Akhmad Sekhu, Cerpen, Solopos

Lelaki Jempolan

5
(1)

Sudah berulang kali Pak Kades Matropik mengingatkan Pak Giat Maktratap untuk KB karena zaman sekarang banyak anak bukan lagi banyak rezeki, tapi banyak merepotkannya. Buktinya orang kepercayaannya itu minta bantuan terus. Sebagai kades, Matropik memang harus mau membantu kesusahan warganya karena itu memang sudah tugasnya. Apalagi Pak Giat itu orang paling berjasa membuat dirinya terpilih jadi kades. Tapi Pak Giat itu kemaruk, minta dilayani terus, jadi bisa-bisa seluruh waktu kerja Matropik tersita habis hanya untuk mengurus si sontoloyo terus. Itu tidak adil namanya.

“Pak Giat harus mengerti saya karena saya kerja sebagai kades tentu bukan hanya untuk mengurusi situ saja,” kata Matropik dengan ucapan penuh penekanan, memohon dengan amat sangat pengertian dari Pak Giat.

“Tapi sewaktu pemilihan kepala desa kan saya memilih dan mencoblos gambar singkong, gambarmu Matropik,” ungkap Pak Giat mengingatkan.

“Kan bukan hanya Pak Giat yang mendukung saya, tapi sebagian besar warga desa kita sehingga saya yang terpilih menjadi kades,” ucap Matropik tampak tak mau kalah berargumentasi dengan orang yang selalu merepotkan terus.

“Tapi saya kan yang bertugas membagi-bagikan amplop ke seluruh pendukung kita,” ungkap Pak Giat lagi mengingatkan, yang kali ini terdengar sangat blak-blakan sekali.

“Husssss, jangan bilang-bilang begitu, nanti kalau sampai kedengaran KPK bisa-bisa saya dipecat jadi kades,” reaksi Matropik kaget sekali dan buru-buru menyilangkan jari telunjuk di bibirnya yang sumbing. Wajahnya mendadak pucat. Sungguh keterlaluan memang Pak Giat bicaranya blak-blakan.

Tapi sebenarnya, lanjut Matropik, ia harus mengakui kalau Pak Giat itu jempolan karena bisa memenangkan dirinya di luar prediksi banyak orang menjagokan petahana akan memenangkan pemilihan Kepala Desa Warudoyong. “Untuk urusan pengerahan massa, aku akui kalau Pak Giat jempolan!” puji Matropik seraya menunjukkan jempol tangannya.

“Makanya pak kades bantu sayalah karena saya sekarang butuh bantuan,” Pak Giat tampak memohon-mohon dengan amat sangat. Wajahnya begitu sangat memelas, bahkan sengaja dibuat seiba dan semenderita mungkin.

“Ah, Pak Giat selalu saja bicaranya seperti itu terus,” Matropik terlihat jengah.

Pak Giat mendesakkan permohonannya, “Saya sekarang memang benar-benar butuh banget bantuan pak kades.”

“Masak Pak Giat tiap hari minta bantuan terus?”

“Tidak tiap harilah Matropik karena kemarin saya kan tidak datang ke sini.”

“Pak Giat jangan ngeles begitu, kemarin ada warga yang laporan ke saya.”

“Aaarghh, Pak Denny awas ya,” Pak Giat geram, “Baru diutangi uang segitu saja pakai lapor-lapor segala.”

“Saya tidak bilang itu Pak Denny ya, tapi Pak Giat sendiri yang mengatakannya.”

“Iya, tapi beberapa hari lalu saya kan ke rumah Pak Denny.”

Baca juga  Hantu Kebun Tebu

“Beberapa hari lalu juga ada warga lainnya yang laporan ke saya.”

Pak Giat kembali geram dan serta-merta langsung mengekspresikan kegeramannya, “Oh, jadi Pak Hasto sudah mulai main lapor-laporan ya.”

Matropik geleng-geleng kepala, kemudian menyampaikan, “Sudah banyak sekali warga yang laporan ke saya.”

“Oh, jadi warga desa kita janjinya tidak ada yang bisa dipegang!”

“Jangan menyalahkan mereka!”

“Habisnya menyalahkan siapa?”

“Salahmu sendiri, sudah saya bilang dari dulu, banyak anak bukan lagi banyak rezeki, tapi yang ada banyak merepotkan Pak Giat.”

“Ya, dikasih Tuhan banyak anak jadi saya terima saja.”

“Tapi itu kan bisa dikendalikan.”

“Kendalikan bagaimana?”

“Datang saja ke dokter ikut KB.”

“Tidak mau ah, takut nanti disuntik.”

“Pak Giat egois, maunya ‘nyuntik’ istri terus, tapi tidak mau disuntik dokter.”

“Wah kalau suntik yang itu lainlah Pak Kades.”

“Samalah.”

“Sudahlah Matropik, saya ke sini minta bantuan, bukan minta dinasihati.”

“Kali ini saja, terakhir Pak Giat minta bantuan ke saya ya.”

“Iya terakhir Matropik. Maklum banyak anak.”

“Jangan juga minta bantuan ke warga-warga lagi.”

“Lah, terus saya minta bantuan sama siapa?”

“Pak Giat kan bisa kerja lebih keras lagi.”

“Ah, sekeras-kerasnya kerja sebagai buruh serabutan paling berapa sih.”

“Kan bisa kerja lainnya.”

“Ayo mana nih Matropik, saya minta bantuan kok diputar-putar banyak cerita,” protes Pak Giat tampak mendesak.

“Iya, sudah, ini,” ucap Matropik, kemudian langsung menyodorkan amplop.

“Ini yang terakhir lho ya.”

“Terima kasih, Pak Kades,” Pak Giat menerima amplop dan kemudian mengecupi tangan Pak Kades Matropik karena begitu sangat gembira.

***

Sepulang dari rumah Pak Kades Matropik, Pak Giat mendatangi rumah Pak Denny dengan tujuan akan mendampratnya karena sudah melapor pada Pak Kades Matropik sehingga dirinya malu sekali. Rencananya, sebagian uang yang diterima dari Pak Kades Matropik akan dikasihkan sehingga ia bisa tenang bisa melunasi utang. Tapi melihat rumah Pak Denny yang tampak sepi membuat Pak Giat jadi urung melunasi utangnya.

“Selamat siang, Pak Giat,” sapa seseorang yang lewat depan rumah Pak Denny.

“Siang Pak Gondho,” Pak Giat langsung membalas sapaan.

“Mau utang ya?!” Pak Gondho menebak.

“Tidaklah,” Pak Giat mengelak.

“Tenang Pak Giat, saya juga datang ke sini mau utang sama Pak Denny. Tapi dari tadi saya perhatikan rumahnya sepi, mungkin Pak Denny lagi muter nagih utang ke orang-orang.”

Pak Giat tersentak heran serta-merta langsung mempertanyakan, “Lho masa sih?”

“Iya benar Pak,” jawab Pak Gondho menegaskan.

Dalam hati, Pak Giat semakin geram karena baru dimintai utang langsung lapor ke Pak Kades Matropik, tapi didatangi untuk melunasi utangnya malah tidak ada di rumah. Lebih geregetan lagi karena ternyata Pak Denny muter nagih utang ke orang-orang, dan juga cerita ke banyak orang kalau dirinya utang.

Baca juga  Daun-Daun Ketapang

***

Tak berhasil menemui Pak Denny di rumahnya, Pak Giat buru-buru langsung pulang. Ia sudah membayangkan uang yang diterima dari Pak Kades cukup untuk menyelesaikan masalah keuangan keluarga yang membelitnya.

Baru sampai teras rumah, Pak Giat langsung diberondong Bu Rukmini, istrinya, dengan banyak pertanyaan, “Mas ke mana sih pagi-pagi? Tidak tahu ya pagi-pagi ada yang nagih utang? Kenapa sih harus utang sama rentenir? Apa Pak Kades Matropik sudah tak membantu kita? Memangnya bansos sudah habis? Mas kan tangan kanan Pak Kades, apa tidak bisa minta dobel jatah bansosnya? Atau posisi Mas sebagai tangan kanan sudah diganti orang lain…..”

Pak Giat hanya diam tak menjawab apa-apa karena saking begitu banyaknya pertanyaan. Bu Rukmini kini menatap tajam menghujam dada Pak Giat yang ditanya tapi tidak menjawab. Napas istrinya itu sampai ngos-ngosan karena mulutnya nerocos terus.

“Suami pulang bukannya disambut dengan senyuman, tapi mulutnya cascis-cus nerocos terus.”

Bu Rukmini sontak terdiam, tapi matanya masih menatap tajam ke arah Pak Giat, tampak diamnya seperti menyimpan dendam kesumat.

Pak Giat dengan penuh ketenangan, menerangkan, “Pagi-pagi aku pergi ke Pak Kades Matropik dan dapat bantuan, tapi kata Matropik ini bantuan terakhir kali.”

“Terakhir kali? Apa itu artinya Mas terakhir kali menjadi tangan kanannya Pak Kades?” Bu Rukmini kembali mulai nerocos lagi.

“Terakhir kali Pak Kades memberi bantuan ke kita, tahu!” Pak Giat berang dengan nada suara yang cukup keras.

“Kok Mas nyolot! Salahnya Mas punya banyak anak, bukannya banyak rezeki, tapi banyak masalah.” Bu Rukmini protes.

“Lho kok menyalahkan aku.”

“Habisnya menyalahkan siapa? Tetangga, hah!”

“Kamu yang maunya punya anak banyak, melahirkan terus.”

“Sudah dari dulu, aku minta ikut KB saja, tapi Mas tidak mau karena takut disuntik, jadinya kita banyak anak sehingga semakin banyak beban kebutuhan.”

“Sudah, capek, sudah, jangan bertengkar terus.”

“Kalau tidak mau bertengkar ya penuhi semua kebutuhan,” ucap Bu Rukmini kembali meng-smash telak Pak Giat yang membuatnya kembali terdiam saja.

***

Beberapa hari kemudian, setelah pertengkaran-pertengkaran yang sangat hebat itu pecah, Pak Giat pergi ke klinik dokter. Pak Giat menyampaikan maksud kedatangannya untuk konsultasi KB. “Agar saya tidak punya anak lagi karena sudah terlalu banyak anak,” ungkapnya malu-malu.

Pak dokter tersenyum, kemudian memberinya kondom dan sekalian juga mencontohkan cara memakainya, dengan memasangkan kondom ke jempolnya, bukan ke alat vitalnya. “Pakailah kondom Pak kalau berhubungan badan dengan istri bapak,” Pak dokter menegaskan.

Baca juga  Suara Serak di Seberang Radio

“Iya, Pak,” kata Pak Giat tampak malu-malu menerima beberapa kondom, kemudian buru-buru memasukkan ke saku celananya.

“Hanya kondom, Pak?” tanya Pak Giat dengan suara bergetar.

“Iya, Pak,” jawab pak dokter singkat.

“Tidak disuntik?” tanya Pak Giat lagi, kali ini beberapa bulir keringat mulai mengucur dari kepalanya yang peyang.

Pak dokter tersenyum, “Tidak disuntik Pak karena memang belum perlu disuntik.”

***

Pak Giat yang orangnya terlalu naif, malam harinya berhubungan intim dengan istrinya memakai kondom dengan memasangkan ke jempolnya. Beberapa kali ia hubungan badan dengan cara sama persis seperti yang dicontohkan dokter.

Beberapa hari kemudian, istrinya muntah-muntah. Pak Giat buru-buru ke Pak Kades Matropik minta bantuan uang untuk periksa ke dokter. Dari pemeriksaan dokter, istrinya dinyatakan hamil dan dokter tampak begitu sangat heran karena beberapa hari lalu sudah memberinya banyak kondom.

Kehamilan istrinya langsung Pak Giat sampaikan ke Pak Kades Matropik. Pak Giat juga jujur menyampaikan ia sudah ke dokter dan menceritakan dirinya melakukan hubungan badan dengan istrinya sesuai dengan cara sama persis seperti yang dicontohkan dokter.

Metropik jadinya tertawa terbahak-bahak begitu sangat keras karena saking lucunya. “Hahaha, Pak Giat, Pak Giat….”

Pak Giat sudah punya sepuluh anak, kini tambah satu anak lagi, bisa menjadi kesebelasan satu grup sepak bola. Dengan kenyataan itu, Matropik kemudian jadinya mencak-mencak karena Pak Giat akan punya anak lagi dan kebutuhan keluarganya tentu akan makin membengkak lagi, yang berarti dirinya akan semakin direpotkan dan seluruh waktunya akan benar-benar habis hanya untuk mengurusi kesusahan Pak Giat seorang.

Tapi, kembali Matropik memang lagi-lagi harus mengakui kalau Pak Giat itu jempolan, sungguh benar-benar jempolan karena meski sudah ke dokter konsultasi KB tapi masih tetap bisa membuat istrinya hamil lagi. “Bukan hanya urusan pengerahan massa, aku akui kalau Pak Giat dalam urusan membuat anak memang jempolan!” puji Matropik dengan kagum campur bercanda seraya harus menunjukkan dua jempol tangannya sekaligus.

Jatibogor, Suradadi, Tegal, 2021

Akhmad Sekhu. Lahir 27 Mei 1971 di desa Jatibogor, Suradadi, Tegal. Buku kumpulan cerpennya: Kotokowok (siap terbit). Novelnya: Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018), Pocinta (siap terbit).

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: