Cerpen, Koran Tempo, Muhammad Khambali

Bagaimana Aku Bertemu dan Berpisah dengan Siluman Babi

4.5
(20)

Jika kau mengira ini adalah cerita silat atau horor, kau salah sangka. Ini sebuah cerita biasa tentang pertemuan dan perpisahanku dengan Tlembuk, yang baru kemudian kuketahui adalah siluman babi. Ia teman sebangku di kelas tiga sekolah menengah dulu. Mukanya bulat dan hidungnya yang tertimbun daging di pipi membuatnya serupa labu sayur. Tapi tertolong oleh warna kulitnya yang terang dan timbre suaranya yang lembut.

Tentu saja ia tidak mengenalkan dirinya sebagai Tlembuk pada hari pertama perjumpaan kami, tetapi sebagai Fajar Setiawan. Aku adalah murid pindahan di sekolahnya, dan ketika itu hanya menjumpai bangku kosong di sampingnya. Aku duduk di sana dan kami pun menjadi teman sebangku. Setelah beberapa hari, aku merasa aneh sendiri dan akhirnya ikut memanggilnya Tlembuk lantaran tak ada teman-teman kami yang memanggilnya Fajar atau Setiawan. Ketika kutanya mengapa dipanggil seperti itu, ia tak menjawab dan cuma nyengir seperti Pilon—kuda di tempat tinggalku dulu, ketika sedang ingin buang hajat.

Lalu aku tahu nama Tlembuk itu disematkan kepadanya lantaran orang tuanya adalah pembuat tlembuk, alias ampas tahu yang difermentasikan. Tlembuk biasanya digoreng dan disantap dengan saos murahan yang dibuat dari cabai busuk. Teman-temanku bilang tlembuk adalah makanan yang tak ada gizinya, dan hanya bikin dungu.

Nama Tlembuk seakan-akan makin cocok bagi Fajar yang selalu diolok-olok oleh teman sekelas dan guru lantaran selalu kesulitan saat pelajaran matematika. Sebagai teman sebangku, Tlembuk akhirnya mengandalkanku. Seperti hari itu, ketika Tlembuk sengaja datang ke sekolah pagi buta hanya demi menyalin PR matematika dariku.

“Kau pasti sudah mengerjakannya, kan? Pinjamlah,” ujarnya enteng saja kepadaku. Mukanya tampak girang begitu kusodorkan PR punyaku. “Nah, begitu dong.” Ia menyeringai dengan tatapan intimidatif dan sok, merasa aku hanya murid baru di sekolah.

Pada awalnya aku sama sekali tak keberatan, sampai lama-lama ia selalu mengandalkanku dan itu membuatku cukup kesal. Sampai akhirnya, aku punya alasan yang membuatnya tak berani bertingkah lagi. Aku mengetahui rahasia tentang dirinya yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.

Sebenarnya itu bermula dari kebetulan belaka. Hari itu entah mengapa perutku tidak beres selepas makan siang di warung sekolah, dan aku pun lantas pergi ke kamar mandi. Sekolah kami cukup menyedihkan lantaran hanya punya satu kamar mandi laki-laki dan satu kamar mandi perempuan. Jadi, kukira saat itu aku cukup beruntung mendapati pintu kamar mandi tertutup tapi tak terkunci. Tepat saat kubuka pintu, ternyata kudapati si Tlembuk itu sedang meracap di kamar mandi. Tapi bukan itu yang mengejutkanku, melainkan ketika kulihat muka Tlembuk tampak berbeda. Lubang hidungnya mencuat ke depan dan daun telinganya bergelambir selayaknya babi di peternakan.

Baca juga  Ibu Jenderal

Tlembuk yang kaget segera menaikkan celana dan tanpa ampun resletingnya mengilas perkakasnya yang masih tegang itu. Ia pun mengaduh keras, dan aku dapat membayangkan betapa menyakitkannya itu.

Ia memohon-mohon setengah mati kepadaku untuk tidak menceritakan kepada siapa pun mengenai identitasnya itu. Ia pun bercerita kalau terpaksa meracap di kamar mandi setelah melihat kancing seragam Siti, teman kelas kami, yang terlepas dan memperlihatkan apa yang terbungkus di baliknya.

Aku sebenarnya tak berniat menceritakannya kepada siapa pun. Tapi, begitu ia berjanji akan mentraktirku makan di kantin selama satu minggu, tentu saja tawaran itu tak mungkin aku tolak. Walau kadang aku merasa tak enak hati telah memancing di air keruh. Tlembuk benar-benar menepati janjinya.

Semenjak saat itu pula, tanpa alasan yang jelas, aku jadi lebih memperhatikannya, dan menyadari tabiat mata keranjangnya itu. Aku sering memergokinya tatkala diam-diam mengintip rok murid-murid perempuan lewat kolong bangku, atau ketika ia begitu terbelalak melihat dua gundukan yang bergoyang-goyang dalam ujian lompat jauh sewaktu pelajaran pendidikan jasmani, sampai-sampai membuat air liurnya hampir menetes.

Selebihnya, kami memang menjadi semakin akrab, dan Tlembuk mulai bersikap terbuka denganku. Ia juga mengajakku ke rumahnya yang kurasa lebih tepat disebut pabrik tahu. Tak lain lantaran memang hampir sebagian besar rumahnya dipakai untuk mengolah berbagai tahu-tahuan, termasuk tlembuk. Di samping kiri bangunan, berderet kandang untuk domba dan babi-babi mereka yang letaknya memang bersisian. Jadi, dapat kau bayangkan di rumahnya itu baunya begitu campur aduk, yang membikin lambungku menolak untuk dimasukkan makanan apa pun.

Aku sempat kaget ketika Tlembuk mengenalkanku kepada kedua orang tuanya yang berkulit gelap dan tidak memiliki kemiripan apa pun dengannya. Sampai kemudian, ia menjelaskan asal-usulnya sebagai siluman babi. Mereka berdua adalah orang tua angkatnya. Mereka tidak memiliki anak, dan begitu bahagia sewaktu menemukan bayi manusia menangis di kandang babi.

“Apa kau percaya atau tahu tentang reinkarnasi?” tanya Tlembuk. Aku jawab pernah mendengar tentang reinkarnasi, tapi tidak begitu paham. Tlembuk bilang segala tentang dirinya hanya bisa dimengerti jika aku percaya adanya reinkarnasi, bahwa seseorang yang mati akan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan yang lain.

Baca juga  Pusara

“Lalu apa kau tahu siapa dirimu di kehidupan sebelumnya?”

“Setiap orang yang mati akan terhapus ingatannya. Jadi, aku tidak tahu. Tapi aku pasti telah melakukan sesuatu yang buruk di kehidupanku sebelumnya sehingga aku mendapat karma seperti sekarang. Itulah aturan reinkarnasi.”

“Jadi, maksudmu kau akan terus-menerus lahir kembali?”

“Ya, seperti ini.”

“Kalau nanti terlahir kembali, kau ingin jadi apa?”

“Tentu saja, apa yang kulakukan di kehidupanku yang sekarang akan menentukan kehidupanku berikutnya. Tapi kalau kau bertanya seperti itu, aku berharap tidak dilahirkan lagi sebagai siluman, apalagi manusia.”

“Mengapa?”

“Karena sadar bahwa kau ada, itu merepotkan sekali. Menjadi kecoa mungkin lebih baik.”

Aku tak menyangka bahwa Tlembuk yang selama ini tampak dungu di kelas dan kukira isi batok kepalanya hanya perempuan belaka ternyata memiliki pemikiran sedalam itu mengenai hidup dan reinkarnasi. Tlembuk bercerita kalau hidung dan telinganya akan berubah serupa babi tatkala ia sedang dilanda birahi. Dan meracap adalah satu-satunya cara agar ia sanggup menguasai birahinya.

“Apakah tidak ada cara lain?”

“Aku tidak yakin. Tapi aku pernah pergi ke orang pintar. Ia bilang, karmaku ini hanya akan hilang bila aku bertemu dengan perempuan yang bisa menerima tampang babiku.”

Bukan saja itu sulit, ia bahkan memiliki peruntungan jodoh yang tidak pernah menggembirakan. Para perempuan di sekolah yang pernah dicintainya selalu membuatnya patah hati. “Beginilah cinta, deritanya tiada akhir,” gumamnya, melaratkan kata-kata tersebut setiap cintanya ditolak. “Barangkali itu bagian dari kutukanmu, siluman,” ujarku kemudian.

Tetapi Tlembuk tak mudah patah arang. Tabiat mata keranjangnya barangkali memang sudah bawaan dari lahir, sehingga seminggu setelah mendapatkan penolakan, hatinya dapat segera kepincut oleh perempuan lain. Masalahnya, kali itu, setelah ditolak Siti, Tlembuk jatuh hati kepada Bu Zulaikha, guru kesenian kami yang baru.

“Gila kau siluman!” kataku, begitu ia menceritakannya kepadaku. Tlembuk bilang ia langsung jatuh hati sejak pandangan pertama. Apalagi ketika jemari Bu Zulaikha menyentuh jarinya sewaktu ia pura-pura bloon tak bisa bermain seruling, hampir-hampir hidungnya berubah bentuk.

Hari demi hari berlalu, dan Tlembuk hanya semakin dilanda mabuk cinta kepada Bu Zulaikha. Siang itu ia memaksaku untuk ikut menguntit Bu Zulaikha setelah pulang sekolah. Begitu Bu Zulaikha naik angkutan, kami bergegas mengikutinya dengan sepeda.

Baca juga  Arafah Bak Padang Masyhar

Ternyata Bu Zulaikha tinggal di Randu Dongkal, sekitar setengah jam dari sekolah. Kami berjarak dua rumah sewaktu perempuan itu masuk ke sebuah rumah. Tlembuk mengajakku ikut, tapi aku berkeras menolak. Aku hanya mengamati dari kejauhan ketika Tlembuk yang seperti sedang kesurupan itu pergi sendiri, menunggu lima menit di luar, sebelum akhirnya mengetuk pintu.

Bu Zulaikha membukakan pintu dengan menampakkan wajah bingung. Dengan lugu dan berani Tlembuk mengaku bahwa ia mencintainya, dan berharap dapat menjadi kekasihnya. Bu Zulaikha, yang tentu merasa rungsing, segera berpaling dan hendak menutup pintu. Tlembuk terus memaksa untuk masuk, sebelum lelaki bertubuh gempal, yang ternyata suami Bu Zulaikha, muncul dan menghajarnya hingga mukanya lebam-lebam, mata kanannya mengeluarkan darah, dan bola matanya mungkin sudah copot bila saja tidak dilerai oleh Bu Zulaikha.

Aku mengantar Tlembuk yang babak-belur itu pulang ke rumah, dan ia tak pernah lagi masuk sekolah setelah itu. Kudengar Bu Zulaikha melaporkan tindakan tak senonoh Tlembuk.

Tiga bulan kemudian aku mengunjungi rumah Tlembuk, dan kaget mengetahui pabrik tahu itu ternyata sudah tutup tak berpenghuni. Ketika kutanya tetangga sekitar, mereka bilang pabrik tahu itu tutup setelah kedua pemiliknya mengetahui anaknya seorang siluman. Aku pulang dengan perasaan menyesal. Sejak saat itu, aku tak pernah bertemu dengan Tlembuk, dan setelah lulus sekolah menengah aku pindah ke kota.

Aku bahkan telah melupakannya. Sampai hari itu seorang teman, yang biasa kupanggil Paduka, mengajakku untuk makan di warung, dan ia memesan lauk yang asing tapi sepertinya kukenal.

“Itu apa namanya?” tanyaku.

“Apa?” Ia menjawab sambil memamah.

“Itu laukmu apa namanya?”

“Oh ini. Tlembuk. Oseng tlembuk.”

Seketika aku teringat siluman babi itu. Aku berhenti makan dan memikirkan apakah ia masih hidup atau sudah mati dan bereinkarnasi, misalnya menjadi kecoa seperti keinginannya.

Muhammad Khambali. Penulis dan pengajar. Menulis cerita, esai, dan ulasan. Ia tinggal di Jakarta.

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 20

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: