Benny Arnas, Ruangsastra.Com, Spasi

Jalan Berliku Berkarya

Plivitce, Kroasia (Dok. Pribadi Penulis)

4.3
(11)

Apa informasi yang paling sering dicari orang ketika ingin melakukan sesuatu? Cara-cara melakukannya. Bagi yang sedikit ingin serius, ia mencari juga urusan-urusan persiapannya. Ide dan riset adalah istilah yang sangat populer dalam ranah ini.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, informasi yang populer yang sampai kepada kita tentang cara atau tahapan berproduksi adalah menemukan ide, melakukan riset, untuk kemudian mengeksekusinya. Dalam sebuah artikel di crafters.getcraft.com tentang tahapan penciptaan karya, redaksinya menulis, “Setelah eksekusi, Anda hanya perlu menikmati hasil akhirnya.”

Penyakit literasi adalah penggampangan. Dan, sebagaimana umumnya, satu penyakit gemar sekali mengajak penyakit lain hidup bersama di dalam tubuh atau lingkungan tempat tinggalnya. Maka, penggampangan pun menyeret seremonialitas dan slogan-slogan yang kering sehingga literasi mengidap penyakit komplikasi.

Itu juga yang terjadi pada dunia kecakapan yang—katanya berorientasi karya. Kata “karya” kerap sekali membius banyak orang sehingga banyak sekali yang mau ambil bagian. Baik sebagai penyelenggara, peserta, atau sekadar tim hore. Realitas ini menjadikan “karya” hadir dalam berbagai kegiatan; kelas atau lokakarya atau seminar atau Zoom Meeting atau kelas daring berbasis karya pun laris manis.

Sayangnya, euforia ini adalah efek penggampangan tadi. Sejumlah agende literasi berbasis karya tidak diikuti pemahaman akan proses komprehensif lahirnya “karya”. Sebagaimana kutipan penutup artikel di atas, yang menganggap eksekusi sama dengan (sudah) berkarya. Padahal, eksekusi hanya salah satu tahapan dalam produksi. Inilah buah dari budaya instan (ringkas berproses, tapi hasilnya ingin langsung kelihatan) yang menggerogoti literasi.

Seorang pencipta lagu, begitu menghasilkan partitur, tidak gegabah menyebutnya lagu ciptaan. Ia akan menguji komposisi nada itu dengan mengujinya ke dalam permainan musik (dan vokal). Ketika jadi, ia akan melibatkan orang-orang terpercaya untuk memberi masukan atau bahkan mengoreksi. Mencatat masukan, menimbang-nimbangnya, untuk kemudian mengaplikasikan masukan-masukan yang bersesuaian dengan “premis karya” adalah hal yang dilakukan berikutnya. Pencipta lagu itu akan sampai pada tahapan—yang mungkin dilihat dari luar oleh mereka yang tidak sabaran merupakan aktivitas yang—membosankan: menulis ulang dan menulis ulang dan menulis ulang komposisi itu hingga menemukan bentuk terbaiknya.

Baca juga  Malam Rajam

Hal serupa juga dilakukan aktor, story teller atau pendongeng, atau pegiat seni pertunjukan. Mereka membaca dan memahami premis skrip dengan saksama, menguji-coba dialog dan gestur tak keruan kali yang tak jarang mengalami banyak perubahan dan perbaikan oleh si sutradara, untuk kemudian ditampilkan dalam sebuah pementasan internal dengan menghadirkan mereka yang diangap memiliki kapasitas dalam seni pertunjukan. Lalu masukan dan kritik pun membuat pekerjaan menjadi keras, lebih keras, dan makin keras.

Prinsip serupa juga terjadi dalam ranah kecakapan yang lain: kepenulisan, jurnalistik, film dan seni rupa, dan sejenisnya.

Jamak terjadi, orang-orang menyebut buah eksekusi sebagai langkah akhir untuk kemudian menikmati panen besar. Selesai eksksusi, dalam bahasa artikel tadi: “Selanjutnya, anda hanya tinggal menikmati hasilnya.” Tidak. Tidak begitu. Berkarya bukan tentang melakukan sesuatu—lalu hap jadilah. Ia adalah tentang merampungkan semua tahap produksi (praeksekusi, eksekusi, dan pascaeksekusi) dengan baik dan benar.

Mengeksekusi tanpa merumuskan ide/premis dan riset (praeksekusi) adalah tindakan nekat dan buang-buang waktu. Aktivitas coba-coba lebih pas masuk dalam tahap praeksekusi! Eksekusi mustahil ada tanpa perencanaan. Eksekusi tidak akan bisa disebut Eksekusi apabila premis (dan riset) tidak pernah ada!

Praeksekusi dan eksekusi tanpa pascaeksekusi adalah kesia-siaan yang menyedihkan. Kelelahan demi kelelahan dalam membuat perencanaan dan merealisasikannya menjadi tidak ada artinya karena yang dihasilkan hanyalah bakal draf. Ya, baru calon draf. Bukan draf. Apalagi karya!

Acap kali kita berhenti sampai di sini. Sampai bakal draf. Melepaskan napas lega seolah-olah sudah melakukan pekerjaan besar ketika melihat apa yang dilakukan sudah menunjukkan bentuknya. Padahal, blackforest yang masih berupa bolu spons bukanlah blackforest, partitur belum/tanpa diuji oleh permainan musik sesungguhnya adalah tetap selembar kertas, pentas drama yang tidak intens dilatih-koreksi tidak akan pernah diposterkan sebagai karya pementasan, dan … tulisan yang malas disunting hanya akan terus bersembunyi di dalam laci bakal draf yang tidak percaya diri.

Baca juga  Dongeng Pendek tentang Kota-Kota dalam Kepala

Urusan pascaeksekusi memang unik: lelah dan menggembirakan. Dan memang seharusnya begitu. Percuma dong memeras pikiran demi premis yang baik, riset intens demi kedalaman materi, udah nulis dengan menepikan aktivitas lain, eh … malah malas menyunting karena menganggap apa yang sudah dilalui sudah lebih dari cukup untuk menghasilka sesuatu yang disebut karya. Aduh, betapa menyedihkannya.

Apabila seorang kreator merasakan ketersiksaan dalam tahap ini, beberapa hal yang patut dicurigai:

Pertama, berproduksi tanpa perencanaan yang matang sehingga komposisi bakal draf mengalami bongkar-pasang dalam eksekusi dan bongkar-pasang lagi ketika penyuntingan atau pascaeksekusi. Tapi, inilah karma bagi mereka yang bermain-main dengan premis dan riset!

Kedua, berproduksi tanpa membuat tenggat (deadline). Mereka yang menganggap cara berkarya yang terbaik seperti air mengalir adalah pemalas yang menuhankan mood. Dalam sebuah karya yang melibatkan banyak orang, hal itu rentan menzalimi tim produksi.

Saya belum menemukan kecurigaan ketiga. Anda bisa menambahkannya kalau memang ada.

Yang terang, dan harus disadari, menyelesaikan ketiga tahap produksi tadi baru menghasilkan draf.

Draf yang sudah lulus uji publik (baik lewat perlombaan, maupun publikasi atau pembukuan lewat kurasi yang akuntabel, atau bentuk pengujian sejenisnya) barulah layak disebut karya. (*)

Lubuklinggau, 16 Februari 2021

BENNY ARNAS menulis 25 buku. Novel terbarunya Ethile! Ethile! (Diva Press, 2021). Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas.

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 11

No votes so far! Be the first to rate this post.

3 Comments

  1. Terima kasih atas pencerahannya.

  2. hilmi faiq

    Setuju. Tak ada yang rumus jitu jika dilakukan buru-buru…

  3. Terimakasih ilmunya kak Benny

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: