Cerpen, Eko Triono, Kedaulatan Rakyat

Gang Semangat

3.6
(11)

TIAP kali lemah, letih, dan lesu, saya akan pergi ke Wijilan (bisa cek di Google Map atau peta sejenis). Dari arah Malioboro langsung saja ke arah Alun-alun Utara, lalu belok kiri ke Plengkung Wijilan, lalu lurus ke arah selatan, seratus meter, lihat arah kiri, dan di sana ada gang kecil yang akan saya ceritakan keajaibannya.

Sebelum saya ceritakan, saya mau tanya dahulu.

Kalau pembaca tanya pada tetangga atau teman, “Ini hari apa?” Tentu jawabannya langsung nama hari, bukan? “Bulan apa?” Langsung nama bulan. “Tahun berapa?” Langsung angka tahun. “Jam berapa?” Langsung angka waktu. Namun, tidak demikian dengan penduduk yang tinggal di gang yang akan saya ceritakan ini. “Yang benar saja? Bagaimana mereka menjawab?” Tanya pembaca penasaran.

Sebelum saya beberkan jawabannya dan rasa penasaran pembaca terobati, izinkan saya berbagi sedikit cerita.

Pertama kali datang ke tempat itu, ketika usia saya 27 tahun. Hidup saya sedang terbalik. Bukan metafora, tapi memang terbalik. Namun, bukan pula berarti saya ke mana-mana berjalan dengan kedua tangan dan menjemur pakaian dengan kedua kaki. Soal tidur. Tidur saya siang. Semalaman saya melek, hingga, saking parahnya, sampai saya berhalusinasi; malam-malam ikan hiu terbang ke atap-atap rumah tetangga kontrakan, para pahlawan dan penjahat di masa lalu muncul melampaui waktu di gang-gang Karangmalang, mata-mata VoC yang berkuda dari arah Batavia tersesat di Sunday Morning, manusia-manusia purba sedang memecah es batu di depan pecel lele Colombo, dan seorang dari mereka mengikuti masuk Indomaret, menanyakan letak rak kapak genggam, dan saya tawarkan padanya kopi dan larutan penyegar panas dalam. Saya kebanyakan minum kopi, begadang, baca-baca, menulis, sendirian, lalu sakit lambung, lemah, letih, lesu, kurang semangat pada hidup.

Baca juga  Siapa Tahu yang Kelima?

“Cobalah bersepeda,” kata teman saya, Dea, 26 tahun. Saya pun bersepeda tiap pagi, menyusuri gang-gang, jalan-jalan kota, pasar-pasar, mencatat nama-nama, menandai hal-hal yang menurut saya penting. Termasuk tentang gang ajaib yang akan saya ceritakan.

Ketika itu Kamis dan saya sedang menanyakan alamat teman saya yang baru pindahan, Koto, 30 tahun.

Orang itu, sekitar 42 tahun, menjawab dengan menunjuk plang gang, lalu berkata bahwa masuk gang itu ada peraturannya. Apa? “Kamu harus semangat. Tidak boleh lesu begitu.” Kenapa memangnya? “Karena namanya Gang Semangat.” Apa kalau saya masuk Jalan Jenderal Soedirman harus bersikap militer? Coba masuk sana, desaknya. Saya menuntun sepeda dan berpapasan dengan lelaki tua berjam tangan keemasan, sekitar 63 tahun, yang tiba-tiba bergelora pada hidup, “Semangat pagi!” Saya tanya, tahu rumahnya Indrian Koto? “Semangat! Tahu. Itu!” Jam berapa sekarang? “Semangat delapan lebih lima menit.” Terima kasih. “Semangat sama-sama!” Jawab lelaki tua itu bergelora. ❑

Xi’an, Januari 2021

Average rating 3.6 / 5. Vote count: 11

No votes so far! Be the first to rate this post.

2 Comments

  1. Rani

    Semangat! Mantap

  2. Semangat! Cakep. 😀

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: