Anggi Gayatri Purba, Cerpen, Jawa Pos

Tali Darah Nenek dan Komodo

3
(6)

Konon katanya, Ata Modo adalah para keturunan Gerong, saudara kembar kadal raksasa yang lebih dikenal dengan sebutan Ora. Walau berbeda rupa, keduanya dilahirkan dari rahim yang sama, dari perut Putri Naga.

SEORANG putri dari bangsa jin yang menikah dengan manusia. Meski begitu, Ora tetap dirawat layaknya manusia, sampai suatu ketika selera makannya lama-lama berubah. Daging mentah beraroma darah terasa lebih menggugah lidah bercabangnya daripada mbutak yang melimpah ruah. Ia pun diasingkan dan hidup di dalam hutan.

Orang-orang tua yang tersebar di kawasan Pulau Rinca, Pulau Padar, dan Pulau Komodo sangat percaya bahwa hewan-hewan buas tersebut adalah saudara sedarah mereka. Itu sebabnya Ata Modo dan komodo bisa hidup berdampingan tanpa pernah jatuh korban jiwa. Namun, kepercayaan orang-orang kampung terhadap kebenaran legenda tersebut perlahan runtuh sejak ibuku diberitakan telah menjadi santapan makan siang hewan berdarah dingin itu.

***

Ibuku memang orang luar pulau, tak ada hubungan darah dengan kadal-kadal raksasa itu. Mungkin itu sebabnya Ora mengenalinya sebagai “mangsa”, bukannya saudara. Salah satu komodo buruk rupa itu telah mencabik-cabik daging ibu dan mencakar kedua bola mata nenek yang sedang berladang menanam bibit pohon gebang. Ia ditemukan telentang dengan mata terpejam di atas kasur darah, di antara pohon-pohon ubi. Sementara hanya potongan kain merah muda motif bunga-bunga yang tersisa untuk dibawa sebagai kenang-kenangan terakhir dari ibu. Ompu Dato yang mengatakan itu padaku. Lima tahun yang lalu. Jika ia tak patroli memantau penebangan pohon gebang dan melewati daerah kebun di kaki Gunung Ara, mungkin Nek Toma pun sudah ikut dicerna perut komodo.

Sejak saat itu Nek Toma tak pernah mau keluar rumah. Trauma menggerogoti tubuh rentanya dari hari ke hari. Tapi, meski sekarang kedua bola mata Nek Toma sudah tak mampu melihat lagi, indra pendengarannya sangatlah jernih seperti air sungai. Setiap kali telinganya menangkap suara pintu kayu yang terbuka, tapak kaki yang berjalan di atas pasir, ataupun benda-benda kecil yang jatuh diembus angin, perempuan berusia lebih dari setengah abad itu akan langsung meringkukkan badan. Jari-jari keriputnya bergetar dan dari ekor matanya menetes air hujan. Bibirnya pun akan merapalkan mantra yang selalu kuingat sejak lima tahun lalu. Ia pikir suara-suara itu adalah pertanda kedatangan komodo.

“Ayo makan, Nek,” bujukku. “Nenek ingat aroma ini?” tanyaku sembari mendekatkan ubi rebus yang baru matang ke depan wajahnya.

“Raut?” Bibir tandus Nenek Toma melengkung. Hidungnya kembang kempis mengendus-endus bau yang menggiurkan itu.

“Iya, Nek, dulu kita sering bawa pulang ubi dari ladang…”

Baca juga  Rumah

“Ladang… ubi…” Kening Nenek Toma semakin berkerut. Ia tampak tak terima disuguhi kenangan tentang ladang dan ubi sebagai camilan makan siang.

“Ya, saya sampai sering tertidur saking lamanya menanti ubi masak dari tungku,” celotehku lagi. “Tapi, sekarang Nenek tak usah khawatir lagi. Saya sudah pandai masak ubi. Ubi ini baru saja dipanen oleh Ompo Dato.”

“Moke mai! Moke waki ahu!”

Nenek Toma menjauh. Ia berdiri dan mendorongku hingga keningku mengecup lantai kayu. Tak sampai di situ, Nenek Toma mengambil apa pun yang ada di dekatnya dan melemparkannya padaku sambil berteriak-teriak dengan kata-kata yang sama.

“Moke mai! Moke waki ahu!” teriak Nenek Toma sembari tak berhenti memukuliku. Aku benar-benar tak tahan melihat nenek yang lama-lama seperti orang gila.

***

Nyanyian ayam jantan sudah lama terasa seperti suara ibu yang membangunkanku untuk pergi ke sekolah dulu. Aku menjadi sangat bergantung pada kokok ayam sebagai penanda bahwa sudah waktunya pergi melaut. Karena hanya tamat sekolah dasar, keterampilanku hanyalah menjaring ikan. Sebab, sejak peristiwa tragis yang menimpa ibu dan Nenek Toma lima tahun yang lalu, aku tak berani berladang. Bukan karena takut pada komodo, tapi takut akan menjadi gila karena kenangan buruk itu masih tumbuh subur di antara rerumputan liar di kebun yang tak terurus. Menjadi nelayan terasa lebih aman daripada bercocok tanam ditemani para binatang buas.

Saat memanggul jaring menuju perahu motor di Dermaga Loh Liang, Ompu Dato dan para tetua adat tampak sedang menyambut rombongan bapak-bapak berlencana yang terlihat berwibawa dengan kopiah di atas kepalanya. Biasanya di sini para turis berpakaian terbukalah yang datang untuk melihat reptil-reptil menjijikkan itu berkeliaran. Tapi, sekarang sepertinya tamu komodo datang dari kalangan kelas “atas”. Ompu Dato yang berpakaian adat songke menyalamkan ayam jantan dan moke putih yang diisi dalam tawu sebagai tanda sedang berlangsungnya tradisi kepok. Salah seorang bapak bertubuh subur kembali menyalamkan sebuah amplop cokelat yang sangat tebal ke tangan Ompo Dato. Mereka kemudian berjalan beriringan menuju Desa Komodo, entah untuk apa.

Ah, bukan urusanku, pikirku. Orang-orang berseragam dinas seperti bapak-bapak berkumis dan berperut buncit tersebut pastilah hanya punya urusan dengan Ompu Dato, bukan dengan warga desa biasa sepertiku. Aku jadi ingat saat itu. Saat ibu dan Nenek Toma mengajakku untuk menanam bibit pohon gebang di ladang. Namun, aku memilih mengikuti Bora yang ingin melihat gadis-gadis bermata biru di Pantai Merah. Penduduk Desa Komodo sudah lama tak bisa membuat mbutak yang terbuat dari sari kayu pohon gebang. Sebab, pohon yang sudah mulai langka tersebut hanya tumbuh di lahan yang dilindungi pemerintah. Sejak dijadikan Taman Nasional Komodo, penebangan pohon-pohon gebang ataupun perburuan rusa liar dilarang demi menjaga habitat komodo. Ironis memang, manusia lebih prihatin pada nasib binatang yang tidak punya akal daripada sesama manusia sendiri.

Baca juga  Zombi

Membuka lembaran lama membuatku mengutuk diri sendiri. Seandainya aku tak pernah bilang pada ibu bahwa aku sangat ingin makan mbutak, ibu dan Nenek Toma pasti tidak akan pernah berpikir untuk menanam bibit pohon gebang supaya bisa dinikmati sendiri tanpa larangan pemerintah. Aku membuang kenangan itu di tepi pantai, kuharap akan hanyut diseret ombak masa depan. Kedua kaki kupaksa untuk terus melangkah ke perahu motor warisan bapak, lalu menyalakan mesinnya untuk menjaring ikan ke tengah laut.

***

Hasil tangkapanku tidak begitu banyak, namun cukup untuk persediaan makan tiga hari ke depan. Malam ini terdengar nyaring denting batang kayu yang dipukul-pukul sebagai tanda dimulainya kolo kamba. Para wanita di perkampungan komodo pun serempak menumbuk-numbuk lesung berisi bubuk kayu yang dicampur dengan daging ayam (dulu daging rusa). Biasanya, warga Kampung Komodo akan melakukan aru gele sebagai bentuk penghormatan terhadap kadal raksasa yang mampu mengendus bau dengan lidahnya hingga jarak 11 kilometer tersebut. Kampung yang sunyi itu kini terasa seperti pasar malam.

Sesampainya di desa, tampak orang-orang berkerumun seperti semut memadati balai desa.

“Ada apa ini, Mak?” tanyaku pada salah satu penduduk yang sedang ikut menumbuk lesung.

“Kita orang disuruh buat salam perpisahan sama komodo. Ompo Dato cakap beberapa hari lagi kita semua harus pindah, Taman Nasional Komodo mau ditutup. Tidak boleh ada manusia lagi,” jawabnya dengan mata yang mulai menitikkan air hujan.

Buru-buru kupercepat langkah menuju rumah panggung kayu bercat biru. Tempat biasa Nenek Toma sering duduk menghadap jendela kayu yang terbuka. Membiarkan angin laut membelai pipi keriputnya.

“Nenek, kita harus siap-siap, besok Pulau Komodo mau dikosongkan dari manusia. Jadi, Nenek Toma tak perlu takut lagi pada komodo toh,” kataku senang.

“Kau pergilah, Nenek di sini saja.”

“Tapi, Nenek, di sini banyak komodo. Mereka makan manusia. Ayo, Rohim, bantu bereskan barang-barang nenek.”

Nenek Toma menepis tanganku. Ia tak mau beranjak dari kursi plastik langganannya.

“Komodo itu saudara, tak pernah makan manusia.”

“Tidak, Nek, komodo sudah makan saya punya ibu. Binatang itu sudah makan menantu Nenek sendiri!” bentakku tanpa sadar. “Jika tidak ada Ompo Dato saat itu…”

“Moke mai! Moke waki ahu!” spontan Nenek langsung menjauhiku seperti sebelumnya.

Baca juga  Prometheus Ubud

Entah mengapa baru kusadari setiap kali menyebut nama Ompo Dato, nenek pasti histeris. Padahal, Ompo Dato adalah pria tua baik hati yang sudah kuanggap seperti bapak sendiri. Ompo Dato juga sering berkunjung dan memberi bantuan sejak peristiwa nahas yang menimpa keluargaku lima tahun lalu.

***

Pagi ini bukan kokok ayam jantan lagi yang membangunkanku, tapi suara derum mesin penghancur yang berkeliaran di sekitar kampunglah yang mengusik mimpiku.

“Ayo, Nek, sudah saatnya kita pindah ke rumah yang telah disiapkan oleh pemerintah di pulau seberang. Semua orang sudah berkemas, tinggal kita yang belum siap,” ajakku lagi.

“Ompo Dato, bawa Nenek menemui Ompo Dato,” pinta Nenek Toma tiba-tiba. Aku menurut, kukira nenek pasti akan berterima kasih atas bantuan Ompo Dato selama ini. Kebetulan pria berambut putih itu sedang mengurus warga di balai desa.

“Plak!” sesampainya di sana Nenek Toma mendaratkan tongkat kayunya ke pipi Ompu Dato. “Cukup sudah kau mengganggu hidupku, cucuku, dan para warga komodo.”

“Nenek sudah gila toh?” tanyaku tak percaya.

“Komodo tak pernah makan saudara sendiri, komodo tak pernah makan ibumu! Dia diperkosa dan dibunuh oleh Ompo Dato dan kawan-kawannya di ladang ubi!”

Suasana hening. Tak ada warga yang mau percaya pada seorang nenek gila. Mereka lebih sibuk mengurusi barang-barang yang akan dibawa untuk pindah ke pulau sebelah.

“Rohim, kau juga tak percaya pada Nenek?”

“Ah, Nenek, ayolah, sebaiknya kita cepat bergegas pergi ke pulau sebelah sebelum ketinggalan rombongan.”

“Jika tak ada yang percaya padaku, biar saudaraku yang akan membuktikannya!”

“Srettt!” tanpa aba-aba nenek langsung menyayat urat nadinya hingga ia tertidur di atas pasir merah.

“Nenek!” pekikku. “Apa yang Nenek…”

Aku masih sempat melihat ratusan komodo berdatangan dari segala penjuru. Mereka mengelilingi mayat nenek tanpa sedikit pun menyentuhnya. Pandangan penduduk desa pun beramai-ramai mengepung sosok Ompo Dato. Namun, belum sempat diserbu warga, seekor komodo jantan dewasa sudah langsung menggigit dan menyeret kakinya ke tengah padang sabana. Pasir pantai yang berwarna putih kini tampak seperti permadani merah, namun lama-lama menjadi hitam seiring dengan mataku yang mulai malam. (*)

ANGGI GAYATRI PURBA. Perempuan kelahiran 12 November 1993 ini sangat hobi menulis cerpen. Saat ini berdomisili di kota Binjai, Sumatera Utara.

Average rating 3 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Cerita yang menarik dan sarat makna

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: