Cerpen, Maya Sandita, Republika

Catatan dalam Lemari

3.8
(12)

“Apa kau percaya bahwa aku kan menguasai ini dunia dan mengatur apa saja yang ada di dalamnya?” Sontak sebuah tamparan mendarat di pipi kiriku. Dari punggung tangan kanan yang bercincin besar di situ, “Aku tak menduga akan punya anak yang gila sepertimu! Sekarang kembali ke bilik dan kerjakan tugas sekolahmu baik-baik. Kusekolahkan kau untuk jadi seorang dokter, bukan seorang muda yang otaknya geser!”

Dia bapakku. Seorang lelaki yang tidak begitu tinggi, tapi mata dan kumisnya sering membuatku ngeri. Belum lagi suaranya yang berat sering kali membuat kerangka dadaku tiba-tiba jadi ketat. Paru-paruku tertekan, jantungku minta pertolongan.

Ibuku? Jarang di rumah, ia. Sudah setahun ini sering dihabiskan waktu menjaga nenekku—mertuanya. Nenek sakit-sakitan dan tak bisa ditinggal sendirian.

Bapakku dulu tak begitu kaya. Biasa saja. Hari ini lumayan ia bisa menafkahi keluarga. Bertahun-tahun sebelum aku lahir sebagai anaknya, hidup bapak dan ibu tak enak. Katanya, pernah mereka tak makan tiga hari lamanya.

Sekarang bapak kaya raya. Tetangga bilang ia ikut ilmu hitam, sebuah pesugihan. Ia ambil sikap tak acuh saja. “Hidup ini kadang bisa kelam, di mata orang lain yang melihat orang lain dalam kejayaan,” katanya sambil menggigit cerutunya kuat-kuat. Aku tak mau tanya lagi, takut darah tingginya kumat.

Selain darah tinggi itu, aku sama dengan bapak. Kami berdua suka membaca buku di sebuah ruangan di lantai dua. Ia membaca buku apa saja yang ia suka, aku juga. “Ilmu dan pengetahuan takkan pernah ada batasnya, maka membaca sama dengan menempa pedang dan melatih kuda.” Ia mendelik kepadaku yang juga balik mendelik kepada mata tajam itu.

Setelah malam tadi bapak menamparku sebab keinginanku menguasai dunia, ia tak mau bicara. Dari jendela kamar kulihat ia berkendara. Tergesa tampaknya.

Aku ke meja makan. Perutku keroncongan. Di piring makan, kutemukan sebuah catatan. “Aku ke tempat ibuku, menyusul ibumu. Belajar yang baik hari ini. Aku butuh kau sebagai dokter suatu saat nanti. Aku cinta ibuku dan kuharap kau pun bisa merasakan itu pada ibumu.”

“Baik, aku jadi dokter. Setelah itu jadi penguasa dunia. Jika hanya untuk mengobati nenek, haruskah menungguku bertahun-tahun lagi dengan jas putih itu? Kenapa tak percayakan saja kepada dokter hebat di kota ini? Atau Bapak bisa bawa nenek ke luar negeri. Haruskah mengharapkan aku ini?” gerutuku sambil mengoles selai ke lembaran roti.

Ini hari libur akhir pekan. Semua tugas sekolah selesai kukerjakan. Aku ke ruang baca, mengambil buku-buku tentang dunia, memilih membaca di kamar saja. Sebuah buku catatan kukeluarkan. Aku tulis apa saja yang harus kupahami. Untuk mewujudkan mimpi—jadi penguasa dunia.

Baca juga  Satpol PP

Buku catatan kemudian kusimpan dalam lemari, kuncinya kubawa ke mana pergi.

Waktu berganti. Omongan bapak yang ingin aku menjadi dokter tak kunjung berhenti. Nenek masih sakit. “Menunggumu jadi dokter,” kata bapakku.

Sampai tiba saatnya nenek mesti terbaring di rumah sakit tempatku bekerja. Aku mesti rawat dengan khusus, begitu yang bapak minta. Kujawab, “Iya.”

Namun, nyatanya Tuhan lebih punya kuasa. Nyawa nenek diminta pulang, kembali ke surga yang penuh dengan sesuatu yang membuat tenang.

Bapak menopang dahi. Diurut dengan dua jari, urat-urat yang menonjol besar sekali. Sementara ibu termangu di tepi jendela kaca. Sapu tangan yang ia pegang setiap sebentar menyapu aliran air mata. Sejak semalam tidak tidur keduanya. Pun aku, yang sepanjang malam mendengar sesenggukan dan kata pembujuk dari bapakku.

“Bapak,” kataku setelah menutup pintu. Tidur yang sedikit pun tak lena membuat langkah dan pandanganku ke mana-mana. Kupejamkan kelopak mata rapat, kugelengkan kepala kuat-kuat. Kembali mengarah pandang pada dua sosok yang sejak malam kulihat—bergumul dengan kesedihan yang hebat.

“Aku harus ke rumah sakit,” lanjutku.

“Duduk!” balas Bapak, masih lembut suaranya tanpa giginya gemeretak.

“Pihak rumah sakit menelepon dan seseorang….”

“Duduk!” serunya sekali lagi dengan nada tinggi. Terdengar ibu menarik napas cepat, hampir darah di jantungnya tersumbat.

Aku menunduk lemah. Melawan bapak bukan sesuatu yang mampu kulakukan meski ia tak lagi tegap dan gagah.

“Kau apakan nenekmu?” tanyanya.

“Aku?”

Ia melihat dari sudut mata, dengan mata elang yang siap menerkam mangsa.

“Kulakukan semua seperti permintaaan Bapak. Nenek kuutamakan. Pengobatan terbaik kuberikan, pengecekan pertama setiap pagi pada nenek kulakukan, makan nenek selalu kuperhatikan. Semua yang Bapak minta. Semua.” Kucoba menjawab tanya.

“Apa yang kau baca selama ini? Tidak banyakkah buku kedokteran yang kau baca?”

Aku belum menjawab satu kata bahkan sekerat, tapi sebuah buku catatan dilempar dan tepat di wajahku mendarat. Bapak melemparnya dengan kuat.

“Apa kau tahu bahwa dunia dan akhiratmu itu adalah seorang ibu?” suaranya besar, ia melepaskan marah tapi kini tak sanggup lagi menampar.

Lagi-lagi aku tak diberi kesempatan bicara. Ia ambil jas putih yang kusampirkan di lengan. Disobeknya sekuat tenaga. Aku tak mampu—atau tak berniat berkata “Jangan!”

“Aku tak pernah menduga punya anak yang egois sepertimu! Egois dan gila kau! Kau tak berubah barang seujung kuku! Rupanya ucapanku saat kau kecil dulu tak begitu masuk ke otakmu, apalagi ke relung hatimu!”

Baca juga  ZIARAH

Teleponku berdering. Kulirik bapak yang menatapku dengan mata besar dan di bawah kedua alisnya yang runcing. Ia membalikkan badan. Kuangkat telepon demi mendengarkan sebuah pesan.

“Bapak….” Kucoba meminta izin sekali lagi.

Ia menarik rambut bagian belakang setelah menyapu kepala dari dahi yang kian hari makin lapang. Dikibaskan tangannya ke arah pintu.

Aku melangkah ke luar. Kulihat jas putih yang seolah berkata kepadaku, “Biar.” Buku catatan kumasukkan ke saku celana sebelah kanan.

Rumah sakit tempatku bekerja tak begitu ramai. Tidak banyak orang sakit di kota ini. Orang bilang kerjaku cukup santai. Dan memang demikian adanya. Di sana aku selalu sempat merancang siasat menguasai dunia dengan seluruh data yang kupunya.

“Dokter, suami saya demam tinggi. Sudah dua hari. Kami baru sampai sebab rumah sakit cukup jauh dari rumah kami.” Tergesa perempuan itu berlari menghampiri.

Aku menyuruh mereka masuk, seorang perawat kuminta ikut masuk.

Baru sebentar ia berbaring, ia kejang dan sebentar kemudian denyut jantungnya hening. Aku kaku. Tidak biasanya perasaan bersalah begitu meremas hatiku. Apalagi mendengar istrinya berteriak keras sekali. Ia meraung dan memukul dadaku berkali-kali, “Kenapa kau datang lama sekali? Kami menunggumu sejak pukul enam pagi dan kau baru tiba sebentar ini. Dokter macam apa yang begini?” Ia tak kuasa menahan marah dan sedihnya.

“Bapak yang mengulur waktuku.” Itu mungkin pembelaan yang ingin kukatakan di hadapan seorang perempuan dan suaminya yang sudah kaku.

Sebelum jenazah dipulangkan, aku merasa sesuatu yang lain berputar-putar di kepala. Sebuah tanya yang perlu kutahu jawabannya. Maka kuminta pihak rumah sakit mengautopsi.

Segera setelah hasil kudapatkan, aku membuka buku catatan. Aku ingin menulis kejadian yang baru saja kudapati dan alami. Orang demam tinggi tadi, bukan hanya mati, tapi ia meninggalkan sesuatu yang juga bisa membuat aku, perawat tadi, dan istrinya bisa saja ikut-ikutan mati. Sebuah virus telah menginfeksi.

Aku perlu tahu tentang benda ini.

Aku bergegas pulang. Perawat tadi juga kuminta pulang. Sang istri kuminta kembali ke rumahnya untuk mandi. Begitu pun yang akan kulakukan, juga perawat tadi. “Jangan kembali sebelum ada perintah lagi,” tutupku dan gegas pergi.

Di rumah tak ada ibu dan bapak. Di meja sebuah surat tergeletak. “Kejarlah apa yang kau sebut dunia. Sebab ibumu takkan pernah lagi kau punya. Kami tak perlu kau cari. Urus saja apa yang selama ini bagimu adalah mimpi.” Sebuah pesan dari Bapak.

Kulipat surat itu dan kuselipkan di bukuku.

Satu malam berlalu, aku mengirim surat ke wali kota tentang apa yang kutemukan. Namun, agaknya wali kota sama saja dengan bapak yang mengatakanku gila. Segera aku ingin membunuh siapa saja yang memilihnya saat pemilu dulu.

Baca juga  Tumis Blenyik

Satu minggu berlalu. Istri pasien yang waktu itu menghubungiku. Ia ingin ke pasar membeli beberapa jenis bumbu. Kukatakan agar ia di rumah dulu, tapi ia malah mengata-ngataiku, “Dokter gila, sialan! Setelah suamiku mati, sekarang kau mau membunuhku juga dengan kelaparan?”

Andai aku bisa jelaskan tentang apa saja dari virus ini yang kutemukan. Tapi percuma, ia sudah ditelan emosinya.

Satu bulan berlalu. Perawat yang membantu waktu itu kuundang ke rumahku. “Sendirian saja, jangan beri tahu siapa-siapa,” kataku kepadanya. Satu tahun berlalu. Aku mengelus jas putih yang dulu dirobek bapak di bagian dadanya. Kugantung di samping kaca. Buku catatan sudah lusuh adanya. Hari ini aku menulis di halaman terakhirnya. “Bapak, aku penguasa dunia. Aku anakmu yang gila itu.” Begitu kalimatku.

Kubuka jendela, kulempar sebuku jari dari sana. Sampai ia di tepi jalan. Oleh seekor anjing jari itu dimakan dan ditelan. Anjing itu menjilat pipi Si Tuan. Si tuan disentuh pipinya oleh anaknya yang perempuan. Istri Si Tuan menggandeng tangan sang anak di sebelah kanan. Mereka terus berjalan dan duduk di bangku taman.

Aku mengambil rantai dan sebuah gembok perak di samping cermin yang retak. Kunci lemari itu sudah lama rusak. Dari kondisinya itu jelas bekas pukulan bapak. Kumasukkan kembali buku catatanku. Kusorongkan ujung rantai dari bagian yang berlubang, kugembok, dan kuncinya kubuang. Belatung keluar dari situ, satu-satu.

Lalu aku ke lantai dua. Membaca buku apa saja yang kusuka. Mengasah pedang dan melatih kuda. Menunggu kiamat bagi mereka tiba. Menjadi penguasa dan benar gila seperti apa kata mereka. Aku suka jika kau juga suka—membaca. n

Batam, 27 Maret 2020

Maya Sandita, sutradara, aktor, dan penulis, alumnus Prodi Seni Teater ISI Padangpanjang (2019). Berdomisili di Batam. Tergabung dalam FPL, KOPI TANDA, PCRBM, Bagindo Rajo, dan Teater Ode Batam. Beberapa cerpennya pernah diterbitkan dalam antologi juga media cetak lokal dan nasional. Peraih Juara I dalam Lomba Menulis Cerita Rakyat Berbahasa Minangkabau tingkat provinsi yang diadakan oleh Disbud Sumatra Barat, dengan judul cerita “Batu Godang Putaran Toluak”. Maya bisa dihubungi via Instagram @sanditaisme, Facebook Maya Sandita, Surel sanditacorp@gmail.com.

Average rating 3.8 / 5. Vote count: 12

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: