Cerpen, Kompas, Sunlie Thomas Alexander

Keluarga Kudus

4.2
(30)

“ZAMAN sekarang ternyata ular betina pun bisa jadi keluarga kudus!” ujar Mama Martha bersungut-sungut pagi itu sepulang dari misa Pesta Keluarga Kudus Nazaret. Bapa Yosef urung melinting tembakau Joker di tangannya. Mengangkat kepala, ia menatap istrinya dengan wajah melongo.

“Mam Tua, lu maksud ular betina itu siapa?”

“Siapa lagi kalau bukan si Bafoe itu!” suara Mama Martha jadi meninggi.

Ah, setiap tahun sehari selepas perayaan Natal, di Paroki Santo Yakobus, Noemetan, lima pasangan suami-istri dari setiap lingkungan memang dipastikan bakal mendapat kehormatan mengiringi perarakan pastor dan putra-putri altar memasuki gereja. Di mana mereka akan melangkah dengan anggun dalam balutan pakaian adat di tengah lantunan koor “Hai, Mari Berhimpun”. Barisan-barisan bangku terdepan pun telah dikosongkan untuk menerima bokong mereka. Siapa yang sonde bangga ooh?

Biasanya begitu memasuki masa adven, Romo Linus sebagai pastor paroki sudah melayangkan surat edaran kepada para ketua lingkungan untuk menyiapkan kelompok koor, penghantar persembahan, juga pasutri yang akan melakoni peran sebagai Keluarga Kudus Nazaret pada misa 26 Desember. Ya, tak terkecuali di masa pandemi begini.

Tetapi di lingkungannya, cuma Bapa Yosef dan Mama Martha yang belum pernah sekalipun terpilih sebagai pasangan keluarga kudus. Bukan, bukan lantaran keduanya tergolong keluarga yang acap cekcok dengan makian dan jeritan atau piring-mangkok pecah berhamburan menghantam dinding. Tak ada hal-hal macam itu dalam keluarga Bapa Yosef.

Kendati Mama Martha dikenal oleh para tetangga sebagai ibu-ibu ceriwis yang suka mengomel, siapa pun yang mengenal pasutri itu dengan lebih dekat pasti tahu bahwa keduanya sungguh pasangan harmonis yang diberkati oleh Tuhan Yesus Kristus. Selama puluhan tahun menikah, tak sekalipun Yosef menjatuhkan tangan kasar kepada ia punya istri.

Apabila tensi pertengkaran—yang kadang tak terhindarkan oleh ragam musabab—sudah mulai meninggi, lelaki itu dengan adem akan mengengkol sepeda motor tua dua tak-nya lalu melesat meninggalkan rumah dan asap knalpot hitam. Ke tempat kawan-kawannya: ngopi, nenggak sedikit sopi, lalu main catur atau gaple sampai larut malam.

Karena itu, jangan salah menduga. Semua warga Paroki Noemetan juga tahu apa sebabnya Mama Martha dan Bapa Yosef tak pernah terpilih sebagai keluarga kudus. Ya, sekalipun perempuan itu boleh dibilang rajin ke gereja setiap Minggu, aktif di Legio Maria, bahkan mengikuti persekutuan doa Kharismatik.

Masalahnya di sini cuma satu, kata para tetangga dengan mimik prihatin: Bapa Yosef terang-terangan menentang kewajiban membayar derma dan sumbangan pembangunan gedung paroki baru yang jumlahnya ditentukan oleh Romo Linus.

“Janda tua seperti saya juga harus bayar 500 ribu?” syahdan Oma Monika, ibunya, mendelik di tengah kepulan asap tungku.

Akibatnya, Bapa Yosef pun beradu mulut dengan Bapa Andreas, sang ketua lingkungan yang dengan setia menghimbau agar warga lingkungannya tak lalai melunasi derma dan uang sumbangan.

“Katong bisa beli HP mahal, habiskan banyak uang beli pulsa dan kuota internet, tapi giliran berderma untuk Tuhan sulitnya minta ampun. Kek sonde ikhlas sa,” demikian ujar Bapa Andreas dalam suatu rapat lingkungan. Terang menyindir mereka yang tersendat-sendat mencicil.

Baca juga  Akhirnya Kita Semua Menjadi Maling

Ketika itulah Bapa Yosef mengangkat tangan dan sudah mendahului bicara sebelum dipersilakan.

“Saya kira bukan soal ikhlas atau tidak ikhlas, tapi jumlah yang ditentukan Romo Linus itu kelewat besar. Banyak umat kita hanya hidup pas-pasan. Memangnya siapa saja yang punya HP mahal di sini selain Oom Titus dan Bapa Andreas sendiri? HP saya masih HP jadul yang layarnya sonde bisa disentuh.”

Warga yang hadir nampak manggut-manggut. Sebagian di antaranya barangkali diam-diam mengiyakan kata-kata Bapa Yosef namun pilih membisu karena takut berdosa.

***

“Kalau begitu, apa beta juga bisa jadi keluarga kudus?” seloroh Oom Titus yang disambut tawa terbahak-bahak oleh sebagian hadirin. Semua orang tahu Oom Titus adalah satu-satunya dari mereka yang tak pernah menyicil uang derma dan sumbangan pembangunan. Ia akan langsung membayar lunas semuanya, termasuk bagian kedua anaknya yang berkuliah di Maumere dan Surabaya hanya dalam hitungan jam selepas Romo Linus mengumumkan jumlah yang wajib dibayarkan.

Oom Titus juga dikenal sebagai orang yang murah hati oleh sanak saudara dan para tetangga. Jika ada yang sedang mengalami kesulitan, misalnya perlu duit untuk berobat, tak segan ia mengulurkan tangannya sebagai perpanjangan tangan Tuhan. Hanya saja, semua orang juga tahu dari mana asalnya uang Oom Titus.

Ia bukan hanya terkenal sebagai penjudi ulung sejak masa mudanya tetapi juga bandar lotre Singapore. Konon, para anak buahnya—pengedar kupon-kupon putih itu—tak hanya berkeliaran di seputar Noemetan dan Kefa, tetapi juga beredar di kota Atambua dan sekitar.

Namun, bagaimana mungkin Oom Titus bakal terpilih sebagai keluarga kudus jika istrinya sudah hampir lima tahun lari ke Jakarta lantaran tak tahan menerima tamparan setiap kali lelaki itu mabuk sopi?

“Beta gandeng janda saja!” tukasnya cengar-cengir. Dan orang-orang tertawa semakin keras.

Ah, barangkali memang tak seorang pun warga paroki yang berkeberatan memberikan derma dan sumbangan untuk Tuhan. Masalahnya, uang untuk Tuhan pun tak bisa serta merta turun dari langit seperti hujan akhir tahun yang terkadang membuat sungai Noemetan meluap hingga ke atas badan jembatan dan memutuskan jalan desa.

Meskipun Mama Helena misalnya, tak pernah sehari pun lupa berdoa novena. Maklum, dua cucunya belum juga diperkenankan untuk menerima komuni pertama, karena ia baru sanggup melunasi seperempat dari uang sumbangan. Bahkan ibu dari kedua anak itu, yakni putri sulungnya yang ikut lelakinya bekerja di Kupang, belum juga menerima pemberkatan sakramen pernikahan.

Ya, seperti yang telah acapkali ditegaskan atau tepatnya diingatkan oleh Romo Linus sendiri selepas homili, paroki takkan melayani umat yang ada anggota keluarganya belum melunasi uang derma dan sumbangan pembangunan.

Baca juga  Perempuan Tua dalam Kepala

“Kalau ada perlu, baru kalian sibuk datang cari pastor. Tapi giliran diminta derma dan sumbangan, kalian selalu punya seribu alasan dan keluhan,” ujarnya tajam di belakang altar, “Nane ho derita!” Sambil mengulum senyum, ia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling, menyapu satu per satu wajah domba-dombanya yang berdosa.

Lalu perlahan, sambil tetap menyunggingkan senyum, mulailah dibacakannya satu demi satu nama kelompok lingkungan yang sudah melunasi utang derma dan sumbangan maupun yang belum.

“Kelompok Santo Mikael bulan ini tinggal satu keluarga saja belum lunas. Bagus, semoga bulan depan sudah beres semua. Tapi kelompok Santa Teresa masih separuh lebih yang menunggak. Bagaimana ini, Bapa Andreas?”

Yang disebut namanya, bergetar di atas bangku gereja dengan wajah memerah.

***

Lantas bagaimana pula ceritanya si Elizabeth Bafoe dan suaminya yang konon juga belum lunas derma dan sumbangan bisa terpilih jadi keluarga kudus?

Yang jelas, nyaris seluruh umat yang hadir pada perayaan misa Pesta Keluarga Kudus Nazaret pagi itu tak bisa menahan diri untuk menoleh ketika ia melangkah masuk ke gereja di belakang pastor sambil menebarkan senyum lebar dan menggandeng mesra suaminya yang nampak kikuk.

Banyak wajah yang terang-terangan menampakkan ekspresi kaget, terutama para mama dan nona-nona. Bahkan, menurut Nona Fransiska, separuh umat sampai berhenti menyanyi selama beberapa detik. Lalu kalian tahu, segeralah tokoh kita ini dihujani oleh tatapan-tatapan sinis, cibiran bibir mencong, cemooh dan bisik-bisik yang terdengar seperti denging nyamuk dari sekalian kaum mama dan nona.

Sementara itu diam-diam jakun bapa-bapa turun-naik menyaksikan lenggokan pinggulnya yang berirama, yang terbalut ketat kain tais tenunan. Kiri-kanan, kiri-kanan… Plaaak!

“Pukameo, mata lihat ke depan sana!”

Begitulah Bapa Markus menjadi korban pertama dari kemolekan bokong perempuan itu. Hampir saja ia terpekik ketika telapak tangan Mama Mathilda, istrinya, tiba-tiba mendarat keras di pipi kanannya.

Kata Romo Linus, bergosip itu perbuatan jahat, dosa. Namun bukankah cerita tentang kekenesan Elizabeth Bafoe sudah jadi rahasia umum di mana-mana? Ah, syahdan sampai mendekati garis pemisah antara Timor Tengah Utara dan Timor Leste. Setiap orang pun bisa menceritakannya ulang, persis seperti versi yang ia dengar atau sebagai versi barunya sendiri. Biasanya yang paling sewot setiap kali nama Elizabeth terlontar, tentu saja mama-mama yang menyimpan sakit hati dan dendam, yakni mereka yang merasa suaminya pernah main mata dengan perempuan itu.

“Jangan cuma salahkan perempuan itu melulu. Kita sebagai istri juga harus introspeksi, kenapa suami-suami kita sampai melirik wanita lain. Mungkin saja Mama-mama kurang kasih pelayanan… Manusia takkan jatuh ke dalam dosa jika Adam ingat perintah Tuhan,” demikian kata Ibu Guru Anna suatu kali di tengah pertemuan ibu-ibu PKK.

“Si Bafoe itu bukan Hawa, tapi ular berbisa di Taman Eden!” Mama Theodora naik pitam, “Ibu Guru bayangkan saja, saya sedang hamil tujuh bulan, keparat itu berani-beraninya kirim pesan WA ke saya punya suami minta uang ke salon!”

Baca juga  Bahasa Apa yang Paling Berbahaya?

Lalu ramailah para mama memberikan kesaksian tentang perbuatan bejat Elizabeth. Bahkan ada yang bersaksi bahwa perempuan itu pernah berbuat skandal dengan frater-frater saat masih kuliah di Kupang. Kuliah yang putus di tengah jalan lantaran perempuan itu keburu hamil.

“Coba basong perhatikan wajah Yohanes anak sulungnya itu. Lebih mirip mana dengan wajah ia punya suami atau wajah sepupu suaminya yang sekarang jadi bruder di Kefa?” Mama Maria memencongkan mulut.

“Hush! Lu tak punya bukti jangan sembarang omong. Bisa jadi fitnah. Wajah anak bungsunya juga mirip sekali dengan Romo Linus kan?” tegur Mama Blandina.

Tetapi sejahat dan sekencang apapun angin gunjing tentang Elizabeth Bafoe yang berhembus di Noemetan, toh orang-orang harus mengakui bahwa selain tetap cantik memikat walau sudah beranak tiga, perempuan yang punya suara merdu itu juga termasuk umat yang paling rajin ke gereja. Bahkan meski rumahnya agak jauh dari gereja, ia sering menghadiri misa pagi bersama suaminya yang kerap diejek warga sebagai sutis alias suami takut istri.

“Tapi tetap heran saya, kok bisa ia terpilih jadi keluarga kudus?” bisik Mama Agnes di halaman gereja sehabis misa pagi itu. Mama Gabriela, temannya bergunjing yang paling setia, menaikkan alis, “Lu sonde curiga ia ada main dengan Bapa Martinus kan?”

Yang ditanya, agak tergelagap. “Sonde, sonde! Beta sonde bilang begitu.”

Tentu, tidak elok mencurigai seorang tokoh umat yang terhormat seperti Bapa Martinus, sang ketua lingkungan tempat tinggal perempuan itu, yang tiga dari enam anaknya menjadi pastor dan suster.

“Mungkin perempuan itu sudah bertobat seperti Santa Maria Magdalena,” ujar Ibu Guru Anna yang bersama suaminya juga terpilih sebagai keluarga kudus sambil menyeka keringat di lehernya yang berlemak dengan sapu tangan.

Debar jantungnya seketika mengencang begitu teringat bagaimana ia memergoki suaminya sendiri saling lirik dengan perempuan itu selama misa Pesta Keluarga Kudus Nazaret berlangsung, tepatnya di saat Romo Linus menuntun mereka—para keluarga kudus—mengucapkan pembaharuan janji nikah.

Yogyakarta, Januari 2021

Untuk Yonetha Rao

Sunlie Thomas Alexander lahir di Belinyu, Pulau Bangka, 7 Juni 1977. Sudah menerbitkan lima buku kumpulan cerpen. Buku terbarunya, Dari Belinyu ke Jalan Lain ke Rumbuk Randu, memperoleh Penghargaan Sastra Badan Bahasa Kemendikbud RI Tahun 2020 untuk Kategori Kritik Sastra/Esai.

Setiyoko Hadi lahir di Solo. Mulai belajar melukis di Himpunan Budaya Surakarta (HBS), dibimbing pelukis Soemitro. Bergabung dengan Studio Seni Rupa Bandung asuhan pelukis Jehan. Belajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Aktif berkarya dan berpameran hingga sekarang.

Average rating 4.2 / 5. Vote count: 30

No votes so far! Be the first to rate this post.

2 Comments

  1. Atrop

    Huh… keren sekali, apalagi terkait semua “nama” tokoh yang keluar di Cerpen ini.

  2. Dave

    Narator, dalam cerpen ini, merajut dengan mahir sejumlah hubungan di dalam dan di antara kelompok gender dan kelas dalam suatu jamaat sedemikian rupa kelihatan dengan jelas tujuan kelompok masing-masing yang bertentangan. Dalam aluran itu, ironi yang menggelikan muncul secara wajar dan mewarnai sifat-sifat hubungan tersebut. Di antara kaum hawa ada persaingan agar keluarga diri sendiri dipilih sebagai keluarga kudus, yang dianggap suatu kehormation tinggi oleh jamaah itu. Namun kaum hawa juga menjadi satu kelompok yang nyaris menjadi bersatu ketika menyikapi satu tokoh perempuan yang menimbulkan rasa takut dan jijik. Tokoh itu dianggap suatu ancaman bagi perempuan lain karena sangat cantik dia dan dengan mudah bisa menarik kekaguman suami-suaminya. Dalam gunjingannya, muncul dugaan tokoh itu pernah berselingkuh. Kaum Adam di jamaah malahan sangat prihatin tentang masalah keuangan daripada gunjingan dan ganjaran keluarga kudus. Di sinilah muncul masalah hubungan kelas sosial dan ekonomi. Ada pemimpin agama dan juga para ketua lingkungan (semua laki laki) di kelas sosial atas (sekaligus kelas atas) yang bertujuan menggalang dana guna pembangunan tempat ibadah jamaahnya. Kelompok sosial atas ini menekankan baik kelas mampu maupun kelas tidak mampu untuk membayar sumbangan yang ditentukkan pemimpin jemaah. Ironisnya kelas mampu termasuk kelompok jahat, bandar judi yang dengan senang bersedia menyumbangkan uang haramnya. Bagi kelas bawah pun mereka memprotes dengan tulus hati tidak bisa membayar sumbangan sebesar yang diminta itu. Akibatnya kelas bawah pun dihukum dengan pelbagai cara termasuk keluarga tidak bisa dipilih sebagai keluarga kudus. Ironisnya perempuan yang dianggap jahat oleh kaum hawa itu, keluarga dialah yang dipilih menjadi keluarga kudus.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: