Cerpen, Dody Widianto, Suara Merdeka

Biografi Ayam Betina

4.1
(7)

Dibanding yang lain, ia terlahir dengan tubuh paling imut-imut. Saat aku memberi pakan beras atau dedak, ia sering jadi incaran kemarahan saudaranya. Bulu di kepalanya ludes hingga batang leher. Rontok kena patokan paruh kakak-kakaknya. Kepalanya pelontos dan lucu. Kadang temboloknya kempis. Ia takut berebut makanan dengan lima saudaranya. Lebih memilih terdiam menahan lapar di pojok luar kandang. Membiarkanku memberi pakan tersendiri jauh dari saudaranya.

Ayam paling penakut itu kuberi nama Roy. Lalu kelima saudaranya kuberi nama Bima, Arjuna, Yudhistira, Nakula, dan Sadewa. Dia terlahir dari induk yang sama. Keluar dari telur dan lubang pantat yang sama. Entah kenapa ia mendapat perlakuan berbeda dari saudara-saudaranya. Dan Roy adalah nama anak laki-laki kecil malang dalam sinetron yang sering Emak tonton di salah satu stasiun televisi swasta. Nasibnya mirip sekali dengan tokoh itu. Ia juga tinggal dengan saudara tiri.

“Kenapa kauberi nama Roy. Dia perempuan satu-satunya.”

Emak tiba-tiba muncul dari balik punggungku.

“Tak apa, Mak. Besar nanti ia juga bisa memilih ganti kelamin apa. Artis-artis sekarang juga begitu. Lagipula induk ayam ini sudah kita makan saat aku sunatan. Emak Roy pasti tak tahu ayam ini mau memilih kelamin apa.”

“Sejak kapan kamu tahu artis bisa ganti kelamin? Itu dosa.”

“Sejak Emak sering nonton infotainment. Ayam ini tak tahu dosa kan?”

Emak mengerutkan alis. Geleng-geleng sambil ngeloyor pergi. Memendam kata “terserah” yang tak jadi keluar dari bibirnya. Merasa bersalah karena sering menonton tayangan yang menurutnya tidak baik untukku.

Aku mengeluarkan seluruh pakan bercampur nasi dari ketel dan memasukkan ke mangkuk. Lalu menyisakan segenggam untuk Roy. Aku tahu, ia takut berebut dengan saudaranya. Aku selalu memberinya pakan di tempat terpisah, sebelum memasukkan mereka semua ke kandang. Sebelum magrib datang.

Di belakang rumah, dua bulan lalu ayam babonku menetaskan sebelas anak ayam yang lucu-lucu. Hingga hari ini hanya enam ekor yang hidup. Lima tewas jadi santapan garangan hanya dalam jangka waktu seminggu. Rumah kami memang dikelilingi kebun kosong.

Beberapa hari setelah itu, demi keamanan, aku membuatkan rumah-rumahan ayam berukuran satu kali setengah meter setinggi semeter kurang di belakang rumah. Empat tiang penyangga utama dari batang bambu masih utuh. Pinggirannya dari bambu yang kubelah empat. Kususun rapi terpaku dan berjajar. Di pinggir agak paling bawah, ada lubang kecil sebagai pintu untuk tempat keluar-masuk ayam. Bawahnya aku tutupi irisan bambu yang kususun jarang-jarang agar kotoran ayam tidak tertahan dan mudah jatuh ke tanah. Untuk atap, aku gunakan sobekan seng pemberian tetangga.

Baca juga  Angpau Kwan Sing Bio

Bapak memang jarang di rumah. Aku belajar bagaimana membuat ayam-ayamku bisa cepat tumbuh besar dan tidur nyaman. Berkat ayam-ayam itu, aku masih bisa terus sekolah. Jika mereka sudah besar dan layak jual, bisa untuk membayar SPP jika Bapak tak kunjung pulang dari Surabaya tempatnya bekerja.

Untuk urusan tidur, aku biarkan Roy tidur satu kandang dengan saudara-saudaranya. Walaupun dia paling imut-imut, aku tak akan pernah membiarkannya tinggal di kandang sendiri mirip kamar VIP. Roy bukan tahanan korupsi. Biarkan dia satu kamar dengan yang lain.

Malam hari, saat akan tidur, dia tetap jadi incaran keusilan saudara-saudaranya. Sampai kadang terdengar bunyi kaok-kaok yang lantang. Aku tetap membiarkannya. Aku tak mau Roy yang baru berumur dua bulan menjelma ayam babon yang cantik, lalu lupa saudaranya. Dia tetaplah saudara dari kelima ayamku yang lain.

Belakangan aku jadi ingat Uwa Darni, kakak kandung Ibu yang paling kaya di kampung ini. Suaminya bekerja di pertambangan, Martapura. Dua anak gadisnya telah menjelma dewasa. Satu bersama suaminya di Aceh, satu lagi kuliah di Jogja. Namun ia tak pernah mau tahu kesusahan kami. Pagi tadi, Ibu datang baik-baik demi meminjam uang untuk biaya sekolahku. Kata pihak sekolah, aku tak boleh ikut ujian akhir jika masih menunggak SPP. Itu berarti aku tak akan pernah lagi bisa meneruskan ke SMP. Uwa Darni bilang suaminya belum transfer uang bulan ini. Padahal lengannya penuh gelang emas. Mungkin benar, harta tak pernah kenal saudara.

Ibu sebenarnya sungkan berutang. Namun demi aku, apa pun akan dia lakukan agar aku tetap bisa bersekolah. Ibu tahu kami bukan dari keluarga kaya. Dari cerita Ibu, Bapak hanyalah kuli panggul di gudang beras dinas perbekalan TNI AL Surabaya. Bapak dan Ibu bilang tak ada yang bisa mereka berikan untukku selain pendidikan yang layak. Demi masa depanku kelak.

Kami pulang dari Uwa Darni bukan mendapat uang, melainkan nasi kemarin yang agak basi dalam kantong plastik. Katanya itu bisa kugunakan sebagai campuran pakan ayam. Ibu tak memperlihatkan wajah marah atau kecewa. Sambil menggandeng tanganku menyusuri jalan, ia malah pulang dengan senang. Aku sedikit meradang. Menganggap ini penghinaan.

Baca juga  Aku Bukan Pembunuh Papa

“Nanti kau paham. Orang yang selalu berusaha menyambung silaturahmi akan selalu mendapat kebaikan. Rezeki tidak harus berupa uang. Besok pagi Emak akan datang ke sekolah.”

Aku tak paham maksud Emak. Bukankah kami sedang butuh uang tambahan, bukan nasi basi? Sambil terus berjalan pulang, ia malah terus memijit-mijit belakang kepalaku.

Emak selalu menyuruhku mandi setelah memasukkan ayam-ayam. Setengah jam lagi acara mengaji di langgar menjelang salat magrib. Aku anak laki-laki satu-satunya di rumah. Emak menginginkanku jadi anak yang tak sekadar paham agama, tetapi bisa menjalankan semua kewajiban. Bagi Emak, ilmu sekolah juga penting. Namun beliau bilang, ilmu agama segalanya.

Tiba-tiba Emak memberiku satu kantong berisi mangga kuweni dan sayur urap kembang turi dalam bungkusan plastik. Dua makanan dengan aroma menggoda.

“Sebelum sampai langgar, mampir dulu ke rumah Uwa Darni. Dia bilang ingin sekali makan mangga kuweni kita. Ada mangga harum manis yang masih mentah di dalamnya. Kemarin ia pesan begitu. Tubuhnya terlihat agak beda dari biasa, lebih berisi tapi pucat. Takut ia sakit. Jangan lupa, langsung berikan pada dia ya.”

Aku mengangguk. Agak jengkel. Nasi basi kemarin ditukar sayur kesukaanku. Namun demi membuat hati Emak senang, aku tak kuasa menolak permintaannya.

Tiga bulan berlalu, Roy menjelma babon cantik. Belakangan ia malah tak pernah berkumpul dengan saudara-saudaranya. Kata Emak, ia terpesona kegagahan ayam jago tetangga belakang rumah. Berdua saja ke mana pun mereka pergi. Lima saudaranya yang aku beri nama Pandawa juga sudah menjelma ayam jago gagah. Selalu berkokok, bersahut-sahutan pagi dan petang. Emak malah kadang memandangku aneh dengan nama mereka.

“Bukankah Pandawa itu baik? Kenapa saat kecil dulu mereka jahat pada Roy.”

“Aku tahu pemberian nama juga doa. Tapi sebuah nama bukan jaminan anaknya akan jadi baik kan, Mak? Anak Ustaz Damri itu pakai nama depan Arab dan nama belakang Eropa. Aku penasaran sampai buka Google demi mencari artinya. Eh, tak tahunya malah dia dipenjara karena narkoba.”

Emak geleng-geleng di sebelahku. Merasa kalah berdebat. Lalu memasukkan kayu-kayu yang terbakar ke dalam tungku. Sedang memasak nasi sebelum aku berangkat. Kali ini, Emak hanya memasak sayur jantung pisang dan tempe goreng. Itu lebih dari cukup.

Pulang sekolah, aku kaget melihat kerumunan di depan rumah Uwa Darni. Jalan ke sekolah persis di depan rumahnya. Aku melebur bersama orang-orang, melihat Uwa Darni menangis di depan teras. Lengannya dipegangi Uwa Seto, adik Uwa Darni. Wajah Pak RT terlihat merah padam. Terdengar beberapa bentakan. Aku tak paham ada apa. Kembali keluar dari kerumunan, lalu berlari dan terus berlari pulang. Ibu pasti tak tahu. Mudah-mudahan ia sudah pulang dari panen kacang hijau di sawah.

Baca juga  Tukang Obat Itu Mencuri Hikayatku

Malam itu Ibu menangis di dalam kamar. Ibu bilang bahagia karena Bapak di Surabaya diangkat pegawai negeri. Bapak mengirim kabar lewat pos. Dari kelurahan, surat penuh cinta itu diberikan spesial untuk Ibu. Di pangkuannya, Ibu menciumi kepalaku berulang-ulang. Namun tangis itu tak pernah berhenti.

“Ini berita sedih dan bahagia, tapi Ibu menangis bukan karena Bapak, Nak. Karena kakakku, Uwa Darni.”

Aku melihat wajahnya yang kuyu. Lalu berkata pelan padaku, Uwa Darni hamil empat bulan. Bagaimana mungkin ia bisa hamil, sedangkan suaminya tinggal di Martapura dan hampir setahun tidak pulang? Mendengar dari warga, Uwa Seto yang telah melakukan semua. Aku diam saja mendengar semua kisahnya hingga kantuk mengantarku tidur.

Pagi hari, saat ayam-ayam hendak kukeluarkan, aku tak sadar Roy sudah bertelur di pojokan kandang. Dua butir berwarna putih keabu-abuan tergeletak begitu saja di atas tanah. Emak menyuruhku mencari jerami, lalu membuatkan tempat pengeraman. Bulatan yang mengagumkanku. Rasa penasaranku muncul.

“Kira-kira telur ini anak siapa ya, Mak? Bulu Roy kuning merah. Dia selalu berdua saja dengan ayam jago tetangga belakang rumah yang putih polos. Aku penasaran nanti anak-anaknya punya bulu warna apa. Tapi kemarin aku melihat Bima menunggangi tubuhnya, memberinya telur. Bima kan saudaranya?”

Emak geleng-geleng menatapku, sedikit mengulum senyum.

“Dia binatang. Mana tahu Bima saudaranya atau bukan. Kamu lucu.”

Aku mengangguk-ngangguk sambil menempelkan telunjukku di ujung dagu. Terus memperhatikan dua butir telur itu. Lalu punya pikiran, besok Roy kupanggil Darni saja. (28)

Dody Widianto, lahir di Surabaya, bekerja dan menetap di Depok, Jawa Barat. Cerpennya tersebar dalam berbagai antologi dan media massa, seperti Medan Pos, Radar Bromo, Radar Madiun, Tanjungpinang Pos. Untuk berhubungan, silakan kunjungi akun IG: @pa_lurah.

Average rating 4.1 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: