Cerpen, Naning Scheid, Tribun Jabar

Berai Bianglala

4.3
(6)

BARNALI berjalan berjinjit menyelinap ke luar kelas meninggalkan peralatan sekolahnya. Berhasil ke luar gerbang, gadis Bangladesh itu berlari menuju jalan besar. Hujan lebat baru saja turun di kota Dakha. Jalanan becek. Sepatu hitam dan celana putih seragam sekolah kotor. Barnali mengacungkan ibu jari kepada setiap kendaraan yang lewat, ia mencari tumpangan menuju Pelabuhan di Sungai Padma.

Seharusnya tiga hari lalu, Ahnaf, bapak Barnali, sudah pulang. Ia berjanji membawakan boneka sebagai kado ulang tahunnya yang kesepuluh. Namun, Ahnaf, kuli panggul Terminal Feri Paturia, memang sering lupa pulang. Kali ini Barnali sudah tidak sabar. Gadis kelas tiga SD itu bertekad mencari bapaknya untuk menagih janjinya.

Pelangi samar terlihat di langit abu-abu. Barnali mendongakkan kepala, memandang setengah lingkaran berhias tujuh warna. Barnali suka pelangi, seperti arti namanya. Azan salat Jumat terdengar ketika sebuah truk pengangkut tekstil berhenti di depannya.

Slamalikum!” sapa Sopir.

Alaikumslam. Paman ke Paturia toh?” tanya Barnali.

Sopir 40-an tahun seusia bapaknya mengangguk, ia memberikan isyarat agar Barnali naik. Barnali duduk di samping Kenek. Ia melongo melihat otot-otot bahu Kenek. Pria itu diam saja, sedangkan Sopir ramah mengajak bicara Barnali di antara isapan rokoknya.

Jarak Kota Dakha dan pelabuhan sejauh 80 kilometer. Sekitar tiga jam berkendara melalui jalan utama beraspal. Namun, truk memilih melaju di jalan tanah, di antara permukiman kumuh sepanjang rel kereta api.

Setiap kali jalanan bergelombang, tubuh mereka berguncang-guncang. Seketika itu juga Barnali gembira. Seperti naik kereta luncur, katanya. Sopir berkali-kali meliriknya. Barnali gadis berwajah oval, berbulu mata lentik, tapi tubuhnya seperti korek api. Lurus tanpa lekuk. Berapa harga jualnya, Sopir mencoba menaksir.

Kebaikan palsu Sopir tidak lagi disembunyikan. Sesampai Sungai Padma, truk tidak berhenti. Terus melaju melintasi jembatan menuju kota di seberang sungai, Daulatdia daerah pelacuran terbesar di Bangladesh.

Baca juga  BEBEGIG

Sadar dirinya ditipu, Barnali memberontak. Berteriak. Menyepak. Tangannya mencoba menggapai kemudi melintasi tubuh Kenek. Pria bertubuh gempal itu kesal. Ia menarik kerudung Barnali hingga lepas dan menyumpalkan ke mulut bocah itu. Kemudian, membenamkan kepala Barnali di antara pahanya. Sopir menancap gas. Truk melaju semakin cepat. Jalanan berguncang semakin hebat. Barnali mengerahkan seluruh tenaga dari impitan, tangannya berhasil mencolok mata pembekapnya. Kenek kesakitan. Mengumpat, lalu menghantam kepala Barnali. Darah keluar dari bibir dan hidung. Barnali pingsan.

Truk memasuki perkampungan Daulatdia. Para perempuan memakai kain sari warna-warni berjajar di sepanjang lorong sempit semacam pawai. Daulatdia tidak mengenal pagi dan malam, hari libur nasional, Ramadan atau hari raya. Semua pria dilayani kapan pun mereka mencari kepuasan.

Truk diparkir. Sopir dan Kenek menenteng Barnali seperti menenteng kayu gelondongan. Madam, perempuan 35 tahun, menyambutnya. Badannya lebar, tiga kali lebar badan Barnali. Wajahnya bundar dan suram. Rambutnya hitam terurai, keriting mekar, dihuni banyak kutu. Berkali-kali perempuan beranak lima itu menggaruk-garuknya.

Sopir menerima uang 40.000 taka*. Oleh Madam, Sopir dan Kenek diberi dua perempuan gratis hingga puas. Tubuh Barnali digeletakkan di salah satu bilik empat meter persegi dari batu bata. Ruangan remang tanpa jendela. Matahari tak bisa menembus celah-celahnya. Di dalamnya berisi kasur, lentera, kotak riasan, dan kalender bergambar perempuan bugil. Pintunya terbuat dari seng, dikunci dari luar. Atapnya dihiasi kertas minyak warna-warni seperti pelangi.

Madam mengguyur wajah Barnali dengan air hingga bocah itu siuman. Seketika siuman, ia berteriak minta tolong. Madam berkacak pinggang dan tersenyum sinis. Barnali menjadi liar, mengubrak-abrik meja, memecahkan lentera, bedak, dan riasan. Madam berang. Ia mencekik Barnali hingga mulutnya terbuka lalu melolohnya dengan dua pil merah muda: yaba, Pink Cocain, oplosan lokal. Beberapa menit kemudian, kepala Barnali berat, tapi ia menari-nari.

“Moon, ithu namamu dhan panggil aku Madham. Kau harus pathuh,” kata Madam.

Baca juga  Mata Sayu Itu Bercerita

Dua hari tidak patuh, Barnali tidak diberi makan. Ia menyerah. Ia mulai menjawab saat dipanggil ‘Moon’. Ia belajar gerakan sensual, peta area sensitif pria, dan cara menyentuhnya. Pria Bangladesh penggemar wanita bertubuh subur. Untuk itu, Madam memberi Barnali Oradexon, obat penggemuk sapi.

Hari kesembilan. Barnali melayani pria pertama, pria tua seusia kakeknya. Tak lebih dari dua menit pria itu sudah menyungging senyum kepuasan, tapi lebih dari dua hari Barnali meringis kesakitan. Setelah itu pria lain datang tiada henti. Bulan demi bulan berlalu, Barnali bisa melayani tiga hingga delapan pria sehari. Ia tidak pernah ke luar bilik, tak bisa membedakan enam musim: Grisma, Barsa, Sarat, Hemanta, Shhit atau Basanta.

Hari itu, musim Barsa di penghujung bulan Juli, hujan turun lebat ketika Madam berteriak seperti biasa, “Moon, thamu.” Seperti biasa pula Barnali melepas baju, duduk di tepi kasur, membuka lebar kedua pahanya dan cengengesan dalam pengaruh yaba.

Seorang pria memasuki bilik remang. Ia melepas jas hujan, lalu dengan beringas menelungkupkan badannya di atas tubuh ‘Moon’ seperti musang siap memangsa ayam. Ketika wajah mereka begitu dekat, pria kerempeng itu tersentak.

“Bar-na-li?” kata Ahnaf lirih, tak percaya perempuan Daulatdia bertubuh gendut, berias tebal yang tak tampak seperti bocah 12 tahun adalah anaknya.

“Mooon …,” Barnali menggeleng.

“Ini, Ba-ba!”

“Enggak. Baba pasti bawa boneka toh?” Senyum tanpa dosa mengakhiri kalimat tersebut.

Ahnaf terduduk di lantai, membuang mukanya. Ia menangis dengan suara parau. Dadanya naik turun menahan sesak sebelum ia meraung seperti serigala.

Madam mendengar tangisan. Segera ia mengetuk pintu dan bertanya ada apa, tapi tak ada jawaban. Ia mencoba memasuki kamar. Secepat kilat Ahnaf membungkus tubuh Barnali dengan seprai. Begitu gerendel terlepas, Ahnaf mendorong pintu sekuat tenaga membawa Barnali keluar bersamanya. Madam terjungkal, ia jatuh di atas comberan.

Baca juga  Putri Sang Pemimpi

Thangkap ithu maling!” teriak Madam.

Bapak dan anak berlari di tengah hujan. Barnali berlari lamban, kepalanya mendongak ke atas mencari pelangi. Ahnaf menarik pergelangan tangannya agar ia berlari lebih kencang. Sial, kaki telanjang Barnali menginjak pecahan kaca.

Ahnaf memeriksa sekilas kaki anaknya. Tak ada banyak waktu, lima pria mengejar mereka. Ahnaf menggendong Barnali di punggungnya. Baru beberapa langkah, kelima pria tersebut mengepung mereka. Satu pria memberi bogem mentah di pelipis kiri. Satu lagi meninju perutnya. Barnali terjatuh di antara sampah plastik, telentang berbalut seprai basah. Ahnaf masih dihajar membabi buta kelima pria.

Kucuran hujan deras menyadarkan Barnali dari efek yaba. Ia menyaksikan Ahnaf bersimbah darah. Barnali merangkak, mendekati tubuh bapaknya: wajahnya penuh luka lebam, sebilah pisau masih tertancap di dada kanannya. Barnali menjerit, “Babaaa,” ucapnya berulang-ulang.

Madam datang. Memberi upah 300 taka kepada masing-masing pria. Nyawa Ahnaf hanya berharga sekitar 250.000 rupiah. Madam memerintahkan tiga pria membuang mayat Ahnaf di Sungai Padma. Dua pria lainnya diperintahkan membawa Barnali kembali ke biliknya.

Tubuh Barnali diseret. Seprai berlumur lumpur. Barnali memandang langit, teringat pelangi terakhir yang ia lihat. ***

*40.000 taka adalah sekitar tujuh juta rupiah.

Naning Scheid lahir di Semarang, 5 Juni 1980. Penulis berkebangsaan Indonesia, tinggal di Brussel sejak 2006. Bukunya: Melankolia – Puisi dalam Lima Bahasa (Pustaka Jaya, 2020), Novela Miss Gawky – Cinta Pertama Kirana (Pustaka Jaya, 2020). CerpennyaBulan Biru di Laut Flores” menjadi juara favorit Lomba Cerpen Sastra Pariwisata 2020 yang diselenggarakan oleh Yayasan Pustaka Obor dan Rayakultura.

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: