Cerpen, Hilmi Faiq, Media Indonesia

Lelaki Senja

3.3
(13)

LELAKI berambut perak itu mengetuk gerbang perumahan berwarna hijau daun. Seorang satpam membuka pintu sembari tersenyum penuh takzim. Lelaki berambut perak membalas dengan senyum dan anggukan kepala yang tak kalah takzim. Lalu dia berjalan ke arah timur dan duduk di bangku beton di tepi danau, memandangi air yang demikian tenang lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Begitu berulang-ulang ritual lelaki berambut perak setiap hari.

Warga penghuni kompleks sudah paham dengan ritual lelaki berambut perak itu dan tidak pernah mempermasalahkannya. Lagi pula, dia tidak pernah mengganggu warga atau anak-anak yang setiap sore bermain. Kadang kala malah kehadirannya bisa menjadi penolong, misalnya ketika ada sandal atau mainan anak yang ketinggalan di dekat danau, di dekat tempat dia termenung. Lelaki berambut perak selalu paling akhir beranjak dari senja ketika matahari benar-benar terbenam, menyisakan jingga dipuncaki laungan azan Magrib.

Beberapa gadis remaja di kompleks perumahan yang memiliki danau itu menyebutnya Lelaki Senja. Sebutan yang agak puitis, mengacu pada waktu kedatangannya dan ritualnya di bangku beton dekat danau. Mereka kadang-kadang mencuri-curi untuk memotretnya dan mengunggah ke Instagram atau Tiktok. Kadang mengajak ngobrol Lelaki Senja dan memintanya untuk bersedia dipotret. Lelaki Senja dengan senang hati menerima ajakan itu. Dia senang melihat remaja-remaja ceria.

Sebenarnya Lelaki Senja tidak hanya duduk termangu. Kadang kala mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di antara celah-celah paving block kompleks. Kadang juga membantu tukang kebun membabati pohon-pohon petai cina yang menjulang liar menghalangi pendangan dari kursi beton ke arah danau. Warga sebenarnya tidak begitu hirau dengan pandangan yang terhalang itu, tapi mereka lebih khawatir dengan kemungkinan ular-ular akan masuk kompleks jika tanaman dibiarkan tumbuh liar. Apalagi, beberapa kali satpam kompleks dikejutkan oleh laporan warga yang tinggal di salah satu pojok kompleks bahwa di rumahnya ada kobra. Benar saja, dua anak kobra seukuran kelingking sepanjang setengah meter melingkar di dalam panci yang sudah lama absen ke dapur.

Sejak saat itu, warga rajin bersih-bersih, terutama membersihkan tanaman liar yang tumbuh di sekitar danau. Lelaki Senja selalu membantu dengan senang hati. Hanya dia dan tukang kebun yang bukan warga kompleks dalam kegiatan bersih-bersih tersebut. Warga sudah demikian akrab dengan Lelaki Senja.

Tidak ada yang tahu, Lelaki Senja adalah orang yang kalah. Atau, paling tidak merasa kalah. Kalah oleh keserakahan orang kota. Kalah oleh kenangan. Kalah oleh ketidakrelaan. Alasan dia datang setiap senja ke kompleks perumahan dan duduk di kursi beton ialah untuk mengenang masa-masa dia menjadi penguasa tanah.

Dia lahir dan besar di tanah itu. Lahir sebagai anak desa yang bahagia dengan sawah dan segala kemewahannya. Ayahnya seorang tuan tanah. Luas tanah milik ayahnya tidak pernah bisa dia bayangkan. Pernah dia bertanya kepada ayahnya seluas apa tanah milik keluarga.

Baca juga  Prometheus Ubud

“Kau lihat pohon kelapa yang dibayangi bukit itu?” tanya ayahnya.

“Yang dekat pohon nangka?”

“Bukan. Yang belakang lagi.”

“Yang berderet lima?”

“Iya betul. Dari sana sampai pohon kelapa di belakangannya lagi, itu masih tanah kita.”

Dia lalu menyapu pandang pada batas-batas tanah yang diceritakan ayahnya. Tetap saja kemampuan otak bocahnya belum bisa membayangkan. Dia hanya berpikir, jika dibangun sejuta lapangan bola di atas tanah ayahnya, pasti masih tersisa. Sebegitu luasnya.

Di tanah yang luasnya tak terbatas itu Lelaki Senja tumbuh. Bermain di kubangan lumpur bersama kerbau atau berlarian mengejar bangau yang mencari makan di antara bongkahan tanah bajakan.

Memasuki remaja, dia membantu menanam padi atau mengusir burung-burung yang sekadar mencari kenyang pada padi-padi bunting nan menguning. Juga ikut berdaki gabah ketika memanennya beberapa bulan kemudian. Dia lahir dan tumbuh di tengah sawah, di tengah tanah ayahnya yang luasnya tak terkira.

Tanah yang kemudian dibagi delapan, sepekan setelah ayahnya berpulang. Kakak dan abangnya bersukaria mendapat jatah tanah yang demikian lapang. Sebagai anak bungsu yang kala itu baru berumur belasan tahun, Lelaki Senja tak paham kegembiraan itu. Dia masih sedih ayahnya pergi. Bersama ibunya, dia terus bekerja di sawah yang kini tak seberapa dibandingkan sebelumnya, tetapi masih sangat luas. Jika di tanah itu dibangun enam lapangan bola, masih menyisakan beberapa lahan parkir. Begitu dia mengandaikan sawahnya setelah beberapa kali menonton bola di Senayan.

Lelaki Senja kian dewasa, lalu jatuh cinta dengan anak tetangga. Sepertiga harta warisan ayahnya habis untuk membawa gadis berlesung pipi itu ke pelaminan. Nur Jannah, namanya. Cahaya surga. Tampaknya memang demikian Nur Jannah di mata Lelaki Senja. Makanya, dia rela kehilangan sebagian tanahnya. Tidak apa-apa, setidaknya masih ada sawah seluas empat lapangan bola untuk membangun bahtera rumah tangga.

Lelaki Senja yang hanya lulusan madrasah ibtidaiyah itu tak begitu paham cara mengatur jarak kelahiran anak. Baginya, anak itu rezeki Tuhan. Oleh karena itu, setiap istrinya melahirkan, dia menggelar syukuran dengan biaya hasil menjual sebagian tanah lantaran hasil panen tidak begitu bagus. Tahu-tahu ini sudah anak keenam, perempuan. Lelaki Senja gembira bukan kepalang lantaran kelima anak sebelumnya “batangan”. Syukuran lebih besar daripada sebelumnya. Lagi-lagi pas panen sedang tidak bagus. Sebenarnya panen memang sering tidak bagus. Tapi, masih ada tanah luas yang bisa dijual. Jadi, tak soal. Begitu pikiran Lelaki Senja.

Sibuk mengurus sisa sawah dan enam anak, lambat laun Lelaki Senja merasa usia tak lagi penting. Sampai pada suatu sore menjelang pulang dari sawah, dia memandang Matahari hampir rebah ke barat, awan jingga memayungi hamparan sawah yang kini dikepung jalan raya dan bangunan rumah. Lelaki Senja sadar, sawahnya makin tak lebar. Anak-anaknya makin besar dan butuh biaya tak kecil untuk sekolah dan menikah, sementara dia tak pandai menabung. Tak punya simpanan selain sawah yang kini tinggal satu setengah lapangan bola.

Baca juga  Semiliar Ikan Memakan Anjing-Anjing

“Be, apa sudah ada calon pembeli?” kata Nur Jannah sambil membereskan cangkul dan tempat makan sebelum mereka pulang.

“Sebenarnya sudah.”

“Sebenarnya?” Nur Jannah menangkap ketidakpastian dalam kalimat suaminya.

“Iya. Pak Santoso, yang pengembang itu, kemarin kasih kabar ke Pak Lurah. Dia tertarik membeli sawah kita.”

“Ya sudah, jual ke dia.”

Hmm….”

“Kenapa, Be? Harganya belum cocok?”

“Selain itu, ini sawah terakhir. Kalau dijual, terus kita kerja apa, kerja di mana?”

“Kalau tidak dijual, kita mau pakai biaya apa untuk pernikahan Nori. Meskipun dia perempuan, tetap butuh biaya banyak.”

“Apakah memungkinkan jika syukurannya sederhana saja, tak perlu semeriah abang-abangnya dulu?”

“Apa kata tetangga nanti, Be?”

“Ya, kalau mementingkan kata tetangga, bangkrut kita.”

“Terserah Babe. Tapi, sebaiknya jual saja sawah ini demi harga diri Nori.”

Obrolan sore itu dimenangi Nur Jannah, yang bagi Lelaki Senja tak lagi secerah cahaya surga. Gengsinya meredupkan kebahagiaan berumah tangga. Itu yang banyak menurun ke anak-anaknya. Bisa ditebak kelanjutannya, sisa sawah dibeli Santoso dengan harga lumayan tinggi dibandingkan sebelumnya. Lelaki Senja masih berat sebenarnya, tapi luluh ketika melihat dua koper kulit buaya isi lembaran uang. Semua itu beralih ke tangannya setelah dia menandatangani selembar kertas persetujuan penjualan tiga perempat sawahnya. Lelaki Senja menyimpan seperempatnya untuk sekadar menyalurkan hobinya ke sawah, karena dengan ukuran tanah segitu, sulit bisa bertani produktif.

Hari-hari berikutnya, dia dan istrinya hidup dari sisa uang hasil penjualan tanah. Itu pun kadang masih diminta anak-anaknya yang sebagian besar bekerja dengan upah tak begitu jelas. Jadi tukang ojek, tukang gali sumur, montir sepeda motor, buruh bangunan, dan satpam mal. Mereka yang jarang pulang, tiba-tiba beruntun datang ketika mencium di rumah babenya lagi banyak uang.

“Bulan lalu, kan, udah minta duit. Sekarang mau minta lagi buat apa?” kata Lelaki Senja kepada anak sulungnya yang tukang ojek.

“Ojek sepi, Be.”

“Ya ganti kerjaan, napa?”

“Kerjaan apa, Be. Yang lain-lain kagak mau terima.”

“Salah sendiri. Dulu disuruh sekolah kagak pada mau.”

“Ya gimana, Be. Udah nasib begini.”

“Nasib? Males kali.”

“Ah, Babe. Jangan gitu, Be. Kan anak Babe juga.”

“Terus, lo butuh duit berapa?”

Baca juga  Kulaghi

“Seikhlasnya Babe aja.”

Lelaki Senja lalu merogoh saku, mengeluarkan dua lembar duit dua puluh ribuan dan menyodorkannya ke anak sulung.

“Ah, Babe bercanda. Masa cuma segini?”

Segini gimane. Banyak itu. Bisa untuk bertahan setahun.”

“Setahun?”

“Iye, beliin kalender. Gitu kata Gus Dur.”

Biasanya dialog seperti itu berujung pada sikap mengalah Lelaki Senja. Dia tak ingin anaknya susah. Apalagi melihat duit di koper, rasanya tak apalah jika diambil seikat dua ikat. Begitu terus tiap anak-anak datang, sampai uang itu tinggal beberapa lembar.

Tatkala tenaga makin berkurang seiring tumbuhnya rambut keperakan, Lelaki Senja kehabisan tabungan. Tak ada cara lain. Jalan satu-satunya melepas sawah terakhir kepada pengembang perumahan yang berulang kali berminat membelinya. Itu sekitar sembilan tahun lalu. Kini, sawah itu tak berjejak. Semua berubah menjadi perumahan yang dijaga enam satpam.

***

Lelaki Senja mengetuk gerbang perumahan berwarna hijau daun. Seorang satpam mendekat, lalu dengan penuh ketakziman dia menyampaikan kalimat.

“Maaf, Pak. Untuk sementara kami dilarang menerima tamu.”

“Kenapa begitu? Kan sudah biasa saya ke sini?”

“Benar, Pak. Tapi, sekali lagi mohon maaf. Orang luar tidak boleh masuk karena takut membawa virus.”

“Saya sehat-sehat saja. Tidak ada penyakit macam-macam. Virus itu hanya menyerang orang yang sudah berpenyakit.”

“Tapi, kami tidak berani menerima tamu, Pak. Itu perintah bos kami.”

“Bosmu itu pasti tidak tahu siapa aku. Aku dulu pemilik semua tanah perumahan ini!” Lelaki Senja mulai berteriak sembari menggoyang-goyang pintu gerbang.

“Buka! Buka!”

Keributan itu memicu warga mendatangi Lelaki Senja di sisi luar dan satpam di sisi dalam. Warga luar dan dalam kompleks lalu berdiskusi kecil dan memutuskan Lelaki Senja dibawa pulang. Tubuh renta Lelaki Senja tak kuasa melawan orang-orang itu. Dia memilih pasrah dituntun pulang. Di pintu rumah, Nur Jannah menyambutnya. Lelaki Senja menolak masuk rumah. Dia duduk di kursi rotan di teras rumah.

Wajahnya muram, membayangkan tak ada lagi sore hari duduk di kursi beton memandang danau, mengenang hamparan sawah yang luasnya tak terkira. Membaui aroma tanah yang mengingatkan dia pada musim tanam bersama mendiang ayahnya. Di usianya yang senja, dia merasa menjadi manusia sia-sia. Tiba-tiba dia menyesal telah menjual semua sawahnya. (M-2)

Green Village Bintaro, 16 Desember 2020

Hilmi Faiq, penulis. Buku kumpulan cerpennya, Pesan dari Tanah, yang terbit Desember 2020, ludes dalam tempo 17 hari. Sekarang memasuki buku cetakan kedua.

Average rating 3.3 / 5. Vote count: 13

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: