Cerpen, Hermawan Aksan, Pikiran Rakyat

Perempuan di Sudut Kafe

2.6
(5)

KETIKA aku tiba di kafe itu, seorang perempuan di meja sudut kanan memandangku. Aku balas memandangnya dan berharap sesuatu akan terjadi, mungkin dia akan tersenyum.

NAMUN, harapanku menguap secepat datangnya: dalam dua atau tiga detik aku merasa bahwa mata indah di balik kacamata berbingkai keemasan itu tidak benar-benar memandangku, tapi memandang jauh melewati bahuku, menembus bidang pintu, dan bukan tidak mungkin memelesat jauh ke lalu lintas yang padat menjelang waktu makan siang atau bahkan ke langit biru.

Lagi pula, bagaimana aku bisa melihat perempuan itu tersenyum? Selembar masker merah jambu menutupi hidung, mulut, dan dagunya.

Tak lama kemudian wajahnya menunduk dan sebagian rambutnya yang kemerahan—mungkinuntuk menyamarkan helai-helai keperakan?—menutupi wajahnya.

Tangan kanan mencengkeram bolpoin dan tangan kiri menahan rambutnya supaya tidak menghalangi matanya. Di meja, sebuah buku tulis tipis dalam posisi terbuka.

Kupilih duduk di meja nomor dua dari depan, berhadapan dengan perempuan itu, hanya terhalang satu meja yang losong. Kutarik laptop dari dalam tas, kubuka, lalu kunyalakan. Dari atas laptop aku masih bisa memandang perempuan itu.

Meski dia mengenakan masker, aku yakin dia perempuan cantik. Tonjolan di bagian atas masker menegaskan hidung mancungnya. Bibirnya memang tertutup, tapi aku membayangkan bibir yang merah dan penuh. Perempuan cantik, walaupun mengenakan masker, tetap saja kelihatan cantik.

Usianya mungkin antara 40 dan 45 tahun dan mendadak aku berpikir untuk menjadikannya sebagai model karakter cerpenku. Siapa nama yang pantas untuk perempuan dengan kulit wajah seputih susu yang membuatku membayangkan beberapa bagian tubuhnya transparan? Mungkin Sarah, Diana, atau Vindy, akan kuputuskan nanti.

Dia memakai kaus hitam dengan bagian kerah menutup separuh leher, menegaskan kontras dengan kulit lehernya, dipadu dengan jaket kaus abu-abu.

Setiap dia mengangkat wajahnya—dengan mudah aku tahu karena dia akan menyibakkan lebih dulu helai-helai rambutnya—aku segera menurunkan mataku ke layar laptop, melanjutkan mendeskripsikan setiap detail wajahnya meskipun sebagian terpaksa melalui imajinasi. Jika dia menurunkan wajahnya, pada saat yang kupikir tepat aku pun mengangkat mataku memandangnya, merekam setiap gerak sekecil apa pun yang bisa kutangkap.

Baca juga  Membincang Nasib

Perempuan yang menulis di buku tulis, bagaimanapun, adalah pemandangan yang eksotis dan langka, sedikit banyak mirip dengan perempuan yang membaca buku sementara orang lain asyik dengan ponsel mereka. Apa yang sedang ditulisnya? Buku harian? Rasanya bukan. Buku harian biasanya ditulis di buku khusus dengan warna dan bentuk khusus. Apakah dia sedang menulis draf cerita? Cerpen? Novel?

Aku jadi berdebar-debar membayangkan dia seorang novelis. Kuingat-ingat barangkali ada penulis novel berwajah seperti dia. Tapi tak satu pun nama tertentu menyangkut di kepalaku. Pandemi korona tampaknya menjadi lahan persemaian yang baik bagi para penulis baru.

Setelah membuat deskripsi secukupnya, aku mengangkat wajahku dari layar laptop untuk memandang wajahnya dan pada saat yang sama aku merasakan bahwa dia menurunkan wajahnya untuk menekuri tulisannya di buku tulis. Sekadar untuk meyakinkan diri, kuturunkan wajahku ke laptop dan, benar saja, melalui bidang pandang mataku aku merasa perempuan itu mengangkat wajah dan memandang ke arahku.

Mungkin akan begitu terus kalau saja tidak muncul sepasang anak muda yang duduk di meja di antara kami. Keduanya juga memakai masker sehingga aku tidak bisa menebak usia mereka. Bisa saja mereka sedang pacaran tapi masih sama-sama canggung sehingga keduanya lebih banyak memainkan ponsel di tangan masing-masing.

Biarlah mereka akan menjadi bahan cerita yang lain bagiku.

Yang pasti, kedatangan mereka menghalangi pandanganku ke wajah perempuan itu. Aku tidak mungkin membuat gerakan tertentu untuk bisa memandang perempuan itu.

Apakah aku harus memindahkan laptopku untuk duduk di meja perempuan itu, berhadap-hadapan langsung? Aku menarik napas dalam-dalam seraya mengumpulkan keberanian. Aku selalu berdebar jika hendak melakukan sesuatu yang penuh risiko. Adrenalinku naik.

Baca juga  Bapakku Telah Pergi [1]

Aku hendak mengangkat laptopku ketika di luar dugaan perempuan itu berdiri, merapikan rambutnya, lalu menutup buku di mejanya. Apakah dia sudah selesai menulis dan hendak pulang? Membayangkan seperti itu, aku langsung merasa kehilangan.

Dia melangkah dengan buku di tangan kiri dan gelas jus di tangan kanan dan ketukan sepatunya terdengar lambat, seperti melangkah dengan kecepatan andante, makin lambat, dan akhirnya berhenti. Tercium samar bau wangi melati.

Diletakkan gelas di mejaku.

Aku mendongak.

“Boleh duduk di sini?” Dia tidak bertanya. Dia mendesah.

Oh, tentu saja. “Silakan, Mbak.”

Dia duduk dan masih memandangku. “Saya sedang menulis cerpen dan tiba-tiba ingin menjadikan Mas sebagai tokoh utama saya.”

Aku memandangnya lebih lama untuk menegaskan. Benarkah pendengaranku? Kami saling pandang dalam hitungan tiga atau empat.

Lalu dia tersenyum—maksudku, di balik maskernya, bibirnya pasti tersenyum. “Maaf kalau saya lancang.”

Aku berdebar lagi. “Tidak apa-apa. Saya juga sedang menulis cerpen dan, melihat Mbak di sana, saya mendadak ingin menjadikan Mbak sebagai tokoh utamanya.”

Matanya melebar dan, ah, apakah bibirnya membuka? Kalau saja tak ada tabir di wajahnya, aku yakin akan menikmati paduan yang indah: mata yang bening berbinar dan bibir yang merah merekah. “Benarkah? Apa yang Mas ceritakan tentang tokoh itu?”

Mmm… mereka bertemu di sebuah kafe. Perempuan itu sedang asyik menulis di buku tulis dan si laki-laki menduga perempuan itu sedang menulis cerpen atau novel….”

“Lalu mereka berkenalan dan berjanji akan bertemu lagi beberapa hari kemudian.”

“Tidak secepat itu.”

“Tentu. Saya hanya memakai ungkapan ‘singkat cerita’.”

“Bagaimana Mbak tahu?”

“Karena saya juga sedang menulis kisah seperti itu.”

“Bagaimana mungkin?”

“Dalam fiksi segalanya mungkin, kan?”

“Apakah kita, maksud saya dua tokoh cerita itu,” aku ragu sejenak, “akan menjadi sepasang kekasih?”

Baca juga  Marmer Cake Pesanan

“Secepat itu?”

“Tentu tidak. Saya hanya memakai ungkapan ‘singkat cerita’.”

Perempuan itu tertawa. Seperti ucapannya, tawanya juga mengandung desah.

“Sudah sampai ending? Atau sudah tahu ending-nya seperti apa?”

“Dua-duanya belum.”

Kami diam.

Lalu, lima atau enam detik kemudian, dia menarik lengan jaketnya dan melirik jam tangannya.

Dia berdiri sebelum aku berkomentar. “Saya pulang dulu, ya. Saya tak mau suami saya pulang ketika saya tidak ada di rumah.”

Oh.

“Tapi saya menyukai happy ending,” katanya sambil berjalan menuju kasir.

Setelah selesai, dia berbalik dan melambai, kemudian lenyap di balik pintu kafe.

Untuk menjadikan akhir yang bahagia, aku tidak bisa hanya melalui cerita pendek. Aku harus menulis cerita panjang. Novel atau, setidaknya, novelet. Tapi, bagaimana aku menulis cerita panjang kalau aku tidak tahu namanya?

Kupijit keningku, kenapa tak terpikir menanyakan nomor WA-nya? Bukankah dia sempat bilang “… berjanji akan bertemu lagi beberapa hari kemudian”? Ah, mungkinkah terjadi keajaiban sehingga kami akan bertemu lagi?

Kepergiannya benar-benar membuat dadaku serasa kosong.

Kupejamkan mataku, kuhirup lagi wangi melati yang tersisa di udara.

Aku membuka mata dan mengangkat wajah…

Di depanku, terhalang satu meja kosong karena sepasang anak muda itu sudah pergi (atau mereka sebenarnya tidak pernah ada?), perempuan itu masih duduk di mejanya dengan bolpoin di tangan kanan, menulis di buku tulis.

Aku mengerutkan kening.

Kutatap layar laptopku dan kubaca kalimat terakhir yang kutulis: … Kupejamkan mataku, kuhirup lagi wangi melati yang tersisa di udara.

Aku berdebar untuk ketiga kalinya.***

Hermawan Aksan, lahir di Brebes. Menulis sejumlah cerpen, esai, dan novel.

Average rating 2.6 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: