Adam Gottar Parra, Cerpen, Koran Tempo

Jejak-jejak Hewaniyah Seorang Filsuf

2.8
(6)

Diterangi kandil, aku membaca huruf-huruf dalam bahasa Bahao-tua yang dipenuhi sengau. Papan kecil dari kayu oah itu sudah lama tertimbun di belakang kuil, sehingga sebagian huruf-hurufnya tertutup tanah. Sambil mengeja huruf-hurufnya, aku mengorek-ngorek serpihan tanah dengan ujung lidi yang dilancipkan. Setiap kali berhasil merangkai satu kata dari deretan huruf mirip ketam itu, Palo yang duduk di sebelahku akan mencatatnya pada sehelai kertas. Transkrip itu sangat kubutuhkan untuk mencocokkan saat membaca ulang nanti, apakah bacaanku sudah benar atau salah. Terkadang aku meminta Palo menunda menuliskan kata-kata tertentu bila ragu atau Palo sendiri yang usil bertanya, “Sudah yakin atau belum? Kalau ragu, tidak akan saya tulis,” katanya sambil menggerak-gerakkan ujung pena, seakan-akan dialah satu-satunya orang yang pandai menulis di dunia.

Tingkah Palo yang pongah itu sesekali membuatku tersenyum. Berbeda sekali sikapnya dengan para mahasiswa yang pernah kulibatkan dalam penelitian proto-linguis bahasa Woni beberapa waktu lalu. Setiap kalimat yang mereka ucapkan akan selalu disertai dengan kata “Prof” seperti “Sudah, Prof”, “Ya, Prof”, sambil membungkuk takzim, seakan-akan kami tengah berada di ruang kuliah. Sedangkan Palo selalu memanggilku “Pak Rio”. Tapi sikap Palo yang elegan dan kadang sok tahu itu justru membuatku terhibur di daerah pedalaman yang sepi dan sesekali ditingkahi salak anjing di kolong rumah panggung itu.

Asap kandil yang mengepulkan jelaga membuat mataku perih. Berkali-kali aku harus mencopot kacamata untuk membersihkan sudut mataku yang berair. Tapi informasi yang disampaikan manuskrip Bahao itu membuatku bersemangat, sehingga tak terlalu merasakan siksaan asap lampu.

Kami terus bekerja. Saya membaca, Palo mencatat. Hingga tak terasa waktu telah larut malam.

Dengan bantuan ujung lidi, aku terus mengorek-ngorek deretan huruf dan membacanya dengan teliti satu per satu. Dan informasi yang disampaikan papan kuno itu sungguh mengejutkan. Mulai tergambar samar-samar sosok filsuf yang pernah mengguncang dunia itu. Bagaimana tidak, teori-teorinya tentang sejarah peradaban mampu membubarkan tiga agama besar yang pernah berjaya dalam sejarah. Jika sebelumnya para tokoh agama merasa telah beriman dengan logika, keyakinan itu dipatahkan oleh si filsuf. Menurut si filsuf, seluruh umat beragama beriman dengan imajinasi. Karena keberadaan Tuhan yang undefined, tidak bisa dijelaskan secara ilmiah dan rasional, seluruh umat beragama sesungguhnya sedang berimajinasi.

“Orang yang pernah melihat kuda nil, percaya pada akalnya. Sedangkan orang yang belum pernah melihatnya, cuma berimajinasi. Belum bisa disebut percaya,” ujarnya beranalogi, dalam simposium yang dihadiri oleh para filsuf dan tokoh agama dari seluruh dunia itu.

“Berarti selama ini kami berkhayal tentang Tuhan?” seorang pendeta bertanya, mulai goyah.

“Kurang-lebih demikian,” katanya.

Wacana yang disampaikan dalam simposium di Bukit Venus itu seketika membuat para tokoh agama murtad, keluar dari agamanya, lalu memilih menjadi ateis. Dampaknya bisa dibayangkan. Dunia pemikiran terguncang selama berabad-abad. Tiga agama besar pun runtuh.

Dikisahkan, si filsuf punya kebiasaan aneh. Setiap pagi ia akan berlari keliling istana dan pasar untuk memberi peringatan kepada raja dan orang-orang kaya.

Baca juga  Sapu Tangan dari Kayeli

“Baginda, bangunlah! Urus rakyatmu yang sedang kelaparan!” dia berteriak sambil berdiri di depan gerbang yang dijaga sepasang patung batu berfigur singa.

“Tutup bacotmu, Filsuf terkutuk!” penjaga menghardik dari atas menara.

Setelah menyampaikan pesan kepada raja, ia pun pergi.

Tak lama berselang, orang-orang akan melihat si filsuf berlari mengelilingi pasar sambil berteriak kepada para pedagang.

“Kalau mengambil untung jangan banyak-banyak, cukup untuk makan sehari saja,” katanya. Lalu dia berjongkok, memungut remah-remah roti yang jatuh tercecer dari pedati, untuk diberikan kepada pengemis buta yang biasa makan kotoran burung merpati di bawah menara.

“Wahai, orang-orang Waisya, harta benda itu tak kan kau bawa mati!” dia berteriak, sehingga ia sering dijuluki “filsuf teroris” oleh warga polisi.

Seperti biasa, peringatannya itu akan dibalas cemooh oleh mereka. Tapi ia tak peduli. Ia membiarkan orang-orang bicara sesukanya. Sebab, untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat yang sudah bebal memang tidak mudah, butuh proses. Perubahan tidak lahir dari tangan seorang pesulap, demikian ia berpikir, sehingga ia terus bersuara lantang membangunkan peradaban yang sedang tidur pulas.

Dalam kesempatan berbeda, orang-orang melihat si filsuf berlari mengitari bangunan kuil sambil meneriaki sang pendeta.

“Hai, Pendeta, Dewa telah mati! Keluarlah dari tempat gelap dan berdebu itu. Beri peringatan kepada Raja zalim itu!”

Karena seruannya tak digubris, ia pun memukul lonceng di beranda kuil hingga menggegerkan orang-orang sekota karena mengira ada huru-hara.

Lalu, pada suatu pagi, beberapa warga yang hendak menuju tempat kerja melihat si filsuf sedang berlari-lari mengitari menara batu yang dihuni kawanan burung sriti. Sore harinya, ketika kembali dari tempat kerja, si filsuf masih terlihat berlari. Mereka pun heran.

“Belum berhenti sejak pagi?” tanya seorang pemanggul karung.

“Bukan,” ucapnya terengah-engah. “Baru mulai lagi.”

“Kenapa Guru terus berlari?” tanya seorang penarik gerobak bermuatan batu bara.

Jawabannya sungguh mencengangkan!

“Supaya saya berhenti berpikir,” katanya. “Sebab, kalau saya diam, otak saya terus berpikir.”

Berita yang disampaikan papan kuno itu membuat saya semakin penasaran terhadap sosok filsuf yang pernah menolak dinobatkan sebagai raja itu, sehingga ia sangat dikagumi oleh masyarakat.

Palo berkali-kali bertanya tentang arti kata-kata yang ditulisnya, tapi saya berpura-pura tidak tahu (kalau saya jelaskan, ia akan terus bertanya, sehingga pekerjaan kami terbengkalai). Ia tidak tahu kalau saya sudah 20-an tahun mengajar bahasa Bahao-tua di Universitas Equator.

Ketika ujung lidi mencungkil serpihan tanah yang menutupi baris ke 41, mendadak terbit warna kuning. “Emas!” Palo memekik, terbelalak. Anak muda berkaki pekor itu tak sabar, ia hendak merebut lidi dari tanganku untuk membersihkan huruf berwarna emas itu.

“Sabar,” ucapku menenangkan Palo.

“Korek lagi tanahnya!” katanya, setengah memerintah.

Aku meraih kater di samping kandil, lalu meraut ujung lidi yang tumpul. Setelah lancip, kini dengan gerakan sangat hati-hati, aku membersihkan tanah yang menutupi huruf-huruf, kemudian mengusapnya dengan tisu. Sesaat kemudian, tampaklah huruf “L” dari emas. Sementara huruf-huruf sebelumnya berbentuk lubang pahatan, huruf “L” ini berupa huruf timbul dari emas. Saya dan Palo terperangah!

Baca juga  Kamboja di Atas Nisan

Tanpa menunda lagi, aku melanjutkan menyingkirkan tanah yang menutupi huruf-huruf berikutnya. Dengan bantuan tetesan air, serpihan-serpihan tanah itu pun dengan mudah mengelupas. Setelah aku menggosoknya dengan tisu, timbullah huruf “U”, yang jika disambung, menjadi “LU”. Karena tak sabar, aku langsung mengorek huruf berikutnya. Dalam beberapa kali gosok, huruf “K” pun tampak, yang jika disambung menjadi “LUK”. Kami semakin penasaran. Lalu kami menuangkan air lebih banyak lagi, sehingga tanah yang menutupinya seketika lumer dan berubah menjadi bercak lumpur. Dalam beberapa kali gosok, muncullah huruf “A” dan “(P)”, sehingga jika disambung menjadi “LUKA(P)”. Namun ada yang aneh. Khusus huruf “P” dilindungi dengan sepasang tanda kurung. Sehingga, jika dibaca tanpa huruf “P”, akan menjadi “LUKA”. Mengapa? Apakah filsuf Lukap pernah terluka? Sesungguhnya yang bisa menjawab pertanyaan (berjuta-juta orang) itu adalah sebuah pusara di lereng bukit, yang pada nisannya terpahat epitaf berupa huruf: “P”, yang menurut Prof Naoky, pakar bahasa Bahao-tua di Universitas Equator, “P” itu merupakan inisial dari kata “Papia” alias alat kelamin perempuan.

“Jadi, filsuf Lukap, yang pikirannya mengguncang dunia itu, terjun dari puncak menara karena cinta?” aku bergumam tanpa sadar.

Saya masih ingat ucapan Prof Naoky waktu itu. “Epitaf itu Lukap sendiri yang pahat,” ujarnya, menyinggung sebuah disertasi yang diujinya puluhan tahun lalu.

***

Betapa agungnya tokoh ini, sehingga namanya pun ditulis dengan tinta emas.

Tapi sesuatu yang berlebihan kadang menimbulkan kecurigaan. Aku tercenung sejenak. Terasa ada yang mengganjal pikiranku, hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengubah metode penelitianku tentang filsuf yang meninggalkan gimnasium pada usia 16 tahun ini. Karena bisa saja sebuah teks yang selama ini dipuja oleh berjuta-juta orang, ternyata menyimpan kebohongan. Tak banyak yang tahu bahwa aku adalah murid filsuf Derrida, yang lulus dengan predikat cum laude. Tinta emas pada papan kuno itu mesti didekonstruksi untuk menguji kebenarannya.

Besok siang, aku berencana menemui Sultan Darukuk, keturunan raja yang sudah turun-temurun tersingkir dari istana, tapi masih tetap menggunakan gelar “Sultan” pada namanya. Dalam metode penelitian sosial, ada dua sumber primer yang tidak boleh diabaikan, yaitu tokoh penting dan berpengaruh di masyarakat serta tokoh tidak penting, termasuk yang kerap disebut sebagai sampah masyarakat. Dan secara kebetulan, Darukuk adalah tokoh penting yang berubah menjadi sampah masyarakat.

Sultan Darukuk adalah seorang gelandangan pasar yang hidup dari mengais-ngais sampah. Orang-orang tidak tahu bahwa Darukuk adalah seorang “Pangeran”, sehingga menganggap panggilan “sultan” itu sebagai olok-olok karena Darukuk sering mengenakan “mahkota” dari keranjang buah pir yang dipungutnya di pasar.

Keputusan untuk menemui Darukuk adalah pilihan yang tepat setelah membaca sampai selesai jalinan teks yang terkesan membual itu.

Baca juga  Dokter Kafkaesque

Ayam hutan terdengar berkokok di pohon bungur. Aku tak sempat memicingkan mata barang sekejap pun karena terus terbayang sosok Lukap, yang digambarkan selalu memakai jubah kulit binatang dan makamnya yang di tepi laut selalu dikunjungi para peziarah yang datang dari berbagai negeri.

Setelah perjalanan menembus kabut naik-turun bukit dan lembah selama hampir empat jam dengan kuda sewaan, saya tiba di kota. Tidak terlalu sulit untuk menemukan Darukuk. Rupanya hampir setiap orang di kota ini mengenalnya karena ia sering terlihat menuntun gerobak keledainya di sepanjang jalan. Setelah bertanya kepada satu-dua orang yang saya temui di jalan, saya langsung menuju pasar yang ditunjukkan oleh seorang pedagang minuman.

Rupanya pasar inilah yang ribuan tahun silam sering dikelilingi oleh Lukap. Bentuknya memang telah banyak berubah, terutama deretan toko dan kios di dalamnya. Kecuali sebuah ruangan kecil yang dihuni puluhan boneka berdebu yang sesekali terdengar berteriak memanggil nama Paman Gebeto, tuan mereka, yang sudah lama mati. Toko boneka itu terkenal angker, sehingga tak seorang pun berani mendekatinya.

Setelah menambatkan kuda di tiang listrik, saya langsung menuju tenda kusam di samping bukit sampah. Di bawah terpal, seorang pria dengan tubuh penuh luka sedang menggaruk-garuk punggungnya dengan kayu. Dia memakai jubah bertambal-tambal.

“Selamat sore, Sultan,” kataku sambil membungkuk, memberi hormat.

“Selamat sore,” sambutnya, ramah.

Setelah memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatanganku, ia pun mempersilakan saya duduk di atas tikar kardus.

Aku mengeluarkan rokok dari tas, lalu mengulurkan sebatang untuknya.

Sambil mengepulkan asap rokok, Darukuk pun bercerita panjang-lebar tentang Lukap, yang konon suka berfoya-foya, bahkan sampai ke Venesia. Aku sangat terkejut ketika ia mengatakan, “Lukap memaksa para pujangga istana untuk menulis namanya dengan tinta emas.” Darukuk lalu mengeluarkan sebuah buku bersampul kulit binatang dari dalam peti, “Kitab ini menjelaskan secara detail tentang perilaku Lukap. Namun biarkan itu menjadi rahasia keluarga kami,” katanya sambil memasukkan kembali buku itu ke dalam peti.

Mendengarkan cerita sebaliknya dari nasabnya langsung, di kepalaku seketika terbayang wajah orang-orang dungu yang selama berabad-abad menziarahi makamnya di pesisir.

Aku merogoh sesuatu di dalam tas, “Ayo, berapa uang yang kau inginkan untuk cerita bohong ini?” kataku sambil menodongkan pistol mainan ke pelipisnya agar ia bersedia meminjamkan kitab para pembohong itu.

Karena, jika tidak, misteri seputar kehidupan filsuf Lukap takkan terungkap. *

Adam Gottar Parra, lahir di Praya, 12 September 1967. Cerita pendeknya terbit di sejumlah media cetak/online, juga dalam beberapa buku kumpulan cerpen bersama, terakhir buku Melabuh Kesumat (Cerpen Pilihan Riau Pos, 2013). Penulis berdomisili di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Average rating 2.8 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: