Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Ranang Aji SP

Ajali Merindukan Pagi

4.3
(9)

AJALI mungkin adalah jenis manusia yang paling menakjubkan di lingkungannya. Hampir separuh hidupnya tak pernah meli[1]hat pagi. Ia bahkan lupa bagaimana mentari bersinar di pagi hari. Ia tak tahu seperti apa kabut pagi menyelimuti bumi. Ia tak paham bagaimana embun pagi berkilau, dan menetes dari daun ke dahan, dan dari dahan ke batang pohon. Ia juga tak pernah mendengar kokok pertama ayam jago menjelang fajar. Ia tak tahu betapa repotnya induk ayam mengatur anak-anaknya yang berubah menjadi berandalan, dan gaduh di kebun belakang. Semua itu sedang berlangsung sementara ia tengah terlelap tidur. Namun, suatu kali, tiba-tiba ia ingin mengubah kebiasaannya. Ia ingin melihat pagi, dan menikmati suasana berembun di antara kuning sinar mentari.

“Aku ingin melihat suasana pagi besok,” ujarnya pada lima temannya yang berkumpul di kontrakannya.

Ajali mengatakan bahwa sesungguhnya ia memang sudah merindukan pagi. Hanya saja ia sulit bangun pagi selama ini. Kali ini ia bertekad akan melihatnya. Ia merasa bahwa selama ini menyia-nyiakan waktu dan suasana bumi yang harusnya bisa dinikmati. Lantas ia bercerita tentang mimpinya beberapa waktu lalu. Katanya, ia terjebak di sebuah pagi yang dipenuhi dengan kabut hingga ia tak bisa melihat matahari bersinar.

Pagi itu, katanya hanya ada perasaan duka yang muram. Cahaya matahari tak mampu menembus kabut. Suasana itu membuatnya kesulitan untuk memahami. Lalu, seorang nenek muncul di antara kabut dari arah kaki bukit. Nenek itu membawa beban di punggungnya. Wajahnya aneh dengan mata menyala merah. Mukanya memancarkan cahaya kelabu. Ketika sampai di dekatnya, nenek itu mengatakan akan membawanya di suatu lembah. Di sana ia akan melihat lima matahari.

Baca juga  Bulan Sabit dan Kekasih

“Setelah mimpi itu aku merasa mau mati.”

Teman-temannya tertawa mendengar itu. Ketika salah satu temannya mengambil alih bicara, tiba-tiba ia merasa perutnya mual dan keningnya bekeringat. Ia segera beringsut ke gigir tembok, menyandarkan punggungnya demi mendapatkan rasa nyaman, sembari terus mendengarkan teman-temannya bicara.

“Bangun pagi, dan akan kutunjukkan sesuatu yang luar biasa besok,” kata salah satu temannya akhirnya. Mendengar itu Ajali semakin bersemangat.

Ketika akhirnya teman-temannya menata ruang tamu untuk tidur, Ajali merebahkan dirinya di atas ranjang kamar setelah menelan obat flu. Ketika matanya semakin berat oleh rasa kantuk, tiba-tiba ia melihat nenek misterius yang diceritakannya pada teman-temannya. Nenek itu masih membawa beban di punggungnya. Berjalan perlahan menemuinya, dan meletakkan beban dari punggungnya. Nenek itu memintanya membawa beban itu. Setelah itu meminta Ajali mengikutinya masuk dalam sebuah pusaran spiral yang muncul di antara kabut. Ajali tiba-tiba merasakan tubuhnya ringan seperti kapas, melayang, dan tersedot dalam pusaran spiral. Hingga kemudian, tiba-tiba ia merasa berdiri di sebuah lembah. Di sana ia melihat lima temannya berdiri mengelilingi tubuhnya yang terbujur kaku. Ajali mencoba memanggil mereka, namun mereka tak mendengarnya. ❑

*) Ranang Aji SP, penulis fiksi dan nonfiksi. Beberapa cerpennya diterbitkan pelbagai media cetak dan digital. Naskahnya berjudul ‘Sepotong Senja untuk Pacarku: Antara Sastra Modern-Pascamodern, Makna dan Jejak Terpengaruhannya’menjadi nominasi sayembara kritik sastra 2020 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 9

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: