. Opa John Taka, istrinya Jublina, dan menantu mereka menguburkan jasad David Taka di mamar mereka yang penuh ditumbuhi pohon lontar. Kisah tentang David Taka kemudian lenyap tersapu ombak oleh pantai nomor empat terbaik dunia untuk melakukan surfing itu. Dan cerita tentang David tidak selesai sampai di situ. Ada bisik-bisik senyap yang beredar di seluruh desa, Jefry Koek serta anak buahnya bisa pulang balik menangkap ikan dengan leluasa di laut lepas tempat dulu Opa John dan putranya mencari ikan. Tanya itu disimpan Opa John dan keluarganya rapat-rapat di benak mereka. Bahkan, penduduk desa juga hanya sanggup menceritakannya dengan bisik-bisik nyaris tanpa suara. Mereka cuma bisa menatap nanar tatkala Jefry Koek dan anak buahnya pulang membawa hasil tangkapan ikan yang sangat banyak dengan kapal pukat harimau milik sang bos. (*)

Catatan:

(1) bebak: rumah kayu yang biasanya terbuat dari pohon lontar

(2) karmana ini: kenapa ini

(3) beta: saya

(4) karnapa: mengapa

(5) mamar: kebun yang luas

(6) sonde/son: tidak

(7) kitong: kita

(8) kici ana: kecil sekali

(9) cari makang: cari makan

(10) sa: saja

(11) dong: mereka

(12) pung: punya

(13) beking: bikin

(14) ikang: ikan

(15) su: sudah

(16) pi: pergi

(17) suanggi: ilmu hitam/supranatural

(18) lu: kamu

(19) deng: dengan

(20) paitua: bapak

(21) mangarti: mengerti

FANNY J POYK. Lahir di Bima, NTB. Aktif menulis cerpen, puisi, dan novelet sejak 1980-an. Menulis novel, antologi puisi, dan buku motivasi.

Average rating 3 / 5. Vote count: 9

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: