Cerpen, Putri Khairani, Waspada

Hujan setelah Pelangi

1.5
(4)

HAMPA seisi rumah selama delapan tahun aku mengarungi rumah tangga. Sudah selama ini belum juga Tuhan menitipkan malaikat di dalam rahimku. Beberapa cara sudah kami lakukan, tapi apalah daya memang Tuhan belum memberikan rezeki itu kepada kami.

Hari ini suamiku ulang tahun, tapi rasanya aku benar-benar tidak semangat untuk memberi kejutan, kepalaku sakit, mual, pusing, tidak ada tenaga untuk melakukan aktivitas termasuk mempersiapkan kejutan ulang tahun untuk suami. Aku agaknya penasaran dan langsung mengambil test pack di dalam laci, kemudian saat aku mengetahui hasilnya dan teryata aku postif.

Tak kuasa sekali aku menahan haru air mataku menetes, aku menangis sejadi-jadinya di rumah. Kebetulan suami belum pulang kerja. Kucoba satu test pack lagi.

“Ya Allah terima kasih sudah menitipkan malaikat di dalam rahimku,” aku masih benar-benar terharu sekali.

Aku melihat jam saat ini sudah pukul lima sore, sebentar lagi mas Harun pulang kerja. Kupersiapkan segala untuk kejutan ulang tahunnya hari ini. Kuambil kotak sepatu dan kumasukkan test pack di dalamnya. Kado terindah untuk suamiku. Setelah aku selesai masak, mendekor seadanya dan sebentar lagi tinggal menunggu suami pulang.

Suara mobilnya sudah terdengar dari kamar, aku sengaja tak menyambutnya di luar dan hanya menunggunya di dalam kamar. Tak lama kemudian dia masuk dan…

“Selamat ulang tahun, Sayang,” aku muncul dari balik pintu kamar sambil membawa kue.

“Terima kasih sayangku, istriku paling cantik, istriku yang gak pernah lupa hari lahirnya aku. Terima kasih, Sayang.”

“Sayang doanya apa tahun ini?”

“Doaku setiap tahun selalu sama, semoga keluarga kita sehat dan bahagia dan semoga Allah segera memberikan bayi di dalam rahim kamu.”

Baca juga  Apologia

“Sayang, aku punya kado spesial untuk kamu.”

“Wah sayang repot-repot banget sih,” sambil mencium keningku.

“Buka dong, Yang.”

Saat membukanya tiba-tiba ada secarik kertas dan ….

“Selamat, kamu akan dipanggil ayah.”

“Sayang, ini serius?” Sambil mulai menitihkan air mata. “Sayang ini garis dua? Kamu hamil?” Sambil memelukku erat sekali.

“Iya, Sayang. Selamat yah sebentar lagi kamu jadi ayah.”

“Ya Allah terima kasih, engkau telah memberikan kepercayaan kepada kami menitipkan malaikat di dalam rahim istriku,” sambil tak henti menagis. “Sayang, terima kasih ya, ini benar-benar kado terindah untukku.”

***

“Sayang, mulai hari ini kamu gak boleh capek-capek. Pokoknya semua kerjaan rumah biar aku aja yang bebersih, kamu kalo pengen apa-apa langsung bilang ke aku ya, jangan di tahan-tahan.”

“Iya, Sayang, gak papa. Aku kuat kok kalo cuma nyapu rumah aja.”

“Enggak, pokoknya gak boleh, kamu istirahat aja.”

Begitulah suamiku, selama aku hamil aku tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah apa pun, seluruh pekerjaan rumah, termasuk masak dia juga yang melakukannya. Alhamdulilah aku menikmati masa-masa ngidam mulai dari mual sampai ingin yang aneh-aneh. Tapi suamiku tetap menuruti semua keinginanku.

Hari ini kami akan ke rumah sakit, memeriksakan kandungan. Alhamdulillah bayinya sehat dan berjenis kelamin perempuan. Tentu suamiku bahagia sekali mendengarnya.

“Sayang, pasti nanti cantik mirip kamu,” sambil mengelus-elus perutku. “Eh tapi mirip aku juga dong.”

“Aamiin, Sayang. Hari ini kita belanja keperluan bayi ya, Yang.”

“Iya dong.”

Segala bentuk dan model mulai dari baju bayi, serta berbagai perlengkapan suamiku yang pilihin, aku mengikuti kemauannya. Dia ahli dalam hal ini. Kulihat selalu wajahnya yang berbinar saat memilih pakain bayi. Setelah selesai berbelanja, kemudian kami makan.

Baca juga  Rindu Tak Mati-mati

“Yang, aku gak sabar nunggu anak kita lahir.”

“Sabar dong, Yang, dua bulan lagi, hehe.”

***

Hari yang kami tunggu pun tiba, aku melahirkan anak perempuan yang cantik dan sehat juga lahir dengan normal. Suamiku bahagia sekali. Tak henti-hentinya kami mengucap syukur atas nikmat yang telah diberi.

Sesampainya di rumah kami menikmati kebersamaan menjadi ayah dan ibu. Rasanya rumah tangga ini begitu sempurna, bayi cantik ini kami beri nama Khayra Arta Malaika. Yang artinya bidadari yang memiliki hati emas dan dermawan.

Setelah seminggu kami menkmati kebahagiaan menjadi ayah dan ibu, tiba-tiba suhu tubuh badan Khayra dingin sekali, aku panik dan langsung menelepon Mas Harun. Sesampainya Mas Harun di rumah, kami langsung membawa Khayra ke rumah sakit. Aku menangis sepanjang jalan melihat wajah Khayra semakin memucat.

Sesampainya di rumah sakit, dokter berkata bahwa nyawa Khayra tidak dapat tertolong. Gelap, runtuh, hancur. Aku tak dapat berkata apa. Rasanya kebahagiaanku sirna begitu saja. Belum puas kami menikmati masa sebagai ayah dan ibu, tapi Allah berkehendak lain. Dokter berkata bahwa Khayra tak mengidap penyakit apa pun.

Tapi beginilah takdir, aku menagis sejadi-jadinya, suami mencoba menenangkan walau kutahu perasaannya hancur. Kami percaya semua sudah menjadi takdir, kami mencoba menerima dengan ikhlas karena Allah punya rencana terbaik di balik ini.

Khayra anak surga, penolong ayah ibu. ***

Average rating 1.5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: