Cerpen, Marliana Kuswanti, Media Indonesia

Memendam Luka di Kebun

2.7
(9)

BAGI Ibu, jarak antara luka dan kebahagiaan amatlah pendek. Bahkan sangat tipis, begitu katanya, seketika mengingatkanku akan helai-helai rambut. Aku benar-benar tidak mengerti saat pertama kali Ibu mengatakannya. Bagiku, luka dan kebahagiaan adalah dua hal yang amat berbeda.

Namun mungkin Ibu benar. Atau aku yang lama-kelamaan terpengaruh karena Ibu mengatakannya sering sekali. Yang mana pun, bapakku ditemukan mati bersimbah darah pada suatu pagi di kamarnya yang tentu juga kamar ibuku. Bukan aku yang pertama menemukannya, bukan juga ibuku, melainkan anjing kami yang tua.

Ia hitam dan besar dengan wajah galak, tetapi hatinya selalu lebih lembut ketimbang bulu bonekaku yang mana pun. Anjing itu tidak menggonggong. Aku mendapatinya hanya berdiri terpaku di samping tempat tidur. Kaki kanan di depan kaki kiri seolah-olah ia tiba-tiba terhenti. Lalu kami mematung bersama-sama sampai Ibu pulang.

Ibu pulang dengan banyak sekali belanjaan. Aku tahu itu dari suaranya yang khas saat meletakkan kantong-kantong plastik sarat muatan. Ia memanggi-lmanggil aku lalu anjing kami. Saat tak satu pun dari kami mendekat atau menyahut, langkah Ibu terdengar menuju satu-satunya pintu yang terbuka.

Ibu tidak menjerit. Ibu mematung sebagaimana aku dan anjing kami. Namun itu tak lama. Bola matanya bergerak-gerak antara kami dan bapakku yang seperti terapung-apung di lautan merah.

Lalu katanya, “Tunggu sebentar, Ibu akan menelepon seseorang lalu membuatkan sup untukmu. Ini sudah waktunya sarapan.”

Dan makanan basah untuk anjing kami, tentu saja.

Setengah jam kemudian, dua pria berpakaian hitam dengan celemek plastik yang juga hitam membereskan segalanya. Kurasa, baik aku maupun anjing di sampingku sama-sama tak tahu kapan mereka datang. Aku tak mendengar apa pun sampai tahu-tahu keduanya memasuki kamar. Tanpa kata, tanpa meminta kami menyingkir.

Aku melihat keduanya melepaskan lipatan seprai di kanan dan kiri, lalu atas dan bawah. Mereka menggunakannya untuk menyelimuti bapakku lalu membopongnya keluar kamar. Kasurnya juga merah. Tak lama kemudian, dua pria yang sama masuk lagi dan mengangkat kasur itu berikut papan-papan yang menyangganya.

Baca juga  Penakluk Lebah

Kukira, mereka masih akan kembali lagi. Namun ternyata tidak. Mereka meninggalkan tempat tidur kayunya. Tempat tidur itu jadi berlubang besar di tengahnya. Aku dan anjing hitam masih terpaku.

“Anita! Anita! Supmu sudah matang!”

Untuk pertama kalinya sejak pagi itu, kudengar anjingku bersuara. Bukan gonggongan. Hanya dengusan, seperti hendak mengatakan, ‘Ini pagi yang payah.’

Sisa hari itu berjalan seperti biasa. Setelah aku dan anjing kami sarapan, Ibu melanjutkan sulamannya di sofa ruang tengah. Sampai menjelang siang dan ia pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siangku. Juga makan siang anjing kami, tentu saja.

Lalu selagi aku berusaha keras untuk tidur siang ditemani anjing hitam yang melingkar di dekat kakiku, Ibu melanjutkan lagi sulamannya. Ketika aku terbangun, Ibu sedang menyeduh teh untuk kami dan menyiapkan camilanku. Juga camilan untuk anjing kami, tentu saja. Kemudian memandikanku dan anjing kami menunggu di depan pintu kamar mandi.

Malamnya, Ibu membuat telur kecap kesukaanku. Sampai di situ, aku baru sadar bahwa sepertinya Ibu belum makan apa-apa sedari pagi. Tak seperti biasanya, malam itu Ibu tidak menyalakan televisi. Aku tidur jauh lebih awal, menenggelamkan wajahku ke dada anjing kami. Rasanya nyaman sekali merasakan hangat tubuhnya di dahiku yang mengabarkan masih ada kehidupan di sini.

Aku terjaga sekitar tengah malam. Ada yang menangis dan itu jelas bukan anjing kami. Aku turun dari ranjang dan berjalan mengendap-endap ke satu-satunya pintu yang terbuka. Lampunya menyala. Ibuku meringkuk memeluk lutut di lantai, persis di tengah lubang besar tempat tidur kayu.

Aku tidak menghitung berapa hari yang berjalan seperti itu. Mungkin lebih banyak daripada seluruh jari yang kumiliki. Mungkin juga tidak, sebab aku masih ingat sekali segala sesuatunya. Termasuk perubahan pipi ibuku yang makin kurus saja. Cahaya di wajahnya padam perlahan-lahan dan kurasa, ia tak lagi punya rencana pergi ke pasar.

Ibu tak lagi melanjutkan sulamannya. Tak lagi membuatkanku sarapan, makan siang, dan makan malam. Tak lagi memandikanku. Dan anjing kami mencacah kaleng makanan basahnya dengan giginya yang besar-besar.

Baca juga  Kultus

Aku ikut mencoleknya dengan jari-jariku dan aku senang sekali anjing hitam besar itu tak ganti mencacah tubuhku. Ia bahkan meninggalkan sisa makanan basah di kaleng terakhir untukku, menungguiku makan sambil meletakkan dagunya di atas kedua kaki depan.

Saat polisi datang pada suatu pagi, aku masih bergelung di ranjang. Tidak ada yang membangunkanku. Bahkan anjingku masih terlelap dalam pelukanku. Seseorang menggendongku.

Kami hampir mencapai pintu depan saat aku mendengar seseorang berkata, “Mereka menguburnya di halaman belakang.”

Jangankan mengerti maksud perkataan orang itu, membuka kedua kelopak mata pun rasanya susah sekali. Semalam aku sulit tidur. Perutku seperti diremas-remas tangan raksasa dan dada anjing kami tak lagi hangat melainkan panas.

Ia merintih sepanjang malam. Aku juga. Di kejauhan, rintihan yang lebih menyayat hati membuatku menggigil. Aku jatuh tidur bukan oleh kantuk melainkan rasa lelah.

Anjing kami yang ikut terbangun saat aku terbangun terhenti di tengah ruang. Bingung hendak mengikutiku yang dalam gendongan orang asing atau mengikuti orang-orang asing lainnya menuju pintu yang lain. Pagi itu, aku tidak melihat ibuku. Hanya ada sulamannya yang terbengkalai di atas sofa.

***

Bertahun-tahun kemudian, saat aku berani menginjakkan kaki lagi di rumah itu, aku menemukan setumpuk koran yang telah menguning di sudut teras. Koran-koran edisi bulan dan tahun yang sama. Itu koran kesukaan bapakku. Ia pasti telah membayarnya di muka dan pengantar koran hanya merasa tak enak jika tak mengantarkan yang telah menjadi haknya.

Seharusnya, pengantar koran hanya melemparnya. Tetapi kurasa, seseorang telah berbaik hati menatanya di teras dan menyiangi rumput di halaman. Jika tidak, rumah ini akan terlihat buruk sekali.

Di tumpukan bawah, kudapati halaman pertama koran-koran itu menceritakan hal yang sama. Pembunuhan sadis yang dilakukan seorang wanita pada suaminya sendiri lantaran sakit hati mengetahui sang suami berselingkuh dengan teman arisannya.

Wanita itu membayar mahal dua pria untuk mengurus jasad suaminya, menguburkannya di halaman belakang, di antara pohon-pohon pisang dan semak mawar. Ada juga cerita tentangku dan anjing kami. Namun, tentu saja aku tak perlu membacanya. Aku dan anjing kami lebih tahu soal itu daripada siapa pun.

Baca juga  Bulan Sabit dan Kekasih

Kepala panti memberikan kunci rumah itu seminggu setelah ulang tahunku yang ketujuh belas. Namun tiga tahun setelahnya, aku baru berani menyentuhnya kembali. Aku memasukkannya ke lubang kunci dan memutarnya dua kali.

Sama sekali tak ada hambatan. Pintu berderit panjang saat kudorong. Hanya ada bau kuat debu dan ingatan akan sepotong percakapan yang diulang-ulang saban malam sampai hari ketika ibuku tak lagi menyiapkan makanan untukku dan anjing kami.

“Ibu, Bapak di mana?”

“Ada di suatu tempat.”

“Kenapa Bapak tak pulang-pulang? Dua pria itu membawanya dan Bapak berdarah-darah. Bapak sakit?”

Ibu menggeleng.

“Yang sakit bukan bapakmu, Anita, tetapi Ibu. Amat sakit, sampai air mata dan darah pun tak lagi bisa mengalir. Namun kamu tak usah khawatir, Sayang. Sekarang Ibu sudah benar-benar sembuh. Kamu tahu, Anita? Jarak antara luka dengan kebahagiaan itu amatlah pendek. Bahkan sangat tipis, seperti helai-helai rambutmu.”

Ibu selalu mengakhiri percakapan itu dengan mengecup keningku lalu menepuk-nepuk pelan kepala anjing di pelukanku.

Sekarang, lurus di hadapanku adalah pintu yang lain. Pintu yang sempat membuat anjing tua yang malang itu kebingungan. Sampai ia memutuskan berlari dan melompat ke mobil yang hendak membawaku.

Ia mengembuskan napas terakhirnya tak lama setelah kami tiba di panti. Ketika dadanya yang panas tiba-tiba kudapati telah menjadi amat dingin pada suatu pagi yang berkabut. Atau, kabut itu hanya ada dalam mataku?

Kunci yang lain kuputar dua kali. Tidak ada hambatan sama sekali kecuali detak jantungku sendiri. (M-2)

Average rating 2.7 / 5. Vote count: 9

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: