Cerpen, Dadang Ari Murtono, Pikiran Rakyat

Tanah Tumpah Hayat

4.5
(4)

SUATU ketika Tumpi bertemu dengan Sogol dan ia jatuh cinta kepada lelaki itu. “Menikahlah denganku. Berbagi hiduplah denganku,” kata Tumpi, melawan adat dan kebiasaan yang berlaku, yang mengharuskan perempuan untuk pasif menunggu lelaki mengajukan lamaran.

SOGOL menolaknya. Jauh hari sebelumnya, Sogol telah memilih membagi hidupnya dengan seekor ayam jago bernama Tulak Songgo Bumi dan sebatang randu tua bernama Akar Bandoro.

“Aku terluka,” keluh Tumpi.

“Karena aku menolakmu?” tanya Sogol.

“Karena sainganku adalah seekor ayam dan sebatang randu. Dan aku kalah,” jawab Tumpi.

“Aku harus melakukannya karena hidupku selalu dalam bahaya. Seperti yang kau tahu, musuhku adalah orang-orang Belanda yang punya senapan,” ujar Sogol.

***

SOGOL tidak menyukai orang-orang Belanda dan ia sudah membunuh banyak orang Belanda. Dan ia memiliki dua alasan untuk itu. Pertama, ia merupakan salah satu keturunan para prajurit Sadeng. Kedua, Belanda adalah penjajah.

Berabad-abad yang lampau, orang-orang Majapahit datang ke ujung timur pulau Jawa untuk menaklukkan negeri itu. Mereka membawa banyak senjata dan kuda. Dan orang-orang Sadeng menyambutnya dengan tangan terkepal dan dada terbuka. “Lebih baik mati berkalang tanah ketimbang hidup sebagai orang jajahan,” seru orang-orang Sadeng. Dan Tribhuwana Tunggadewi, disertai Ra Kembar dan Gajah Mada kemudian mengabulkan keinginan mereka untuk berkalang tanah.

Orang-orang Belanda datang membelah laut dengan kapal-kapal besar, dengan senapan dan sangkur yang berbahaya, untuk menaklukkan Sumur Gemuling, tilas dari Sadeng yang perkasa. Dan Sogol menyambut mereka dengan seruan, “Lebih baik mati berkalang tanah ketimbang hidup sebagai orang jajahan.”

Dan, karena ia tidak ingin berkalang tanah seperti para leluhurnya, Sogol bertindak lebih waspada dan antisipatif terhadap kemungkinan buruk yang bisa terjadi.

Ada empat orang yang mengetahui cara membagi hidup dengan makluk lain: Sogol, Karman, Parman, dan guru mereka. Guru mereka mengajarkan keterampilan itu pada suatu sore yang basah dan mengatakan: kalian tidak akan mati selama sebagian dari hidup kalian masih berada dalam diri makluk lain.

Baca juga  Néang Raratan

Karman dan Parman menolak menerapkan keterampilan itu. “Aku tidak bisa memercayakan hidupku pada kambing atau sapi,” kata Karman. Parman mengangguk setuju. Mereka berdua seperti sepasang tangan, memutuskan saling menjaga satu sama lain. Namun mereka tidak keberatan membantu Sogol melakukan ritual-ritual tertentu ketika membagi tiga hidupnya: satu tetap di dirinya, satu di seekor ayam jago, dan satu lagi di sebatang randu tua.

“Kalian harus menjaga rahasia ini,” kata Sogol.

Parman dan Karman mengangguk.

Di kemudian hari, Sogol sendiri yang membocorkan rahasia tersebut kepada Tumpi.

“Sebab Tumpi sangat mencintaiku. Dan aku percaya kepadanya meski tak bisa membalas cintanya,” kilahnya.

***

TUHAN memberkahi Parman dengan hidup melarat. Suatu hari, ia melamar pekerjaan sebagai centeng dari seorang Belanda. Tugasnya mengawal si juragan dan menjadi tukang pukul jika ada yang membangkang. Pekerjaan itu memberinya hidup yang nyaman dan cibiran serta perasaan tidak suka dari para pribumi. Suatu hari, Sogol mendengar berita itu dan mendatangi Parman.

“Kudengar kau jadi antek penjajah sekarang!” hardik Sogol.

“Aku bekerja. Aku mencari hidup.”

“Kau mencari mati,” dengus Sogol.

Lantas ia menyergap Parman. Tak menduga dengan apa yang terjadi, Parman tak sempat membela diri. Gerak refleknya terlalu lambat. Tangannya telat menangkis. Tahu-tahu Sogol telah berada begitu dekat dengannya hingga ia bisa merasakan panas napas Sogol di kulit wajahnya.

Tangan Parman menggantung lemah di udara ketika Sogol menarik tangannya sendiri. Parman merasa dadanya basah. Darah merembes. Lalu panas. Dadanya pecah. Sogol berdiri dengan kepalan berlumur darah, melangkah mundur tenang sekali.

“Tak ada tanah di Sumur Gemuling yang layak untuk diinjak seorang pengkhianat,” desis Sogol.

***

TUMPI menghabiskan banyak harinya untuk mengelus-elus leher jago Tulak Songgo Bumi atau menyiram akar besar randu Akar Bandoro. Dengan itu, ia merasa telah berbagi hidup, atau setidaknya, menjaga hidup Sogol. Sogol yang asli melarangnya ikut dalam petualangan-petualangannya untuk menculik dan menyembelih orang-orang Belanda.

Baca juga  Membincang Nasib

“Terlalu bahaya untukmu,” kata Sogol.

Namun bahaya itu datang juga kepada Tumpi. Karman datang pada suatu pagi, empat hari setelah kematian Parman, dan meminta Tumpi menyerahkan ayam jago Tulak Songgo Bumi.

“Apa yang akan kau lakukan dengan ayam jago ini?” tanya Tumpi.

“Sogol berbuat dosa. Ia membunuh Parman, saudaranya sendiri. Maka ia harus dihukum,” terang Karman.

“Apa maksudmu dihukum?”

“Nyawa dibayar nyawa,” ujar Karman.

“Maka aku tidak bisa menuruti permintaanmu,” kata Tumpi.

“Kalau begitu aku tidak bertanggung jawab atas apa yang kemudian terjadi.”

***

SOGOL merasa dadanya sesak. Ia batuk-batuk kering dan panjang. Keringat dingin terbit di sekujur badannya. Ia tahu ada yang salah. Maka ia memutuskan pulang menjenguk ayam jago Tulak Songgo Bumi dan randu Akar Bandoro. Di sana, ia menemukan jasad Tumpi yang menggelembung, Tulak Songgo Bumi yang sudah terpisah antara kepala dan badan, serta randu Akar Bandoro yang rebah ke bumi.

“Karman,” ia mendesis. “Tak ada lagi yang mungkin melakukan ini selain Karman.”

Sogol pergi mencari Karman. Namun di tengah jalan, ia berjumpa patroli tentara Hindia Belanda yang segera menghujaninya dengan tembakan. Kemarahan menguasainya. Dan itu membuatnya ceroboh. Alih-alih menghindar, Sogol justru merangsek maju, menjadikan tubuhnya sasaran empuk tembakan. Sogol ambruk ke bumi dengan tubuh rusak seperti keranjang rumput anyaman bambu. Para serdadu melanjutkan mengosongkan ruang peluru dalam senapan di atas tubuhnya, menjadikan jasad rusak itu kian berantakan.

***

SOGOL dimakamkan di bumi Sumur Gemuling yang ia cintai. Orang-orang datang menabur bunga tujuh rupa di atas gundukan makamnya. Pada hari ketiga, gundukan tanah itu berderak, lantas tangan Sogol teracung, menguak tanah basah tersebut.

Sogol muncul dengan kafan robek dan kotor. Sisa-sisa gumpalan tanah yang masih menempel jatuh ketika ia mulai berdiri dan mencoba berjalan dengan susah payah. Ia kemudian melepaskan kafan itu. Telanjang bulat, ia pergi mencari baju di jemuran orang.

Baca juga  Marmer Cake Pesanan

Sore harinya, ia menemui Karman yang melihatnya dengan takjub.

“Yang kau tidak tahu adalah,” kata Sogol, “bagian terbesar hidupku ada di bumi Sumur Gemuling. Karena itu, kau tak akan pernah bisa menghabisiku.”

***

AWALNYA hanya seperti rumor. Ada orang yang melihat makam Sogol rusak dan tak ada jasad di dalamnya. Lantas orang-orang berkata Karman mati dengan leher hampir putus. Kemudian orang-orang berkata: tak diragukan lagi, Sogol kembali hidup.

Rumor itu terus beredar. Lalu pada suatu hari, Sogol menampakkan diri di depan mereka. Ia mengepalkan tangan dan berseru: lebih baik mati sebagai orang merdeka ketimbang hidup sebagai orang jajahan.

Ia berjalan dengan tegap, menuju tangsi tentara Hindia Belanda. Di belakangnya, orang-orang yang takjub mengikutinya. Mereka membawa pacul, mereka membawa sabit, mereka membawa pikulan, mereka membawa hati yang bulat. Persis seperti teriak prajurit Sadeng ketika menyambut gelombang serangan dari Majapahit tak kurang dari setengah alaf sebelumnya.***

Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain: Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur serta Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia (2019). Buku terbarunya, Cara Kerja Ingatan, merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi (2019). Ia juga menerima Anugerah Sabda Budaya dari Universitas Brawijaya (2019). Saat ini tinggal di Yogyakarta.

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: