Benny Arnas, Ruangsastra.Com, Spasi

Bermain Bumerang

Sumber: Facebook Issam Nassar (International Women’s Day by Mostafa Heravi, Iranian Artist)

4.9
(9)

Seorang pembual jemawa oleh gemuruh tepuk tangan. Padahal, itu kode agar ia lekas turun dari panggungnya.

***

Suatu hari saya menyimak cerita tentang perikehidupan imbisil yang mengenaskan dari seorang teman.

“Apa judulnya?” tanya saya.

“Imbisil Bermain Bumerang,” katanya meyakinkan. Lalu mulai bercerita dengan tempo yang mengentak-entak, sebagaimana berikut.

***

Hari-hari seorang imbisil adalah benang kusut yang selalu gagal ia temukan ujung dan pangkalnya. Tiap ia mendengar kabar gembira menghinggapi orang-orang di luar lingkarannya, petasan meletus dalam kepalanya. Kalau sudah begitu, hari-harinya menjelma benang kusut yang tersangkut di ranting kecil yang bercabang ke mana-mana. Makin menyusahkan, mustahil diselamatkan. Satu-satunya cara—dan nalurinya melakukannya serta-merta: membakar benang, ranting, dan apa saja dengan api yang mengerubungi kepalanya.

Tapi itu tak lama. Kalau kabar gembira dari luar menyambanginya lagi, hawa panas mengaliri aliran darah. Dadanya dipenuhi gelegak dendam meski tak ada satu orang pun yang menyakitinya. Kalau sudah begini, perasaannya adalah bakaran ban yang membubungkan asap gelap nan mengerikan. Jarak antardegup jantungnya makin rapat. Bahunya turun-naik. Matanya adalah belukar. Pikirannya adalah hutan rimba.

Tetangga punya mobil baru, ia tuduh hasil korupsi. Orang lain berprestasi, ia cibir sebagai keberuntungan. Ada yang mendapatkan sponsor, disebutnya karena koneksi. Tiap ada yang dekat dengan atasan, disebutnya menjilat. Ketika berada dalam satu perhelatan, semaksimal mungkin ia manfaatkan untuk menjatuhkan. Kepada awam, ia ketengahkan analisis dangkal terhadap urusan-urusan yang sejatinya hanya ia ketahui sedikit-sedikit. Orang-orang yang menghargai, mendengarkannya sebentar. Orang-orang yang tak punya waktu, meninggalkannya. Orang-orang yang hafal perangainya tapi tak bisa berbuat apa-apa, akan membiarkannya pelan-pelan dibunuh keimbisilannya sendiri.

Baca juga  Di Ruang Tamu, Hanya Aku dan Van Houtten

Ya, para imbisil tidak dilahirkan kekosongan. Mereka adalah orang-orang gagal tapi tidak mau bangkit berkali-kali, yang enggan meningkatkan kapasitas diri tapi tetap ingin berada di antara orang-orang yang produktif, atau pemalas yang gemar merutuk, bermuka banyak, dan berkoar di waktu bersamaan.

Para imbisil adalah matahari yang redup. Sementara orang-orang terus bergerak, mengorbit, membaca, dan berkarya, api di dalam dirinya bergeliat makin buas, memakan segalanya. Ia selalu merasa ocehannya diperhatikan … padahal tak seorang pun menganggapnya sebagai sesuatu. Dibilang pengusaha, tidak ada perusahaannya. Dibilang penulis, tak ada bukunya. Dibilang pelukis, tak ada lukisannya. Dibilang penari, tak ada karya tarinya. Dibilang pemusik, tak bisa baca partitur. Dibilang kritikus, tidak ada dokumentasi kritiknya. Dibilang …. Ah.

Seharusnya, ia mendengarkan hati kecilnya yang selalu mengingatkan: “Sudah, hidup hanya sebentar, lapang dadalah. Adillah sejak dalam pikiran. Sudah begitu banyak hikayat dan peristiwa yang menunjukkan bagaimana kedengkian membunuh banyak orang secara mengenaskan. Kalau kau merasa ada yang tak sepatutnya, tabayun. Kalau ada yang salah, tegur dengan adab. Kamu terlalu gemar menciptakan arena perang di dalam angan-angan yang isinya adalah kamu dan orang yang tak pernah menghitungmu. Kamu asyik berhalusinasi, sementara orang-orang terus membaca dan berkarya!”

Tak ada kelanjutan.

Hening.

Saya masih menunggu.

“Benn!”

Saya terkesiap. “Eh sudah selesai?”

Dia tertawa. “Imbisil lahir dari kebanggaan pada ketidaktahuan. Apabila terus dipelihara, ia akan menjadi psikosis yang skizofrenik. Sibuk mencipta kompetisi semu dalam angan-angan. Sebab hanya itu cara bergembira baginya.”

“Apakah seorang imbisil memang tidak membaca buku?” saya merasa perlu memastikan.

“Sebagian besar tidak akan mengakuinya,” katanya dengan tersenyum. “Sebagaimana medioker, mereka membaca, tapi sedikit-sedikit.”

Baca juga  Bulan Celurit Api

“Kenapa?”

“Karena, bagi mereka, percuma membaca banyak buku kalau malah membuat pikiran jadi picik,” lalu ia tertawa.

Tentu saja saya ikutan ngakak. Saya ngakak sampai mau menangis. Hanya imbisillah yang bisa memproduksi kalimat dangkal dan serampangan itu. Tidak suka membaca kok berani-beraninya mengukur isi kepala orang-orang yang senantiasa berurusan dengan ilmu pengetahuan; Ngeja aja belum betul, mau nguji ujian skripsi!

Kini, saya tahu, seorang imbisil bukan hanya tong kosong cempreng bunyinya, tapi juga selalu kesulitan mencari waktu untuk bercermin … di rumahnya.

Lubuklinggau, 16 Maret 2021

BENNY ARNAS menulis 25 buku. Novel terbarunya Ethile! Ethile! (Diva Press, 2021). Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas. Baru saja meluncurkan kelas menulis novel secara daring.

Average rating 4.9 / 5. Vote count: 9

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: