Azwim Zulliandri, Cerpen, Haluan

Mimpi Terlarang

3.7
(3)

WAJAHNYA tidak asing bagiku. Cara dia berbicara dengan wajah yang tegas kepada rekan kerjaku persis sama seperti 15 tahun lalu. Walau aku tak pernah lagi berjumpa dengannya, tapi ingatanku akan wajah, tingkah, dan cara berbicaranya masih membekas. “Tak akan semudah itu aku melupakanmu, kawan,” batinku. Oh, iya, namanya Darsono.

Dari sudut meja kerjaku, aku terus mengamati Darsono. Ada masalah apa kira-kira hingga ia berurusan di kantor ini? Ingin aku menemui dan menyapanya, tetapi niat itu kuurungkan sejenak. Lagi pula, apa ia masih mengingatku setelah 15 tahun tiada bertemu?

“Di postingan yang Anda buat di Facebook, Anda menyebutkan bahwa Anda bermimpi tentang wali kota yang mendapat siksa di neraka karena berbuat zalim kepada rakyat. Apa benar postingan itu Anda yang buat?” tanya penyidik menyelidik.

“Benar, Pak. Itu saya yang buat.”

“Mimpi itu benar Anda alami?”

“Sungguh, Pak, mimpi saya itu benar. Apa yang saya tulis di postingan saya, sama persis dengan mimpi yang saya alami. Saya tidak ada berkata bohong dan tidak ada bermaksud untuk menghina, apalagi menghina bapak wali kota.”

“Terus apa maksud Anda menulis mimpi itu di akun sosial media Anda? Menyindir atau hanya ingin viral?”

Darsono menyunggingkan senyum tipis. Lantas ia bicara, “Sebelum saya jawab pertanyaan Bapak, tolong jawab dulu pertanyaan saya: salahkah jika seseorang bermimpi? Salahkah jika seseorang menyampaikan pengalamannya melalui tulisan?”

Aku memasang telinga kuat. Apa? Jadi dia yang tengah viral di kota ini? Memang, sudah beberapa hari belakangan koran dan media sosial di kota ini dihebohkan dengan postingan tentang mimpi yang dianggap menghina wali kota. Aku tidak ngeh terhadap pemberitaan itu karena memang aku baru saja dimutasi ke kota ini.

“Tentu tidak,” jawab penyidik, “tetapi, masalahnya mimpi itu Anda tuliskan sehingga ada orang yang merasa tersinggung dan melaporkan sebagai bentuk penghinaan. Kami sebagai penegak hukum, bekerja atas laporan dari masyarakat. Ada laporan, tentu kami tindak lanjuti,” sambung rekan kerjaku itu.

Aku masih duduk terpaku menyimak interogasinya kepada Darsono. Sesekali Darsono melihat kepadaku, tetapi sepertinya dia tidak mengenaliku.

“Baiklah. Saya akan kooperatif atas masalah yang menjerat saya ini.”

“Jadi, apa motif Anda menuliskan mimpi itu ke media sosial?”

“Hanya sebagai wujud ekspresi sikap saya atas apa yang saya alami. Untung-untung bisa memotivasi diri saya dan orang lain. Itu saja. Tidak ada niatan untuk menyindir, melecehkan, apalagi menghina. Percayalah, Pak, ini bukanlah ujaran kebencian.”

Baca juga  Manusia Pasrah

Jawaban dan sorot matanya itu tetap saja sama seperti 15 tahun yang lalu, saat ia diinterogasi oleh kepala sekolah, Bu Monic, dan guru BK yang kulupa namanya. Kala itu aku mengupingnya dari dinding ruang BK. Tepat di hari naas bagi Darsono itulah, terakhir kalinya aku berjumpa dengannya.

Jika mengingat kejadian 15 tahun yang lalu itu, aku merasa sangat bersalah kepadanya. Betapa tidak, akulah orang yang telah membuatnya keluar atau mungkin dikeluarkan dari sekolah. Akulah yang dengan sengaja membuka aibnya kepada teman-teman sekelas hingga guru-guru seantero sekolah pun tahu.

Sampai sekarang, Darsono tidak tahu bahwa akulah penyebab atas permasalahan yang menimpanya ketika itu. Aku hendak meminta maaf keeseokan harinya, namun Darsono tidak masuk sekolah selepas kejadian itu. Hingga akhirnya, kabar terakhir yang kudapat waktu itu, Darsono dipindahkan oleh orang tuanya ke pondok pesantren. Sementara aku, setamat SMP hijrah bersama orang tua ke Kalimantan.

Setelah 15 tahun berlalu, barulah aku bertemu dengannya. Tapi aku belum berani menyapanya. Kesempatan meminta maaf atas kejadian masa lalu, kini terbuka lebar. Tapi masalahnya aku lagi berseragam, sedangkan ia sekarang menjadi pesakitan sebuah kasus penghinaan.

Aku sangat menyadari bahwa Darsono hanyaah korban dari keisenganku. Semestinya pihak sekolah tidak menghukumnya. Seharusnya akulah yang harus bertanggung jawab karena memang aku yang menjadi biang keroknya.

Jadi begini, masalah yang Darsono hadapi hari ini merupakan deja vu dari kejadian 15 tahun yang lalu; saat kami masih duduk di bangku SMP. Saat itu aku menemukan selembar kertas berisi catatan harian Darsono di bawah kursinya. Catatan itu sangat menggelitik hatiku karena berisi pengalaman pertamanya mimpi basah. Apa? Mimpi basah? Ya, mimpi basah; suatu wujud kenikmatan bagi remaja lelaki di usianya. Berikut bunyinya:

Dear deary… Semalam aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Benar kata Pak Imran, salah satu tanda seorang lelaki akil balig adalah datangnya mimpi basah. Dan aku merasakan kenikmatan itu tadi malam. Ini awal perjalanan hidupku yang luar biasa. Sekarang aku sudah menjadi lelaki dewasa. Kau tahu, dengan siapa aku bertemu di dalam mimpi? Oh, tidak kusangka aku bertemu dengan Bu Monic Guru Bahasa Inggris itu, kawan. Ya, Bu Monic yang suka digoda oleh Bapak Kepala Sekolah itu. Tubuhnya lebih indah di dalam mimpi daripada di dunia nyata, kawan. Aku harap, malam ini Bu Monic kembali hadir dalam mimpi indahku….

Baca juga  Pusara

Darsono.

“Darsono, Darsono… haruskah mimpi seperti ini kau tuliskan dalam catatan harianmu? Kau ini terlalu ekspresif, kawan,” kataku ketika itu seraya tertawa geli membaca catatan hariannya. Aku tak mengerti, entah kenapa catatan itu bisa tercecer di bawah kursinya.

Maka kertas itu kusembunyikan dari Darsono. Kuambil dan lantas kumasukkan ke dalam tas bersama tumpukan buku-buku yang lain. Jiwa jahilku ketika itu tidak sabar untuk membuat kehebohan di kelas. Maka, bersama Raikal, teman semejaku, kami merencanakan sesuatu yang menurut kami akan menjadi suatu kejadian lucu. Saat jam istirahat tiba, kertas itu kemudian kami letakkan di meja guru tanpa sepengetahuan kawan sekelas.

Benar saja, sebelum pelajaran Bahasa Inggris bersama Bu Monic dimulai, seorang temanku tanpa sengaja membuka dan membaca catatan itu. Dia pun membacakannya dengan keras dan lantang. Sontak, seisi kelas menjadi riuh dan tertawa ngakak. Seketika, muka Darsono memerah dan berusaha mengambil catatan itu.

Namun sayang, sejurus kemudian Bu Monic masuk kelas dan mendapati kelas sedang gaduh. Catatan yang tengah dioper ke sana-sini itu akhirnya sampai di tangan Bu Monic. Aku, Raikal, dan teman sekelas lainnya, tiada tahan menahan tawa melihat ekspresi Bu Monic membaca catatan itu. Mukanya merah menahan marah. Setelah membaca catatan itu, Bu Monic meminta Darsono untuk memberikan klarifikasi. Darsono mengakuinya hingga ia dibawa ke ruang BK.

Itulah keisengan terbesarku pada Darsono. Dan sekarang ia kembali mengalamai masalah yang serupa; hanya perkara mimpi. Kembali kulihat sorot matanya. Tatapannya menyiratkan kewibawaan dan ketegasan. Semua pertanyaan dijawab dengan santai dengan apa adanya. Tidak ada rasa takut terpancar di wajahnya. Sepertinya telah banyak kegetiran hidup yang ia alami.

“Apakah Anda ada bukti mengenai mimpi yang Anda tuliskan itu?”

Lagi, kembali aku menyimak interogasi dari rekan kerjaku itu. Pertanyaan macam apa ini? Aku membatin.

Darsono tertawa mendengar pertanyaan itu. Aku pun ikut tersenyum.

“Hahaha, maafkan saya harus tertawa mendengar pertanyaan bapak kali ini,” ucap Darsono, “bagaimana mungkin saya membuktikan mimpi saya itu, wong ketika tidur saya tidak bawa HP?” sambungnya.

“Hemmm, jadi Anda tidak punya Bukti?”

“Tentu tidak.”

“Baiklah. Untuk pemeriksaan hari ini cukup sekian dulu. Dan untuk sementara status Anda masih saksi. Terima kasih telah memenuhi panggilan kami. Sekarang Anda boleh meninggalkan kantor ini.”

Darsono bangkit dari kursinya. Sesaat kemudian ia kembali menoleh ke arahku. Aku sedikit memalingkan muka, seolah sibuk dengan kerja. Tetapi, sejurus kemudiaan ia berjalan ke arahku.

Baca juga  Orang-Orang yang Menari

“Maaf, Pak, apakah sebelumnya kita pernah bertemu?” Darsono tiba-tiba bertanya padaku.

Aku tatap wajahnya tegas menyelidiki sebagai respons atas pertanyaannya. “Hem, sepertinya wajah Anda tidak asing bagi saya. Tapi di mana, ya, kita bertemu?” aku balik bertanya. Tentu pertanyaanku ini hanyaah sebuah basa-basi. Ah, jangan-jangan Darsono ingat denganku?

Darsono tampak memikirkan sesuatu. “Saya dulu sempat dua tahun sekolah di SMPN 10 Padang, tahun 2003-2005. Apakah bapak juga sekolah di sana?” tanyanya padaku.

Aku tak mau berkilah lagi. Berarti Darsono ingat denganku. “Oh, tidak salah lagi, Kawan? Berarti Anda adalah temanku yang menghilang setelah menulis mimpi terlarang,” ucapku.

“Ouh, Anda tahu cerita itu?”

“Tentu saja, Kawan.”

Aku tersenyum. Darsono pun tersenyum.

“Maaf, saya lupa nama Anda. Maklum sudah cukup lama kita tidak bertemu,” ucapnya.

Meski berseragam, tapi papan nama di bajuku tertutup oleh jaket.

“Aku Ramzi. Anda Darsono bukan?”

“Hei, betapa jauh perubahanmu, Kawan. Anda Ramzi yang ceking itu? Yang dulu dijuluki tengkorak berjalan? Oh, maafkan aku Kawan. Sungguh jauh perubahanmu. Sekarang sudah berisi dan berperut. Hahaha.”

Kami tertawa bersama.

“Tidak kusangka kita bisa berjumpa di sini,” ucapku berbasa-basi.

“Iya. Lagi-lagi mimpi membawaku menemui perkara. Karena mimpi aku ke sini. Karena mimpi juga aku berjumpa Anda. Sepertinya aku terlahir memang dilarang untuk bermimpi, Kawan.”

Aku menyeringai.

“Karena Anda orang yang luar biasa, Kawan. Buktinya, bermimpi saja membawa perkara,” jawabku.

Lalu kemudian kutawarkan ia menyeruput kopi bersama di kantin kantor. Kami bernostalgia masa-masa sekolah dulu. Namun, tetap saja aku malu meminta maaf kepadanya atas kejadian 15 tahun lalu. Dasar aku!

Tiban Baru, Januari 2021.

AZWIM ZULLIANDRI. Lahir di Padang, 25 Mei 1991. Cerpen-cerpennya terbit di berbagai surat kabar. Buku antologi cerpen Gadis Penjual Tangis (2020) adalah buah penanya. Saat ini, selain mengajar di SMP Negeri 3 Batam, ia aktif mengajar di Universitas Terbuka (UT) Batam dan Lembaga Pendidikan Future Education di Kota Batam. Ia bisa disapa di facebook Azwim Zulliandri dan instagram @a_zulliandri

Average rating 3.7 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: