Cerpen, Jawa Pos, S Jai

Begenggek

3.6
(9)

Takdir persamuhanku dengan Dewi tak cuma untuk berbagi. Kami mufakat bertukar posisi. Kami dikutuk tak sekadar bercinta. Kami juga berdebat.

DIKUTUK? Kami ngerti siapa yang mengutuk.

Kami bersua tiga bulan lalu di rumah bordil Alipbaktak. Kami sepakat atas syarat dia mau kuperistri; Dewi minta kami menyatu dalam darah, air ludah, dosa, pikiran, pakaian, juga kegendengan.

Dosa? Benarkah?

“Kau harus berjanji…” pintanya membaur semriwing asap mentol dari bibirnya.

“Janji itu bukti kita takut derita.”

“Ah!”

Aku terbahak. “Maksudmu, kauminta aku pakai otakmu? Hidup hanyalah peristiwa, Dewi. Janji menuntut keabadian. Tak perlu berjanji untuk hal-hal fisik dan metafisik begini,” tedasku.

Begitulah mufakat kami; tak berjanji.

Kami tak pernah menolak peristiwa apa pun. Kami tak melawan arus sederas bagaimanapun. Kejadian demi kejadian satu pun tak pernah kami anggap istimewa. Kami hidup seperti mengambang dan bergoyang.

Kami juga tak menyingkap tabir; aku pria keempat baginya, dia perempuan ketiga bagiku. Kami berdua tapi satu. Kami anti disimpulkan. Kami hanya suka berdebat, suka ngakak sebagaimana penghuni lain di rumah bordil ini. Kami suka berteriak lepas. Kami bercinta di tempat yang terbuka dan lantang memekikkan; bacalah atas nama kenikmatan!

Kami menyukai lampu yang benderang. Dewi menitahkan seluruh penghuni melebihkan binar lampunya dan membuang yang remang. Kami mengakui kesunyian, bersamanya, tanpa kebencian. Semua orang akan sunyi pada waktunya. Kami percaya waktu layaknya pada peristiwa.

Meski tak bisa kukatakan sebagai kebenaran, aku mencintai Dewi tersebab tak pernah kubayangkan; bercinta dengan teriak lantang, pekik memukau, histeris jalang. Seperti lengking suara TOA. Hampir tanpa keheningan, meski tak berarti tanpa doa. Sungguh kami menyukai aksi jalanan dengan megafon menyalak garang.

Yang tiada hanyalah semedi dalam sepi.

Edannya, aku belajar berdoa dari cara Dewi sebelum bercinta. Sebelum tidur. Sebelum makan. Sebelum bekerja. Sebelum bicara, bersiul, bersenandung. Bahkan aku belajar sesudahnya. Bagiku, Dewi sangat religius menjalani peristiwa.

“Orang tidak pernah percaya, bukan?” celetuk Dewi.

“Apa?”

“Bahwa semua doaku terkabul.”

Tak pernah aku menyangsikan Dewi. Tak pernah pula aku meragukan peristiwa.

“Kebebasan. Pekerjaan. Kebahagiaan. Tuhan. Sudah kupunya. Tak perlu pula menganggap orang lain munafik, dan yang penting; kuakui tanpa kemunafikan kucinta kau,” Dewi menghujaniku pelukan.

Begitulah Dewi sudah memuntahkan sendiri hal-hal yang membuatku jatuh cinta. Sekali lagi cinta; sudah inhern nafsu di dalamnya. Kami sama-sama mengamini ada binatang dalam diri kami.

“Kami ini binatang jalang, dari kumpulannya yang terbuang! Bersatulah begenggek…begenggek Nusantara!!!” teriakku.

“Husss…gendeng, kamu!” sergah Dewi.

***

Para pengutuk hanya paham Dewi bekerja dengan membuka paha. Tidak. Dewi adalah pecinta hidup dan peristiwa. Dewi adalah juragan yang sudah selesai dengan tubuhnya. Bukan “pekerja seks”, melainkan Dewi yang sembahyang dengan “seks yang bekerja”.

Baca juga  Sapu Tangan dari Kayeli

Meski dikutuk, Dewi tak pernah jatuh dalam anggapan busuk. Dewi memang gabuk, mandul. Tapi pikiran, darah, jantung, plasma dalam tubuhnya adalah anak-anak semesta yang tumbuh, berbiak, hidup, dan menghidupi.

Di rumah bordil Alipbaktak Dewi bukan saja pembaca novel Wanita (1)—kisah Theodora gadis miskin nan sial jadi pelacur Konstantinopel, tapi kemudian menjadi permaisuri dan menegakkan panji keperempuanan. Dewi juga membaca cerita Aspasia—lonte kelas wahid di Athena yang membuat tabik pujangga Socrates. Lalu dilahapnya pula kisah Rahab—sundal yang anti sebagai istri; menjadi istri berarti budak. Kisah Nell Gwynn, selir Raja Charles II yang berkat kecerdasannya putri mucikari itu, putusan-putusan penting kerajaan dari otaknya.

Dewi adalah pembaca tanda-tanda zaman yang ulung. Dewi lebih lihai dari Matahari (2). Dewi tak pernah menyesal jadi korban lelaki hidung belang lantaran seorang hidung belang adalah korban dari kepicikannya sendiri, kemunafikannya sendiri. Sama bodohnya dengan setiap yang bermata keranjang.

“Masihkah menjadi istri, bagimu adalah budakku, Dewi?”

“Apakah kau yakin sanggup memperistriku, Jataka? Sebab itu kutawarkan padamu…”

“Bertukar posisi, menyatu dalam darah dan ludah, dosa dan pikiran, pakaian dan kegendengan,” potongku yang meledakkan gelak.

Mustahil bagiku mengukuhkan Dewi budakku. Semustahil aku diperbudak olehnya. Kami sama-sama tak memiliki kuasa untuk saling menjadikan apa-apa. Dewi di rumah bordil Alipbaktak adalah juragan. Dewi adalah matahari yang menerbitkan segala renjana, menghidupkan denyut getar dan gerak cinta, nyali dan kebahagiaan di kampung itu—yang sebagian besar sekalipun dikutuk, nyatanya bisa bertahan hidup.

Dewi memimpin industri rokok keretek tingwe (3) yang diperdagangkan antar-rumah bordil. Dewi dijuluki titisan Rara Mendut—arwah perempuan yang mati bersama cintanya pada Pranacitra, yang kini gentayangan dan selesai dengan kematiannya. Maka, hidupnya kini semata-mata atas nama menjadi pembaca kematian, pengeja kehidupan serta pengaji masa depan. Bahwa masa depan adalah pasar. Dewi dan pecintanya, pengagumnya, anak-anak ideologisnya, kaum begenggek, lonte, perek, ondolan, sundal, balon, tlembuk, senuk, dan pengikut-pengikutnya yang nggak munafik, nyata-nyata telah menguasai pasar. Dewi menangguk pundi-pundi, menjadi dermawan. Pundi-pundi adalah alasan setiap doanya bisa dikabulkan; doa yang tanpa pamrih, benar-benar atas nama langit. Dewi tahu betul Tuhan tak bisa dipuji, dirayu, dibujuk, diuangkan.

Doa adalah dirinya; pengetahuan yang tak bisa diucapkan, juga dituliskan.

Sementara aku seorang yang tak punya pendirian, tak berketetapan, tak berilmu. Aku gagal berumah tangga, tak punya sawah, tak memiliki tanah. Aku adalah gelandangan. Aku cuma tercatat dalam buku induk pedoman moral dan sensus ekonomi dunia. Keberadaanku yang sudah ada hanyalah diada-adakan, disematkan pada tubuhku, lalu diabadikan.

Kami dipersatukan dalam kesamaan nasib dan sejarah.

Aku gelandangan yang memuja kegendengan; ini alasan paling logis bagi Musdalifah, istriku, meninggalkanku—tepatnya mengusir diriku. Mus pemuja kesunyian. Sementara dunia makin terkepung hiruk pikuk tanda. Bukan sekadar tanda tangan. Mus hidup, bekerja, bermimpi, berbicara, bercinta, semuanya dalam kesunyian. Mus pemuja hening. Mus tak suka berisik. Mus pengabdi semedi. Penggila ritual. Pemuja upacara. Pengagung mitos. Kami selalu gagal bercinta karena suara keras orang mengaji dari TOA. Bukan dari satu penjuru, bukan pula empat penjuru, melainkan berbagai penjuru. Bukan hanya dari masjid, wihara, gereja, kafetaria, pasar malam, lapangan sepak bola, tetapi juga dari wuwung (4) rumah tangga.

Baca juga  Tatung

Bagi Mus, orang lain adalah TOA. Kami bercerai lantaran tak bisa bercinta. Kami berpisah karena masing-masing kepala kami menjelang petang menjelma erythrosuchids (5). Begitu jam merambat malam, kami makhluk yang tak terdeteksi; kepala kami berubah menjadi TOA.

Kami berbagi harta gono-gini; speaker, amplifier, kabel, equalizer, mixer, dan kerabat-kerabatnya.

Sesungguhnya tak cuma aku yang gendeng. Mus juga bileng (6). Kami sama-sama keras kepala; otot kawat, balung wesi, usus kabel, dan sumber energi kami adalah listrik bertegangan tinggi, meski sering kali makan Supermi.

Lantas, siapa yang sudi menggumuli?

Setelah dari pagi mengaji dan semedi, Mus menempatkan diri bersama yang hidup di belantara sunyi dengan nabi-nabi para sufi. Sedangkan diriku, selepas gagal jadi suami, ayah dari anak-anakku, aku seburuk layangan ngleyang (7). Mula-mula jadi penjual barang elektronik bekas. Lalu pencuri kawat dan besi. Sadar, mesti lepas dari sukma otot kawat, balung wesi, usus kabel, dan sarapan supermi, dari jualan barang bekas aku beralih jadi pengepul buku lawas.

Sampai kulempar segala yang bekas dan silam. Bukan karena mengutuknya, tak mengakuinya, melainkan semata tiada masa lalu, tak ada masa depan. Semuanya kini. Segalanya keadaan. Tak ada sesuatu pun di luar keadaan. Tak ada sesuatu pun di luar peristiwa. Aku tak memercayai sejarah. Aku menemukan diriku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya mengagumi peristiwa, keadaan, dan suasana.

Suasananya kemudian kutemukan tempat yang menerimaku tanpa syarat: rumah bordil Alipbaktak. Aku menemukan Dewi si begenggek. Nyaris bersamaan waktu saat Mus terdampar di pelukan sang begawan.

***

Begenggek, begawan, begundal, begal, bajingan, bromocorah, sama pentingnya bagiku. Sama tak pentingnya di waktu lain. Waktu begitu penting bagi ruang. Pada lain waktu, ruang tak sepenting buatnya. Di rumah bordil ini, Dewi penting bagiku demi kebebasanku. Kebahagiaanku utuh bersamanya. Bukan karena jati diriku bersua pada ruang dan waktu, atau ruang dan waktu telah menemukan manusia kerdil bernama Jataka. Bukan. Hanya karena di rumah bordil ini lelaki Jataka mengambang bersama apa yang ada di luar dirinya.

Di sini aku bagaikan awan putih yang mengapung di langit.

Sebagai bajingan, aku telah berguru pada samurai; kehampaan, kekosongan. Ketakjelasanku lenyap, kabut kebingunganku sirna. Dalam kehampaan, aku yang bukan siapa-siapa ini menemukan—tepatnya ditemukan—Paman Satori. Sonder asketisme, kehampaan adalah jalan spiritualku di kemudian hari. Paman Satori yang membawaku pada Dewi—seorang yang andai lelaki dia layak kupuja-puji sebagai nabi. Kupanggil dia Rabbi. Itulah sebabnya aku berjanji padanya sudi bertukar posisi, berbagi, dan mufakat. Mufakat untuk tak berjanji.

Baca juga  “Aku Ngenteni Tekamu...”

“Karena janji seburuk pengakuan dosa,” celetuk Paman Satori.

“Benarkah?”

“Pengakuan dosa telah menerbitkan sentimentalisme dalam sastra; bukti nyata para pemuja seks yang menderita tapi nggak sudi menyadarinya, atau malah jemawa dalam ketaksadarannya. Novel-novel represi, puisi-puisi pengakuan diri, ungkapan isi hati, curhat menyayat.”

“Paman jangan ngaco, ceritakan saja tentang ayat-ayat guru kami, Rabbi Dewi.”

“Lho, ini juga sabdanya; Sang Rabbi khawatir mereka ini kelak harakiri.”

“Apa alasannya?”

“Karena mereka miskin alasan (8). Tak menemukan kebahagiaan dalam seks hasil kutukan. Mereka mencari jalan lain kegembiraan.”

“Apa lelaki bisa ambil jalan serupa?”

“Siapa pun, para budak cinta.”

“Apa kata Rabbi Dewi?”

“Kibarkan panji-panji: Jadikan seluruh negeri ini rumah bordil.”

***

“Apa yang kamu pikirkan, Jataka, Sayang?” Dewi membelai.

“Aku memikirkan apa yang dipikirkan Paman Satori, yang sedang memikirkan pikirannya Rabbi Dewi.”

“Ruwet kamu!”

“???!!!!”

“Ayo kita bercinta. Waktunya bercinta.”

“Waktunya bercinta apa waktunya minum obat?”

“Kau ingin tahu, apa bedanya?”

“Sudah tahu,” tedasku.

“Apa?”

“Bercinta adalah upacara memetik kenikmatan beserta kegaiban-kegaibannya.”

“Lalu?”

“Minum obat adalah ketika sepasang orang sakit bercinta di rumah sakit.”

“Ah, ngaco kamu.”

“Hahaahha…”

“Tapi aku mufakat dengan falsafahmu.”

“Iyalah… Nggak rugi kita saling tukar posisi.”

Seperti biasa, kami bercinta saling bergelut, jalin-menjalin, saling berkelindan dengan suara TOA. Kami pun sepertinya sama-sama menjadi TOA. (*)

Ngimbang, 18 November 2020

Catatan:

(1) Novel karya Paul I Wellman, pengarang dan wartawan asal Amerika Serikat. Wanita terjemahan Alfons Taryadi terbit kali pertama tahun 1975.

(2) Penari dan pelacur yang diduga aktif dalam kegiatan spionase. Hidupnya berakhir di depan regu tembak. Ia dihukum mati Prancis atas tuduhan menjadi mata-mata saat Perang Dunia I.

(3) Linting dewe (Jawa). Rokok buatan sendiri, bukan produksi pabrik.

(4) Atap rumah (Jawa).

(5) Binatang purba menyerupai komodo berkepala superbesar. Hidup jutaan tahun sebelum masa dinosaurus.

(6) Bingung (Jawa).

(7) Putus tak tentu arah (Jawa).

(8) Bergaya hukum rimba (Jawa).

S JAI. Lahir di Kediri, 4 Februari 1972. Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jatim (Kumara, 2012), penerima Penghargaan Gubernur Jatim (2015), peraih Penghargaan Sotasoma dari Balai Bahasa Jatim untuk buku kritik terbaik, Postmitos (2019). Buku terbarunya Ngrong (2019).

Average rating 3.6 / 5. Vote count: 9

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: