Cerpen, Daruz Armedian, Suara Merdeka

Angpau Kwan Sing Bio

4.4
(13)

A Ling, sepagi ini, sudah berdiri di depan pintu rumahku. Aku tahu dari balik jendela, ia memakai baju merah dan bedak di pipinya lebih tebal dari biasa. Berkali-kali ia memanggil, tetapi aku diam saja. Aku ingin melihat bagaimana ia putus asa, lalu kembali pulang. Aku ingin melihat bibirnya yang mungil dan belum menyentuh dosa itu maju. Cemberut dan marah, seperti wajah seseorang yang menyimpan dendam.

“Hadi! Katanya mau ke kelenteng?” Tangan mungilnya mengetuk pintu. Rambutnya yang pirang, beberapa helai bergoyang-goyang diterpa angin pagi. Angin dari arah laut utara Tuban.

“Hadi! Nanti kita ketinggalan barongsai dan liang-liong lo.” A Ling tampak lebih cantik saat sedang gelisah seperti itu. Berkali-kali ia memanggilku dan aku diam saja. Sesekali aku ingin tertawa, tetapi kutahan.

Dan yang kutunggu akhirnya tiba. Ia membelakangi pintu rumahku, diam sejenak, lalu perlahan melangkahkan kaki menjauh. Mungkin ia mengira aku tidak ada di rumah. Atau mungkin ia mengira, aku marah akibat kemarin. Aku tidak dia ajak pergi ke rumah Koh Wang Kwie Juan memasang tebu di depan rumah untuk menyambut Imlek.

Kami berjanji pergi ke Kelenteng Kwan Sing Bio hari ini. Sederhana saja, kami ingin dapat angpau di sana. Dan juga kami ingin melihat Kakak Lie Quan Fang, guru baru di sekolah dasar kami, atraksi dan memainkan barongsai. Kakak Li (begitulah sering kami memanggil) baik dan ganteng pula. Seperti artis. Apalagi pas mengajari kami hitung-hitungan di pelajaran matematika.

Sebelum A Ling melewati pagar rumah, aku bergegas membuka pintu.

“A Ling!” aku berteriak, lalu tersenyum.

A Ling terdiam. Lalu, berbalik arah, dan aku tahu ia benar-benar cemberut. Mulutnya mengerucut.

“Aku ikut!” teriakku sambil mendongak.

Sejenak, wajah A Ling berubah. Ia tersenyum dan mendekat ke arahku. “Aku kira kamu tidak mau ikut.”

Aku tertawa mendengar suaranya. Alangkah imut saat ia bertingkah manja seperti itu. “Ayo masuk,” aku mempersilakan. “Aku belum mandi soalnya. He-he… tunggu sebentar ya.”

A Ling mengangguk-angguk sambil melangkahkan kaki ke pintu. “Kamu di rumah sendirian?”

“Hmm. Ibu dan bapakku pergi ke rumah Paman. Kamu sekarang kok tidak di kelenteng?”

“Kan kita sudah janjian kemarin mau ke kelenteng bareng.”

Baca juga  Suara dari Seberang

“Tapi kan kamu harus ke sana duluan!”

“Aku sudah minta izin Mama dan Papa. Aku dibolehin ke sini kok. Aku mau beneran ngajak kamu. Udah, mandi dulu sana kamu.”

Mendengar perkataannya yang serbacepat itu, aku terkikik. Semua wanita memang bicara cepat, seperti ibuku. Sambil melangkahkan kaki ke kamar mandi, aku berteriak agar A Ling menungguku. Aku dengar dari kamar mandi, ia menjawab, “Iya, iya.”

Selesai aku mandi dan berganti baju, kami berangkat. Kami berjalan di sepanjang trotoar pantura yang ramai minta ampun. Saat berjalan itu, aku melihat, lagi-lagi melihat, rambut A Ling bergoyang-goyang diterpa angin. Kami berjalan beriringan, seperti kakak-beradik. Aku kakak dan ia adikku.

“Ibumu mengizinkan kamu kuajak ke sini kan?” tanya dia.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Ibu tidak pernah melarangku bermain dengan siapa saja dan di mana saja. Ibuku baik. Baik pada siapa pun dan tidak memilih-milih. Begitu juga bapakku. Suatu hari, aku disuruh pergi ke masjid untuk mengaji setiap sehabis magrib. Aku juga tidak dimarahi jika pergi ke tempat berdoa A Ling, di kelenteng. Tidak seperti Nur, Khoir, Kharis, dan Kharisah, teman-temanku, yang tidak dibolehkan orang tua mereka pergi ke kelenteng.

Kami sampai ke kelenteng ketika orang-orang sudah buyar. Kemudian, agak lama, atraksi barongsai dan liang-liong dimulai. Kami bersorak girang. Salah satu di balik topeng barongsai itu pasti Kakak Lie Quan Fang. Kami berteriak-teriak memanggil Kakak Li. Berkali-kali. Sungguh, berkali-kali.

Ketika atraksi selesai, ada beberapa orang membagikan angpau pada anak-anak yang berkumpul di sini, termasuk kami. Salah seorang di antara orang-orang itu adalah Koh Acong, penjual segala macam barang reparasi sepeda di depan rumahku.

Kami tersenyum. Kami bahagia.

Dan aku lupa, itu bayanganku saja.

***

Sungguh, begitu menyedihkan. Semua kejadian masa kecil itu tidak benar-benar ada. Semua hanya ada dalam pikiranku. Tidak ada yang membahagiakan masa kecilku bersama A Ling, kecuali melihat matanya yang sipit dan kuncir rambutnya yang bergoyang-goyang diterpa angin.

Aku—sekarang pemuda berumur tiga puluh lima tahun—duduk di depan Kwan Sing Bio, kelenteng yang konon terbesar di Asia Tenggara, menyaksikan atraksi barongsai dan liang-liong. Dulu, ketika negara ini masih di bawah kepemerintahan Orde Baru, ketika masa aku kecil, ketika masa A Ling dan keluarganya belum pergi, tak ada perayaan Imlek semeriah ini. Tidak ada barongsai, tidak ada liang-liong. Baru setelah Gus Dur menjadi presiden, dan Konghucu ditahbiskan sebagai agama resmi negara ini, di sini ada perayaan meriah, meski tidak semeriah sekarang. Anak-anak menonton pertunjukan itu. Kemudian mereka diberi angpau oleh panitia yang mengurus Kwan Sing Bio.

Baca juga  Wasiat Simbok

Anak-anak bahagia, meski tampak malu-malu. Dengan lugu, mereka membuka amplop itu. Kemudian, seperti biasa, mereka akan membanding-bandingkan berapa nominal uang yang mereka dapat. Meskipun, ya, meskipun yang mereka dapat rata-rata sama. Memang begitulah anak-anak.

Setiap tahun, setiap perayaan Imlek, aku kadang-kadang di kelenteng ini. Dan, selalu ketika itu kulakukan, A Ling seperti berjalan dalam pikiranku. Wajahnya seperti terpasang di wajah anak-anak kecil itu, seperti juga wajahku.

Waktu itu, A Ling adalah temanku yang sering murung. Ia tidak punya teman lagi, selain aku. Banyak orang tua melarang anaknya bermain dengan A Ling. Waktu itu, aku tidak tahu kenapa itu terjadi. Yang aku tahu hanya itu. Hanya wajah A Ling yang murung dan tidak punya teman.

***

Kwan Sing Bio masih megah, dengan patung kepiting raksasa di atas dan patung dua naga berhadapan. Kelenteng ini menghadap ke jalan pantura, juga Laut Jawa. Kelenteng yang berdiri pada 1928 ini, meski sudah banyak berubah (dari gambar-gambar di dinding kelenteng yang makin banyak sampai terbangun patung Kongco Kwan Sing Tee Koen, patung tertinggi di Asia Tenggara), rasanya masih sama seperti kali pertama aku ke sini. Damai.

Aku masuk ke kelenteng, disambut relief tiga dimensi Candi Borobudur dan tembok besar Cina. Sudah lama aku tidak ke sini. Setelah agak lama memandangi relief, aku beranjak ke arah kolam. Di situ, seakan tidak pernah berubah, ada ikan-ikan berenang. Ya, apa yang berubah dari ikan berenang? Kenapa aku memunculkan pertanyaan bodoh ini?

Waktu itu, aku dan A Ling pernah memberi makan ikan-ikan di sini. Bukan hanya pernah, tetapi sering. Ah, tetapi kata “sering” agaknya kurang tepat. Sebab, kalau dihitung, aku dan A Ling cuma dua kali memberi makan ikan-ikan di sini. Itu pun cuma ikut-ikutan Koh Quan Kwie. Orang tua tukang bersih-bersih di sini. Namun, dari situ, aku benar-benar tahu bagaimana A Ling tertawa. Aku jarang melihat A Ling tertawa. Kebahagiaan A Ling memancar ketika ikan-ikan itu berebut makanan.

Baca juga  Aku Bukan Pembunuh Papa

Lama aku memandangi ikan-ikan itu sampai pada suatu kejadian ketika seseorang menepuk pundakku. Itulah tangan seorang perempuan berkacamata, berambut lurus, pirang. Ada anak kecil di gendongannya, dan lelaki seumuranku di sampingnya.

“Hadi bukan?” katanya.

Aku bingung. Beberapa saat mengingat-ingat siapa dia. Ia tidak begitu asing.

“Sudah lupa ya?”

“A Ling bukan?”

Ia mengangguk dan saat itu entah kenapa aku bahagia. Ia begitu sangat berbeda. Dan aku jadi percaya kedewasaan mampu mengubah sisi lain manusia. Ia begitu cantik dan saat tersenyum kecantikannya bertambah beberapa persen.

“Sejak kapan di sini?”

Aku tergeragap. Itu pertanyaan sama yang ingin kuutarakan.

“Hmmm, baru tadi.”

“Maksudku, sejak kapan di Tuban?”

“Oh, baru setengah bulan.”

Kemudian ada jeda sebentar. Aku lihat seorang laki-laki menghampiri kami. Laki-laki itu agaknya seumuranku dan agaknya juga bukan peranakan Cina.

“Hadi, kenalin, ini suamiku.” A Ling mengatakan itu sambil tersenyum dan laki-laki itu hanya butuh beberapa detik menyadari dan menjabat tanganku.

“Hadi,” kataku memperkenalkan diri.

Laki-laki itu juga mengucapkan namanya, tetapi aku tak begitu mendengarkan. Jujur, aku tak mau tahu ia siapa. Pikiranku sudah jauh ke arah masa lalu, ketika A Ling begitu kerap menjumpaiku, begitu kerap bermain denganku, dan, ya aku agaknya mencintainya sejak kecil. Aku kerap merindukannya tatkala ia jauh.

Tiba-tiba tenggorokanku sakit. Aku berupaya sekuat tenaga agar mataku tidak berair. Yang terjadi kemudian, aku mengutarakan pernyataan bodoh sambil pura-pura meringis. “Anak kalian lucu ya.” Mereka tertawa. (28)

Daruz Armedian, lahir di Tuban, sekarang tinggal di Jogja. Pada 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan cerpen se-DIY yang diadakan Balai Bahasa Yogyakarta. Tulisannya dimuat Koran Tempo, Media Indonesia, Suara Merdeka, Republika, Kedaulatan Rakyat, detik.com, basabasi.co. Buku cerpen keduanya bakal terbit tahun ini.

Average rating 4.4 / 5. Vote count: 13

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: