Cerma, Daisy Rahmi, Medan Pos

Rival

1
(1)

Dengan tatapan lesu kutelusuri halaman rumah yang terlihat dari jendela. Sepi. Desahan pelan keluar dari mulut. Aku bosan. Libur sekolah sudah berjalan seminggu dan aku sengaja mengurung diri di rumah. Ucapan Reva menghilangkan semangatku menyambut liburan kali ini. Aku berusaha menghindarinya meski sadar hal itu mustahil.

Pintu kamar terbuka. Mama menyapaku yang duduk menopang dagu.

“Dy, ada telpon dari Reva.”

Parasku langsung pucat pasi. Ini yang kutakutkan. Sekilas kulirik layar ponsel yang gelap. Benda tersebut telah kumatikan sejak tadi tapi aku tak mungkin mencegah Reva menghubungi dengan telpon rumah.

“Bilang Dy sedang pergi, Ma.”

“Tapi Mama sudah bilang kamu ada.”

“Bilang Dy sedang tidur, kalau begitu.”

Alis Mama terangkat.

Please, Ma…”

“Kamu aneh. Mama kira Reva sahabatmu,” ucap Mama sebelum berlalu.

Aku meringis. Saat ini aku benar-benar berharap bukan sahabat Reva. Terdengar Mama mengucapkan alasan yang kupinta di lantai bawah. Napas lega kuhembuskan.

Dua hari kemudian Mama menyuruh mengantarkan kain pesanan seorang pelanggan. Aku tak kuasa menolak. Cepat-cepat kulakukan perintah Mama lalu bergegas pulang. Keberuntungan tak berpihak padaku. Kejutan menanti di rumah. Hatiku menciut saat melihat gadis remaja yang sedang ngobrol dengan Mama di teras. Aku turun dari sepeda dan menuntunnya masuk rumah.

“Sudah lama, Rev?” sapaku berusaha bersikap biasa.

“Baru sampai.”

Mama pergi usai menitip salam untuk orangtua Reva. Gadis itu menatapku tajam setelah sosok beliau tak terlihat.

“Kamu menghindariku, Dy?” tanyanya.

“Menghindarimu? Untuk apa?”

“Kenapa nggak balas telponku?”

“Aku lupa.”

Reva mencibir tak percaya.

“Ingat janjimu bantu aku.”

“Aku nggak pernah janji bantu kamu, Rev,” protesku.

Reva tak mengacuhkan kata-kataku seperti biasa.

Baca juga  Yusril Faisal

Kami pergi setelah pamit pada Mama. Lebih tepatnya, Reva memaksaku mengikutinya. Setelah mampir mengambil sesuatu di rumah Reva, kami meluncur ke tujuan. Dilihat siang hari tempat itu tak berbeda dengan rumah kosong yang terlantar. Pintu gerbangnya sudah berkarat dan nyaris lepas dari engselnya. Halaman depannya tertutup daun-daun yang jatuh dari pohon.

“Nggak ada penjaganya?” tanyaku was-was.

“Untuk apa menjaga rumah bobrok?”

Reva mendorong jeruji besi, berjalan ke teras dan membuka pintu depan. Dengan enggan kubuntuti dia. Langkah-langkah kami menggema di ruangan luas yang kosong. Aku merinding, sedikit gemetar meski pun sinar matahari menyorot masuk melalui jendela tak berkaca. Reva meringis melihat wajahku.

“Kamu penakut sekali, Dy. Nggak ada apa-apa di sini. Coba lihat.”

Dari dalam bungkusan yang tadi diambil, Reva mengeluarkan lonceng kecil dari logam.

“Ini aku beli kemarin.”

Digoyangnya lonceng. Buru-buru kutahan tangannya.

“Jangan.”

“Aku nggak sabar melihat wajah Mona nanti,” kekehnya.

Dinding-dinding memantulkan suara tawanya, seakan banyak orang tak kasat mata tertawa geli di tempat itu. Aku bergidik.

“Ayo pergi dari sini,” desakku.

Reva bergeming. Aku pegang tangannya dan menyeretnya keluar. Sebelum pulang, diserahkannya lonceng kecil itu padaku. Segera kukantongi dan mengayuh sepeda secepatnya. Sesaat kemudian Reva menyusul. Dijejerinya sepedaku sambil mengoceh. Tak kudengar kata-katanya. Berbagai cerita tentang rumah yang baru kami tinggalkan melintas di pikiran dan aku merasa nasibku benar-benar sial.

Kesialan yang aku alami adalah buntut dari persaingan Reva dan Mona, seorang siswi pindahan. Kehadiran gadis remaja berkacamata tersebut membuat sahabatku uring-uringan. Mona berotak encer. Hanya beberapa bulan setelah kedatangannya, ia berhasil menggeser posisi Reva sebagai juara kelas.

Percakapan tentang Mona yang kembali mengungguli Reva mendominasi kelas pagi itu tanpa memperdulikan si pemilik nama yang duduk dengan wajah ditekuk. Di deretan depan Mona duduk tenang dan anggun, sadar dirinya sedang jadi pusat pembicaraan. Kulirik Reva dari sudut mata. Aku harus menyiapkan telinga untuk mendengar gerutuannya, paling tidak selama dua hari.

Baca juga  Suara dari Seberang

“Kamu kalah lagi,” cengir Alvin.

Anak lelaki itu menghadap ke bangku Reva yang ada di belakangnya.

“Ini yang ketiga atau keempat, ya?”

Reva makin cemberut.

Guru pelajaran berikutnya masuk ke kelas dan Alvin berhenti mengusili Reva.

Reva memaksaku menemaninya sepulang sekolah. Semula kukira akan mendengar omelan tentang Mona, ternyata salah. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Arloji di pergelangan tangan berkali-kali diliriknya lalu mengedarkan pandangan ke jalan.

“Nunggu siapa?” tanyaku penasaran.

“Mona.”

“Hah?!”

Kekagetanku tidak berlangsung lama. Yang ditunggu muncul dari tikungan. Sepeda yang dikendarai berhenti di dekat kami. Pengendaranya turun kemudian berjalan menghampiri.

“Aku sudah datang,” kata Mona sambil bersedekap, “Ada apa?”

Lima menit kemudian Mona berlalu dengan sepedanya diiringi senyuman puas Reva.

Jarum pendek jam di atas meja belajar Reva menunjuk angka delapan. Perutku yang sudah terasa sakit sejak tadi makin melilit. Semua telah direncanakan. Malam ini aku menginap di rumah Reva yang sengaja memilih hari saat orangtuanya tidak ada agar kami bisa pergi dengan aman. Memang ada Yu Ning tapi itu bukan masalah.

“Siap?” tanya Reva sambil menyelipkan senter ke saku.

Kepala kuanggukkan. Mulutku terlalu kelu untuk menjawab.

Reva membuka pintu kamar perlahan. Setelah memastikan tak ada Yu Ning di ruangan bawah, kami berdua berindap menuruni tangga. Sesekali mata mengarah ke pintu kamar yang tertutup. Pintu depan dibuka dan ditutup kembali setelah kami menyelinap keluar. Cahaya lampu teras menimpa wajah lega Reva dan wajahku yang pucat.

“Kamu langsung ke sana. Ingat tugasmu. Sebentar lagi aku dan Mona sampai,” perintah Reva.

Sekali lagi aku mengangguk.

Kami mengambil sepeda masing-masing lalu berpisah. Reva berbelok ke kiri, menjauhiku yang mengambil jalan lurus. Keberanian yang terkumpul selama ini menguap seketika begitu aku tiba di pintu gerbangnya. Di malam hari, tempat itu jauh lebih menyeramkan dari pada siang hari. Aku terpekik ngeri saat sesuatu yang ringan mendarat di kepala. Refleks kukibas jatuh lalu mengayuh pedal sepeda kencang-kencang.

Baca juga  Menebak Rasa

Sepeda berhenti di toko pertama yang kutemui. Aku masuk, menenangkan diri di tempat yang terang dan banyak orang. Debar jantung mulai beraturan. Mata melirik jam dinding. Baru setengah jam kutinggalkan rumah Reva tapi rasanya bagai sudah seabad. Takut-takut, kukayuh sepeda kembali ke rumah tua.

Nyaris saja sepedaku dan sepeda Mona bertabrakan. Ia mendadak keluar dari balik pintu gerbang kemudian melaju pergi. Wajahnya pias. Belum hilang rasa kagetku, detik berikutnya terdengar suara tawa disusul kemunculan Reva. Tawanya lenyap begitu melihatku. Ekspresinya bingung. Reva berpaling, melihat pintu depan rumah yang terbuka. Suaranya gemetar.

“Bunyi itu …? Siapa …?”

Reva melesat dengan sepedanya meninggalkan diriku yang menjerit panik.

“Reva! Tunggu aku!”

Daisy Rahmi kelahiran Manado. Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa. Kini tinggal di Jakarta

Average rating 1 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: