Cerpen, Eko Triono, Jawa Pos

Perhatikan Paragraf Terakhir

4.9
(13)

“Istrinya Dimas mengajukan peraturan yang lucu. Ia menyodorkannya tepat setelah prosesi malam pertama berakhir.

“MALAMNYA yang usai tentu saja karena sudah terdengar azan Subuh dan mesti mandi wajib, sementara di luar cuaca dingin berkabut pada Kamis, 30 Desember, dan jam dinding menunjuk pukul empat lebih dua puluh menit. ‘Cinta dan bercinta, keduanya ingatan yang pendek, Sayang,’ kata Dimas menggombal kepada istrinya, lalu ia memeriksa pemberitahuan ucapan selamat menempuh hidup baru di medsos dan sesaat kemudian berkata, ‘yang panjang adalah kenangannya, adalah keinginan mengulang-ulang rasanya.’ Itu benar, tapi catatan ini juga panjang, istrinya senyum memberikan gulungan kertas putih dalam ikatan pita merah. Ketika membuka tiap lembar dari lima halaman kuarto, hasil ketikan komputer, spasi ganda, ukuran huruf dua belas poin, dengan margin standar, dan berisi enam belas pasal rumah tangga, Dimas berkali-kali tertawa terbahak-bahak pada pasal yang menurutnya lucu sekali hingga membuat istrinya sah-suh, meminta diam, takut dikira ada macam-macam sama ibu mertua dan saudara yang kelelahan menerima tamu kemarin.”

Saya mengacungkan tangan, mentor melihat, lalu ia mendekat membaca paragraf pembuka tersebut sambil berdiri di samping meja.

Ia berkata bahwa sebagai paragraf pembuka, mestinya saya menunjukkan kejadian sehingga mengikat pembaca, bukannya menceritakan. Tunjukkan saja, misalnya pasal apa saja. Tapi, kata saya, itu lima halaman spasi ganda dengan enam belas pasal. Apa tidak memakan ruang cerita pendek ini? Dia menjawab, kalau begitu pilih yang bikin Dimas terbahak-bahak, sebenarnya itu pasal tentang apa. Vulgar tidak apa-apa? Tanya saya. Ia berubah serius, lalu berkata, kalau ini mau dikirim ke media, usahakan yang tidak vulgar, jangan sampai kena pasal lain dan tidak dimuat. Begini saja, katanya, kamu ingin menulis dengan gaya apa?

Seperti materi hari ini, jawab saya, realisme-magis.

Kalau begitu, kata mentor, munculkan ini sejak paragraf awal. Ia menaikkan volume bicara agar terdengar seluruh peserta kelas penulisan kreatif, yang terdiri atas lima belas orang. Ia bilang perhatikan kembali sumbu x dan y serta relasi level realitas terhadap realitas itu sendiri. Ia berjalan ke papan tulis putih di depan, menghadap peserta kursus di meja bundar. Perhatikan baik-baik, kata mentor berambut gondrong dengan ujung memutih, berkacamata hitam dengan tali menjuntai di kedua sisi, dan selalu memakai baju hitam seperti pendekar berkabung pada gelanggang kehidupan yang kelahiran manusianya ditangisi dan kematiannya justru disyukuri, perhatikan sebentar, abaikan menulisnya dulu. Lihat, lanjutnya, terapkan ini. Bukan hanya soal aneh-aneh atau hantu-hantu. Harus tahu persis apa itu magis, apa itu keajaiban, apa itu mitologi dan legenda, dan apa itu hal fantastis. Perhatikan sumbu pergerakan realitas pada sumbu x ini, katanya, dan jangan terfokus pada paragraf pertama, ingat paragraf akhir juga sangat penting, sekarang lanjutkan menulisnya. Oke kalau harus menunjukkannya langsung, kata saya. Kemudian, saya menulis ulang paragraf pembuka.

Baca juga  Wasiat Bu Kompyang

“Ia membangun kamar mandi tambahan di depan rumah baru setelah pindahan dari mertua, lengkap dengan pancuran air, landasan batu-batu kerikil, dan tempelan peraturan penjelasan pasal nomor sembilan. Ia meminta suaminya cuci kaki, lantas mandi bersih sebelum masuk rumah seperti orang zaman dulu setelah pergi dari tempat tertentu. Tapi, kata suaminya saat peraturan dibacakan, aku bukan dari kuburan, bukan dari tempat angker, bukan dari rumah sakit, bukan dari tempat yang ada penyakit; aku dari kantor, kantor kampus yang bersih, memiliki tukang sapu, tukang pel, tukang cuci piring, tukang buat teh, dan jadwal senam Jumat sehat, aturan Kamis bahagia, dan anjuran Rabu ceria. Apa jawaban istrinya? Jawabnya, sesungguhnya, Sayang, kantor bisa menjadi kuburan, tempat angker, rumah sakit, dan pembawa penyakit ke dalam rumah. Kamu bisa tiba-tiba seperti orang mati tidur panjang tak peduli istri saat pulang sehabis lembur kerjaan menumpuk, kata istrinya, kamu bisa tiba-tiba kerasukan iblis paling pemarah dan memaki-maki istri yang tidak bersalah saat masalah di kantor dibawa-bawa pelampiasannya ke dalam rumah, dan kamu bisa tiba-tiba pulang ke rumah dalam keadaan sakit akibat pergaulan buruk di kantor, dan pikirkan, ke mana kamu akan pulang kalau bukan ke rumah?”

Saya mengacungkan tangan, mentor melihat, tapi memberi isyarat tunggu. Ia sedang memeriksa tulisan peserta lain.

Ketika ia sudah berdiri di samping meja dan membaca, ia berkata, repetisinya sudah baik, tapi mana realisme-magisnya? Serta terasa kurang langsung, masih seperti rubrik tanya jawab kesehatan keluarga. Oke, kata saya, dan mulai menulis lagi, menggantinya dengan seperti ini.

“Ia membeli lemari besi, dengan empat laci, dan empat kunci rahasia. Ia meletakkannya di beranda. Setelah suaminya mandi di kamar mandi baru di depan rumah, yang membuat tetangga dan orang lewat mengernyitkan dahi, ia meminta suaminya memasukkan hal-hal berikut ke dalam lemari besi; di laci paling bawah berkas dokumen dari kantor, laci atasnya pemikiran dan hasrat naik jabatan di kantor, laci atasnya lagi kedudukan dan gelar di kantor, dan laci paling atas adalah laptop, telepon genggam, tas, dan alat tulis kantor. ‘Dengan cara seperti ini,’ kata istrinya, ‘kamu pulang sebagai suamiku, bukan sebagai dosen, penyair, atau seksi sertifikat dan bagian konsumsi seminar literasi.’ Malam harinya, lemari besi itu berisik oleh jeritan dramatis telepon genggam, dan suaminya merasa harus segera mengangkat dan mencongkel lemari yang disegel kunci rahasia, ia merasa harus segera merespons, jangan-jangan itu dari dekan, atau bahkan rektor. Ia merasa harus mengerjakan sesuatu, takut besok dimarahi, takut terlambat bertindak, takut dipecat. Ia berteriak-teriak, sementara istrinya sudah mengikat kaki dan tangannya ke kursi dengan tali tambang yang dipersiapkan, menutup mulutnya dengan lakban hitam, menyajikan mendoan hangat dengan cabai hijau istimewa. ‘Kebiasaan buruk masa mudamu bisa menjadi candu. Kamu dibayar dari jam delapan pagi hingga empat sore dengan lima hari kerja, Sayang, bukan dibayar untuk pekerja sepanjang waktu dan seumur hidupmu sampai pensiun atau kematian datang. Di luar jam kerja itu, bekerjalah sepenuh waktu bagiku, sebagai suamiku yang bahagia sepenuhnya. Nikmati makanan hangat, jalan-jalan, bercinta, dan mengulang-ulangnya lagi bagi ingatan kita yang pendek. Apa itu pekerjaan yang berat bagimu sekarang?’”

Baca juga  Qiu Shui Yi

Saya mengacungkan tangan, tapi mentor tidak ada di depan sana. Punggung saya ditepuk dari belakang. Ia berkata tidak perlu angkat tangan. Ia ada di belakang saya dari tadi, melihat saya menulis. Saya tersenyum.

Begini? Tanya saya. Mentor menjawab bahwa itu terlalu panjang sebagai paragraf, sudut pandangnya berat ke tokoh perempuan, dan belum ada realisme-magisnya. Dan, lanjutnya, unsur lokalitas. Kalau mau diterima, unsur lokalitas sedang penting-pentingnya buat ada di dalam cerita pendek, tentu agar mudah dimuat, memberi pembaca wawasan daerah lain, kalau perlu masukkan bahasa daerah yang sulit dan rumit, nanti gampang dibuat catatan kakinya. Oke, kata saya, akan saya coba lagi dan tunggu sebentar, jangan pergi, bagaimana kalau saya menulisnya seperti ini.

“Sebelum membeli lemari besi, sebelum membuat kamar mandi di halaman rumah, sebelum mengajukan aturan rumah tangga sebanyak lima halaman kuarto spasi ganda, sebelum prosesi malam pertama, mereka menikah pada Rabu yang cerah, dengan kelembapan udara tinggi, angin bertiup dari arah selatan, tamu banyak yang datang, tetangga melingkar ramai menonton hiburan di tepi tayup hajatan, dan di atas pasir hitam basah akibat hujan semalam ada empat pemain kuda lumping dibiarkan tidak disembuhkan dari kesurupan. Mereka berdiri kaku dengan mata melotot dan tangan menegang mengepal selama tiga jam penelitian ilmiah.”

Kalau begini bagaimana? Tanya saya. Kuda lumping? Tanya mentor. Unsur lokalitas di lingkungan sosial tempat Dimas dan istrinya tinggal, jawab saya. O, ya, ya, realisme-magisnya? Tanya mentor. Ada, jawab saya, akan saya letakkan di paragraf berikutnya ditulis seperti ini.

“Sebagai dosen dan penyair, Dimas memiliki dorongan kuat untuk meneliti manusia, bahkan di saat harusnya ia duduk manis wangi dan wajahnya penuh bedak, menerima jabat tangan di pelaminan. Empat kuda lumping yang sudah kesurupan dengan iringan gamelan dan taburan bunga mawar gaib ia ambil alih. Ia meminta iringan musik gamelan dihentikan. Orang-orang merasa itu tidak wajar, tapi karena yang punya hajat yang membayar, mau bagaimana lagi. Ia lalu terbukti secara sah dan meyakinkan di muka umum telah melakukan percobaan yang belum pernah dilakukan oleh orang lain sebelumnya. Ia pertama-tama mengganti iringan musik gamelan dengan rekaman musik rock. Hasilnya, empat pemain kesurupan itu masih menari atraktif, namun gerakannya memang lebih kacau dan agak serampangan; mengibas-ngibaskan kepala sehingga mahkota kesatria berkuda di kepala mereka jatuh ke tanah pasir basah. Barangkali musik ini belum akrab di dunia gaib. Kedua, ia menggantinya dengan slow-rock, dan mereka nyata menari lebih pelan memang. Saat ia menggantinya dengan musik dangdut, tariannya berubah menjadi syahdu dan didominasi goyang pinggul, langkah-langkah kecil, dan jari-jemari mekar kuncup-mekar kuncup nikmat sekali. Keajaiban terjadi saat musik yang dimainkan, dari rekaman disalurkan ke pengeras suara, berganti dengan musik jazz, rebana, reggae, dan instrumental piano Chopin.”

Baca juga  Senja di Pelabuhan Kecil

Seperti ini? Tanya saya. Boleh, kata mentor, bagaimana itu pola tarian mereka akhirnya? Nanti akan saya jelaskan di bagian paragraf akhir, kata saya, karena itu paragraf yang penting juga. Saya selesaikan dulu bagian awalnya. Oke, kata mentor penulisan kreatif, saya tunggu. (*)

Xi’an, 11 Desember 2020

EKO TRIONO. Lahir di Cilacap, 1989. Menulis kumpulan cerpen Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-Pohon? (2016) dan Republik Rakyat Lucu (2018) serta novel Para Penjahat dan Kesunyiannya Masing-Masing (2018). Kini bermukim di Xi’an, Tiongkok.

Average rating 4.9 / 5. Vote count: 13

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: