Cerpen, Mukti Sutarman Espe, Suara Merdeka

Aku Bukan Pembunuh Papa

3.1
(7)

Sudah hampir 12 tahun Papa meninggal. Namun tetap saja Mama dan Shuwan, adikku, belum mau membuang duga sangka dan tuduhan penyebab kematian Papa. Duga sangka dan tuduhan yang mengakibatkan namaku mereka hapus dari bagan silsilah keluarga.

Aku anak pertama dari dua bersaudara. Keluargaku hidup relatif berkecukupan. Papa owner pangkalan minyak tanah terbesar di kotaku. Hampir semua pedagang penyalur mengambil minyak tanah dari Pangkalan Cwan. Kata “Cwan” diambil dari nama belakang Papa, Tan Ek Cwan.

Seiring kebijakan pemerintah mengonversi penggunaan bahan bakar minyak tanah dengan gas minyak cair, Pangkalan Minyak Cwan gulung tikar. Masa sulit pun mengguncang ekonomi keluarga kami. Untuk mengatasi, beberapa kali Papa banting setir, berjualan. Gonta-ganti dagangan. Jual material bangunan, jalan kayak keong. Jual sembako, tak begitu laku. Jual alat tulis, pulsa, dan aksesori ponsel, setali tiga uang. Pemasukan jauh dari pengharapan.

Kondisi demikian disebabkan banyak faktor. Antara lain, modal usaha tipis, banyak pesaing, tata kelola keuangan amburadul. Namun, dalam pandanganku, faktor utama adalah gaya hidup Mama dan Shuwan. Mereka beranggapan keuangan keluarga ajek seperti dulu, kala Papa masih berjaya dengan pangkalan minyak tanah. Anggapan yang membuat mereka seenak hati mengambil uang toko untuk berfoya-foya. Liburan ke luar negeri, belanja di mal, makan-makan di restoran, dan semacamnya.

Papa bukan tidak menyadari hal itu. Berkali-kali ia mengingatkan Mama dan Shuwan. Semua berakhir dengan pertengkaran. Papa dikeroyok habis. Jika sudah begitu, Papa memilih mengalah.

“Rasanya sudah tidak ada lagi yang bisa kuperbuat, Ying,” keluh Papa. Sedih. Setiap habis dikeroyok Mama dan Shuwan, Papa selalu datang ke rumahku. Mengadu. Aku memang tidak lagi serumah dengan mereka. Seminggu usai menikah, Ko Lim Swie Hin, suamiku, memboyongku ke rumah baru.

Tidak banyak yang bisa kulakukan selain menghibur Papa agar selalu bersemangat dan bersabar. Penghiburan yang aku pun ragu dapat menghilangkan kesedihannya. Kentara, sehari-dua setelahnya, lewat ponsel Papa masih menggerutu panjang, mengeluhkan kelakuan Mama dan Shuwan. Mama dan Shuwan tahu Papa begitu; acap mengadu kepadaku. Mereka pun menganggap aku memihak Papa, sehingga pantas mereka posisikan sebagai musuh.

Suatu hari, ketika mengunjungi Papa, kudapati ia tengah menangis tersedu-sedu. Pastilah ada sesuatu yang luar bisa sedang menimpa. Sebab, selama tinggal bersamanya belum sekali pun aku melihat Papa menangis begitu.

Baca juga  Kisah Kapal Karam dan Perahu Tenggelam

“Ada apa, Pa?” tanyaku. Kusodorkan selembar tisu kepadanya.

Papa menyeka air mata. Lalu dengan terbata-bata bercerita, uang untuk angsuran bank dan kulakan yang disimpan di brankas hilang. Papa tahu itu saat hendak menggunakannya. Ia mencurigai Mama dan Shuwan yang mengambil. Kebetulan sehari sebelumnya, keduanya berangkat melancong ke Bali.

“Rasanya tak kuat lagi aku menanggung semua, Ying,” ujar Papa dengan suara lirih. Kulihat mendung tebal menyaput wajahnya.

Seperti biasa, aku hanya bisa menghibur dengan kata-kata sekenanya. Aku memang kurang cakap berkata-kata. Fengyin, nama pemberian Papa, yang berarti pintar dan cerdik sepertinya kurang cocok dengan pembawaanku.

Hilangnya uang di brankas berbuntut panjang. Menyusul pertengkaran hebat, Papa melapor ke kantor polisi. Mama dan Shuwan dipanggil dan diinterogasi. Lantaran tidak ada bukti dan saksi, polisi melepaskan mereka.

Perseteruan antara Papa dan Mama serta Suwan tidak berhenti di situ. Dengan tuduhan mencemarkan nama baik, mereka melaporkan balik Papa. Gawat. Agar masalah tidak makin runyam, aku dan Ko Lim berupaya mendamaikan. Percuma. Mama dan Shuwan malah mengatai-ngatai kami dengan kalimat menyakitkan.

“Hanya Paman Zii yang bisa menyelesaikan masalah ini dengan damai. Kita harus minta tolong kepadanya,” kata Ko Lim.

Aku setuju. Paman Zii adalah adik Mama. Satu di antara sedikit saudara kandung yang kepadanya Mama menaruh rasa hormat dan segan.

Benar kata suamiku, berkat campur tangan Paman Zii, Mama dan Shuwan mau mencabut laporan. Di hadapan penyidik kepolisian dan keluarga, Papa, Mama, dan Shuwan berpelukan mesra. Perkara selesai. Aku sangat berterima kasih pada Paman Zii.

Xie xie, Paman.” Aku menjura.

Paman Zii hanya tersenyum.

Sayang kemesraan Papa, Mama, serta Shuwan hanya berlangsung singkat. Seminggu kemudian terjadi geger lagi. Gara-garanya, Mama dan Shuwan menuntut Papa memenuhi semua kebutuhan mereka. Bagaimanapun caranya.

“Mana bisa? Barang dagangan habis. Tidak ada uang masuk. Belum lagi bayar bank. Dari mana uangnya?” Papa menolak mentah-mentah.

Mama dan Shuwan tidak mau tahu. Mereka ngotot. Perang dingin pun pecah. Mama tidak mau lagi mengurusi Papa dalam arti sebenarnya. Shuwan juga abai terhadap pola makan Papa. Padahal, selama ini dialah yang mengontrol pantang makannya. Maka terjadilah yang mesti terjadi, kesehatan Papa memburuk. Sejumlah organ dalam tubuhnya terganggu dalam waktu bersamaan. Denyut jantungnya lemah, fungsi ginjal menurun, gula darah jauh di atas batas normal. Dan sampai pada kondisi tertentu, ketahanan Papa pun ambrol. Ia masuk rumah sakit.

Baca juga  Dia Ingin Membeli Laptop

Selama Papa opname, seizin Ko Lim, setiap hari aku menunggui. Mama dan Shuwan hanya datang sesekali. Itu pun karena diminta mengantar famili jauh yang datang khusus hendak membesuk Papa.

Hari ketujuh belas di rumah sakit, kondisi Papa kritis. Ia jatuh koma. Dokter angkat tangan. Berkali-ulang Mama dan Shuwan kutelepon, tak mereka angkat. Pikiranku kalut. Secara tersirat dokter menyarankan Papa dibawa pulang. Ditambah pesan Papa, “Ying, bila aku meninggal nanti, aku ingin meninggal di rumahmu.” Itu dia ucapkan pada hari pertama masuk rumah sakit.

Pesan Papa, saran dokter, dan dukungan Ko Lim menjadi dasar keputusanku membawa Papa pulang. Kalaupun kemudian hari tindakan itu bakal menimbulkan masalah, aku siap menghadapi. Waktu itu aku hanya berpikir bagaimana memenuhi permintaan terakhir Papa.

Hanya sehari Papa terbaring di rumahku. Pada 10 Februari, tepat dua hari sebelum Imlek, ia pergi selamanya. Segera kukabarkan kematian Papa kepada Mama dan Shuwan. Gagal sampai. Rumah tertutup rapat. Pintu pagar digembok. Berkali-ulang kutelepon tak mereka angkat. Pesan lewat Whatsapp juga tidak mereka balas. Padahal, sudah ada dua centang biru di bawah.

Pada hari pemakaman Papa, Mama dan Shuwan hadir. Kehadiran mereka selayaknya pelayat umum, bukan sebagai keluarga. Serampung pemulasaraan jenazah, keduanya pulang. Mereka tidak mengantar jenazah Papa ke pemakaman. Saudara, kerabat, sanak famili, dan orang-orang yang tahu siapa Mama dan Shuwan tentu saja heran dan bertanya-tanya. Pertayaan yang terpaksa mereka pendam dalam hati. Tak tega mengungkapkan. Mengingat kami, aku dan suamiku, masih dalam suasana berkabung.

Suatu siang, sepekan setelah kematian Papa, Mama dan Shuwan menemuiku. Ah, bukan menemuiku, melainkan melabrakku. Ya, betapa tidak. Di teras rumah, keduanya berdiri berkacak pinggang. Dengan suara tinggi bergantian mengumpat, menuduh, dan menyumpahi aku.

“Kamu sudah membunuh Papa!” Shuwan menatapku dengan mata menyala.

“Seandainya tidak kamu bawa pulang, belum tentu papamu mati. Ya, kamu sudah membunuhnya!” Suara Mama menyilet hatiku.

“Kamu bunuh Papa karena ingin dapat warisan kan? Dasar tamak!”

“Kalau tahu bakal begini, tidak sudi aku melahirkanmu! Anak sialan!”

Masih banyak tuduhan keji dan sumpah serapah yang mereka tujukan padaku. Aku diam saja. Bukan apa-apa, aku tidak mau situasi memanas. Aku khawatir tetangga berdatangan ke rumahku dan terjadi sesuatu yang tidak kuinginkan.

Baca juga  Angpau Kwan Sing Bio

Setelah kejadian itu, Mama dan Shuwan menolak berhubungan apa pun denganku. Mereka bahkan memasang iklan di beberapa surat kabar, mengumumkan secara terbuka pemutusan hubungan keluarga dariku. Aku pasrah.

Kendati jauh-jauh hari sudah bersiap diri sedemikian rupa menghadapi kemarahan Mama dan Shuwan, tetap saja aku limbung. Jiwaku terluka. Pikiranku terganggu.

“Kamu sudah membunuh Papa!”

“Ya, kamu sudah membunuh suamiku!”

Tuduhan Shuwan dan Mama itu sungguh mengganggu pikiranku. Bertahun-tahun tergiang dan memantul-mantul di dinding ruang jiwaku. Sebegitu mengganggu, dalam tidur sering aku mengigau, aku tidak membunuh Papa. Tidak!

Ko Lim tidak begitu kaget atas keadaanku. Ia tahu saat itu aku sedang mengalami gegar jiwa akibat perlakukan Mama dan adikku. Dengan sabar Ko Lim membawaku ke psikiater hingga kondisiku kembali tenang, seperti dulu.

***

Sudah 12 tahun Papa meninggal. Hari ini, dua hari sebelum Imlek, pas geblak-nya. Di dinding kamar, pandang mripatku tertumbuk pada potret lama. Di situ terlihat Mama duduk di kursi, aku di pangkuannya, dan Papa berdiri di sebelah kanan kami. Entah tahun berapa itu diabadikan. Yang jelas aku masih balita. Mungkin dua tahunan.

Lama memandang potret itu, tak terasa mripatku berkaca-kaca. Satu per satu kenangan masa kecil bersama Papa dan Mama membayang. Ah, Mama, bagaimana keadaannya kini? Tiba-tiba aku ingin sekali bertemu dengannya.

Segera kuraih ponsel di meja rias. Dengan jari bergetar kutulis pesan pendek di Whatsapp. “Gong Xi Fa Cai, Mama.” Bagaimana Mama akan memperlakukan pesanku, menerima dengan gembira atau malah murka, tak jadi soal. Apa pun yang telah Mama lakukan pada Papa atau pada diriku, tetaplah ia mamaku. Perempuan yang melahirkanku.

Mlati Lor, 2021

Mukti Sutarman Espe, menulis puisi dan cerpen. Buku ceritanya Perempuan yang (Tidak Pernah) Bahagia (2020). Setelah purnatugas dari guru, kini mengelola tajug.dot.com. Tinggal di Kudus.

Average rating 3.1 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Cerpen ini bagus, namun ada beberapa kalimat yang kurang tepat. Ada kata yang diketik ulang dan akhirnya keliru. Maaf,,, hanya berkomentar setelah membaca.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: