Cerpen, Jawa Pos, Maria Ulfa Sudirman

Senandung di Bawah Pohon Waru

4.3
(6)

Oh mate colliq

mate colliq ni warue

ritoto baja-baja, alla, ritoto baja-baja, alla

narialai kembongeng [1]

DI BAWAH pohon waru itu, I Sabbe menggulung rambutnya yang lengket oleh getah pohon waru. Katanya, getah itu mampu mengeritingkan rambut. Berhari-hari hal itu ia lakukan dan gelombang ikal mulai tampak.

Sesekali perempuan muda itu menatap jalan setapak yang lengang. Ia gelisah menunggu, namun jangankan sosok La Lindrung yang muncul, kabarnya pun tak ada. Gemerisik semak belukar dan pepohonan sahut-menyahut bersama bunyi binatang liar di baliknya terdengar seperti ejekan setiap I Sabbe duduk di dipan itu. Waktu berlalu apa adanya. Lelaki itu tak pulang seiring perang yang tak kunjung berakhir.

***

Usia I Sabbe baru menginjak empat belas tahun, belasan tahun lebih muda dari La Lindrung, suaminya. Lelaki itu telah mengabdikan diri kepada Arumpone [2] sejak remaja. Ia bergabung dengan pasukan utama kerajaan sebagai prajurit kavaleri. Pada masa peperangan, ia memecut kudanya menuju Watampone dan menginap selama berhari-hari sebelum peperangan dimulai dan pulang setelah perang berakhir dengan gemilang. Hingga saat ini, belum ada perang yang ia lalui dengan membawa kekalahan.

Namun, perang kali ini berbeda. Aturan baru yang isinya memeras Kerajaan Bone ditolak mentah-mentah oleh Arumpone sekaligus menjawab tantangan perang dari pihak Belanda. Pasukan kerajaan yang berasal dari seluruh penjuru kerajaan dan segenap rakyat menyatakan sumpah setia kepada sang raja untuk memerangi musuh. Perang besar tak dapat dielakkan.

La Lindrung berangkat menuju pusat pemerintahan dengan perasaan yang begitu berat. Ia bukannya enggan mempertaruhkan nyawa. Ia telah bersumpah tak akan berhenti menghunuskan kalewang [3] sebelum seluruh tenaga dan darah di tubuhnya habis lalu mati dengan terhormat, atau pulang dengan membawa kemenangan. Hanya, ia baru saja menikah tiga pekan lalu dan harus meninggalkan istrinya seorang diri.

Berkali-kali ia membujuk I Sabbe agar berlindung di rumah orang tuanya hingga dirinya pulang, namun ditolak dengan halus. Perempuan itu menganggap bahwa meminta perlindungan kepada orang tuanya berarti ketidaksetiaan kepada suami. Ia memilih menunggu sendiri di rumah panggung itu. Bagi I Sabbe, menikah berarti menyerahkan diri secara utuh kepada pria yang menikahinya.

***

Kondisi rumah telah sepi ketika lemparan kerikil terdengar di jendela kamar I Sabbe. Semua pajjennangeng [4] telah dipadamkan. Hanya cahaya bulan yang masuk ke kamarnya melalui kisi-kisi jendela. Dengan ragu, gadis belia itu membukanya. Di bawah sana, seorang pemuda sedang berbisik begitu hati-hati hingga suara itu berbaur dengan angin malam dan suara serangga yang semakin nyaring. Ia memanjat dan duduk di tepi jendela. Kini mereka saling menatap dalam remang malam bersama bulan yang hampir purnama.

Baca juga  Tentang Anak Lelaki yang Tinggal Satu Lorong dengan Kami

“Mau apa kamu ke sini, Layang?”

“Sabbe, kudengar, kau akan menikah?”

“Kata siapa?”

“Semua orang membicarakanmu.”

“Itu kata mereka, bukan kataku!”

“Buktinya kau dipingit. Masih mau menyangkal?!”

I Sabbe diam. Ia melenggang menjauh dari jendela yang membawa angin yang semakin dingin. Di atas dipan beralas tikar anyaman, ia menatap Layang dengan kesal. Gadis itu melipat kedua lengannya di depan dada menahan dinginnya malam.

“Lalu, kau mau apa ke kamarku malam-malam begini?”

“Ssssttt! Pelankan suaramu, Sabbe,” Layang sedikit panik. Jika ketahuan, entah apa yang akan terjadi kepada mereka. Bagaimanapun, ia tetap takut pada hukum adat.

“Aku ingin mengajakmu kabur. Ikutlah denganku,” sambungnya setelah memastikan tak ada yang mendengar. I Sabbe terbelalak. Tak sedikit pun rencana Layang terdengar baik baginya. Layang memang nekat, tapi kali ini rasanya berlebihan.

“Kau tahu pamale’ [5] jika melanggar pangadereng [6], bukan?”

Layang tertegun mendengar ketegasan dalam suara I Sabbe. Sahabatnya sejak kecil itu selalu memperlihatkan sikap cengeng. Ia selalu mengikut saja pada kata Layang. Tapi, kali ini berbeda. Layang menyadari bahwa I Sabbe telah tumbuh dengan kedewasaan yang lain dari gadis seusianya.

“Ki-kita hanya kabur, Sabbe! Kita tak melakukan apa pun yang melanggar adat. Kita tinggal di desa lain yang cukup jauh dari sini. Aku bisa membangun rumah kecil untukmu, bekerja di sawah penduduk kampung, atau bercocok tanam. Kau tak perlu takut, Sabbe! Kita tidak akan dihukum.”

“Kau pikir melarikan diri itu tidak melanggar adat? Aku tidak takut dihukum oleh siapa pun. Tak apa jika hanya aku yang dihukum. Tapi, bagaimana jika pamale’ itu datang menimpa orang sekampung? Yang kutakutkan tak lain adalah murka Dewata Seuwae.” Sejenak, keduanya hanya termenung dengan pikiran masing-masing. Layang menatap I Sabbe, tak percaya dengan pendengarannya, dengan ketegasan dalam sikap I Sabbe.

“Pulanglah, Layang! Tak perlu khawatir tentangku. Aku telah menerima pernikahan ini. Tak ada yang mampu menjanjikanku kebahagiaan selain pammase Dewata [7]. Kuharap kau juga menerima itu.”

***

I Sabbe tersadar dari lamunannya ketika mendengar azan Asar berkumandang. Ia teringat Layang. Sejak kejadian di jendela, pemuda itu tak pernah lagi menampakkan diri. Entah apa yang ia dilakukan sekarang saat perang sedang berkecamuk.

Sesekali I Sabbe berpikir, bagaimana jika ia menuruti Layang untuk kabur? Mungkin ia tidak akan menjadi janda di usia semuda ini. Tapi, buru-buru pikiran itu ditepis. Suaminya masih hidup. Ia hanya pergi berperang. La Lindrung sangat baik kepadanya. Pria itu menghormati I Sabbe. Ia tidak memandang rendah kepada perempaun mana pun, terutama istrinya. Meski baru menikah, ia selalu mendengarkan pendapat istrinya sebelum mengambil keputusan.

Baca juga  Sumpah Serapah Bangsawan

“Sabbe! Sabbe!”

Suara Layang terdengar dari kejauhan. Ia berlari secepatnya menemui I Sabbe yang sedang duduk di bawah pohon waru sambil bersenandung menghibur diri. Rambutnya masih basah setelah getah pohon waru yang ia oleskan dibilas. Rambut itu tampak bergelombang indah. Tapi entah, apakah sang suami sempat melihatnya? Sementara itu, pohon waru yang menaunginya mulai tampak kering. Tak banyak dahan yang tersisa setelah dipangkas hampir setiap hari, sedikit demi sedikit. Cabang yang lebih dulu dipangkas tak lagi menumbuhkan pucuk baru. Tak butuh waktu lama, dahan lain akan habis juga.

Sejak bulan lalu berita kekalahan di Pelabuhan Bajoe telah dikabarkan. La Lindrung dikirim menuju Pallime untuk menjaga pertahanan bersama Arung Labuaja. Sementara itu, Arumpone sedang diungsikan ke arah Bone Utara menuju Tana Toraja. Lelaki tua namun tangguh itu dengan gagah berani telah menerjang pasukan musuh. Apa daya, mereka kalah dalam persenjataan, terutama senjata api dan mesiu musuh yang tak terbatas.

“Sabbe! Sabbe!”

Layang tiba di depan I Sabbe dengan terengah-engah. Dadanya yang kurus kembang kempis. Kakinya terasa menebal dan betisnya serasa mau pecah. Tapi, tak ada waktu lagi. Ia sedang beradu dengan waktu dari rumah ke rumah untuk mengosongkan desa itu. Ia telah menyaksikan kekejaman tentara musuh yang melewati permukiman dan tak ingin desanya turut mengalami hal yang sama.

“Sabbe, lekas kemasi barang-barangmu! Pasukan Belanda sedang mengarah ke sini!”

“Suamiku belum pulang. Bagaimana mungkin aku meninggalkan rumah? Dia akan kecewa jika aku tak ada saat ia pulang.”

“Apa kau mau suamimu pulang dengan mendapati mayatmu? Lekaslah! Mereka sudah ada di perbatasan Lebbae. Mereka membantai siapa pun yang ditemui, membakar rumah-rumah, dan menjarah makanan yang bisa dibawa. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mencapai Caloko. Cepatlah, jangan pikir panjang lagi!”

Dengan berat hati, I Sabbe meninggalkan rumah itu dan bergegas memasuki hutan, berjalan kaki selama berhari-hari, hingga akhirnya menemukan sebuah rumah yang jauh dari permukiman penduduk. Rumah itu telah dijadikan pengungsian warga dari beberapa desa. Sebagian besar adalah wanita dan anak-anak. Kalaupun ada laki-laki, mereka tak mampu lagi berperang.

Layang sendiri tak pernah terlihat lagi. Ia segera menuju desa berikutnya untuk menerjang tentara Belanda bersama beberapa orang pria lainnya, juga dua wanita yang hanya membawa parang untuk berkebun. Tak satu pun kembali ke pengungsian itu.

Baca juga  Prometheus Ubud

Ooo Macilaka, macilakani kembongeng

Nappai ribala-bala, alla, nappai ribala-bala alla

Namate puanna [8]

Para wanita bersenandung lirih. Enam bulan sejak peperangan dimulai. Arumpone dikabarkan telah tertangkap. Kabarnya, pertahanan Pallime dan Pasempe telah lama ditaklukkan. Prajurit yang masih mampu berperang telah menyusul pasukan kerajaan atau bergabung dengan gerilyawan di berbagai titik perlawanan. Bala bantuan yang berdatangan dalam jumlah yang tidak sedikit dari Wajo dan Soppeng tidak ada artinya bagi Belanda.

Beberapa gerilyawan yang sekadar lewat mengabarkan bahwa La Lindrung kali terakhir terlihat sedang bertarung dengan sengit, memutus urat leher beberapa musuh dengan kalewang di tangan. Namun, sejak hari itu, tak seorang pun pernah melihatnya.

Sementara itu, I Sabbe menyadari perutnya semakin membesar. Sesuatu telah hadir di dalam sana, bergerak, hidup. Semakin hari ia semakin cemas seiring tumbuhnya janin dalam perut itu. Semakin besar kerinduan akan La Lindrung, semakin ia takut mendengar kabar kekalahan yang silih berganti.

Tangis pecah di gubuk itu. Mereka menangisi penjajahan, nasib Arumpone dalam pengasingan, dan perang yang tak tampak akhirnya. Namun, harapan mereka tak pernah pupus. Mereka akan terus berjuang meski yang tersisa hanya serapah dan gerilya yang tak berakhir.

Oh, taroni mate, taroni mate puanna

iyapa kupettu rennu, alla, iyapa kupetturennu, alla

kusapupi mesana [9]

Oh, gugur sudah si pohon waru

tiap hari dipangkas diambil getahnya

digunakan untuk menggulung rambut

Oh, sial benar penggulung rambut

baru saja ia dibentuk (bergelombang)

telah mati pohon itu

Oh biarlah mati pohon itu

hanya akan pupus harapanku

setelah kuusap batu nisannya (*)

Catatan:

[1] lirik lagu Ongko’na Bone bait pertama

[2] raja Bone

[3] parang panjang

[4] pelita yang ditempelkan di dinding atau tiang rumah

[5] hukuman, kutukan

[6] satuan sistem adat masyarakat Bugis

[7] rahmat Allah

[8] lirik lagu Ongko’na Bone bait kedua

[9] lagu Ongko’na Bone bait terakhir

MARIA ULFA SUDIRMAN lahir dan berdomisili di Bone. Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin. Guru bahasa dan sastra daerah di SMAN 1 Bone.

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: