Cerpen, Tribun Jabar, Zainul Muttaqin

Ritual Calon Pengantin

1.5
(2)

Tiga hari sebelum pesta perkawinan digelar, Fauzan sudah merasakan debar bahagia berlangsung di dalam dadanya. Lelaki muda itu duduk di depan rumahnya menyaksikan orang-orang memasang terop, sebagian lagi membuat dapur di belakang. Para perempuan mengulek rempah, cobek mereka bawa sendiri dari rumah.

Seekor sapi dikeluarkan dari dalam kandang, dibawa ke halaman untuk beberapa saat. Barulah sekitar tiga puluh menit kemudian, sapi itu ditarik ke tengah sawah, tersungkur ke tanah sapi itu. Dengan membaca basmalah, digorok leher sapi berbadan gemuk itu, kencang teriakannya dalam sekarat. Dua paha daging sapi diantar ke dapur, digantung sungsang pada sebilah kayu.

Memasuki waktu Zuhur, mereka telah menyelesaikan semua pekerjaannya di rumah Kaprawi, lelaki berkumis tipis yang punya hajat. Kaprawi dikenal orang gemar membantu tetangganya, itulah mengapa banyak orang yang sangat bergairah begitu Kaprawi mengundang para tetangga, meminta pertolongan mereka untuk membantu di rumahnya sejak tiga hari sebelum pesta perkawinan anaknya digelar hingga selesai.

Tuan rumah mengeluarkan hidangan berupa nasi putih, dengan kuah santan, lodeh nangka muda, telur rebus digoreng berlumur tepung, serta ikan pindang dan cakalan. Tak ada daging hari itu, kecuali pada hari pesta pernikahan digelar. Selesai makan, mereka pamit pulang. Kaprawi mengucap terima kasih, seraya mengingatkan supaya hadir di hari pesta nanti.

Fauzan ikut bersalaman, sebagian orang memberi saran kepada calon pengantin itu. Kata mereka, perbanyak baca salawat dan berhati-hati sebab akan menginjak tanah desa orang. Hal ini memang sering disampaikan juga oleh Kaprawi kepada anak lelakinya jauh hari sebelumnya, bahwa tidak semua orang berhati baik, bisa jadi ada yang berniat jahat. Karena itulah, kata Kaprawi, bentengi diri dengan perbanyak zikir kepada Allah, sebab tiada yang mahakuat selain Tuhan.

Tidak hanya itu, seminggu sebelumnya Kaprawi datang ke rumah Pak Marzuki. Kedatangan Kaprawi meminta pertolongan kepada lelaki renta itu untuk membentengi rumahnya dari kejahatan orang-orang. Pak Marzuki mengangguk paham, dan kepada Kaprawi ia mengatakan bahwa dua hari lagi ia akan ke rumah Kaprawi.

Dua hari kemudian, Pak Marzuki datang malam hari. Selain dikenal sebagai pendiri Madrasah Taufiqurrahman, Pak Marzuki juga termasyhur di kalangan orang-orang sebagai dukun. Lebih tepatnya disebut kiai dukun, sebab ia sering mengatakan kepada semua orang bahwa ia sama sekali tak memelihara jin atau tuyul, semua kelebihan yang ada dalam dirinya berasal dari Allah.

Baca juga  Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon?

“Saya ini hanya perantara, semuanya Allah yang punya kehendak,” demikian kata Pak Marzuki kepada Kaprawi.

Secangkir kopi pahit kesukaan Pak Marzuki dihidangkan, beberapa teguk ia minum. Bangkit dari duduknya, Pak Marzuki berjalan ke pojok rumah Kaprawi. Pada setiap sudut pekarangan rumah itulah Pak Marzuki meminta Fauzan menggali tanah, dalamnya kurang lebih sejengkal tangan orang dewasa. Kemudian Pak Marzuki mengeluarkan kertas persegi empat yang berisi sesuatu di dalamnya, bertuliskan huruf hijaiyyah di luarnya. Ia memasukkan sendiri kertas itu ke lubang, diiringi bacaan doa.

Kaprawi yang juga ikut bersamanya diam saja sejak tadi. Pak Marzuki pindah ke depan teras rumah Kaprawi, di bawah undakan bagian tengah teras rumah, lelaki berpeci hitam itu meminta Fauzan kembali menggali tanah, dan Pak Marzuki memasukkan kertas itu lagi. Terakhir Pak Marzuki duduk jongkok di depan tungku berjumlah lima yang akan digunakan menanak nasi pada hari pesta. Bertanya lelaki berubuh kecil itu tentang tungku pertama yang dibuat oleh Samiun, lelaki pembuat tungku sekaligus tukang tanak itu.

Setelah ditunjukkan, Fauzan menggali lubang di depan tungku pertama. Sejenak Pak Marzuki berkomat-kamit, kertas putih itu pun dimasukkan ke dalam galian. Fauzan heran, bertanya ia, “Kenapa di depan tungku dipasangi juga? Apa gunanya?” Fauzan berjalan beriringan dengan Pak Marzuki ke kamar mandi, membasuh tangan. Mereka duduk kembali, Pak Marzuki meneguk sisa kopinya yang sudah dingin.

“Banyak kejadian aneh di hari pesta pernikahan, paling sering ialah nasi yang dihidangkan kepada tamu tidak matang, jadi gak enak rasanya, bermacam-macamlah. Bila itu terjadi, tuan rumah yang malu, itulah mengapa saya juga tanam kertas itu di depan tungku,” jelas Pak Marzuki.

***

Jumat sore bergerimis, dingin membelai tubuh Fauzan yang sedang duduk di beranda. Bapaknya bertanya berkali-kali kepada Fauzan, apakah semua baju sudah ia kemas, sebab sebentar lagi Fauzan harus keluar dari rumahnya. Jam keluar dari pekarangan rumah sudah ditentukan oleh Pak Sale, lelaki berambut putih itu. Ia dikenal sebagai dukun bermuka dua, satu wajah bisa baik, satu wajah lagi bisa jahat.

Pak Sale, yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Kaprawi, memang kurang baik wataknya. Satu-satunya alasan mengapa Kaprawi meminta Pak Sale sebagai orang yang mengeluarkan anaknya dari rumah ialah kecemasan Kaprawi akan tindak buruk yang akan dilakukan Pak Sale bila ia tidak dilibatkan sama sekali dalam urusan pernikahan anaknya.

Baca juga  Gadis Penjaga dan Pria Berjanggut

Kabarnya, Pak Sale sering buat ulah kepada tetangga yang tak pernah mengundangnya sebagai dukun saat pesta pernikahan atau acara lainnya. Kehebatan Pak Sale memang tak dapat diragukan, semua orang mengakuinya. Ia pernah buat calon pengantin tak bisa ucap ijab kabul, pernah bikin nasi yang dihidangkan ke tamu rasanya seperti nasi busuk. Bisa jadi, orang-orang mengundangnya bukan lantaran butuh pada Pak Sale, melainkan takut terhadap ulah buruknya.

Fauzan masih berada di dalam rumah ditemani kedua orang tuanya. Pak Sale menunggu di luar, melihat jarum jam bergeser tepat di angka lima. Sebelum keluar, Kaprawi meminta anaknya telentang sambil mengucap istigfar, dan sang ibu melangkahi tubuh Fauzan tiga kali dengan doa, semoga Fauzan lacar rezekinya dan disukai semua orang di tempatnya yang baru nanti.

Berdiri Fauzan di bibir pintu, bahunya dipegang Pak Sale. Fauzan mengikuti semua ucapan yang dilafazkan Pak Sale, khusyuk ia berdoa. Tiga kali Pak Sale menepuk pundak Fauzan, dan ia pun mengajak Fauzan keluar ke selatan, lalu ke timur dan ke utara. Di rumah tetangga, Fauzan menginap hingga tiba hari akad nikah besok. Tak boleh kaki Fauzan menginjak pekarangan rumahnya, melanggar pantangan itu sama artinya membahayakan dirinya sendiri.

Pak Sale membekali Fauzan dengan bacaan salawat Nariyah, itu dibaca sepanjang perjalanan menuju rumah mempelai wanita. Fauzan dilarang banyak bicara sewaktu perjalanan, mengamalkan itu akan membuat Fauzan lancar mengucap ijab kabul dan terhindar dari bahaya. Sesudah bersalaman, Pak Sale pulang dan mengatakan kepada Fauzan agar berdoa sebanyak mungkin. Doa akan menjadi sebab dikabulkannya keinginan setelah ikhtiar dilakukan.

Gelap menyungkup, Isya baru berlalu lima menit. Fauzan telah mengerjakan kewajiban malamnya. Rumah tetangga yang ditempati Fauzan itu berada di belakang rumahnya, karena itulah sangat jelas ia dengar begitu suara musik islami mengalun keras dari sound system Srikandi yang disewa Kaprawi. Sementara pelaminan berwarna kuning emas yang disewanya baru akan datang besok sore. Getar haru merasuk ke dalam jiwa Fauzan.

Fauzan membawa langkahnya ke rumah Wak Sudawi. Tidak masalah Fauzan pergi ke mana saja, kecuali ke pekarangan rumahnya sendiri, itulah pesan Pak Sale sore tadi. Wak Sudawi terkenal sebagai tukang pijat sekaligus orang yang berilmu tinggi. Sudah tiga kali Fauzan melemaskan urat-urat di tubuhnya dengan pijatan khusus seorang calon pengantin dengan tangan Wak Sudawi. Banyak calon pengantin datang kepadanya, minta dipijat secara khusus sekalian minta bedak senasren [1] racikan Wak Sudawi.

Baca juga  Skandal Vandal

“Semua calon pengantin pasti minta bedak ini,” kata Wak Sudawi saat ia menyodorkan bedak bubuk biasa itu pada Fauzan. Itu bedak sudah dijapah mantra dan doa-doa oleh Wak Sudawi. Menggunakan bedak senasren akan membuat pemakainya terlihat bercahaya, disukai semua orang karena wajahnya yang menawan.

Girang Fauzan menerimanya. Wak Sudawi meminta Fauzan bersila menghadap ke arah kiblat, dari belakang Wak Sudawi memegang kepala Fauzan yang diam tanpa sepatah kata. Wak Sudawi meniup ubun-ubun Fauzan, lalu meminta laki-laki muda itu meminum secangkir air di hadapannya.

“Selain bedak itu, sudah saya masukkan senasren itu ke dalam tubuhmu,” kata Wak Sudawi. Fauzan mengangguk, merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya. Fauzan pamit setelah ia selipkan selembar uang seratus ribu saat bersalaman.

Esok harinya, Fauzan mengenakan jas hitam berselempang melati, berkopiah hitam, bersarung warna hijau muda. Menuju rumah Azizah, sang calon istri. Fauzan senantiasa membaca salawat Nariyah sebagaimana perintah Pak Sale. Tiba di sana, Fauzan lancar mengucap ijab kabul, tanpa gugup sedikit pun. Seseorang dari pihak mempelai wanita mengamankan sandal yang dipakai Fauzan, sebab jika sandal itu berubah posisinya, apalagi sampai hilang, keyakinan orang-orang bahwa rumah tangganya akan berantakan.

Setelah dua hari berlalu, ibunya Azizah bertanya, “Apakah Fauzan sudah berhasil menjebol keperawananmu?” Azizah mengangguk, tersenyum.

Hari itu juga sang ibu membuat nasi ponar [2]. Barulah sore harinya, perempuan tua itu arebbe [3] ke semua tetangga. Tersenyum mereka menerima nasi ponar, dan beberapa di antara mereka mengeluarkan kalimat yang sama, “Wah, sebentar lagi akan punya cucu, ya.”

Pulau Garam, Juni 2020

Catatan:

[1] Senasren: mantra yang membuat wajah seseorang terlihat lebih memikat, mantra ini biasanya ditiupkan pada bedak

[2] Ponar: nasi kuning lengkap dengan lauk pauk dan beberapa toping di atasnya

[3] Arebbe: selametan

*) Zainul Muttaqin lahir di Batang-Batang, Sumenep, 18 November 1991 dan kini tinggal di Pamekasan Madura. Cerpen-cerpennya dimuat di pelbagai media lokal dan nasional. Buku kumpulan cerpen perdananya; Celurit Hujan Panas (Gramedia Pustaka Utama, Januari 2019).

Average rating 1.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: