Benny Arnas, Ruangsastra.Com, Spasi

Menggenggam Air

Hutan Foliage di perbatasan Pakistan-Cina yang dicari-cari karena keindahan daunnya yang menguning-kemerahan di puncak musim gugur. (dok. pribadi/penulis)

4.5
(18)

Simplicity is the ultimate sophistication, ujar Leonardo da Vinci.

Konon, pelukis cum pematung cum arsitek Era Renaisans itu mencetuskan pernyataan di atas setelah ribuan eksperimen berkaryanya yang kemudian, tanpa disadari, memompa adrenalin kreativitasnya hingga tiba di puncak yang bernama Kesederhanaan. Ya, sebelum ia tahu kalau d(ar)i ketinggian ia dapat memandang dengan jelas sehingga ilham bertubi-tubi memeluknya, tidak mudah bagi pria Italia itu untuk menemukan kredo pertama dalam berkarya: puncak kerumitan adalah kesederhanaan!

Apa yang berbeda antara kesederhaan versi maestro dengan kesederhanaan pemula atau bahkan para pemalas? Kesederhanaan bagi maestro adalah komunikasi yang terang akan visi-visi besarnya; sementara bagi pemula, kesederhaaan adalah cara mudah mengeksekusi hal-hal kecil. Silakan membuat definisi sendiri bagi pemalas.

Lantas, apakah untuk sampai pada kesederhaan versi maestro harus berkelak-kelok dulu di rimba proses kreatif yang menyemak, berduri, dan tak jarang dihuni binatang buas? Tidak harus. Tapi, realitas akan melempar siapa saja yang ingin melihat sabana indah di balik hutan ke dalam kesukaran demi kesukaran, ujian demi ujian, percobaan demi percobaan, kehampirputusasaan dan kehampirputusasaan.

Batasan di atas penting untuk memberi kecakapan dalam membedakan mana hasil pencarian, mana dalih kemalasan; mana buah belajar, mana improvisasi tak sabaran; mana mastah, mana amatiran; mana hasil tempaan, mana karbitan.

Dalam konteks yang lain, kesederhanaan kerap hadir sebagai ukuran: kecil. Istilah small is beautiful bertitik-tolak dari memperhatikan hal-hal tertangkap pandang, tidak ke mana-mana, tidak rumit, dan … tentu saja tidak besar. Oleh karena itu, yang tersuruk jauh dari keramaian, yang jumlahnya terbatas, yang susah didapatkan, yang the one and only, apabila berhasil dikelola sedemikian rupa, akan menjadi mahal dan dicari-cari. Tapi, urusannya bukan semata kemampuan mengelola, tapi juga tentang keberanian untuk terus menjadi “kecil”, terus menjadi “sederhana”.

Baca juga  Tukang Cerita

Ya, menjadi besar adalah godaan yang kerap hadir sebagai cita-cita, impian, atau bahkan keberhasilan. Memang bisa kita temui bimbingan belajar yang membesar dan membuka cabang di mana-mana sehingga urusan belajar menjadi hitung-hitungan bisnis; atau rumah makan yang beranak-pinak lebih dari lima hanya untuk satu kota sehingga membentuk kanon rasa dan selera pelanggan. Yang terlupa adalah banyak tempat belajar rumahan atau tempat makan kaki lima yang mulanya ramai, akhirnya sepi ketika sudah menyewa ruko atau membuka cabangnya di tempat lain. Banyak. Dan kita lupa dan tidak merasa perlu menghitungnya sebab ungkapan “orang-orang sukses” memang terpilih dan yang terpilih pasti sedikit sudah menyaru dalam pandangan terhadap keberlangsungan hidup.

Padahal, menjadi tetap “kecil” dan “sederhana” adalah tentang belajar untuk tidak masuk lobang sebagaimana para pendahulu yang gagal mengabaikan godaan. Beberapa rekan yang membuka beberapa cabang usaha merasa terperangkap dalam prestise semu ketika saban bulan laba besar sebuah cabang tidak bisa dinikmati demi kelangsungan cabang lain yang tidak berkembang. Atau ketika seorang acting coach kenalan saya di Bandung mengeluhkan ketumpulannya dalam berkarya begitu ia menjadi bagian sebuah kelas teater yang dikelola secara profesional dan besar, padahal sebelumnya, dengan hanya memproduksi pementasan dari skrip yang paling ia sukai, ide dan energi kreatifnya mengalir tak terbendung. Atau seorang teman yang selama ini gembira-raya mengelola taman bacaan swadayanya curhat tentang visinya yang berubah-tanpa-ia sadari begitu bantuan pemerintah dan CSR sejumlah perusahaan—yang mulanya bermaksud mendukung kerja sosialnya—malah membuat para relawan hanya mau datang kalau ada kegiatan sebab belakangan: kegiatan selalu disponsori alias selalu ada anggaran alias selalu ada penandatanganan daftar hadir yang menjadi syarat cairnya honor atau paling tidak uang transpor.

Baca juga  Islamisme Nirtarikh

Oh.

Bagaimana sejumlah griya tawang di Ubud yang makin ke pelosok letaknya, makin dicari, dan makin mahal; bagaimana penyair sebelum abad ke-18 yang lebih disegani karena puisi-puisi mereka yang ekslusif sebelum kemudian menjadi komoditas begitu Revolusi Industri pecah; bagaimana hari ini penulis yang produktif berkarya tanpa harus tercebur ke dalam lumpur media sosial menguar aura ketahanan, keanggunan, dan tentu saja kemisteriusan; bagaimana warung nasi dengan tulisan “Tidak Membuka Cabang di Mana Pun” di dinding kayu lapuknya harus menutup dagangannya pukul dua siang sebab semuanya sudah ludes begitu jam makan siang berdentang; bagaimana … bagaimana … dan bagaimana yang lain bisa bersikukuh dengan kecukupannya, kesederhanaannya, dan ketetapkecilannya, seharusnya kuasa memberi inspirasi untuk bersyukur dan berkhidmat dengan nasi di meja makan, pakaian di badan, atau sehelai sajadah untuk salat lima waktu.

Tapi, hari ini menjadi besar adalah pencapaian, menjadi rumit adalah prestisius, merasa cukup adalah kemalasan, sebab kita selalu merasa bertanggung jawab terhadap kesejahteraan banyak orang, ilmu pengetahuan yang terus berkembang, dan tak ingin tercipta selisih antara potensi dan amalan, padahal … semua hanyalah subjektivitas dan prasangka yang membuat kita menggenggam dunia tapi lupa kalau sebagian besar Bumi ini terdiri atas air.

Lubuklinggau, 9 Maret 2021

BENNY ARNAS menulis 25 buku. Novel terbarunya Ethile! Ethile! (Diva Press, 2021). Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas.

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 18

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Ran

    Banyak pelajaran didalam cerpen ini. 👍

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: