Benny Arnas, Ruangsastra.Com, Spasi

Racun Hikikomori

Karya seni kontemporer Sai Tuomply yang dihargai 28 M hingga lebih 1 T/Google

4.6
(16)

Sebagaimana sihir kata-kata Mario Teguh yang menyemangati tapi penuh jebakan, banyak sekali kutipan-kutipan jargoniah yang membahayakan. Suburnya hikikomori di Jepang adalah salah satu buktinya.

Hikikomori adalah fenomena di kalangan remaja atau dewasa muda di Jepang yang menarik diri dan mengurung diri dari kehidupan sosial. Kehidupan mereka tergantung pada orangtua. Mereka menemukan keasyikan dalam ruangan sempit dalam rumah, sembari tetap menjadi bagian dari dunia melalui media sosial di tangannya.

Ketidakpercayadirian yang mengaliri darah mereka mulanya adalah tindakan percaya pada pesona kata-kata indah yang tidak bekerja. Mereka gagal membuktikan kekuatan kutipan. Gagal merealisasikannya ke dalam tindakan dan karya. Tapi, mereka malah asyik-masyhuk dengannya, sehingga tanpa sadar mereka hidup dalam kepalsuan. Mereka menjelma vampir yang tak pernah sanggup melihat realitas, dunia luar yang diurapi cahaya matahari.

***

Kata seorang teman, jangan pernah percaya dengan follow your passion (FYP). Tiga kata itu tidak akan pernah cocok buatmu yang hidup di tengah keluarga pas-pasan; yang sedikit saja kau lalai apalagi bersenang-senang, alamat serumah-layang tidak makan; atau yang sedang tinggal di rantau dengan menu Indomie dalam berbagai variasi begitu memasuki tanggal 15 tiap bulannya; atau yang selalu migrain tiap awal bulan karena tagihan leasing dan perabotan rajin mengetuk pintu; tidak. Jangan bunuh diri! Passion-mu tidak akan memberimu apa-apa selain kelaparan dan keluntang-lantungan. FYP hanya berlaku untuk kamu yang lahir dari keluarga kaya atau yang sudah berhasil mengusahakan hidup sejahtera—meski berdarah-darah.

Seapatis itu?

Ya, sebenarnya tidak setelanjur itu keadaannya. FYP akan bekerja kalau kamu tumbuh di tengah lingkungan yang mendukung kemampuan dan bakatmu. Dengan atau tanpa kausadari. Ketika keluargamu adalah penganut demokrasi, open minded, dan percaya bahwa bagian orangtua dalam urusan masa depan anak adalah memfasilitasi kegembiraan mereka seraya tetap mengawasj dari jauh: yang salah ditunjukkan, yang telanjur dimaafkan. Semua akan purna kalau kau kaya—baik olehmu sendiri atau keluargamu dengan harta simpanan tak hingga di Swiss atau Ethiopia. Tapi, itu kalau sudah dirintis-bangun sejak kau masih kanak atau remaja. Kamu, kalau sudah lulus sekolah atau tamat kuliah, apalagi berkeluarga dengan kondisi ekonomi yang jauh dari ideal, otomatis muntah darah kalau harus menelan bulat-bulat FYP.

Baca juga  Saat Bertemu Pejuang

***

Setali tiga uang dengan FYP, Just be Yourself (JbY) rentan menjerumuskanmu ke jurang dalam ketaktahudirian. Apa pun yang tak kamu sukai, yang menyulitkanmu, yang meribetkanmu, membuatmu bosan, atau yang memaksamu berpikir dan berusaha ekstra, tanpa beban akan kaulabeli sebagai bukan dirimu.

Dirimu adalah hal-hal yang kausukai. Dirimu adalah hal-hal yang menggembiraimu.

Sampai di sini, kamu pun tahu kalau JbY adalah saudara kembar FYP.

Efek yang ditimbulkan JbY lebih memorak-porandakan tatanan kehidupan ketimbang FYP. Kutipan JbY tidak pandang kasta. Brahmana atau Sudra yang terhipnosis oleh kilau kemudahan dan kemewahan akan terlempar dari realitas dan menjadi penguasa dalam dunia imajiner yang diciptakannya dan hanya diakui olehnya seorang diri.

***

Tekunilah satu bidang dengan serius sampai kau menjadi mastahnya atau Become a Specialist (BaS) adalah saudara kembar ketiga dari FYP dan JbY. Menekuni satu bidang sejatinya pekerjaan mereka yang tak memiliki banyak bakat, tak memiliki banyak kecakapan, atau tak menyukai tantangan yang sejatinya mengandung banyak kejutan.

Ya, kalau kamu tumbuh dalam lingkungan yang gagal membuatmu berkembang sehingga kamu sendiri tidak tahu apa yang seharusnya kamu lakukan untuk menjadi sesuatu, mencari hal yang paling mungkin kamu lakukan dengan intens adalah kunci. Ya, kunci. Sebab kamu tak punya pilihan.

Tapi, bagaimana kalau kamu besar dalam keluarga dan lingkungan egaliter sehingga bakat dan kemampuanmu bercabang ke mana-mana? Apakah kamu harus memilih juga? Ya, boleh … kalau kamu inginnya begitu. Tapi, kalau kamu ingin mengeksplorasi lebih dari satu, asalkan bisa mengukur kemampuan, yaaa tidak ada masalah.

Apa yang ditunjukkan Aristoteles, Plato, Al Khawarizmi, atau Al Kindi yang menguasai filsafat, fisika, seni, hingga ilmu hewan dalam level mastah seharusnya menjadi acuan atau referensi atau role model dalam pengembangan diri.

Baca juga  Palestina Memanggilmu

Tidak ada yang lebih nikmat selain berproses dalam kegembiraan; mengakomodasi kecenderungan terhadap satu dan lain hal tanpa adanya batasan jargoniah Jadilah Mastah Satu Bidang!

***

Kita hari ini telah dijejali moto, slogan, seremoni, dan wacana yang indah di permukaan, tapi busuk di bawah tanah. Ia hanya akan tumbuh subur di tangan orang yang tinggal dalam rumah yang banyak air, mampu membeli pupuk, tekun memelihara, dan akan lebih luar biasa apabila juga didukung oleh keluarga dan atau sumber daya yang selalu tersedia ketika dibutuhkan.

Kalau tidak berada dalam idealitas di atas, kamu bisa membangunnya lewat keringat dan air mata sejak dini. Sejak kau masih kanak. Atau masih remaja. Atau katakanlah ketika kau masih sendiri. Ketika masih muda. Ketika masih punya banyak waktu membaca dan mengembara. Ketika belum berkeluarga. Ketika belum memiliki (banyak) tanggungan. Ketika kau … (silakan isi sendiri).

Kalau sudah terlambat, hidup yang keras adalah jalan tunggal. Tanpa cabang. Tanpa pilihan. Tanpa kemungkinan. Hanya keajaiban atau Youtuber yang sedang berderma satu milyar dengan menjadikanmu objek konten acaklah yang mungkin menyelamatkanmu.

Semuanya, bukan hanya tiga kata produksi Mario Teguh atau Mery Riana atau Leo Tolstoy atau Freelancer Endorsan saja, menjadi racun maha melenakan yang membunuhmu tak beradab kalau diusahakan di ujung tanduk.

Oleh karenanya, bukan keanehan lagi kalau suatu hari kamu adalah bagian hikikomori: menua dalam kamar karena sibuk membangun dunia lewat jemari dan layar ponsel.

“Bang Benn,” salah seorang peserta Benny Institute Writing Class membuyarkan lamunan saya, “saya sangat ingin menjadi penulis, tapi … sangat tidak suka membaca,” katanya tanpa dosa. “Ada cara lain selain banyak membaca, ‘kan, Bang Benn?”

Baca juga  Kota Ini adalah Sumur

Saya ingin menjawab dengan saksama sebelum merasa semuanya akan sia-sia di hadapan manusia yang sudah jauh meninggalkan usia 16. Ya, meminta seorang dewasa mempercayai kerja racun tiga kata potensial mengantarnya ke gerbang hikikomori. *

Lubuklinggau, 24 Februari 2021

BENNY ARNAS menulis 25 buku. Novel terbarunya Ethile! Ethile! (Diva Press, 2021). Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas.

Average rating 4.6 / 5. Vote count: 16

No votes so far! Be the first to rate this post.

3 Comments

  1. hilmi faiq

    Bang Benn seharusnya menjalani harakiri 😁😁

  2. Esti

    Ya Allah, bener banget! Ternyata ini jawaban dari kegelisahanku selama ini

    • ZAM

      Saya jadi bertanya-tanya, apakah teori-teori pola asuh anak yang begitu banyak dan bijak itu juga saudara kembar FYP, JbY, BaS?

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: