Cerpen, Jawa Pos, Mardi Luhung

Zombi

1.6
(5)

Malam. Mungkin pukul 24.00. Mungkin juga lebih. Jika lebih, hari telah berganti. Seperti ular yang mengganti kulitnya. Agar jadi baru. Dan leluasa bergerak dengan gesit.

SEGESIT si tikus. Si tikus yang membuat aku kelabakan. Sebab, tanpa dinyana, nyelonong ke dalam rumah. Ngendon di kolong. Dan hup, bablas ke balik lemari. Bersembunyi. Dua hari kemudian, beberapa barangku berantakan. Seperti habis dieker-eker. Aku terenyak. Geram. Lalu lewat kotak jepretan, si tikus pun aku jepret.

Saat di dalam kotak jepretan, si tikus gelisah. Seperti ingin mendobrak. Tapi, apa daya, dinding kotak jepretan terbuat dari kawat. Tak mungkin terdobrak. Sekali lagi, si tikus hanya bisa gelisah. Terus menatapkan matanya. “Cepat, keluarkan aku. Jika tidak, aku panggil teman-temanku.” Begitu kata si tikus. Hai, si tikus ini bicara? Apa tidak salah? Atau, jangan-jangan, ini si tikus jejadian. Aku mencubit kulitku. Sakit. Ini bukan mimpi. Kembali si tikus berkata: “Tentu saja, ini bukan mimpi.”

“Gila, kau bisa berkata?” sentakku.

“Tentu saja bisa. Mangkanya keluarkan aku.”

Setelah menimbang agak panjang, aku pun mengeluarkan si tikus. Memang, semula aku ragu, jika setelah aku keluarkan nanti lari. Tapi, nyatanya, si tikus malah memepetkan tubuhnya ke kakiku. Aku geli. Mundur. Tapi, si tikus kembali memepetkan tubuhnya. Aku kembali mundur. Sampai terdesak ke dinding. Aku tak bisa bergerak. Si tikus pun leluasa memepetkan tubuhnya ke kakiku. Memanjat ke dengkul, perut, pundak, dan nangkring di sana.

“Jangan takut.”

“Apa?”

“Jangan takut.”

“Aku cuma geli, tahu.”

Dan malam kali ini. Tepatnya larut malam. Lonceng masjid berbunyi dua kali. Aku tetap menunggu datangnya si tikus. Tapi tak nongol-nongol. Sepertinya si tikus absen. Aku pun tidur.

***

Setahun sudah skripsiku mangkrak. Pikiranku buntu. Laptop di meja terongok. Kamarku awut-awutan. Semua yang aku sodorkan ke dosen pembimbing ditolak. Katanya, ini menulis skripsi atau cerpen. Mana hipotesisnya. Mana teorinya. Kok ngelantur. Ngelantur? Memang, belakangan aku tak bisa mengendalikan pikiran. Segalanya gampang silih masuk. Kadang ada makhluk besar hijau datang. Kadang ada binatang melata menyergap terus menjilat. Dan bahkan, ini yang kerap, aku tiba-tiba sudah di sebuah ruangan. Ruangan tempat aku diwisuda.

Kedua orang tuaku datang. Senyum-senyum. Di kanan-kirinya, orang-orang tua temanku pun datang. Anehnya, dalam pandanganku, wajah-wajah semua orang itu rata. Serata tripleks sehabis dipelitur. Tanpa mata, hidung, dan mulut. Cuma berpendar, berpendar, dan berpendar. Lalu, tepat ketika namaku dipanggil, sontak ruangan menggelap. Aku tak bisa melihat. Aku pun meraba-raba. Ke mana kedua orang tuaku. Ke mana orang-orang tua temanku. Tak ada. Apakah aku sendirian di ruang wisuda ini?

Sebelum tanya itu terjawab, tiba-tiba lantai rompal. Aku terperosok ke dalamnya. Meluncur, meluncur, dan slep, aku jatuh di tempat yang tak aku kenal. Lalu cahaya pelan-pelan menerang. Ternyata tempat itu adalah sebuah jalan di sebuah kota. Jalan yang penuh orang-orang yang berlalu-lalang. Yang tak saling menggubris. Berjalan dan berjalan saja. Anehnya, gerak jalan mereka seragam. Tidak kebat. Tidak pelan. Seperti ada irama yang mengiringnya. Tu-wak-tu-wak, berhenti, berjalan. Tuk-wak-tu-wak, berhenti, berjalan.

Baca juga  Dammahum Jadi Mercusuar

Ini di mana? Ini di mana? Kembali tanyaku tak terjawab. Aku adalah si orang yang diperosokkan ke jalan tuk-wak-tuk-wak.

***

“Bagaimana skripsimu?” tanya Bibit.

“Mangkrak,” jawabku.

“Loh.”

“Iya, rasanya tak bisa aku teruskan.”

Bibit, teman karibku, menelan ludah. Tak mengerti dengan diriku. Padahal, sejak semester awal, aku adalah salah satu mahasiswa yang menonjol. Bahkan, dalam beberapa kegiatan lomba di kampus, aku selalu ikut. Apakah itu lomba menulis, debat, atau resensi. Bahkan, dalam lomba karambol pun ada namaku. Dan dalam kegiatan lomba itu, jika aku tak menjadi juara dua, pastilah tiga. Oleh beberapa teman, aku diberi sebutan si mahasiswa gesit. Yang kerap berperan di setiap kegiatan. Dan untuk nilai-nilai kuliahku? Jangan khawatir. Paling sial aku dapat nilai B.

“Loh, kenapa tak ganti judul skripsi?” sambung Bibit.

“Ganti judul skripsi?”

“Benar.”

Tidak, aku tak mau ganti judul skripsi. Judul ini sudah sip. Sudah aku renungkan. Yaitu: “Orang Sukses Memang Takdir.” Dan objek kasusnya adalah diriku sendiri. Diri yang sejak TK sampai kuliah memang yahud. Dan meski bahan ujian seabrek, belajarnya pun sekilas, aku selalu berhasil. Dan mendapat aplaus guru-guru. Bahkan, pernah di waktu kelas delapan SMP, aku nangkring di peringkat satu. Sebab, saat itu, yang biasa peringkat satu sakit. Istirahat dua bulan di rumahnya.

Tapi, apakah benar skripsiku mangkrak. Oh, ngomong apa ini. Aku tak pernah menulis skripsi. Bahkan, untuk kuliah pun tak pernah. Dan seperti yang aku katakan, aku cuma teman si tikus yang bisa ngomong itu. Si tikus yang belakangan kerap absen ke kamarku. Si tikus, yang punya banyak kawan. Dan bertempat di kerajaan bawah tanah. Kerajaan yang dipimpin oleh si kepala tikus. Yang sukanya memerintah sambil tersenyum. Dan sesekali kuku-kukunya diberi kutek kuning. Dan yang mencolok, ke mana-mana tak lupa membawa sapu tangan dan kemoceng.

Sapu tangan untuk membersihkan tangan. Kemoceng untuk mengebuti tempat-tempat yang akan diduduki. Katanya, kini dunia sudah tak sehat. Sudah disebari racun. Baik racun alami maupun buatan. Keras atau sebaliknya. Oleh karena itu, kita mesti menjaga diri. Sebab, jika tidak, kita bisa disergap racun itu. Terus megap-megap seperti ikan di tanah. Dan untung, jika langsung mati, bisa dibuang ke lubang kakus. Tapi, jika tidak, akan jadi zombi tikus. Zombi yang gentayangan sambil mencicit-cicit.

***

Nah, ngomong-ngomong tentang zombi. Tentu saja zombi beneran. Bukan zombi tikus seperti yang terceritakan, aku punya pengalaman unik. Uniknya, waktu itu, aku bertemu si zombi beneran. Bertemu di warung kopi yang berada di areal petilasan. Petilasan dari seseorang yang dianggap keramat. Yang bisa bolak-balik ke bulan dalam sekejap. Seseorang yang ketika ingin mati, konon membuat api unggun. Setelah api unggun membesar, terus masuk ke dalamnya. Tapi, sayangnya, dia tak mati. Malahan, meski api unggun makin membesar, tetap sejuk. Lalu, seseorang itu duduk bersila. Antara sadar dan tidak, terdengar bisikan: “Kau bisa mati jika mewariskan kisah.”

Baca juga  Anjing Belanda

Kisah? Kisah apa? Seseorang itu tak tahu jawabannya. Tapi, oleh datangnya bisikan kedua, seseorang itu paham. Lalu, sambil tertunduk, pun bersenandung. Bersenandung sesukanya. Kadang pelan. Kadang keras. Kadang lurus. Dan senandung pun menghambur seperti banjir bandang. Yang mampu menyapu apa pun. Lalu plas, seseorang itu pun lenyap. Tinggal terompahnya yang muncul ketika api unggun padam. Nah, terompah itulah yang kini dijadikan tetenger petilasan.

“Sudah lama aku ingin bisa bersenandung seperti seseorang yang mati di dalam api unggun itu.” Begitu kata si zombi beneran.

“Maksudmu?” tanyaku.

“Aku sudah bosan jadi zombi. Aku ingin mati.”

Aku tercekat. Dalam pandanganku, wajah si zombi beneran ini memang menggiriskan. Mati bukan. Hidup bukan. Matanya cekung. Kulitnya keriput. Jika menyeruput, mulutnya tak bisa cepat-cepat ditangkupkan. Sehingga kopi pun muntah balik. Terus membasahi dadanya. Tepat pukul tiga dini hari, si zombi beneran pamit. Sebab, perutnya lapar. Dan mesti mencari seseorang untuk dimakan. “Loh, kenapa tak memakan aku?” tanyaku tanpa sadar. Si zombi beneran menggeleng: “Kita ini sama-sama zombi. Tak boleh saling memakan.” Astaga, jadi selama ini aku zombi? Aku tak percaya.

Tapi, pertanyaan ini keburu menjadi persoalan di kepalaku.

***

Apakah aku zombi. Tidak. Aku bukan zombi. Aku manusia biasa. Yang bernapas. Bergerak. Sedikit berlari. Dan duduk-duduk di alun-alun seperti kali ini. Duduk-duduk dengan si tikus yang bisa ngomong. Yang kini ada di dalam tasku. Si tikus yang sesekali menongolkan kepalanya. Terus bertanya ini dan itu. Terutama pada tempat-tempat di seputar alun-alun. Dan aku pun menerangkan begini: yang di barat masjid kota. Yang di selatan rumah dinas bupati. Yang di utara kantor catatan sipil. Tempat orang-orang ngurus nikah dan akta kelahiran. Sedang, yang di timur kampung pecinan. Kampung yang sewaktu SD sering aku datangi. Sebab, di sana aku punya teman kecil. Namanya Yahuk. Anaknya kurus dan berambut kemerahan. Yahuk adalah anak kelima Om Jun yang punya toko beras di dekat alun-alun.

Di kampung pecinan, aku dan Yahuk kerap main bola, kelereng, dan ke pantai. Di pantai, kami memancing. Jika bosan, pun melihat ubur-ubur. Ubur-ubur bening yang bergeriyut-geriyut. Ubur-ubur yang dalam pandangan kami seperti terbuat dari udara. Tak ada darah. Tak ada tulang. Kok ada ya makhluk air seperti itu? Kami pun kagum. Kekaguman yang kami bawa ketika pulang. Tepat di depan kelenteng, Yahuk lurus ke rumahnya. Aku berbelok ke kanan. Terus ke rumahku yang ada di sebelah kampung pecinan. Kini di manakah Yahuk. Entahlah. Sejak SMA, kami tak pernah lagi berjumpa. Kata kabar, Yahuk pindah ke kota lain. Bersekolah sambil berdagang mebel bersama kakak tertuanya.

Tapi, sekali lagi, apakah aku zombi.

***

Ya, apakah aku zombi. Kini pertanyaan itu aku tanyakan ke si tikus. Si tikus pun melongo. Menggoyang-goyang kepala. Seperti menghalau sesuatu. Sesuatu yang mungkin bisa diibaratkan petir di siang bolong. Petir yang kesasar. Yang tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya salah tempat. Kembali aku bertanya: “Apakah aku zombi?”

Baca juga  Tangisan Sedu Sedan di Antara Siaran Iklan Radio

“Apa?”

“Apakah aku zombi?”

Si tikus tetap menggoyang-goyang kepalanya.

Aku jengkel.

“Tenanglah,” tiba-tiba sahut si tikus, “secara nyata kau bukan zombi. Kau adalah manusia biasa. Manusia yang berjalan, duduk, berlari, dan telungkup. Manusia yang mestinya tahu, mana yang boleh dilangkahi atau sebaliknya. Tetapi, jika boleh aku katakan, di balik semua itu, kau sesekali adalah zombi.”

“Sesekali adalah zombi?”

“Benar, kau sesekali adalah zombi.”

Aku tak mengerti.

“Kau adalah sesekali zombi yang juga makan orang.”

Aku melongo. Apa yang dimaksud dengan sesekali zombi yang juga makan orang. Dan entah kesadaran dari mana, tiba-tiba aku teringat pada mimpi sebulan yang lalu. Mimpi di mana aku berada di sebuah perjamuan. Perjamuan mewah. Di tengah perjamuan itu, terhamparlah segenap makanan. Makanan yang mengepul. Yang membuat hasrat laparku menggeliat. Anehnya, tanpa aku buka, segenap makanan itu tiba-tiba muncrat ke atas. Jatuh ke mulutku. Ketika aku rasakan, akh, bukankah ini wajah Akis, tetanggaku yang pernah aku bentak. Dan yang lainnya, bukankah ini kaki Gunawan, tetanggaku yang pernah aku sebut si kutu loncat. Lalu, entah tangan, perut, dan betis siapa lagi yang terus-terusan jatuh ke mulutku. Yang jelas, semua bagian tubuh itu aku kenal pemiliknya. Sebab, semua pemiliknya pernah aku pergunjingkan.

“Benar, kan, kau pun pernah makan orang,” sela si tikus sambil masuk lagi ke dalam tasku.

Aku tak mampu menjawab.

“Siapa pun yang pernah menggunjing temannya, dia telah memakan bangkai temannya,” sambung si tikus dari dalam tasku.

***

Zombi, ya, zombi. Ternyata benar aku adalah zombi. Zombi yang pernah makan orang. Meski itu cuma sesekali dan di dalam mimpi. Tapi tetap adalah zombi. Zombi, yang kini, seperti si zombi beneran yang pernah aku jumpai dulu, ingin bisa bersenandung. Bersenandung di dalam api unggun yang membesar. Dan itu pernah dilakukan seseorang yang dianggap keramat ketika ingin mati. Mati yang begitu dirindukan oleh para zombi. Akhirnya, ketahuilah, jika kalian berjumpa dengan seseorang yang berjalan sendiri. Seseorang yang sesekali berbicara dengan si tikus yang ada di dalam tasnya, mohon sapalah. Sebab, dia adalah aku. Si zombi yang tak terduga. (*)

(Gresik, 2020)

MARDI LUHUNG. Lahir di Gresik, 5 Maret 1965. Tahun 2010 mendapatkan anugerah Khatulistiwa Literary Award dalam bidang puisi. Kumpulan cerpen pertamanya adalah Aku Jatuh Cinta Lagi pada Istriku (2011). Dan Cumcum Pergi ke Akhirat (2017) adalah buku puisi terakhirnya. Kini menetap di kota kelahirannya sambil bekerja di SMA Nahdlatul Ulama I Gresik.

Average rating 1.6 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: