Bagus Sulistio, Cerpen, Radar Banyumas

Memakan Wajah Ibu

3.6
(5)

IA termenung pada pojok ruang sempit. Meski sebenarnya tidak sendirian, namun ia suka sepi yang menyelimuti. Tatapan hampa pada piring yang kedinginan semakin sayu. Nafsu makannya belum memuncak. Rasa laparnya masih bisa dikompromi. Ia lipat kakinya ke atas, lalu ditaruhnya dagu pada lututnya.

“Makanlah, jika kau tidak makan nanti sakit,” ucap seseorang yang satu sel dengan dirinya. Ia mulai berani menarik piring berisi nasi dan beberapa sayur matang. Ia mengangkat piring itu sejajar dengan wajah. Ia menyelamkan pandangan ke permukaan piring. Dahinya mengernyit. Ketakutan tak terduga datang padanya.

“Aku tidak mau memakan wajah Ibu,” katanya spontan. Ia kembali menaruh piring di atas lantai. Wajahnya masih pasi walaupun piringnya sudah jauh darinya.

“Hei apakah kau sudah gila? Itu hanya sepiring nasi, sepotong tempe goreng, sayur kangkung. Lebih baik aku saja yang makan.”

Seseorang yang berada di sampingnya mengambil piringnya. Tetapi dengan cepat ia menarik piring tersebut sehingga tidak jatuh ke tangan orang lain. Meski akhirnya semua isi piring itu tumpak ke lantai dengan sia-sia.

“Tolong jangan makan wajah Ibu.” Ia masih gemetaran.

“Dasar bocah gila!”

***

“Ton, nanti kita turun ke jalan. Jangan lupa nanti bawa bensin ya,” ucap seseorang di balik telepon.

“Oke siap,” Toni mematikan telfon lalu bergegas masuk kamar. Di atas tempat tidur mengonggok sebuah jaket tebal dengan kerudung, juga sehelai masker hitam di sebelahnya. Satu per satu ia pakai semua itu dengan sikap yang tenang.

Seseorang mengetuk pintu kamar, seraya bertanya, “Kamu mau kemana?”

“Mau kuliah, Bu.”

“Bukankah kuliahnya daring? Lalu untuk apa ke kampus?”

“Iya ada lah, Bu. Ibu jangan kepo deh.”

Ia melewati ibunya yang berdiri di pintu kamar. Ibunya hanya memandangi dengan rasa penasaran. Toh lelaki muda itu tidak mau tahu rasa penasaran yang dibebankan pada ibunya.

Baca juga  Pergi ke Toko Wayang

“Kalau kamu mau pergi ke kampus sarapan dulu. Ibu sudah memasakkan ayam kecap kesukaanmu.”

Toni tak menghiraukan. Dengan motor bebeknya ia bergegas meluncur meninggalkan rumah, menuju kampusnya.

Sepanjang perjalanan, berkali-kali ia tersenyum sendiri. Pikirannya terbayang pesta yang indah. Membayangkan nanti akan ada keriuhan besar, dan ia suka itu.

“Woi, kenapa senyums-enyum terus?” tanya temannya.

“Aku lagi membayangkan bagaimana serunya pesta nanti sore.”

“Oh, itu pasti seru. Tapi, ngomong-ngomong udah beli bensin belum?”

“Sudah dong.”

Pada siang di bawah matahari yang terik mereka berkumpul. Dengan pakaian yang beragam, mereka berkumpul pada satu titik. Satu titik bukan berarti satu tujuan. Mereka mempunyai tujuan tersendiri, atau bahkan tidak mempunyai tujuan sama sekali.

Di depan sebuah gedung berlabel universitas, mereka menepi. Sebuah bangunan tempat Toni dan kawan-kawannya mengasah ilmu demi masa depan yang lebih baik. Tapi nyatanya itu adalah pikiran kuno, tak selamanya yang belajar di tempat itu menjadi apa yang diharapkan.

“Sebelum turun ke jalan makan dulu yuk,” ajak Toni.

“Memang kamu belum makan? Ibumu tidak membuatkan sarapan kah?”

“Ia membuat sarapan untukku. Tapi aku tidak mau makan di rumah. Jika aku sarapan dulu, aku bisa habis oleh pertanyaan darinya.”

Toni dan beberapa kawannya memisahkan diri dari kumpulan mahasiswa. Mereka menepi di warung makan. Memesan nasi sesuai selera masing-masing. Bagi teman-temannya, itu makan siang. Bagi Toni yang perutnya mulai keroncongan itu adalah sarapan. Setelah menghabiskan sebatang rokok mereka mulai beranjak meninggalkan warung.

“Kita lanjut lagi ke kampus yuk?” ajak Toni.

“Ayo,” jawab mereka serentak. Mereka kembali ke tempat semula. Kembali kepada himpunan mahasiswa yang menunggu komando.

Matahari benar-benar memanggang langit. Sebagian mahasiswa menepi untuk berteduh. Sebagian lagi bertahan di bawah terik siang itu. Saat itu tekad mereka benar-benar diuji. Apakah mereka gigih memperjuangkan tujuan mereka, atau hanya sekadar ikut-ikutan belaka.

Baca juga  Matinya Seorang Demonstran

“Teman-teman mahasiswa, pada siang hari ini, mari kita satukan tekad, menyuarakan suara rakyat. Kita harus buka telinga para wakil rakyat. Hidup mahasiswa!” teriak salah satu orang dengan pengeras suara.

Hari itu ratusan atau mungkin ribuan mahasiswa turun ke jalan. Beriringan menyanyikan lagu-lagu perjuangan, juga yel-yel untuk membakar semangat. Api semangat mereka tak kalah membara dengan api matahari. Tidak ada yang bisa menghalau mereka hingga mereka sampai di suatu tempat.

Sebuah bangunan di mana wakil rakyat suka berkumpul di dalamnya. Mereka merapatkan barisan di depan bangunan yang dibatasi pagar itu. Sebuah truk bak melintas membelah kumpulan mahasiswa itu. Di atasnya terpasang salon, mikrofon dan berdiri beberapa perwakilan mahasiswa. Lalu truk itu berhenti di depan barisan mahasiswa.

“Kawan-kawan mahasiswa seperjuangan. Pada saat ini orang tua kita, keluarga kita, kerabat kita telah dikhianati. Mereka telah dirampas hak-haknya. Apakah kita akan diam saja sebagai pemuda?”

“Tidak!” jawab mereka serentak.

Satu per satu perwakilan mahasiswa menyuarakan tuntutannya di ujung mikrofon. Sorak sorai terus menyambut pada setiap kata yang keluar.

Hari semakin sore, semakin banyak pula orang yang bergabung dalam barisan. Mereka yang bergabung belakangan tak semuanya mahasiswa.

“Bagaimana ini Ton? Hari semakin sore tapi belum ada kejadian yang seru?” bisik kawan Toni.

“Kita tunggu saja waktu yang tepat.”

Matahari semakin tergelincir ke barat. Wajah-wajah lapar terpancar dari setiap muka. Nyatanya demo kali ini belum membuahkan hasil. Wakil rakyat yang mereka tuju tak satupun yang keluar menemui pengunjuk rasa. Keadaan seperti itu membuat kemarahan para pengunjuk terpercik. Teriakan-teriakan beraroma permusuhan mulai terdengar. Barisan depan mahasiswa mulai berusaha mendesak dan menyeruak pagar betis polisi. Mereka terus mendorong maju menjebol pagar. Lunturnya panas matahari tidak menjadikan luntur emosi mereka. Malahan emosi mereka semakin memuncak hingga salah satu batu mendarat di helm seorang polisi.

Baca juga  Kasan Wolu

“Hei siapa yang menyerang?”

“Tangkap dia!”

“Sudah pukul saja.”

Kalimat-kalimat beraroma kemarahan dan permusuhan membisingkan tempat itu. Keributan tersulut di antara kedua pihak: pendemo dan aparat. Toni dan kawan-kawan merasa senang dengan kejadian ini. Peristiwa ini yang mereka tunggu-tunggu.

“Sudah siap belum, Ton?”

“Tentu!” sahut Toni sambil keluar barisan. Ia menuju semak-semak yang agak jauh, lalu mengambil kresek hitam. Ia memberikan kresek hitam itu kepada kawan-kawannya. Setelah itu Toni terpisah dengan kawan-kawannya. Tak lama kemudian kobaran api tiba-tiba menyala di tengah para demonstran. Semakin lama, semakin besar dan semakin banyak titik kobaran api. Suasana tidak terkendali. Layaknya perang siffin terjadi di tanah yang subur, tetesan darah berceceran di mana-mana.

Toni tersenyum senang. Melihat suasana tidak karuan. Terkadang ia ikut ambil bagian menyerang aparat. Jika pukulannya berbuah hasil lalu menjatuhkan aparat, ia tertawa bahagia. Baginya huru-hara itu adalah pesta yang membuat ceria. Lalu ceritanya berakhir ketika ada seseorang bertampang preman yang menunjuknya sambil berteriak, “Itu pelakunya.” Dan sebuah tongkat polisi mendarat pada kepalanya yang membuat Toni tak sadarkan diri. (*)

 

BAGUS SULISTIO. Lahir di Banjarnegara, 16 Agustus 2000. Saat ini bergiat di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) IAIN Purwokerto. Berdomisili dan nyantri di Ponpes Al Hidayah Karangsuci, Purwokerto

Average rating 3.6 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: