Andre Septiawan, Cerpen, Haluan

Mullah Salman Membidah Haram Mie Instan

4.8
(6)

PENDUDUK Negeri Acakadut gaduh kalang-kabut, bukan sebab tak kebagian porsi uang tutup mulut, bukan sebab provokasi saweran maut yang sesat terlampau jauh ke lubang kentut si artis dangdut. Tapi, semalam ketika orang-orang khusyuk bermajelis organ tunggal di bawah mabuk nur rembulan, telah tersiar kabar bahwasanya Mullah Salman sang ulama favorit nomor wahid di akhir jaman telah membidah haram mie instan.

Bukan apa-apa, sejak pabrik mie instan luar negeri itu berdiri, penduduk Negeri Acakadut lebih menyukai gaya hidup cepat saji, apa-apa musti beli. Sejak hari itu juga, mie instan selalu masuk daftar menu-menu restoran berbintang, selalu terhidang di nampan-nampan katering hajatan kelahiran, sunat, nikah, dan kematian, serta tak pernah ketinggalan jadi bagian dalam bungkus parsel-parsel cantik di hari-hari raya keagamaan. Bahkan kini, mie instan jadi penyumbang devisa utama negara sejak pengiriman tenaga kerja wanita disetop negara tetangga dan sebab apa-apa sumber daya alam di Negeri Acakadut yang kaya raya tidak diimbangi kekayaan sumber daya manusianya. Serta belakangan, fluktuasi nilai tukar mata uang dan naik turun harga saham selalu berpatokan pada penjualan produk-produk mie instan. Di Negeri Acakadut, mie instan telah jadi lambang kemakmuran.

Itulah mengapa orang-orang sibuk bertanya-tanya alasan apa yang membikin Mullah Salman membidah haram mie instan. Tafsir dari kitab mana, karangan siapa, halaman berapa, kalimat gila bagaimana yang berani cari gara-gara? Mereka gagal paham, benarkah Tuhan yang berpengalaman dalam mengeluarkan sertifikat halal dan haram, mendadak tak lagi pandai membedakan lazis mie instan dan najis babi hutan? Namun mengapa baru sekarang? Ketika kemakmuran telah datang dan Negeri Acakadut tengah menuju gilang-gumilang jadi negara berkembang.

Dan pagi itu, orang-orang dari seluruh penjuru Negeri Acakadut bersepakat turun mengarungi jalan-jalan. Dengan niat besar, mereka beriringan serupa itik pulang petang sembari menerbitkan protes dan poster bertuliskan huruf kumal ‘Mie instan bukan kelompok barang haram, Mie instan adalah identitas nasional’. Beberapa bahkan datang mengibarkan panji-panji penuh ancaman, ‘Lebih baik memeluk janda ketimbang memeluk agama, berdosa bersama janda membawa kita ke surga, berdosa dalam agama menyeret kita ke neraka”. Sedang sisanya dalam kejenakaan buta yang dibarengi tingkat humor level dewa, meminta Tuhan menurunkan duet Imam Mahdi dan Nabi Isa sebagai gantinya.

Baca juga  Ia yang Menyimpan Api di Hatinya

“Turunkan Al-Masih Putra Maria! Turunkan Imam Mahdi segera!”

Dan siang itu, berduyun-duyun kediaman Mullah Salman mereka kepung, dengan amarah tak terbendung dan keberingasan minta ampun, tanpa tedeng aling-aling mereka segera mendakwa Mullah Salman sebagai ulama fasik lagi majnun. Dengan amarah yang memaharaja, mereka memaksanya sekeluarga meninggalkan rumah, menanggalkan segala pernak-pernik gelarnya sebagai Mullah, menggantinya dengan umpatan sumpah serapah dari jaman jahiliyah yang didendangkan dengan langgam khas para penganut tarekat dedemonstraniyyah.

“Salman Bedebah! Ooo Salman si anak jadah.”

Melihat kediamannya yang damai itu ramai diduduki demonstran, Mullah Salman yang sedikit tergeragap pun keluar menuju halaman, melempar senyum kemudian mengobral salam berharap mampu meredam amarah para demonstran yang telah demikian mendarah daging.

“Kudengar muazin memanggil-manggil, tersedu-sedu mendayu-dayu. Kulihat hadirat-hadirin banyak yang hadir, meminta fatwa kah? Bertabayun ilmu?”

Salah seorang demonstran yang tak pandai bersabar namun sangat lihai berkata kasar mengambil peran sebagai komandan, sebut saja Birin Miang si Rajo Angkang, memerintah Mullah Salman agar segera mengklarifikasi segala hal atas kegaduhan yang telah disebabkan lisannya yang sama sekali tak berperi-ke-mie-instan-an.

“Kalau tuan pakai celana, bukankah ikatnya mencubit kuat anak pinggang? Kalau lah tuan bijak adanya, kenapa pula gerangan tuan haramkan mie instan?”

Demi mendengar tuntutan para demonstran yang demikian, Mullah Salman hanya mampu mengaduk senyum dan menelan ludahnya yang kental, sungguh ucapannya di tausiah malam minggu itu telah salah kaprah. Ia coba buka pengananya lebar-lebar, sebelum memfatwakan sebuah jawaban dari mulutnya yang sakral.

“Sungguh kabar yang sampai pada tuan-puan datangnya sepenggal-sepenggal. Ibarat layanan pesan singkat telepon genggam, ada pesan yang disesatkan sinyal-sinyal, ada yang tersangkut di tiang-tiang pemancar, atau barangkali ada pesan yang salah kirim ke nomor orang asing secara serampangan. Saya bidah haram mie instan, benar, namun hanya jikalau tuan-puan menyeduhnya dengan sebotol khamar berlauk zakar babi hutan yang ditaburi kecap asin hasil curian serta suwiran daging ayam yang dipotong tanpa menyebut nama Tuhan.”

Baca juga  Mimpi Terlarang

Orang-orang terdiam sembari saling lempar pandangan. Beberapa berkicau-kicau di barisan belakang dengan raut wajah keheranan serupa beruk dikekang.

“Namun semua itu akan sungguh benar-benar haram, jikalau kamu-kamu sekalian maruk menandaskan mie instan sampai kenyang sedang jiranmu menjarang batu gosong di api tungku, mengikat perutnya yang kosong dengan batu. Sungguh nikmatnya makanan hanya sampai kerongkongan, sungguh hanya sampai kerongkongan,” lanjut Mullah Salman kemudian dengan isak tertahan.

Demi merdengar jawaban Mullah Salman yang satir itu, kaki orang-orang kaku bagai digada martil palu, mulut mereka gagu, bibir terasa dicubit rasa malu.

Benar, sejak mie instan membawa kemakmuran ke Negeri Acakadut dan jadi primadona, banyak orang-orang kaya mendadak tinggi-tinggi pagar rumahnya, banyak orang tua yang lupa anak-anaknya sudah kelas berapa serta banyak silaturahmi yang mentok di salam dan sapa, sedang kesulitan tetangga, mereka sama berpicing mata. Belum lagi perkara ibadah, mie instan seolah-olah turut mensponsori Tuhan dalam berbagai macam kegiatan keagamaan. Tuhan dan mie instan selalu terpampang bergandengan, dua lema ini telah jadi sinonim yang tak terpisahkan, bahkan dalam defenisi kamus sekalipun. Kalau bicara perkara ayat-ayat kitab suci, penduduk Negeri Acakadut selama ini lebih hapal bumbu-bumbu campuran mie instan ketimbang ajaran-ajaran yang diwahyukan langsung oleh Tuhan.

Itulah, orang-orang merasa tersadarkan akan keabaian mereka sejak bertahun-tahun silam. Mereka pun memutuskan pulang, tanpa seorang pun mampu lempar melempar pandang, konon jual-beli percakapan setelahnya. Mereka pun kompak meninggalkan kediaman Mullah Salman, meninggalkan sang Mullah dengan segala kebenarannya.

Dan malam itu, seluruh penduduk Negeri Acakadut membatalkan segala bentuk tradisi dangdut. Mereka bersekutu dan bersetuju mengadakan tahlilan yang disiarkan langsung televisi nasional yang rencananya akan berlangsung sampai masa yang belum ditentukan. Sebuah takziah demi mengenang hati mereka yang rawan sekali dirasuki berita penuh kebohongan, jin-jin penggagas kelalaian, dan perut yang tidak berperi-kelaparan.

Baca juga  Belajar Mendandani Kebahagiaan

ANDRE SEPTIAWAN. Lahir di Pariaman, Sumbar, 1995. Lulusan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Peserta Emerging Writers di gelaran Ubud Writer and Reader Festival 2018. Buku-bukunya yang telah terbit berjudul Suara Murai dan Puisi-Puisi lainnya (2018) dan Kalau Begitu Kita Juduli Saja Prosa Ini Omelan (2020). Buku puisinya masuk daftar panjang Kusala Sastra Khatulistiwa kategori puisi tahun 2019. Saat ini masih terus menulis puisi dan cerita pendek. Bermukim di kota asalnya, Pariaman.

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: