Kompas, NuBi, Retno Riyadi

Bekal untuk Tante Meti

1.5
(2)

Malam ini, hujan mulai turun, rintiknya terdengar dari dalam rumah. Di ruang tamu sebuah rumah di Malang, Jawa Timur, mulut Najwa melantunkan lirik lagu “Hujan Rintik-Rintik”.

Tiba-tiba ada sesosok perempuan muda yang terburu-buru masuk ke dalam rumah Najwa. Dia adalah Tante Meti. Tante Meti lalu segera menuju kamar mandi. Belakangan ini, tantenya itu memang selalu pulang menjelang malam.

“Bu, kenapa Tante selalu pulang Malam?” tanya Najwa kepada Ibu yang ada di sampingnya.

“Najwa tahu, kan, saat ini, jumlah pasien korona semakin banyak?”

Najwa mengangguk.

“Tante Meti pergi ke kampung-kampung untuk memberikan penyuluhan agar warga paham tentang bahaya virus itu,” terang Ibu.

Tante Meti pasti capai setelah banyak berkeliling, gumam Najwa dalam hati. Tante Meti adalah bidan desa yang bertugas di kampung-kampung yang jauh dari tempat Najwa tinggal.

Najwa merasa iba kepada Tante Meti. Dia lalu menuju ke dapur untuk membuat roti panggang. Setelah selesai, Najwa menuju ke kamar Tante Meti.

“Tante, boleh Najwa masuk?”

“Masuklah.” Terdengar suara Tante Meti dari dalam kamar.

“Ini, Najwa buatkan roti panggang, enak, lho,” kata Najwa menyodorkan camilan itu.

Mata Tante Meti terlihat berbinar. Dia segera melahap roti buatan Najwa. “Wah, terima kasih, Najwa sayang. Tante suka rotinya. Sejak siang Tante juga belum makan,” kata Tante Meti sambil memegangi perutnya.

“Tante, mengunjungi banyak kampung, ya?” tanya Najwa.

“Tidak banyak, sih. Tante tadi lebih banyak mengunjungi rumah warga yang butuh perawatan.”

“Setiap hari seperti itu?”

“Tidak selalu. Kadang, Tante ke posyandu atau mengunjungi beberapa warga yang sedang berkegiatan. Banyak warga yang belum paham betul bahaya virus korona. Jadi, mereka harus banyak didekati,” jelas Tante Meti.

Baca juga  Pahlawan Merapi

“Apa Tante tidak lelah setiap hari keliling?” Najwa sedikit merasa bersalah, karena selama ini banyak mengeluh saat harus memakai masker ketika main.

“Pastinya,” kata Tante Meti sambil tersenyum. “Tapi, Tante senang, kok, bisa membantu. Teman-teman Tante juga banyak, jadi seru. Di luar sana, lebih banyak orang yang berjuang. Ini yang bisa Tante lakukan untuk melawan virus ini.” Sekejap lelah yang tersirat di wajahnya menghilang.

Binar mata Tante Meti menularkan semangat baru di hati Najwa. Untuk melakukan hal yang berarti bagi orang lain.

Esok pagi, Najwa sudah siap di dapur untuk membantu ibu. Dia menyiapkan bekal untuk dibawa Tante Meti, agar Tante tidak lagi melupakan makan siang. Itu yang bisa dia lakukan untuk pahlawannya.

Ya, Tante Meti adalah pahlawan bagi Najwa. Pejuang yang bersemangat membangun kesadaran warga akan bahaya virus korona. *

Average rating 1.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: