Cerpen, Koran Tempo, Rambuana

Kisah dari Alam Kubur

4.1
(7)

Bagaimana Naga Kamartha akhirnya melangkah di jalan terang dan menempuh hidup sebagai biksu itu pasti akan kuceritakan kepada kalian, para pembaca yang budiman. Tetapi perlu kuingatkan sebelumnya bahwa ini adalah kisah rahasia, dan bukan kisah yang bagus untuk diceritakan kepada anak-anak. Beliau sendiri mewanti-wanti saat menceritakannya langsung kepadaku pada malam kedua sebelum beliau meninggal, agar apa yang terjadi di kisah ini tak pernah terjadi kepada anak-anakku atau anak-anak siapa pun.

Beliau juga memintaku berjanji saat itu dan aku berjanji kepadanya. Maka, sebelum cerita dimulai, aku mohon kalian juga berjanji.

Bagaimana, kalian bersedia? Baiklah. Terima kasih.

Para pembaca yang budiman,

Seperti yang kita ketahui, jasad Naga Kamartha menghilang pada malam ketika esok harinya akan digelar upacara kremasi, dan hingga saat ini, tak ada yang mengetahui ke mana dan di mana jasad kepala biara itu menghilang dan berada. Pihak biara akhirnya memutuskan untuk tetap menggelar upacara kremasi walaupun tanpa jasad.

Pihak kepolisian hanya menemukan jalan buntu saat penyelidikan. Walaupun sebuah nama muncul dalam penyelidikan itu, polisi tak pernah mendalami dan tak pernah menjelaskan lebih lanjut kepada publik.

Misteri ini menimbulkan bermacam spekulasi tentang siapakah pemilik nama itu sebenarnya dan apa hubungannya dengan sang kepala biara dan kasus tersebut.

Dan kisah yang terjadi 20 tahun lalu ini akan mengungkap fakta dan menjawab bermacam spekulasi tersebut; kisah rahasia tentang seorang pria bernama Kamal Abidin.

***

Sehari setelah kakeknya meninggal dan dimakamkan, dua tahun sejak menghilang tanpa kabar, Kamal Abidin akhirnya kembali ke rumahnya dengan membawa dua kabar cemerlang. Kabar yang pertama adalah kabar yang membuat tangis sedih neneknya berubah menjadi tangis bahagia, tetapi membuat Sukaesih, adiknya, berpikir keras terlebih dulu saat mendengarnya, sebelum telanjur bahagia lalu menyesal kemudian: Kamal Abidin sukses di perantauan.

Ia menyampaikan kabar itu pada malam hari, seusai tahlilan digelar di ruang tengah rumah mereka, saat para tamu dan keluarga dan handai tolan dan tetangga pulang dan beristirahat. Mereka bertiga duduk-duduk di ruang tengah sambil berbincang dan menghabiskan sisa kudapan.

“Kang, beneran kerja di bank?”

“Iya. Tapi orang lain yang kerja. Akang yang punya bank.”

Mendengar jawaban Kamal Abidin, Sukaesih terdiam beberapa saat, berhenti mengunyah rengginang di mulutnya, menatap neneknya yang menangis lalu kembali menatap kakaknya—Sukaesih berusaha mengunyah dengan benar apa yang baru saja ia dengar dan tidak menelannya mentah-mentah seperti yang dilakukan neneknya.

Dari tatapannya, tampak bahwa jawaban Kamal Abidin alot untuk dikunyah. Benaknya mengorek ingatan-ingatan akan contoh kesuksesan paling langka dari yang pernah ia ketahui dalam kenyataan, tetapi ia tak menemukan satu pun yang bisa menjadi rujukan. Kemudian benaknya memutar pengetahuan tentang kisah-kisah ajaib yang ia ketahui, kisah tentang kesuksesan yang hanya ada dalam ribuan sinetron yang pernah ia saksikan, tetapi ia juga tak menemukan satu pun sinetron yang bisa membuat benaknya berhenti mengunyah.

Sukaesih amat mengenal Kamal Abidin. Kakaknya memang memiliki bakat-bakat yang mengagumkan, tetapi mendirikan sebuah bank, menurutnya, adalah jenis kesuksesan yang tak seiring sejalan dengan bakat-bakat itu.

Di sepanjang hidupnya, Kamal Abidin memang pernah mendulang beberapa prestasi: ia pernah menjuarai pelbagai kontes burung kicau dan merpati balap sekabupaten, ketua kordinator arena sabung ayam dan adu domba seprovinsi, bandar taruhan bola kecil-kecilan, dan memiliki dua orang istri.

Baca juga  Bermalam di Pasar Swalayan

Cobaan menerpanya ketika wabah flu burung merebak saat itu dan kontes burung kicau dan merpati serta sabung ayam ditiadakan dan menenggelamkan kariernya. Perkawinannya juga nyaris kandas andaikan ia tak bermanuver dengan menerbangkan kedua istrinya untuk bekerja ke Timur Tengah.

Dengan suntikan modal dari kedua istrinya, ia kemudian berspekulasi dan menjajal bakatnya di bidang lain: beternak ikan cupang, dan mendirikan sebuah LSM yang khusus menangani keamanan area parkir di minimarket-minimarket sekecamatan.

“Kang Kobra”, julukan Kamal Abidin setelah sukses memenangi persaingan antar-LSM, kemudian merayap dengan cepat dan menyuntikkan bisanya ke dunia politik. Ia menyatukan beberapa LSM, memberdayakan para gali dan keroco serta pengangguran seprovinsi dalam naungannya, dan menjadi penyedia massa bayaran untuk dua jenis kepentingan: membantu para politisi saat kampanye partai dan perseorangan saat musim pemilu dengan harga banderol, dan berjuang bersama para aktivis calon politisi saat di luar musim pemilu, dengan demo jenis apa pun, baik yang anti maupun yang pro terhadap apa pun dan siapa pun, dengan harga nego.

Nama Kang Kobra kemudian berdesis ke seantero negeri, sebelum pemerintah menyatakannya sebagai tokoh berbahaya dan hanya ada dua opsi bagi tokoh yang dianggap berbahaya: dibina atau dibinasakan.

Pada hari saat akan ditangkap, Kamal Abidin bin Salman alias Kang Kobra menghilang tanpa jejak.

***

Hj. Rukiyah baru saja berhenti menangis ketika Kobra menjelaskan lebih lanjut kepada adiknya:

“Ya memang bukan bank besar. Kantornya saja masih sewa ruko. Namanya juga bank keliling.”

Penjelasan itu membuat benak Sukaesih kembali terang dan berhenti berkeliling mencari jembatan penghubung antara bakat dan kesuksesan kakaknya.

Sebagai bendahara majelis taklim kaum ibu di desanya, Sukaesih paham betul apa itu “bank keliling”. Para ibu yang sering datang diam-diam kepadanya untuk meminjam kas majelis, dengan membawa awan kelabu dan beban seberat gunung, biasanya akan meletuskan beban di kepala mereka, bersama dengan tangisan panas yang meleleh di pipi, lengkap dengan semburan debu-debu penyesalan yang menghitamkan langit, sebelum akhirnya reda dan mengemukakan alasan yang sama: terlilit utang pada bank keliling.

Dan Hj. Rukiyah, neneknya, sebagai ketua majelis taklim, tentu lebih paham dari Sukaesih. Di pelbagai pengajian, ia sering mengingatkan kaum ibu bahwa bank keliling atau bank emok atau bank online atau sejenisnya adalah ular jelmaan iblis dengan bisa yang lebih mematikan dari ular kobra.

Malam hari itu, dipatuk kabar cemerlang dari cucunya bahwa ia sukses di perantauan dengan menjadi raja kobra, Hj. Rukiyah menggelepar di lantai dan meraung. Tangis bahagianya telah berubah menjadi raung penyesalan atas kesalahan-kesalahan di masa lalu.

***

Hj. Rukiyah baru berhenti meraung setelah Kamal Abidin dan Sukaesih dan para tetangga berhasil menenangkannya, dan akan tetap tenang di keesokan harinya andai Kobra tak menyampaikan kabar yang kedua; kabar yang membuat benak Sukaesih langsung memuntahkannya karena tak sanggup lagi untuk mengunyah, apalagi menelan kecerlangan dari kabar itu.

Kobra menyampaikannya pada pagi hari yang tenang, saat ia mengajarkan Sukaesih merawat murai batu kesayangan kakeknya, dan saat neneknya telah cukup tenang untuk membawakannya segelas teh hangat.

Baca juga  Pemeran Utama Langsung Mati di Menit Pertama

“Mal, nanti ziarah dulu ke kuburan abahmu,” kata Hj. Rukiyah, “minta antar sama Esih. Yasinan. Doakan biar Abah tenang di alam kubur.”

Sesaat setelah kata “kuburan” dan “alam kubur” keluar dari mulut neneknya, Kobra tersedak dan menyemburkan teh hangat di mulutnya ke arah murai yang tengah dimandikannya, membuat nyawa burung malang itu nyaris terbang menyusul pemiliknya ke alam kubur.

Sukaesih, yang paham akan disharmoni antara Kamal Abidin dan alam kubur, segera mengingatkan neneknya dan mendudukannya di kursi bambu, merogoh rengginang dari stoples dan menyumpal mulutnya, lalu menatap burung malang yang kejang-kejang itu, dengan benak memutar kembali ingatan-ingatan di masa lalu.

Tak ada yang mengetahui masa lalu Kobra lebih dari Sukaesih. Setelah bapak mereka meninggal dan ibu mereka terbang ke Timur Tengah dan tak pernah kembali, mereka tinggal bersama kakek dan nenek mereka, menjalani masa kecil bersama dalam didikan langsung pendiri madrasah, majelis taklim, guru mengaji anak-anak dan kakek mereka sendiri: almarhum H. Toha.

H. Toha adalah orang tua yang memiliki pengetahuan dan wawasan luas. Ia terkenal sebagai tokoh berada dan terpandang di desanya, dan karena itu, warga desa sering meminta bantuan darinya untuk beragam permasalahan hidup. Ia akan membantu permasalahan warga dengan menyirami mereka dengan nasihat dan doa-doa. Oleh sebab itu, warga desa juga mengenalnya sebagai orang tua yang memiliki jenis kesalehan paling ampuh dan mumpuni, yaitu kesalehan yang hanya bisa ditandingi oleh kekikirannya.

H. Toha juga mengamalkan kesalehannya itu tanpa pandang bulu, termasuk kepada 2 orang istri, 11 anak, dan 28 cucunya.

Selain memberi nasihat dan doa, saat mengajar anak-anak, H. Toha gemar bercerita tentang kisah-kisah suri tauladan. Ia juga selalu bercerita kepada Kamal Abidin dan Sukaesih sebelum mereka tidur. Dan salah satu kisah yang tak pernah mereka lupakan, kisah yang membuat Kamal Abidin memiliki kelemahan yang mengharukan di balik bakat-bakat mengagumkan, adalah kisah yang diceritakan H. Toha kepadanya dan Sukaesih di satu malam saat usia mereka 15 dan 10 tahun.

“Mal, Esih, kalian mau tahu apa yang terjadi kepada anak-anak bengal dan orang dewasa yang mati dalam keadaan tak bisa mengaji?”

Mereka menggelengkan kepala.

H. Toha kemudian menceritakan kepada mereka kisah dari alam kubur. Ia bercerita bahwa malaikat penjaga kubur, dengan tampang yang jauh lebih seram dari para monster dan para hantu di film-film, akan membangunkan orang-orang mati yang tak bisa mengaji dengan menendang kepala mereka dan menanyakan beberapa pertanyaan dan mereka tak bisa menjawab karena tak pernah mengaji.

Malaikat itu lalu mengepruk mereka hingga kepala mereka berantakan, dan terus menerus mengepruk kepala mereka karena mereka tak bisa menjawab dan mereka tak bisa mati lagi karena tak ada orang yang bisa mati dua kali. Malaikat itu terus mengepruk kepala mereka hingga hari kiamat.

Malam itu H. Toha menceritakannya dengan sepenuh hati dan Kamal Abidin mendengarkannya dengan sepenuh imajinasi.

Setelah H. Toha selesai bercerita, Sukaesih tidur dengan tekad untuk lebih giat mengaji di keesokan hari, tetapi Kamal Abidin tak bisa tidur malam itu dan juga malam-malam berikutnya.

Baca juga  Tulisan Kelinci Merah

Benak kanak-kanaknya terus memutar kisah dari alam kubur itu. Ia tahu diri bahwa mengaji tidak termasuk ke dalam salah satu bakatnya, dan ia tak sudi kepalanya dikepruk malaikat yang lebih seram dari monster dan hantu setelah ia mati. Tetapi alih-alih belajar lebih giat seperti Sukaesih, ia memilih untuk mencari solusi yang menurutnya lebih baik.

Akhirnya, pada satu malam, setelah bertahun-tahun tak bisa tidur karena memikirkan solusi, Kamal Abidin menemukan sebuah alternatif.

“Semua orang pasti mati,” pikirnya. “Tetapi tak semua orang mati dikubur dan masuk alam kubur.”

Setelah beberapa saat, ia tiba-tiba tersenyum cerah dan terharu seolah-olah telah menemukan solusi jitu, lalu berhasil tidur dengan pulas malam itu.

***

Bertahun-tahun kemudian, dua hari setelah kakeknya meninggal dan dimakamkan, dua tahun setelah menghilang tanpa kabar, Kamal Abidin akhirnya pulang ke rumahnya dan membawa dua kabar cemerlang; kabar yang kedua adalah kabar yang membuat raungan neneknya berubah menjadi kejang-kejang penyesalan, membuat Sukaesih berpikir keras dan lain-lain: Kamal Abidin telah mendapat pencerahan.

“Bank itu besok mau kujual. Uangnya nanti kukirim setengahnya ke rekeningmu. Setengahnya aku mau beli kapal laut.”

“Kapal buat apa, Kang?”

“Berlayar. Aku sudah ketemu solusi. Aku mau hidup di laut. Mati juga di laut.”

Hj. Rukiyah nyaris meraung jika Sukaesih tak segera menyumpalnya dengan rengginang dan teh hangat. Melihat adiknya mulai berpikir keras dan lain-lain, Kamal Abidin lanjut menjelaskan:

“Kalau mati di laut, aku nanti ditenggelamkan. Tidak dikubur. Jadi, aku tidak masuk alam kubur. Tidak ditanyai macam-macam sama malaikat.”

“Terus kamu mau masuk ke alam mana, Mal?” tanya Hj. Rukiyah.

“Alam air, Mak. Alam air.”

Hj. Rukiyah menganga beberapa saat dan, di pagi yang tenang itu, dipatuk jawaban mencerahkan dari Kamal Abidin, Sukaesih menggelepar dan meraung dengan benak yang karam di alam air.

Keesokan harinya, mendengar kabar dari teman-temannya bahwa polisi telah mengetahui ia pulang dan akan menangkapnya, Kobra pamit kembali kepada Hj. Rukiyah dan Sukaesih.

Hj. Rukiyah berpesan kepadanya untuk kembali ke jalan benar dan Sukaesih menyarankan untuk mencari solusi alternatif yang lebih baik.

Di sepanjang perjalanan, ia berpikir keras tentang pesan nenek dan adiknya itu.

“Semua orang pasti mati,” pikirnya, “tetapi tak semua orang mati dikubur dan masuk alam kubur. Orang yang mati di air, masuk alam air. Orang yang mati lalu dibakar, masuk ke alam api.”

Beberapa saat kemudian ia tersenyum cerah. Kamal Abidin bin Salman bin H. Toha alias Kobra telah mendapat pencerahan.

Hari itu Kobra telah memutuskan untuk melangkah di jalan terang dan menempuh hidup sebagai biksu. (*)

Banten, Januari 2021

Rambuana adalah nama pena dari seorang pedagang kaki lima yang gemar membaca dan senang menulis. Ia lahir di Karawang, 30-an tahun lalu dan sekarang berdomisili di Tangerang, Banten.

Average rating 4.1 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: