Abul Muamar, Cerpen, Suara Merdeka

Dia Ingin Membeli Laptop

3.8
(11)

Kau berada tak jauh darinya. Kau melihatnya dengan jelas. Dia mengenakan rok kembang dan kaus lengan panjang. Dia berpenampilan layaknya mahasiswi. Dia telah berkeliling melihat laptop di etalase kaca. Kau tahu dia hanya fokus pada harga.

Sekarang dia duduk di salah satu kursi pelanggan, menunggu pelayan toko menghampiri. Di sebelahnya ada dua pria berpakaian necis. Satu gemuk pendek, satu tinggi kurus. Keduanya memakai batik solo motif truntum, celana linen, dan sepatu pantofel mengilap. Mereka memborong enam laptop. Mereka juga menerima tawaran dari pelayan toko untuk menginstal perangkat lunak asli.

Gadis itu menunggu lama untuk dilayani karena para pelayan sibuk melayani dua pria itu. Bukan satu atau dua, melainkan empat pelayan. Mereka benar-benar istimewa. Mereka dilayani dengan sangat ramah.

Di kursi pelanggan menghadap etalase kaca, gadis itu mendekap kantong kresek hitam ke perut. Dia memperhatikan dua pria necis di sampingnya. Dari brosur yang diberikan pelayan saat memasuki toko, tahulah dia berapa harga laptop yang dibeli dua pria itu. Hatinya ciut. Dia tak berharap pelayan toko lekas menghampiri.

“Laptopnya enam ya, Pak. Enam kali 8 juta, jadi 48 juta. Biaya instal 1 juta kali enam, 6 juta. Jadi total 52 juta,” kata seorang pelayan kepada dua pria necis itu.

Setelah membayar di kasir, dua pria itu menunggu penginstalan perangkat lunak. Gadis itu akhirnya dilayani juga. Pelayan menunjukkan laptop paling murah.

“Di bawah 3 juta ada, Mbak?” tanyanya.

“Tidak ada lagi sekarang. Ini paling murah. Cuma 3,5 juta,” jawab si pelayan.

Ada kata “cuma” dalam kalimat si pelayan. Dia benci kata itu. Dia benci pedagang yang menggunakan kata “cuma” ketika menyebut harga dagangan. Seolah-olah harga sebenarnya lebih mahal. Seolah-olah si pedagang sedang berbaik hati memberi potongan harga.

“Tidak bisa dikurangi, Mbak?”

“Tidak bisa. Di sini harga pas. Tidak bisa ditawar.”

Gadis itu menaruh kantong kresek yang sejak tadi dia dekap di atas meja kaca di hadapan si pelayan. Dia keluarkan isinya. Pertama-tama uang kertas pecahan 100.000 sejumlah 2.200.000. Itu sebagian uang bantuan biaya hidup dari Bidikmisi*; selebihnya dia berikan kepada ibunya yang tak punya pekerjaan untuk biaya makan mereka sekeluarga enam bulan ke depan. Dia menjadi tulang punggung keluarga semenjak ayahnya kabur bersama perempuan lain setahun silam. Dengan uang beasiswa itulah dia memberi makan ibu dan dua adik yang masih kecil. Keputusannya melanjutkan ke perguruan tinggi, yang dulu ditentang ayahnya sebelum minggat, kini justru menyelamatkan keluarganya dari kelaparan.

Baca juga  Sejarah Orok

Tentu dia tidak perlu menyimpan dalam kantong kresek jika hanya membawa uang kertas. Ya, kantong kresek itu penuh uang receh, uang logam tepatnya, yang dia tabung bertahun-tahun. Ada pecahan 500, ada pecahan 1.000, tak sedikit pula pecahan 200 dan 100. Si pelayan geleng-geleng saat dia mengeluarkan uang logam itu. Raut tak senang di wajahnya tampak kentara. Dia jawil lengan rekannya yang sedang menginstal perangkat lunak, memberi tahu ada seorang mahasiswi hendak membeli laptop dengan uang receh. Mereka berbisik-bisik mengatai-ngatai gadis itu.

Dua pria necis itu juga memperhatikan sejak tadi. Mereka memandang dengan tatapan setengah iba setengah acuh tak acuh. Yang gendut pendek berbisik kepada yang satu, menyampaikan niat membantu.

“Ah, ini kan uang negara. Nanti pertanggungjawabannya bagaimana?” kata yang kurus tinggi.

“Masukkan saja dalam laporan. Kan masih ada sisa.”

“Mana bisa begitu. Siapa nanti yang percaya kita membantu orang? Kau mau tanggung jawab?”

“Iya juga ya.”

Mereka berhenti bicara, tetapi masih memandangi gadis itu.

Dia menghitung uang receh sangat hati-hati, dan menyusun seperti anak sedang membangun menara-menaraan. Orang-orang di toko laptop itu melihati. Seorang pengunjung toko, entah sengaja atau tidak, menubruk punggung gadis itu sehingga tumpukan uang logam tumbang tersenggol lengannya yang bergeser. Sebagian uang terjatuh ke lantai, beberapa menggelinding agak jauh. Gadis itu lekas-lekas memunguti. Ada satu uang terinjak kaki seorang pengunjung yang berdiri mengamati laptop. Dia tak berani meminta pengunjung itu menggeser kaki. Agak lama dia tunggui pengunjung itu melangkah untuk dapat memungut uang itu.

Setelah memastikan tak ada lagi uang tercecer di lantai, gadis itu kembali ke meja tempat menyusun uang. Dua pria necis itu belum pulang, masih duduk di situ. Penginstalan perangkat lunak belum selesai. Mereka lebih tertarik memperhatikan gadis itu ketimbang berbasa-basi dengan pelayan toko perihal laptop, sebagaimana orang-orang umumnya, walaupun tak tergerak membantu si gadis ketika uang logamnya tercecer.

Gadis itu menghitung ulang uang receh sejak awal. Pelayan yang tadi melayani, sekarang pura-pura sibuk melayani pengunjung lain. Padahal pengunjung lain itu baru bertanya-tanya, belum bermaksud membeli. Sekitar setengah jam kemudian, barulah gadis itu selesai menyusun dan menghitung semua uang logam.

“Mbak,” panggilnya.

“Bagaimana?”

“Saya jadi beli laptop tadi.”

“Uangnya cukup?”

“Cukup, Mbak. Sudah saya susun. Mbak boleh hitung ulang. Satu tumpukan ini 10.000. Yang ini satu tumpukan 5.000. Ini 2.000. Ini 1.000.”

Baca juga  Siul Secangkir Kopi

Si pelayan toko meminta bantuan rekannya menghitung tumpukan uang receh itu. Seraya menghitung mereka ingin sekali bertanya kepada si gadis, kenapa uangnya banyak recehan. Sekadar basa-basi antara penjual dan pembeli. Namun mereka urungkan karena tak tega.

“Uangnya kurang nih, Mbak. Ini semua masih 3.400.000,” ujar si pelayan toko usai menghitung.

“Masa kurang? Tadi saya hitung sudah pas 3.500.000 kok.”

“Mungkin Mbak salah hitung. Coba hitung lagi.”

Gadis itu kembali menghitung uangnya. Kali ini tidak lagi dia susun rapi seperti tadi. Dia menghitung lebih cepat, memasukkan uang logam yang telah dihitung ke dalam kantong kresek, sementara yang belum dihitung di luar kantong. Dua pria necis itu masih memperhatikan.

“Sudahlah, kita bantu saja dia. Kan masih banyak sisa uangnya. Uang itu lagipula harus dihabiskan,” kata yang gendut pendek.

“Memang harus dihabiskan, tapi tidak bisa di luar keperluan kantor. Semua sudah dicatat dalam anggaran. Kau mau nanti disangka korupsi?”

Yang gendut pendek bingung hendak menjawab apa.

“Sudahlah. Tak usah kaulihati terus dia. Tak usah kaupikirkan. Dia bukan urusan kita.”

Gadis itu sekarang selesai menghitung. Benar, memang uangnya kurang. Kurang 100.000. Uang kertasnya berkurang satu. Hilang selembar. Dia bertanya kepada pelayan toko apakah melihat uangnya yang raib. Si pelayan toko menjawab tak tahu. Dia juga bertanya kepada dua pria necis itu. Mereka juga menjawab tidak tahu. Dia menduga ada yang mengambil uangnya dari atas meja sewaktu dia mengutipi uang logam yang tercecer.

“Tadi kutaruh di sini,” ujarnya lirih, tidak kepada siapa-siapa, selain kepada diri sendiri. Dia tahu toko itu dilengkapi CCTV. Dia meminta tolong satpam memeriksa rekaman CCTV.

“Tidak bisa sembarangan. Anda harus ke kantor polisi dulu, buat laporan. Nanti kalau polisi mau menyelidiki, baru rekaman kami serahkan.”

“Tolonglah saya, Pak.”

“Tidak bisa. Maaf ya. Silakan buat laporan dulu ke kantor polisi.”

Gadis itu keluar dari toko laptop itu dengan kepala tertunduk, berharap uang yang hilang ada di lantai dan tertangkap matanya. Dia tak langsung pulang. Dia duduk di tangga emperan di samping toko. Sejenak dia menimbang kemungkinan melapor ke polisi. Namun pikiran itu segera dia singkirkan. Dia malas berurusan dengan polisi.

Di dalam toko, penginstalan perangkat lunak telah selesai. Enam laptop itu dimasukkan kembali ke dalam kotak setelah layarnya diberi antigores.

“Antigores sudah. Ini uangnya masih bersisa. Kita belikan apalagi?”

“Berapa sisanya?”

Baca juga  Orang Inggris

“Masih banyak.”

“Oh, belikan tas laptop saja.”

Salah seorang di antara mereka bertanya kepada pelayan.

“Ini 90.000,” kata si pelayan.

“Kalau yang di sebelah sana?”

“Itu 110.000.”

“Yang paling bagus mana? Paling mahal?”

“Paling mahal di sebelah sana, Pak,” kata si pelayan menunjuk ke pajangan tas. “Harganya 150.000. Lebih kuat dan tebal.”

“Nah, itu saja. Enam ya.”

“Itu semua, Pak?”

“Ya, semua.”

Si pelayan toko memanjat dengan kursi plastik, mengambil tas-tas itu.

“Enam, semua 900.000 ya, Pak.”

Setelah membayar tas di kasir, dua pria necis itu kembali ke pelayan toko yang mengambil tas.

“Laptopnya dimasukkan ke tas, Pak?”

“Tidak, tidak usah. Nanti saja. Bungkus saja.”

Mereka berdua berjalan menuju pintu keluar, memapasi para pelayan yang telah melayani. Para pelayan berbaju seragam itu menyapa sebelum mereka meninggalkan toko.

“Terima kasih ya, Pak. Hati-hati di jalan,” kata para pelayan serempak, dengan keramahtamahan berlebih-lebihan.

Dua pria necis itu masuk dalam mobil yang parkir di samping toko. Mereka taruh enam laptop di tempat duduk belakang. Saat mobil mundur beberapa meter untuk memutar, salah seorang, yang gendut, kembali melihat gadis itu dari kaca jendela mobil yang terbuka. Gadis itu duduk termenung, mendekap kantong kresek hitam.

“Itu dia yang tadi,” ujarnya kepada rekan yang menyetir.

“Mana?”

“Itu!”

Rekannya menengok keluar sebentar seraya mengatur putaran mobil. Sikapnya sama sekali tak berubah. Ia tetap tak mau memberikan uang belanja keperluan kantor kepada gadis itu, walau masih bersisa.

“Sisa sedikit tidak apa-apa. Terpenting tidak ada yang kita korupsi. Aku tak mau terlibat. Dia bukan urusan kita,” kata yang tinggi kurus.

“Ya, dia bukan urusan kita,” kata yang gendut pendek, lirih, sambil menghela napas.

SUV berpelat merah yang mereka tumpangi melaju ke jalan. Gadis itu masih duduk di emperan toko laptop. Kau melihatnya. Kau menyaksikannya. Dan kau tak berbuat apa-apa. (28)

Catatan:

* Bidikmisi, biaya pendidikan mahasiswa miskin berprestasi, per semester Rp 6,6 juta; biaya pendidikan Rp 2,4 juta dan biaya hidup Rp 4,2 juta.

Abul Muamar, lahir dan besar di Perbaungan, Serdangbedagai. Buku cerpen alumnus Pascasarjana Filsafat UGM ini bertajuk Pacar Baru Angelina Jolie (2019).

Average rating 3.8 / 5. Vote count: 11

No votes so far! Be the first to rate this post.

2 Comments

  1. Ini sering terjadi ya.. Kita sering melihat kejadian yang dapat kita bantu, tetapi kita tak berbuat apa2… Keren cerpennya..

  2. Cerpen seperti ini di Amerika Utara di tahun 1980-an biasa disebut sebagai dirty realism oleh Bill Buford dari Granta..Tobias Wolf, Raymond Carver adalah di antara tokoh-tohonya. Dirty Realism dicirikan dengan tema kecil dalam kehidupan manusia pinggiran tapi berimplikasi universal. Problem moral juga sering mejadi tema seperti milik Tobias Wolf. Ciri teknisnya, lugas, tak terlalu bermain metafora, kalimat pendek seperti khas Ernest Hemngway. Cerpen ini bergerak hidup dengan model itu, dan punya efek pada kesadaran pembaca. bagus ken.karya ini..

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: