Cerpen, Republika, Sori Siregar

Kimung

4.8
(4)

Sebuah gelas jatuh berdenting dan pecah. Bunyi yang memecah keheningan itu membuyarkan perjalanan rohani Kimung. Ia berpaling ke arah datangnya suara. Seekor kucing yang melompat keluar jendela tertangkap oleh matanya.

Kimung kembali memejamkan mata. Ia kemudian berselancar lagi.

Langit gelap di luar. Awan hitam bergumpal-gumpal bergerak cepat ke arah selatan kota. Tampaknya hujan akan jatuh dan membanjiri kota bagian selatan itu. Simon pasti akan direpotkan kembali oleh banjir tahunan ini. Besok atau lusa pasti ia akan kembali datang untuk menumpang di rumah yang ditunggui Kimung.

Sudah dua kali dalam dua tahun Simon harus meninggalkan rumah pamannya dan mengungsi ke tempat tinggal Kimung menunggu banjir surut. Tahun depan ia tidak tahu harus mengungsi ke mana karena enam bulan lagi pemilik rumah yang ditunggui Kimung akan kembali setelah menyelesaikan tugasnya di salah satu perwakilan RI di luar negeri.

Kimung membaringkan tubuhnya di sofa. Ia tidak masuk kantor karena alasan sakit. Sakit seperti ini memang terlalu sering menyerangnya. Ia diguncang oleh rasa gamang, takut, pedih, dan berbagai obsesi yang menyusup begitu saja.

Kehidupan yang gersang dari semua hal yang baik telah menggerus harapan-harapannya yang sebenarnya sangat sederhana. Ia mengharapkan hadirnya sebuah kehidupan yang memancarkan makna peradaban dan kemanusiaan. Sebuah kehidupan yang telah lama dimiliki bangsa lain yang tak kunjung menyembulkan wajahnya di sini. Kehidupan di sekitarnya tak pernah menampilkan wajah cerah. Warta yang memaksa masuk ke telinganya dan yang singgah di depan matanya adalah warta yang melukai dan mencabik nuraninya.

Dering telepon menyentakkan Kimung. Ia membiarkan telepon itu terus berdering hinggga akhirnya berhenti. Ia membuka telinganya lebar-lebar mendengar permohonan ampun itu. Permohonan yang diteriakkan dengan penuh penyesalan tidak berhasil melunakkan batin manusia-manusia yang dibakar amarah di sekitarnya. Tubuh si pemohon ampun telah menjadi sasaran amuk yang tidak mengenal belas kasihan. Ia dibantai dan mati. Ini peristiwa lazim di sekelilingnya. Astaghfirullah.

Kimung bangkit dari sofa. “Tidak!” Ia berteriak. Aliran darah di tubuhnya seakan turut berteriak. Teriakan kemudian lenyap berbarengan dengan dengan melemahnya otot-otot di tubuhnya. Kimung kembali duduk di sofa. Ia menatap ke arah jendela. Cuaca gelap di luar.

Baca juga  Sekotak Cinta Bersampul Koran

“Simon, di mana kau. Aku butuh kehadiranmu.” Kimung bersuara lirih. Rekan sekantornya itu sedang sibuk memeriksa naskah-naskah yang akan dimuat di majalah tempat mereka bekerja. Ia menjadi lebih sibuk justru karena ketidakhadiran Kimung.

Lelah dengan berbagai rentetan peristiwa yang silih berganti dipertontonkan kepadanya, Kimung kembali membaringkan dirinya di sofa. Ia memejamkan mata. Mencoba dengan keras untuk mengabaikan rentetan peristiwa yang tak pernah diingininya itu. Untuk pertama kali ia berhasil dan tertidur.

Tetapi, tidak lama. Riuh rendah suara terbahak sejumlah pengacara yang baru memenangi sebuah perkara di pengadilan menyentakkannya. Mereka sedang minum-minum di sebuah restoran eksklusif. Pesta kemenangan dengan mulut berbusa itu membuatnya jijik. Di mata Kimung, para advokat itu adalah orang-orang yang sangat lihai memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Orang yang membutuhkan pertolongan justru disodori transaksi jual beli jasa.

Mereka sangat memberhalakan uang. Yang penting adalah dibebaskannya klien mereka, betapa pun terkutuknya orang yang mereka bela itu. Karena itu, si jelata yang telah lama menjadi rumput kering janganlah bermimpi akan dapat berjabat tangan dengan mereka yang sangat fasih mengucapkan kata keadilan itu.

Kimung merasa lelah dan diserang kantuk yang berat. Tetapi, ia yakin kalaupun membaringkan dirinya kembali di sofa itu, ia hanya akan tertidur beberapa menit, bahkan mungkin hanya beberapa detik. Karena itu, ketika ia mendengar ketukan di pintu harapannya hanya satu: Simon.

Yang muncul ternyata Birong. Kimung tidak kecewa. Ia membutuhkan kehadiran orang lain, tidak terlalu penting siapa orang itu. Simon, Birong, atau Edu sama saja.

“Tampaknya koran hari ini belum kau sentuh.” Birong membuka percakapan setelah melihat koran yang masih terlipat di atas meja.

Kimung tidak bersuara. Ia hanya menyodorkan sebungkus rokok yang belum dibuka kepada Birong walaupun ia tahu Birong tidak merokok. Birong menatap Kimung dengan penuh tanya. Apa-apaan ini, pikirnya. Kimung tersenyum kemudian tertawa.

“Aku lagi malas, Rong. Malas merokok, malas membaca koran. Malas segalanyalah, kecuali shalat lima waktu. Karena itu, kalau kau membawa cerita menarik, berceritalah. Aku lebih senang menjadi pendengar budiman.”

Baca juga  Muammar Memilih Jalan Sendiri

Keduanya tertawa serentak.

“Aku juga sedang malas, Mung. Tidak ada cerita menarik. Kalau aku bercerita yang kubawa tentu saja cerita basi dengan berbagai retorika bulukan. Barangkali kita lebih baik berdiam diri saja sambil mendengarkan musik.”

“Tidak ada bahan yang dapat kita perdebatkan?”

“Tidak ada. Kalaupun ada bahan paling-paling kita akan terlibat dalam debat kusir. Membosankan.”

Membosankan. Kata itu paling sering beredar di kalangan teman-teman Kimung. Di mata mereka terlalu banyak hal yang menjemukan di sekitar mereka. Kimung dan teman-temannya menyimpan daftar hal-hal yang menjemukan itu.

Hukum dialokasikan untuk lapisan tertentu pula. Di luar lapisan tersebut hukum dinyatakan gugur atau tidak berlaku. Memang tidak dinyatakan secara terbuka, tetapi dijabarkan dalam praktik yang dibalut dengan eufimisme. Yang dimaksudkan dengan rakyat adalah segelintir politikus yang tak pernah kenyang dengan kekuasaan dan uang serta siap mengorbankan apa saja untuk kepentingan diri sendiri.

Hak asasi manusia adalah hak untuk melindungi tikus-tikus besar yang kekenyangan. Keadilan adalah pembagian sama rata hasil keuntungan dari siapa saja yang dapat dijadikan korban. Daftar ini panjang sekali dan senantiasa bertambah dalam perjalanan waktu.

Daftar ini beredar luas bukan hanya di kalangan teman-teman Kimung, melainkan juga di antara mahasiswa dan LSM. Setiap kali entri dicatat setiap kali itu pula situasi mengikis harapan yang telah demikian tipis.

“Ya, barangkali kita lebih baik mendengarkan musik saja dari CD-ku yang beberapa keping ini,” ujar Kimung.

“The Beatles atau Rolling Stones?” tanya Birong.

“Aku cuma punya John Denver, Whitney Houston, Bruce Springsteen, Diana Ross, dan The Carpenters. Yang lainnya lagu dangdut.”

“Aku juga suka lagu dangdut. Ada kontradiksi di sana. Meratap, bersedih-sedih, tetapi didendangkan dengan tempo yang membuat orang menggoyang tubuh.”

Kimung mulai memutar CD-nya. Mereka berdua menikmati lagu-lagu dangdut yang sering dikategorikan sebagai lagu kelas bawah selama satu jam penuh, tanpa komentar, tanpa suara.

Baru setelah lagu terakhir selesai, Kimung membuka bungkus rokoknya, mengambil sebatang rokok, menyulutnya, menyedot asapnya dengan nikmat dan bersuara:

“Liriknya sangat sederhana dan terasa kampungan. Meratap, menyesali nasib, dan pasrah. Cuma dari lirik seperti itu masih menyembul kejujuran. Itu yang aku sukai.”

Baca juga  Gadis Penjaga dan Pria Berjanggut

“Akhirnya kita kembali juga ke sana, kejujuran. Itu yang paling mahal dan langka sekarang ini.”

Kimung menjangkau surat kabar yang terletak di meja. Ia membaca judul-judul berita di halaman satu, dilanjutkan dengan halaman dua dan seterusnya. Kemudian ia melipat surat kabar itu dan melemparkannya kepada Birong.

“Retorika usang para tokoh politik dan warta bulukan yang tidak punya nilai apa-apa. Membosankan,” kata Kimung.

“Benar, membosankan,” jawab Birong tanpa sedikit pun berupaya mengecek kebenaran ucapan Kimung di surat kabar yang dipegangnya. Surat kabar itu dilipatnya dengan rapi dan dikembalikannya ke meja.

Telepon berdering. Kimung melayani panggilan telepon itu. Suara Simon terdengar di seberang sana.

“Halo, Kimung.”

“Ya.”

“Mung, kau sudah dengar berita itu?”

“Berita apa?”

“Ferdinand.”

“Mengapa dia?”

“Terbukti bersalah. Sudah dijatuhi hukuman empat tahun.”

Kimung tidak merasa perlu mendengar kata-kata Simon setelah itu. Ia sudah menduganya. Sebagai aktivis, kekayaan Ferdinand mencurigakan karena ia berasal dari keluarga sederhana. Ketika Ferdinand ditahan, Kimung heran dan terkejut. Apakah mungkin teman baiknya itu berada dalam satu barisan dengan pihak lawan? Apakah Ferdinand serendah itu? Sukar untuk memercayainya.

Memang sebelumnya kecurigaan Kimung mulai tumbuh karena bukti-bukti menegaskan bahwa Ferdinand memang di sana, di seberang sana, di barisan orang yang harus dilawan. Setelah mendengar berita yang disampaikan Simon itu, Kimung tenggelam dalam lautan tanya. Berapa banyak aktivis dan gerakan perjuangan yang dibantu dan dibiayai dengan dana haram yang diberikan Ferdinand?

Kimung menatap Birong. Birong menatap Kimung. Mereka tidak dapat menjawabnya. Hujan rintik-rintik di luar.

Jakarta, 20 Agustus 2020

Sori Siregar adalah penulis cerpen yang produktif. Ia telah menerbitkan sejumlah buku kumpulan cerpen, novel, novelet, dan biografi tokoh. Kumpulan cerpen terbarunya akan segera terbit. Menulis cerpen baginya adalah kebutuhan. Karena itu ia akan terus menulis dan menyebarkan tulisannya ke berbagai media.

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: