Cerpen, Pikiran Rakyat, Wida Waridah

Sehari Sebelum Pernikahanmu

4.7
(12)

AKU tak tahu, sejak kapan aku mulai menyukaimu. Menyukai segala hal tentangmu. Apalagi saat dirimu memainkan gitar, menyanyikan sebuah lagu. Lagu favoritku. Sungguh, aku tak benar-benar percaya, saat kamu mengatakan bahwa, mungkin saja, aku mencintaimu. Tidak. Aku tak ingin begitu saja percaya bahwa aku mencintaimu.

AKU memang menyukaimu. Menyukai segala hal tentangmu. Tapi bukan berarti dengan mudah aku jatuh cinta padamu. Sungguh, hal yang paling tidak mau aku lakukan adalah mencintai laki-laki sepertimu.

Bukan karena kamu adalah laki-laki yang tak baik, sehingga aku tak mau mencintaimu. Bukan. Justru kamu adalah laki-laki paling baik yang aku kenal. Namun sungguh, mencintai laki-laki sepertimu, mungkin hanya akan membawaku pada satu sisi kehidupan paling buruk.

Aku mungkin akan merasa, hidupku sudah selesai. Tak ada lagi perjuangan. Tak ada lagi mimpi-mimpi besar. Tak ada keinginan dan harapan yang harus kuwujudkan. Dirimu terlalu sempurna untukku. Dan aku tak ingin hidup bersama seseorang yang begitu sempurna.

Aku membutuhkan laki-laki yang dengannya aku bisa berjuang bersama, merebut mimpi bersama. Membangun cita-cita berdua. Aku ingin laki-laki yang penuh dengan segala persoalan yang membuatnya harus berpikir seratus kali untuk memilih apakah membeli sepatu baru atau mengganti onderdil kendaraan.

“Sebentar lagi, kamu akan menyadari, kalau kamu bukan saja hanya sekadar menyukaiku. Tapi juga mencintaiku!” Selalu kamu katakan hal yang sama saat kita sedang berdua. Aku menyeruput kopi hitam, sedangkan kamu, lebih memilih minum teh. Asap rokok kita menyatu di udara. Satu hal yang mampu membuat kita duduk berlama-lama, tanpa harus melakukan apa pun.

“Sudah kukatakan berkali-kali. Aku tak mencintaimu. Aku ingin mencintai laki-laki lain. Laki-laki yang membuatku merasa harus berjuang untuk mendapatkannya. Sedangkan denganmu, aku tak melakukan perjuangan apa pun. Dirimu ada di hadapanku, dan selalu siap kapan pun aku katakan Ya. Kamu terlalu mudah. Aku ingin tantangan. Bukankah hidup harus penuh tantangan? Hehehe ….”

Baca juga  Dua Kisah Unik yang Tak Berhubungan

Selalu kujawab dengan kata-kata yang sama. Aku berharap dengan kata-kataku itu, kamu tak berpikiran bahwa aku akan menerimamu sebagai kekasih begitu saja. Aku tak mencintaimu. Dan kamu tahu itu. Aku harap kamu tidak ngotot.

“Hidup senantiasa memberikan kita banyak kejutan. Aku selalu menanti kejutan itu tiba.” Lalu kamu akan berlalu dari hadapanku dengan tatapanmu yang itu. Tatapan yang selalu membuatku merasa bersalah.

Bagaimana aku tidak merasa bersalah, jika semua yang kamu katakan selalu aku bantah. Aku menyukaimu. Kurasa itu sudah lebih dari cukup. Mencintai? Sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas dalam pikiranku.

Mencintai seseorang yang selalu ada di sampingmu, selalu mendukungmu, selalu membuatmu merasa bahwa hidup begitu sempurna. Itu terlalu biasa menurutku.

Aku mendengar cerita teman-temanku, untuk bisa mencintai, mereka mengorbankan apa saja yang mereka miliki. Mereka berjuang, jatuh bangun, patah hati berkali-kali, untuk bisa menemukan seseorang yang benar-benar mereka cintai dan mencintai mereka sepenuh hati. Lalu bagaimana aku harus menjelaskan kepadamu bahwa aku tak merasakan semua itu?

Beberapa temanku yang lain bercerita bahwa mencintai itu penuh debar. Kamu akan selalu merasa serbasalah, kikuk, jantungmu berdetak lebih kencang, dadamu penuh debar, dan tubuhmu merasakan seperti adanya sengatan listrik. Bagaimana bisa aku merasakan semua hal itu saat bersamamu?

Sebaliknya, bersamamu aku hanya merasakan senang. Tak ada debar, tak ada serba salah, tak ada kikuk, tak ada sengatan listrik. Bersamamu aku merasakan perasaan paling aman, nyaman, dan bahagia.

Aku memang menyukaimu. Itu sudah jelas. Tapi mencintai? Sekali lagi, kamu harus berpikir dua kali untuk mengira kalau aku jatuh cinta kepadamu.

“Hidup senatiasa memberikan kita banyak kejutan. Ini untukmu. Aku tak tahu apakah aku harus bahagia atau berduka. Tapi kurasa, ini mungkin takdir. Kamu tak mencintaiku. Maka aku lebih memilih orang yang mencintaiku. Kamu tak perlu datang jika itu membuatmu tak nyaman.” Selembar undangan pernikahan kamu berikan untukku.

Baca juga  Romansa Merah Jambu

Undangan pernikahan dengan sampul berwarna merah muda. Sebuah gambar hati berhias pita berwarna merah marun tercetak dengan indah. Tertulis namamu di sana. Bersanding dengan sebuah nama perempuan.

Kubayangkan perempuan itu memiliki kulit seputih susu, wajah yang imut, dan berambut panjang, hitam, ujung rambutnya ikal, persis seperti yang sering kamu ceritakan. Bahwa kamu mendambakan perempuan dengan rambut ikal di ujungnya.

Kenapa kamu berpikir bahwa aku akan merasa tak nyaman untuk datang ke pernikahanmu? Aku tentu saja akan datang. Bagaimana bisa aku melewatkan pernikahan seseorang yang selama ini telah banyak menghiburku. Membuatku tertawa bahkan di saat paling sedih sekalipun. Membuatku merasa bahwa aku akan baik-baik saja di saat paling sulit sekalipun. Aku akan datang tentu saja.

Aku akan datang jika saja seorang temanmu tidak menjumpaiku. Dia sahabatmu. Tatapannya tajam, penuh penghakiman. Aku merasa dia akan membunuhku saat pertama kali kami bertemu. Dia melarangku untuk datang ke pernikahanmu. Bagaimana bisa?

“Kamu itu menjadi perempuan kok tidak peka. Bertahun-tahun dia memendam perasaannya. Bertahun-tahun dia mencintaimu. Bertahun-tahun dia berada di sisimu. Mendukungmu. Mendukung mimpi-mimpimu untuk menjadi penulis besar.

Itu bukan karena dia hanya ingin menjadi temanmu. Dia ingin menjadi kekasihmu. Ingin menjadi suamimu kelak. Kenapa kamu tidak juga mengerti? Kenapa kamu terus bersikap seolah-olah dia hanya teman? Sekarang dia akan menikah.

Kedua orangtuanya memohon-mohon agar dia menikah, punya anak, dan hidup bahagia. Sudah berkali-kali dia mengelak. Tapi sampai kapan? Sampai kamu sadar? Itu rasanya hal yang mustahil. Maka dari itu, dia menerima dijodohkan. Jadi, kuharap kamu tidak datang ke pernikahannya. Aku takut dia berubah pikiran setelah melihatmu.”

Selepas kepergian sahabatmu itu aku seolah dikutuknya menjadi batu. Aku diam. Pikiranku buntu. Mataku terbuka tapi semua menjadi gelap. Aku ingin berdiri, namun tubuhku tak punya tenaga. Pikiran dan hatiku tak menentu. Bagaimana bisa? Bertahun-tahun aku menyangkal bahwa aku mencintaimu.

Baca juga  Gurat Kulawu

Bertahun-tahun aku mengelak mengakui cinta kepadamu. Semua karena semata-mata kamu tak mengatakan apa-apa kepadaku. Kamu hanya mengatakan, bahwa aku mungkin mencintaimu, tanpa kamu mengatakan bahwa kamu mencintaiku. Bertahun-tahun aku hidup dalam penyangkalan agar aku bisa tetap menjadi temanmu. Agar kamu tidak berpaling dariku.

Bahkan saat kamu memberikan undangan pernikahanmu, aku berusaha terlihat bahagia di hadapanmu. Sekuat tenaga aku menyangkal bahwa aku mencintaimu. Betul, aku tak merasa kikuk, tak merasakan debar, tak juga merasakan sengatan listrik di tubuhku, namun itu hanyalah penyangkalanku semata. Sejatinya, cinta bisa tumbuh dalam situasi apa saja.

Cintaku tumbuh karena kamu selalu ada di sisiku. Namun aku terus menyangkalnya. Aku terus memberikan pembenaran-pembenaran ke dalam diriku, bahwa aku hanya menyukaimu. Bukan mencintaimu.

Besok adalah hari pernikahanmu. Aku tak ingin terus menyangkalnya. Aku akan datang kepadamu sekarang. Mengatakan apa yang seharusnya dulu kukatakan. Meski mungkin semuanya sudah terlambat. Namun, aku tak ingin terus hidup dalam penyangkalan. Aku ingin kamu tahu, aku pun mencintaimu.

Sekuat tenaga aku bangkit. Tujuanku sekarang adalah datang kepadamu. Semoga masih ada sisa tenaga untukku mengatakan semuanya. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. ***

Wida Waridah, lahir 29 Juni 1982. Ibu dengan tiga orang anak. Sesekali menulis puisi, cerpen, dan naskah drama. Sesekali bermain teater dan membaca puisi. Tulisannya berupa puisi dan cerpen tersebar di beberapa media massa, lokal dan nasional. Buku tunggalnya: Laila dan Laki-Laki Penghitung Gerimis (kumpulan cerpen, Ultimus, 2015) dan Risalah Mainan (kumpulan puisi, basabasi, 2019). Pengarang ini menetap di Kabupaten Ciamis.

Average rating 4.7 / 5. Vote count: 12

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: